Selasa, 01 Januari 2013

Tentang Membaca


“Mila, kan, suka baca,” begitu kata salah seorang kawanku. Dan temanku itu bukan orang pertama yang menganggap aku suka membaca. Ada beberapa orang yang berpendapat seperti itu. Ada yang mengatakan bahwa minat bacaku tinggi. Apakah ini berarti pencitraan yang kulakukan di blog – dengan  membuat resensi-resensian buku – sudah berhasil? Hehehe...

Kalau dipikir-pikir, minat bacaku tidak begitu tinggi. Aku lebih sering ‘membaca’ Facebook ataupun blogwalking dibandingkan membaca buku. Aku juga tidak suka membaca di kendaraan sebagaimana kebiasaan orang-orang di negara maju (misalnya Jepang). Buku-buku yang kubaca pun bukan buku ‘berat’. Bukan buku tentang ekonomi, bukan buku tentang statistik, bukan buku agama, bukan buku tentang pemrograman, juga bukan buku tentang politik (yang terakhir ini amit-amit). Pokoknya bukan buku yang membuatku terkesan pintar, hehehe... Aku lebih sering membaca buku fiksi – tapi bukan teenlit ataupun chicklit. Bisa dilihat dari buku yang kutulis resensi-resensiannya di blog ini. Hampir semuanya fiksi. Kalaupun bukan fiksi, tetap saja isinya cerita. Meski harus kuakui, biarpun formatnya bukan buku ilmiah, buku-buka yang kubaca tetap memberikan banyak ‘ilmu’.

Lalu, kenapa banyak yang menganggap minat bacaku tinggi? Mungkin karena faktor pembanding. Dibandingkan ketinggian langit, sebuah gedung berlantai sepuluh mungkin tidak ada apa-apanya. Tapi, kalau dibandingkan dengan rumah tipe 21, tentu saja gedung berlantai sepuluh termasuk tinggi. Mungkin begitu juga yang terjadi padaku. Dibandingkan dengan para kutu buku sejati, minat bacaku mungkin tidak seberapa. Tapi, dibandingkan orang-orang yang tidak tertarik untuk membaca, mungkin aku termasuk lumayan. Dibandingkan para pencandu buku, mungkin aku tidak ada apa-apanya. Namun, bila dibandingkan orang-orang yang memang tidak tertarik membaca, aku sudah lumayan. Aku masih bisa menikmati aktivitas membaca meskipun terbatas pada buku-buku yang sesuai seleraku. Mungkin itu sebabnya ibuku menganggapku rajin membaca. Waktu kecil aku cukup ‘dibungkam’ dengan majalah Bobo ketika liburan. Setelah dibelikan majalah Bobo bekas seharga seribu tiga, aku tidak banyak merengek minta jalan-jalan. Dibadingkan dengan adikku yang – setahuku – tidak tertarik untuk membaca baik buku ataupun majalah – apapun genrenya – wajar saja bila ibuku menganggapku rajin membaca. Pertanyaannya sekarang: separah apakah minat baca orang-orang di negeri ini sampai-sampai orang sepertiku dianggap rajin membaca? Entah. Tak perlu dibahas di sini. Aku bukan pakarnya.

Ngomong-ngomong tentang ketertarikanku dalam membaca, Abahku sangat berjasa dalam hal ini. Abahku yang mengajariku membaca. Abahku juga yang mengenalkanku pada majalah Bobo, meski pada akhirnya aku lebih sering merengek pada Ibu untuk membelikanku majalah tersebut. Teknologi yang masih terbatas pada waktu kecil juga berpengaruh besar. Dulu, kami hanya memiliki televisi hitam putih, hanya bisa menangkap siaran TPI di siang hari dan TVRI di malam hari. Keluarga kami baru memiliki televisi berwarna ketika aku kelas empat SD. Saat itulah kami bisa mulai menonton siaran televisi swasta seperti RCTI dan SCTV. Mungkin karena terlambat mengenal televisi, aku jadi lebih bisa berteman dengan buku. Meskipun pada akhirnya aku menjadi seorang sufi (suka tifi), aku tetap menikmati kegiatan membaca. Aku tidak alergi membaca novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah yang tebalnya bujubuneng, 507 halaman. yah, meskipun aku tetap alergi membaca buku karangan Lee J Bain dan Max Engelhardt, hehehe... Dan ketika aku sudah menjadi anggota fanatik Jama’ah Fesbukiyah pun, aku masih tetap menganggap aktivitas membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan.

