Senin, 20 Oktober 2014

Oleh-oleh Liliefors

Hari Minggu kemarin aku mengikuti acara LILIEFORS di kampus STIS. Liliefors ini singkatan dari Klinik Penulisan Desain Grafis Fotografi STIS. Singkatan yang agak maksa, demi mendapatkan singkatan yang berbau statistik, hihihi. Ini kali pertama aku mengikuti Liliefors. Sewaktu kuliah aku tidak pernah mengikuti dengan alasan tidak punya uang untuk membayar tiket. Setelah lulus, aku juga tidak mengikuti karena tempat kerjaku nun jauh di sana.

Bukti ikut Liliefors



Sewaktu melihat posternya di Facebook aku langsung tertarik. Yah, meskipun aku tidak tertarik menjadi fotografer, desainer grafis, atau penulis profesional, tiga hal tersebut lumayan menarik minatku. Apalagi hobiku yang suka sok-sokan memotret pemandangan dan pekerjaanku yang menuntut kreativitasku dalam membuat cover publikasi. Dan setelah melihat narasumbernya, aku langsung heboh dan buru-buru mendaftar. Siapakah narasumbernya? Untuk klinik desain grafis narasumbernya Faza Meonk, komikus Si Juki – komik yang menurutku lumayan menarik (kecuali komik yang tentang upil dan kawan-kawannya). Narasumber untuk klinik penulisan adalah A Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara – novel yang membuatku mulai kecanduan membeli novel. Dua makhluk itulah yang membuatku makin semangat mengikuti acara tersebut.



Acara tersebut dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama ternyata klinik fotografi dengan narasumber Arbain Rambey. Jangan tanya dia siapa, aku tidak kenal. Caranya menyampaikan materi sangat santai, lucu, pokoknya cocok dijadikan narasumber pertama. Meskipun kurang terstruktur penyampaiannya, tapi poin-poin pentingnya tetap tersampaikan. Poin pertama yang kucatat adalah tentang auto/manual. Beberapa orang menganggap bahwa memotret dengan mode auto itu “cupu”, tidak keren, dan sebagainya. Menurut Pak Arbain Rambey tidak ada salahnya menggunakan auto, toh kamera dibeli mahal-mahal ya agar kameranya yang “kerja”. Dan sebenarnya selain auto/manual, ada hal lain yang menentukan hasil foto, yaitu posisi, komposisi (yang ini aku agak lupa entah komposisi entah apa), dan momen. Mau menggunakan auto ataupun manual, kalau posisi atau tempat kita mengambil foto tidak tepat, hasil fotonya juga tidak akan bagus. Kita juga harus menentukan objek apa saja yang mau ditampilkan dalam foto. Momen atau waktu kita memencet tombol juga mempengaruhi hasil foto.


Poin kedua adalah tentang Photoshop, atau aplikasi untuk mengedit foto. Ada kalanya foto yang kita hasilkan memang perlu diedit, misalnya untuk keperluan iklan. Foto dalam iklan biasanya lebay, misalnya rambut yang berkilau, tubuh yang sangat ramping, pokoknya sulit menemukan manusia dengan kriteria tersebut. Untuk memenuhi permintaan lebay tersebut, foto perlu diedit. Jadi, tidak perlu anti dengan aplikasi semacam Photoshop dan kawan-kawan.



Poin ketiga, menurut Pak Arbain Rambey, foto yang permintaannya tinggi (alias foto yang paling laku dijual) adalah foto pemandangan (landscape). Biasanya foto pemandangan ini digunakan dalam kalender. Jadi, kalau jalan-jalan atau liburan, potret pemandangan yang ada, jangan cuma selfie. Ini jleb sekali. Untungnya aku tidak suka selfie, jadi tidak merasa tertohok. Selain foto pemandangan, foto matahari terbit dan terbenam juga banyak peminatnya. Satu lagi. Menurut si bapak, waktu yang tepat untuk memotret pemandangan biasanya pagi. Jadi, kalau jalan-jalan, jangan malas bangun pagi. Kalau mau tidur, di rumah saja. Hahaha, malah kalimat seperti itu yang kuingat-ingat.



