Dua minggu lagi Pawana harus
berangkat ke Jepang. Dan dia ingin menghabiskan dua minggu itu di kampung
halaman. Untuk itu dia ke Stasiun Gambir pagi ini untuk membeli tiket kereta
yang berangkat ke Tegal nanti malam. Dia ditemani Wukir. Sebenarnya bukan
menemani, sih. Wukir juga hendak membeli tiket kereta ke Semarang. Sama seperti
Pawana, dia juga ingin pulang kampung dulu sebelum berangkat ke Jepang. Mereka
beruntung karena hari itu hari Rabu, hari kerja. Jadi mereka tak sampai
kehabisan tiket. Kalau mereka membeli tiket kereta untuk akhir pekan atau hari
libur, mereka harus pesan beberapa hari sebelumnya. Setelah mendapatkan tiket,
mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas.
Setiap hari baru, selalu ada harapan baru. Setiap hari baru, selalu ada pengalaman baru. Bila hidup adalah perjalanan, nikmatilah pemandangan yang ada di sekitarmu. Fokus pada tujuan perjalanan memang penting. Tapi, MENIKMATI PERJALANAN juga tak kalah penting. Enjoy your life, Dude!
Senin, 21 Oktober 2013
Minggu, 20 Oktober 2013
Menjaring Angin (11)
“Nana!” sapa Pukat yang tiba-tiba
saja sudah berada di samping meja Pawana. Entah Pukat yang seperti hantu,
kedatangannya tidak terdeteksi panca indera manusia, atau Pawana yang terlalu
fokus sehingga tidak menyadari kehadiran Pukat.
“Aku disuruh minta tabel-tabel ini
ke Bagian Pengolahan,” kata Pukat sambil menyodorkan selembar kertas berisi
daftar variabel dan format tabel.
“Kenapa nggak minta lewat email aja?
Daripada kamu capek-capek jalan ke sini,” kata Pawana.
Pukat hanya tersenyum. “Ruangan
kita, kan, nggak sejauh Jakarta – Tegal, Na. Jalan kaki lima menit juga sampai.
Lagian sekalian biar bisa ketemu kamu. Dua minggu kemarin aku ikut pelatihan,
jadi nggak bisa ketemu kamu. Kangen,” goda Pukat.
“Apaan, sih, bilang kangen segala!”
kata Pawana ketus, menutupi salah tingkahnya.
“Nanti malam ke toko buku, yuk! Kata
temanku kemarin ada banyak manga baru,” kata Pukat, tak memedulikan sikap ketus
Pawana.
Belum sempat Pawana menjawab ajakan
Pukat, smartphone-nya berbunyi.
Dengan kekuatan bulaaan, akan
menghukummu!
Selasa, 15 Oktober 2013
You See What You Want To See
*Warning! Tulisan ini mengandung unsur SARA*
"You see what you want to see," kata Dumbledore pada Snape.
Kamu melihat apa yang ingin kamu lihat. Memang benar demikian adanya. Kita tidak akan melihat apa yang tidak ingin kita lihat. Maksudnya? Ketika kita "meyakini" sesuatu, kita akan menutup mata terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita yakini. Dan kita menjadi lebih jeli untuk menemukan segala sesuatu yang mendukung apa yang kita yakini.
Contohnya adalah orang-orang yang membenci agama Islam, atau memiliki pandangan buruk tentang Islam. Aku tidak tahu agama mereka, bisa jadi juga mereka tidak beragama. Sodorkanlah Al Qur'an kepada mereka. Apa yang akan mereka temukan? Besar kemungkinan yang mereka temukan adalah ayat tentang perang, qishash, poligami, atau hal lain yang (kelihatannya) buruk. Mereka akan berpendapat bahwa orang Islam suka berperang, tanpa melihat asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tentang perang. Padahal, ada beberapa ayat yang memerintahkan perang karena umat Islam sudah terlebih dahulu diperangi. Mereka juga akan berpendapat bahwa orang Islam kejam karena menerapkan hukum qishash, tanpa memperhatikan bahwa qishash tidak sembarangan dilakukan, tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya qishash efektif menimbulkan efek jera. Ada kalanya seseorang yang membunuh atau melukai seseorang tidak menjalani hukuman qishash dan "hanya" membayar diyat (denda) karena keluarga korban sudah memaafkan.
