Warning: Ini tulisan curhat. Yang tidak suka baca curhatan orang, silakan baca tulisan lain saja.
Siapa yang sudah pernah ditinggal nikah
seseorang yang disukainya? Yang sudah pernah angkat tangan, yang belum pernah
silakan angkat kaki! Hehehe... Alhamdulillaah, aku sudah pernah merasakannya. Tiga
kali. Kalau saja ditinggal nikah itu seperti membeli deterjen, mungkin saat ini
aku sudah mendapatkan piring, gelas, mangkok, atau payung, atau setidaknya
sebuah ponsel pintar. Ngarep! Kenapa
tiba-tiba bertanya tentang ‘ditinggal nikah’? Sebenarnya sudah pernah terlintas
keinginan menulis tentang ini, tapi selalu kuurungkan tanpa alasan jelas.
Karena beberapa hari yang lalu ada kawanku yang ditinggal nikah, aku jadi
tergoda menulis tentang itu.
Kali pertama aku patah hati karena orang
yang kusukai menikah (bukan denganku tentunya) adalah ketika aku sedang magang.
Seseorang yang sering kuintip dari bawah pohon mangga di sore hari (ingat, dari
bawah, bukan dari atas pohon mangga, aku bukan kuntilanak) ternyata menikah dengan kawanku sendiri. Bagaimana
perasaanku saat itu? Tentu saja sedih. Tapi, melihat teman-teman dekatku begitu
bersimpati dan berusaha menghiburku, aku jadi tak terlalu bersedih. Bahkan, aku
bisa menertawakan nasibku yang ditinggal nikah. Saat itulah aku tahu betapa
berartinya teman di masa sulit. Mereka yang sering kita lupakan di saat senang,
datang menghibur kita di saat kita sedih.