Poin keempat adalah tentang memotret manusia. Dalam memotret manusia, kita lebih memerlukan pemahaman tentang manusia dibandingkan tentang teknik fotografi. Misalnya, kalau orang yang kita potret posturnya kurang proporsional, misalnya kakinya terlalu pendek atau kurang jenjang, jangan memotret seluruh badan. Cukup kita potret dari pinggang ke atas. Misalnya lagi, ada beberapa orang yang lengannya kelihatan besar ketika menempel ke badan. Untuk memotret orang seperti ini, gaya yang tepat adalah posisi tangan si “model” menjauhi badan, jadi lengannya terlihat agak ramping.



Poin kelima yaitu tentang tips membeli kamera. Pak Arbain Rambey menyarankan untuk membeli kamera dengan merek terkenal dengan pertimbangan spare part dan after sales service-nya lebih mudah didapatkan. Si bapak juga menyarankan untuk membeli kamera dengan harga termahal yang rela kita keluarkan. Katanya, untuk pemula memang disarankan menggunakan kamera yang bagus (alias mahal). Kalau menggunakan kamera yang tidak bagus, ketika gambar yang dihasilkan tidak bagus, tidak bisa diketahui itu karena faktor kameranya yang kurang oke atau faktor kesalahan yang memotret. Begonooo.. Kalau aku, sih, memang belum rela membeli kamera mahal, hehehe.



Poin keenam adalah foto bagus dan foto indah. Foto yang bagus adalah foto yang sesuai target atau tujuan. Kalau tujuannya adalah menangkap keceriaan seseorang dan fotonya bisa menggambarkan keceriaan, berarti fotonya bagus. Sedangkan foto yang indah adalah foto yang enak dilihat. Dan foto yang enak dilihat belum tentu bagus. Misalnya foto wedding yang berupa siluet. Fotonya mungkin indah karena enak dilihat tapi tidak bagus karena tidak sesuai target sebagai foto wedding. Mestinya foto wedding itu jelas mempelai pria dan wanitanya. Kalau cuma siluet, nggak ketahuan siapa yang nikah.



Sebenarnya masih banyak catatan dari klinik fotografi ini. Tapi, tidak usah disebut semua, lah. Males.



Sesi kedua adalah klinik desain grafis. Tidak banyak tips desain grafis yang diberikan Faza (sok akrab manggil Faza doang. nggak papa, kan seumuran. Eh, apa tuaan gue yak?). Faza menjelaskan bahwa seharusnya seorang desainer grafis mempertimbangkan dampak dari desain yang dia buat. Misalnya, ketika dia membuat desain iklan rokok, akibatnya adalah akan semakin banyak remaja yang tertarik untuk merokok. Desainer grafis perlu menggunakan ilmunya untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu desainer grafis juga harus punya wawasan, misalnya tentang isu yang sedang jadi trending topic di media sosial. Aku tidak banyak mencatat dari sesi ini karena Faza lebih banyak menceritakan alasannya membuat komik Si Juki dan visi misi yang ingin dia capai melalui komik tersebut dan manajemennya. Berhubung aku sudah tahu apa saja yang dia sampaikan melalui komiknya, jadi tidak banyak yang kucatat.



Setelah klinik desain grafis selesai, banyak yang foto bersama Faza. Sebenarnya aku juga ingin foto bareng, tapi malyuuu. Mau memotret dari jauh pun tidak bisa karena aku tidak membawa kamera. Foto dengan ponsel pun hasilnya pas-pasan. Hiks! Eh, tapi ada hikmahnya tidak membawa kamera. Aku jadi tidak sibuk memotret dan jadi khusyuk mendengarkan penjelasan para narasumber.