Rabu, 18 September 2013
Cerita Sebelum Tidur
Waktu kecil aku sering sekali didongengi. Aku tidak ingat tepatnya mulai kapan dan sampai kapan, yang jelas "waktu kecil". Biasanya sebelum tidur, entah tidur siang atau tidur malam, Abah mendongengiku. Dongengnya tidak jauh-jauh dari cerita fabel yang sudah kondang: kancil. Tapi, kancilnya bukan cuma kancil nyolong timun. Seringnya malah cerita kancil mengerjai harimau. Pernah suatu hari kancil menipu harimau dengan mengatakan bahwa batang-batang pohon bambu yang mereka lihat adalah seruling. Dia menyuruh harimau untuk menyelipkan lidahnya di antara dua batang bambu. Hasilnya tentu bukan suara merdu. Lidah si harimau malah terjepit. Pernah juga kancil menunjukkan benda berwarna hijau pada harimau dan mengatakan bahwa itu adalah sorban. Harimau pun memakainya. Padahal sebenarnya benda hijau itu bukan sorban melainkan tlepong (kotoran kerbau). Selain cerita-cerita itu masih ada cerita lain seperti Bawang Putih Bawang Merah. Tapi, aku tidak ingat. Yang melekat kuat di ingatanku cuma dua cerita itu. Dan satu lagi yang kuingat: tuli ana watu mendelis, uwis. Itu adalah kalimat yang sering diucapkan padaku kalau aku berkata, "Tuli? Tuli? (Terus? Terus?)" Kalau anak lain didongengi mungkin cepat tidur. Kalau aku? Jangan harap. Aku justru makin melek dan kalau cerita sudah selesai aku berkata, "Tuli? Tuli?" Abah yang -- mungkin -- sudah kehabisan cerita atau sudah capai bercerita pun menjawab, "Tuli ana watu mendelis." Aku pun bertanya lagi, "Tuli?" Abahku pun akan menjawab, "Uwis." Sudah. Tidak ada cerita lagi. Kalau sudah begitu, paling Abah "menyanyikan" sholawat agar aku tertidur.
Sabtu, 14 September 2013
Jatuh Itu Biasa
Bagi pengendara motor, yang namanya jatuh pasti sudah biasa. Apalagi
bagi yang baru belajar mengendarai sepeda motor. Aku sendiri sudah beberapa
kali mengalami accident, baik yang sangat ringan maupun yang agak parah. Semoga
tidak akan pernah mengalami yang parah. Ngeri, bok!
Waktu baru awal-awal memiliki sepeda motor, aku beberapa kali
menjatuhkan sepeda motorku. Kenapa aku menggunakan kata ‘menjatuhkan’? Karena
yang jatuh memang hanya sepeda motorku sedangkan aku sendiri tetap berdiri,
tidak ikut terjatuh. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin refleks
aku langsung melepaskan pegangan pada stang motor sehingga ketika motor jatuh
aku tidak ikut jatuh. Aku juga pernah menabrak pagar di kos. Untungnya cuma pagar
kayu yang tidak kokoh. Coba kalau pagarnya besi atau tembok. Bisa hancur aku
dan sepeda motorku.
Itu tadi yang ringan. Yang agak parah? Ada. Waktu itu aku baru
beberapa kali ke kantor naik sepeda motor. Dan tentunya aku belum mahir keluar
masuk tempat parkir yang ada di belakang kantor. Jalan masuk ke tempat parkir
itu menurun, belok kanan, dan agak susah bagi yang belum terbiasa. Saat keluar
dari tempat parkir, aku menarik gas kuat-kuat karena jalannya menanjak. Karena
terlalu kuat menarik gas, aku jadi tidak bisa mengendalikan sepeda motorku,
yang seharusnya belok kanan justru tetap lurus dan menabrak tanah yang
posisinya lebih tinggi dari jalan kemudian terguling dari situ dengan
suksesnya. Alhamdulillah aku memakai helm dan jaket jadi lecetnya tidak parah. Lecet
dan biru-biru, sih. Tapi, tidak sampai patah tulang atau luka yang parah.
Alhamdulillah. Yang parah malah sepeda motor Yamaha Mio yang kunamai Honey
Bunny Black Sweetie.
Jumat, 13 September 2013
Menggelandang Ke Lembah Sabil
Tanggal 11 September kemarin aku 'jalan-jalan' ke Lembah Sabil. Lembah Sabil itu di mana? Lembah Sabil adalah kecamatan di Aceh Barat Daya yang paling ujung selatan (atau tenggara, ya?) yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Selatan. Kecamatan ini merupakan pemekaran dari Kecamatan Manggeng. Nah, hari itu aku menemani Meri ke sana. Tujuan utama adalah ke kantor camat untuk meminta tanda tangan camat untuk buku Kecamatan Lembah Sabil Dalam Angka sekaligus meminta foto camat. Tujuan sampingannya adalah hunting foto untuk sampul publikasi Kecamatan Dalam Angka. Tapi, tidak banyak foto yang kudapatkan. Dari lima kecamatan yang kulewati (Blangpidie, Setia, Tangan-Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil), tidak banyak yang menarik. Ujung-ujungnya aku hanya mengambil gambar sawah-sawah yang kami lewati. Tidak ada landmark yang khas.