Mungkin memang seharusnya begitu. Sewaktu kecil dikenalkan dulu pada dunia membaca sebelum dikenalkan pada hal lain seperti televisi dan internet. Dengan begitu, membaca bisa jadi ‘cinta pertama’ yang tidak terlupakan. Meski kemudian jatuh cinta pada hal lain, misalnya televisi, playstation, dan internet, tetap saja ‘cinta pertama’ akan bertahan.

ARTIKEL TERKAIT



24 komentar:

  1. Wah, minat bacaku tahun ini benar2 parah. Beberapa buku, bahkan yang fiksi, hanya kubuka hingga beberapa bab awal saja. Lalu kutinggalkan.
    Semoga tahun ini aku bisa melanjutkan bacaan2ku itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin fiksinya memang nggak sesuai selera jadi gak ditamatin. Beli buku yang sesuai selera aja :)

      Hapus
  2. Orang di negeri ini tergolong rajin membaca dibanding negara lain, cuman bukan membaca kategori buku melainkan membaca update status orang di fesbuk... wkwkwkwk

    BalasHapus
  3. Kalau saya pas di bis ga baca karena pusing, hehe .
    Majalah bobo semasa kecil baca pas maen ke rumah temen yg punya :D

    salam kenal :)
    mind to folback?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kalo di kendaraan gak sanggup baca karena pusing :D

      Hapus
  4. aku juga suka baca buku... walopun skrg ini bnyk e-book tp aku mah setia baca buku yg ada kertas2 nya, lbh afdol hahahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo baca e-book kadang capek matanya...

      Hapus
  5. kalo aku sih tergantung waktu luang aja sih, kalo ada wkt luang pasti nyempatin utk baca buku...
    :D
    BTW,selamat ya udh menang GA puisi tuh..

    BalasHapus
  6. Iya Mil, itu juga yang aku ajarin ke anakku. Alhamdulillah dia nggak terlalu doyan tipi, selalu lebih milih buku daripada tivi :)
    Kalo aku bilang, minat baca di Indonesia cukup tinggi. Daya belinya yang kurang. Coba aja duduk di sebelah orang di kendaraan umum, trus kita buka koran. Kemungkinannya 99% tu orang ikutan baca koran kita :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, kayaknya minat baca orang kita tergantung bacaannya lagi dibaca orang lain atau dianggurin. Kalo lagi dibaca orang lain, langsung deh diminati buat dibaca :D

      Hapus
  7. Dirimu menuliskan ini dengan teramat jujur Milo :D Apalagi dengan perbandingan tinggi gedung itu
    Masalah selera saja sih. Buku2 fiksi kan banyak juga yang di dalamnya terkandung pembelajaran yang ribet ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Emang tergantung selera. Ada yang sukanya baca fiski, ada juga yang seleranya nonfiksi.

      Hapus
  8. aku juga suka baca tapi bukan termasuk cinta pertama pada buku2 itu, tapi walaupun cinta kesekian tetap aja aku pertahankan cintaku itu *eh ini lagi bahas buku atw cinta sih :D

    BalasHapus
  9. tahun 2012 aku sedikit sekali membaca buku nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, Mbak, tahun ini target baca yang banyak *padahal saya sendiri gak punya target*

      Hapus
  10. Kita samaan mbak di suka baca fiksi ∂άn status facebook :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, suka baca status fesbuk juga?

      Hapus
  11. Minat bacaku udah lumayan ditahun lalu, walau gak tercapai target buku yg dibaca hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah gak punya target tahun lalu dan tahun ini juga gak punya target :D)

      Hapus
  12. Wah..., sama nih Mbak dengan saya. Dulu masa kecil bapak suka membelikan majalah Bobo, dll. Banyak banget deh majalah anak-anak. Tapi bukan baru. Bapak suka membeli majalah bekas di pasar loak. Dan, sekarang, jadinya saya suka membaca, termasuk majalah dan koran bekas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Bapak saya dulu juga beliinnya majalah bekas. Tapi, tetep aja seneng biarpun cuma majalah bekas :D

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!