Lanjut ke sesi ketiga oleh A Fuadi (Ahmad Fuadi, bukan Anwar Fuadi). Begitu melihat penampakannya yang gondrong-gondrong tanggung mendadak aku jadi ingin fangirling. Padahal, sebelumnya aku sama sekali tidak nge-fans pada A Fuadi. Aku hanya suka novelnya. Dan setelah mendengar suaranya, langsung beneran fangirling. Ternyata dia tipe orang yang suara dan intonasinya enak didengar. Biacaranya luwes (apa sih istilah tepatnya?) Entah memang bawaan, atau hasil didikan pesantren yang biasanya memang melatih santrinya untuk terbiasa pidato.



Bang Fuadi (ecieee, sok panggil abang, sok akrab) menjelaskan alasan untuk menulis yang dia dapat dari gurunya di pesantren. Katanya menulislah agar panjang umur, karena tulisan atau buku itu tidak akan tua dan mati. Dan oleh karena itu, tulislah yang baik-baik. Bang Fuadi pun mengingatkan salah satu contoh 'abadi'-nya tulisan adalah status Facebook orang yang sudah meninggal. Duh, jadi ingat pisuhan-pisuhan-ku di Facebook, Twitter, dan blog.



Menurut Bang Fuadi, dalam menulis kita perlu menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah WHY. Mengapa kita menulis? Apa alasan kita menulis? Alasan yang kuat dalam menulis bisa jadi motivasi. Kalau masih malas-malasan dalam menulis, bisa jadi faktor WHY-nya kurang kuat. Pertanyaan kedua adalah WHAT. Apa yang mau ditulis. Bang Fuadi menyarankan untuk menuliskan hal-hal yang kita sukai atau yang menarik bagi kita. Pertanyaan ketiga adalah WHEN. Kapan mau mulai menulis? Kalau jawaban bang Fuadi, sih, menulisnya mulai dari sekarang. Setelah itu aku agak lupa apa masih ada pertanyaan lagi atau tidak. Tapi, sepertinya ada pertanyaan selanjutnya yaitu HOW. Bagaimana membuat tulisan tersebut?



Setelah itu ada beberapa tips untuk menulis dari Bang Fuadi. Pertama, tidak usah minder dengan tulisan yang kita buat karena orang yang menulis sudah selangkah lebih maju dibandingkan orang yang hanya membaca. Kedua, sebelum menulis kita harus riset dulu tentang apa yang hendak kita tulis. Untuk kasus novel Bang Fuadi, karena ceritanya berdasarkan pengalaman pribadi, risetnya dengan membaca diary yang dia tulis semasa sekolah, surat-suratnya untuk amaknya. Bang Fuadi juga melakukan riset dengan membaca novel-novel yang bertema asrama. Penulis juga perlu membaca kamus untuk memperkaya kosa kata yang digunakan dalam cerita. Perlu juga membaca buku-buku tentang menulis, misalnya buku tentang bagaimana membuat deskripsi. Ketiga, sebelum menulis, Bang Fuadi biasanya membuat mind mapping cerita yang akan dibuat. Kemudian, dari mind mapping tersebut dibuat kerangka tulisan. Bang Fuadi juga membuat biografi karakter-karakternya. Ini untuk memudahkan penggambaran karakter dan memudahkan dalam membuat dialog yang khas masing-masing karakter. Tips keempat adalah jangan terlalu sering mengedit tulisan. Misalnya, baru menulis beberapa kalimat sudah diedit. Usahakan menulis sampai selesai, baru diedit.



Catatan lain dari ulasan Bang Fuadi adalah tentang antagonis dan konflik. Antagonis itu bukan berarti orang yang jahat. Antagonis adalah karakter yang berbeda ide atau cita-cita dengan tokoh utama atau protagonis. Contohnya dalam Negeri Lima Menara tokoh antagonisnya adalah Randai, yang sama sekali tidak jahat. Dia justru sahabat Alif (si tokoh utama), yang memang sering bersaing dengan Alif. Tokoh Alif yang terpaksa masuk pesantren juga menurut Bang Fuadi bisa dikategorikan antagonis. Nah, lo. Konflik tidak harus perang dan sejenisnya. Konflik adalah ketidaksesuaian antra kenyataan dengan harapan si tokoh utama.