Sebelum ke kantor camat, kami mampir sebentar di rumah Meri di Desa Suka Damai. Rumah Meri terletak di tepi sungai yang memisahkan Desa Lhok Puntoy (Kecamatan Manggeng) dan Desa Suka Damai (Kecamatan Lembah Sabil). Sungai ini jaraknya sekitar dua atau tiga kilometer dari jalan raya. Kalau dihitung jaraknya dari Blangpidie mungkin sekitar 21 sampai 23 kilometer. Nah, di sinilah aku melihat pemandangan menarik untuk difoto: sungai dan pintu air. Yah, tidak terlalu cocok untuk sampul publikasi, sih. Tapi, tetap menarik untuk difoto. Ini dia gambar-gambarnya:
Minggu, 08 September 2013
Menjaring Angin (10)
Adzan Maghrib baru saja selesai berkumandang. Namun, Pawana masih
sibuk di depan komputer – yang sekarang beralih fungsi jadi server.
“Udah selesai, Na?” tanya Matari.
“Bentar lagi. Ini lagi bikin tabel rekap hasil entry yang diminta Pak
Agni. Kalian?”
“Belum. Baru selesai bikin SPJ, eh, tadi ada email suruh revisi
SPJ-nya. Sakit jiwa itu orang kantor pusat!” rutuk Matari.
“Sasi?” tanya Pawana sambil tetap fokus pada komputer.
“Lagi sholat. Dia juga udah stress meriksa dokumen survei
seabrek-abrek. Mending kita pulang aja, lah. Percuma lembur kalau pikiran udah
kusut. Kerjaan malah makin berantakan,” keluh Matari.
“Selesai!!!” Pawana menyimpan tabel yang baru saja dia print lalu
mematikan komputer.
“Buat ngilangin stress, gimana kalau kita makan di luar?” usul Pawana.
“Oke! Ngramen aja, yuk! Abis itu kita nonton,” jawab Matari girang.
***
Rabu, 28 Agustus 2013
Ponakan
Lagi liburan bada wingi aku balik maring Brebes. Pas kakange aku loro-lorone lagi nginep nang umah. Otomatis anak-anake ya pada nginep nang umah. Ponakanku ana telu, wadon loro, lanang siji. Sing lanang arane Umar. Esih cilik, embuh pirang wulan umure. Kayane tah durung ana nem wulan. Maklum, bulike klalenan dadi ya ora apal umure ponakane. Sing wadon loro, arane Mila karo Habibah. Mila umure wis patang taun, Habibah nembe rong taun.
Gemiyen tah aku seringe mung rudu karo si Mila. Si Mila seneng nemen ngurak-urak aku. Senenge ngomong, "Sana, Bulik pulang ke Aceh!" Nyong ya ora gelem kalah oh. Tak jawab bae, "Sana Mila pulang ke Siasem!" Umahe Mila kan nang Siasem. Yen lagi sentimen, aku nang ruang tamu diurak-urak, pindah maring kamar ya diurak-urak maning. Ngomonge, "Ini kamarnya Habibah!" Dumehe Habibah yen nginep turune nang kamar kue. Pokoke njelehi nemen lah ngger lagi nggara. Bocahe tah pinter, ngomonge ya wis canthas. Tapi, ya, kue... Ngger nggara kayong njelehi. Ngger aku lagi juwet ya tak omongi, "Yen pengin nangis kari nangis ka, ora usah luruh gara-gara." Hahaha, jahat nemen yah. Pimen maning yah. Aku kayong ora cocok ngemong bocah. Tuli si Mila ya ora kena dijak lunga-lunga. Dijak blanja tuku klambi maring Rita Mall be gegere ora umum. Njaluk balik bae padahal durung rampung blanjane. Yen dijak mandi bola tah ndean meneng, ora geger. Yah, arane be bocah cilik, ora betahan.
Senin, 26 Agustus 2013
Gara-Gara Sembarangan Beli Buku
Biasanya aku adalah orang yang pemilih dalam membeli buku. Biasanya aku membeli buku yang bisa 'membangun', atau setidaknya bukan buku yang 'merusak' mentalku (dalam standarku sendiri, tentunya). Bukannya sok atau bagaimana. Tapi, aku selalu menganggap bahwa kelak buku yang kumiliki akan kuwariskan pada orang lain, misalnya anak atau keponakanku. Jadi, selain mencari buku yang baik untukku sendiri, aku juga mencari buku yang baik bagi pewarisnya nanti. Masa iya aku akan mewariskan buku yang bisa membuat mereka menye-menye, cengeng, labil, berpikiran pendek, dan sebagainya.
