Kamis, 03 Januari 2013

Kakao

Apa yang bisa kita lihat ketika jalan-jalan di Kabupaten Aceh Barat Daya? Sawah. Sampai daerah ini dijuluki Nanggroe Breuh Sigupai. Selain sawah? Kebun. Ada kebun kakao (coklat), ada kebun pala (bukan Kebon Pala yang di Jakarta, lho), ada kebun durian (yang ini sangat menggoda iman), dan kebun-kebun lainnya. Seringnya, sih, kebunnya ditanami bermacam-macam tanaman, bukan semacam saja. Jadi, dalam satu kebun bisa ada pohon durian, rambutan, pinang, pala, dan sebagainya. Ada juga perkebunan kelapa sawit yang banyak berada di Kecamatan Babahrot, kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya.

Kali ini aku akan bercerita tentang kakao. Di kabupaten ini tanaman kakao termasuk pating tlekcek, berserakan. Di hampir setiap desa yang kukunjungi, ada saja pohon kakao, entah ditanam di kebun atau hanya di halaman rumah. Biasanya pohonnya tidak terlalu tinggi, paling sekitar dua meteran (kalau aku tidak salah menaksir). Seperti ini gambar pohonnya

Pohon kakao yang buahnya berwarna hijau


Pohon kakao yang buahnya berwarna merah


Buahnya tidak kelihatan? Ini dia buahnya

Buah kakao yang berwarna hijau


Buah kakao yang berwarna merah
Nah, kenapa ada dua macam? Meneketehe. Yang jelas, ada dua macam tanaman kakao yang sering kulihat: yang buahnya berwarna merah dan yang buahnya berwarna hijau. Setelah googling, ternyata katanya buah yang berwarna merah itu kalau sudah masak akan berubah warnanya jadi kuning. Kalau yang hijau sendiri entah, ya... Soalnya kawanku pernah memetik buah kakao yang warnanya masih hijau tapi dia mengatakan kalau buah tersebut sudah masak. Sayangnya waktu itu aku tidak memotret isi buahnya. Kira-kira beginilah buahnya

Gambar pinjam dari sini
Yang warna putih kecil-kecil itulah isi buahnya. Rasanya manis, mirip rasa apa, yah? Entah manggis, entah srikaya. Pokoknya manis, lah. Di dalam masing-masing buah yang kecil itu terdapat biji. Biji inilah yang nantinya dijemur. Contoh biji yang sedang dijemur seperti ini

Biji kakao

Biji kakao

Biji-biji tersebut dijemur sampai kering. Lalu, biji-biji ini dijual kepada tengkulak dan mungkin setelah itu disetorkan pada pabrik-pabrik pengolahan kakao untuk diolah menjadi coklat bubuk, coklat batangan, atau produk lainnya. Oh, ya, kalau sedang melintas di dekat biji kakao yang sedang dijemur, jangan kaget kalau mencium bau asem. Itu bau biji yang sedang dijemur. Memang tidak enak baunya.

Tapi, ada satu hal yang aneh. Biarpun banyak menghasilkan kakao, tetapi kenapa tidak ada yang menjual minuman coklat hangat di warung-warung? Sepertinya minuman kopi lebih populer di sini. Kenapa, ya?

ARTIKEL TERKAIT



12 komentar:

  1. padahal aku sukanya coklat loh daripada kopi. diwarung tidak ada yang jual kecuali minuman coklat sachet

    BalasHapus
  2. Trus ngambil bijinya gimana? Berarti isi buahnya dibuang? Atau dimakanin dulu trus bijinya dilepeh? Hehehe..
    Aku juga lebih suka coklat daripada kopi. Mungkin karena kopi kesannya lebih macho, kan yang biasa nongkrong di warung cowok-cowok. Kurang laki aja kali rasanya kalo nongkrong di warung minum coklat hangat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya suka2 yang punya pohon. mau dimakan dulu trus dilepeh, boleh.

      jadi, kalo minum coklat kurang laki ya? kalo minum kopi kesannya laki?padahal saya demen ngopi, laki dong?

      Hapus
  3. jawabannya karena belum ada yang muali, coba deh mba bikin warung wedang kakao hangat pasti laku tuh, bisa juga ga laku soale ya bosen ndean....

    BalasHapus
  4. iya harusnya bisa di buat industri coklat disana ya... home industri kecil kecilan untuk menggerakan perekonomian..
    pengetahuan bertambah nih dengan tulisan ini.. selamat tahun baru...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, juga, ya. kalau dibuat industri kan lumayan mengurangi pengangguran...

      Hapus
  5. koko nie makanan kegemaran mala masa kecik.. rindu nk panjat pkok koko pastu petik.. huhu. sedapnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, suka makan kakao ya waktu kecil?

      Hapus
  6. Mungkin kakao lebih mahal dijual daripada diseduh sendiri Mbak.... Suka sedih kalo hasil bumi terbaik di negeri ini dinikmati orang lain....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi begitu. Lebih 'mahal' kalau dijual diluar daripada di kampung sendiri mungkin, ya...

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!