Oh, ya, ada satu lagi pesan Bang Fuadi: usahakan dalam seumur hidup setidaknya membuat satu buku. Kalau tidak bisa membuat buku, paling tidak membuat paper. Dan pas setelah aku nyeletuk "Udah bikin buku. Skripsi," -- tapi tentunya tidak kedengaran oleh Bang Fuadi -- dia menambahkan, "Skripsi nggak dihitung." Haish!



Apa lagi, yah? Oh, iya. Aku berangkat dalam keadaan kelaparan karena tidak sempat sarapan. Siangnya setelah makan siang mendadak sakit kepala. Tapi, herannya aku tetap semangat mengikuti acara sampai selesai. Dan sorenya, baru sakit kepalanya makin menjadi. Ditambah mual-mual. Sepertinya efek melewatkan sarapan. Tepar. Tidak bisa belajar padahal hari Senin ada UTS. Pesan moral kejadian ini: jangan melewatkan sarapan. Inilah inti dari tulisan panjang ini. Jangan melewatkan sarapan!

ARTIKEL TERKAIT



16 komentar:

  1. Desain Grafis banyak kami butuhkan loh. Jika ada informasi kami membuka lowongan tenaga kerja sebagai DESAIN GRAFIS insya Allah akan kami kabarkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, banyak ya yang butuh desain grafis..

      Hapus
  2. Berarti, sinetron-sinetron itu lebih cenderung menerjemahkan 'antagonis' dalam sosok/penokohan yang serba jahat, licik, culas dan semua sifat negatif lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagian besar sih gitu.. Antagonisnya jahat.

      Hapus
  3. Arbain Rambey itu terkenal di dunia fotografi, makanya yang nggak akrab dengan dunia itu nggak akan kenal. Tapi tiap dunia kan emang punya selebnya masing-masing :)
    Makasih share-nya, Mil ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, emang bener. Tiap dunia punya seleb masing-masing.

      Hapus
  4. Iku mergo mangane kewareken mil :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woooo, enggak lah. Nggak kewaregen kok.

      Hapus
  5. Aku masih banyak selfienya pas dolan2 wisata. :D

    Btw, materinya padat banget, Mbak. Banyak pengetahuan baru buatku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, gapapa, kata Bang Fuadi hobi selfie perlu dikembangkan. Jadi, kalo mau nulis pengalaman pribadi, bisa riset liat foto2 selfie.

      Hapus
  6. wihhh STIS kian keren aja, ngadain acara begini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. coba jaman kita dulu ada acara begini, narasumbernya sekeren ini. kan seru.

      Hapus
  7. Posisi pengambilan angle dalam fotografi, kata mas ketua kelompokku dulu (waktu ikut basic training fotografi) sangat menentukan bagus tidaknya hasil foto kita. Orang lain (penikmat foto) tidak akan perduli tentang bagaimana cara kita mengambil foto, yang mereka pedulikan cuma hasil fotonya bagus atau tidak. Bahkan, kalopun sewaktu fotografernya jadi coid setelah mengambil sebuah shot -misal, ambil foto sambil terjun dari jembatan, itu sudah merupakan resiko yg harus ditanggung, agar hasil fotonya kelihatan spektakuler. Dijelasin kek gitu aku jadi ngeriii. >_<

    Menunggu momen... Ah, entah kenapa aku susah bingit buat disuruh mapan di suatu tempat, membidik dengan sebelah mata, melalui kamera. Sambil menunggu momen yang pas untuk memencet tombolnya. Mata eike keburu pegel. XD

    Hehe, kalo gitu, fotografer itu ada mirip-mirip kayak sniper ya mbak.

    Tentang sotosop, mbak Milo udah pernah lihat adegan editing model foto dengan sotosop belum? Citra cantik, citra macho. citra wah, dan citra2 yang ditampilkan oleh media itu, kalo kita lihat hasil sebelum dan sesudah editing sotosop, bisa bikin mlongo. Dan karena masyarakat hanya tahu hasil jadi setelah editing, lalu mereka mematok citra palsu tersebut sebagai gambaran citra paling ideal, jadilah kadang mereka depresi bingit waktu mendapati diri mereka terlampau jauh dari citra ideal versi media tadi. Pengen nyambungin ke masalah kapitalisme, tapi nanti pasti bakal jadi panjang komennya. :v

    Tentang memotret manusia, ini balik lagi ke wejangan mas Jati (si ketua kelompok), jangan memotong objek foto ngepasi sendi si objek. Karena nanti si objek jadi kelihatan spt orang yg -maaf- menyandang disabilitas fisik.

    Betewe, sebutin semua tips fotografinya donk, qaqa!

    Oia, Faza meonk itu keknya lebih muda dariku deh mbak, brarti lebih muda dari mbak Milo, just keknya lho ini... :v

    Eh, itu kirain penulisnya Pak Anwar Fuadi beneran. Soalnya aku belum pernah baca novelnya. Cuma sering lihat cover bukunya, pun secara sekilas. Gondrong2 tanggung? Ada stubble-nya juga gak mbak. *Buru-buru googling* Gak brewokan ternyata. Halah. XD

    Tentang wejangan Oom Fuadi, deuh... untung jarang misuh2 di fesbuk. Misuh di blog juga jarang, ini kalo kata 'asem' dan 'sial' ga diitung pisuhan. Postingan di blog pernah pake kata dafuq juga sih, tapi kog rasanya gak beneran misuh2 itu. :v


    Tips menulisnya... entah kenapa kug keknya aku gak minat jadi penulis novel. Menulis deskripsi sebuah benda agar pembaca dapat mempunyai gambaran yang sama dengan benda yang kumaksud saja, sudah bikin hamsyong. Panjang lebar tinggi, huwaaaa... Salut deh sama penulis2 yang bisa menulis secara mendetil. Di benakku mereka itu: cermat, sabar dan telaten sekali keknya.


    Dan terakhir, kenapa hanya dengan melewatkan sarapan bisa jadi pusing? Mbak Milo penderita gastritis kah?

    Meski ga jadi komen ttg kapitalisme, komen ini udah kepanjangan juga ya ternyata, haha. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enha kebiasaan deh, komennya panjang, ampe bisa dibikin postingan. Bikin post aja gih :p

      Ih, horror wejangan seniormu. Untung aku bukan fotografer, jadi motret pun semampunya aja, gak perlu spektakuler :D
      Kalo nunggu momen, pake tripod dong ciiin.. *padahal aku juga ga punya tripod*

      Ogitu, jangan ngepasi sendi pas motong? Kan bener, mending dibikin posting sendiri ini mah kalo ada tips2 begono.

      Males ah nyebutin tips nya lagi. Males buka catetan :D

      Enha umurnya berapa sih? Kalo dia lebih muda dari Enha, berarti jauh lebih muda dari aku dong? Wooo... Manggilnya Dek Faza dong ya..

      Aku dooong, hobi ngomel di pesbuk.. Tapi, misuh yang kasar jarang sih.

      Aku juga males nulis novel. Nulis cerbung di blog aja males ngelanjutin :D Aku termasuk yang gak suka baca deskripsi benda, setting, dll, jadi kalo nulis juga jarang bikin deskripsi gitu.

      Ga tau ya gastritis apa gak..

      Hayo, sana nulis tentang kapitalisme, citra, dan iklan. Eh kayanya udah pernah ya?

      Hapus
  8. eh...eh...komenku yang kemaren kemana? kok hilang??

    BalasHapus
    Balasan
    1. komen yang mana? kayanya nggak ada deh..

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!