Itu sebabnya dulu aku jarang iseng membeli buku yang aneh-aneh. Tapi, setelah bekerja, aku mulai iseng. Beberapa kali aku membeli buku hanya karena melihat sampulnya yang cantik atau hanya berdasarkan dugaan "kayaknya bagus, deh". Tapi, selama ini buku-buku yang dibeli secara impulsif itu masih dalam kadar aman alias tidak berpotensi merusak mental pembacanya. Misalnya Bliss, Born Under Million Shadows, dan Sang Penerjemah. Dan tanggal 17 lalu aku kembali bertindak impulsif. Akibatnya? Fatal! Aku membeli sebuah buku karya penulis Korea yang bergenre romance (jangan tanya apa judulnya). Iya, emang nggak gue banget! Aku memang tidak terlalu suka romance. Tapi, membaca tulisan di bagian belakang buku aku jadi tertarik. Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang ingin bercerai dengan suaminya. Menarik, kan? Ditambah lagi sampulnya cantik, warna-warni. Lalu, apakah isinya secantik sampulnya? Sayangnya tidak. Isinya horror! Bukan horror yang hantu-hantuan melainkan 'horror' yang lainnya. Di awal cerita memang menarik. Ada bau-bau romantisnya. Tapi, kemudian ada adegan dewasanya. Tentu saja aku kaget. Kupikir ini cerita konflik rumah tangga yang hanya menceritakan masalah perasaan tanpa adegan begituan. Ternyataaa...
Rabu, 14 Agustus 2013
Ibuku Selangkah Lebih Maju
Tradisi keluarga kami setiap Idul Fitri adalah mengunjungi keluarga yang lebih tua, misalnya Pakdhe, Budhe (kakak dari Ibu), dan Simbah (ibu dari Abah). Idul Fitri kemarin pun begitu. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah rumah Budhe di Siasem. Budhe ini istri dari kakak Ibu yang sudah meninggal.
Anak-anak Budhe ini semuanya lebih tua dariku dan sudah menikah. Mungkin karena mereka lebih tua, mereka pun enteng bertanya kepada Ibu, "Kapan mantunane?" Maksudnya adalah kapan aku, anak Ibu yang cuantik, pintar, sholihah ini menikah. Halah, kok, aku jadi memfitnah diri sendiri begini? Tanpa diduga Ibu menjawab, "Bar bada." Maksudnya setelah lebaran. Heeeh? Aku cuma tertawa mendengar jawaban ngaco Ibu. Dilamar pun belum, bagaimana mau menikah? Budhe dan para sepupuku pun heboh, bertanya-tanya, "Temenan? Kapan?" Beneran? Kapan? Ibuku tetap pede menjawab kalau yang dikatakannya tadi itu benar. Ibu kemudian menambahkan, "Tanggal wolu, bada Syawal." Tanggal delapan, Lebaran Syawal.
Yang repot aku. Mereka menanyaiku, "Dapat orang mana?" Blah! Mesti jawab apa? Kalau yang bertanya sepupuku yang seumuran dan akrab, mungkin aku akan menjawab "orang Korea, artis terkenal, namanya Lee Dong Gun". Berhubung yang bertanya adalah sepupu yang tidak terlalu akrab denganku, aku cuma cengar-cengir.
Selasa, 13 Agustus 2013
Mudik (Lagi)
Aku mau cerita perjalanan mudikku kemarin. Apa? Bosan membaca cerita perjalanan mudikku? Yah, maap-maap saja. Aku masih suka bercerita tentang perjalananku. Maklum, ini, kan, blog geje yang isinya personal, suka-suka, dan banyak curhatnya.
Ada beberapa hal yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa saja?
Ganti Partner
Tahun 2013 ini adalah mudik lebaran dari Blangpidie yang kelima bagiku. Kali pertama aku mudik lebaran dari Blangpidie adalah tahun 2009. Dan selama 2009-2012 aku selalu mudik lebaran dengan Intan, kawanku yang penempatan di Aceh Selatan. Berhubung Intan sudah pindah ke Maluku sana mengikuti sang suami, aku tidak mudik dengannya lagi. Kupikir aku akan mudik sendirian. Ternyata Rika, kawan sekantorku, mengomporiku untuk membeli tiket pesawat di tanggal yang sama dengan kepulangannya. Dia juga mengompori Jamal, kawan sekantor kami. Jadilah kami memesan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan yang sama.
Kami bertiga berangkat dari Blangpidie hari Jum'at tanggal 2 Agustus 2013, sekitar pukul delapan malam. Aku berangkat dalam kondisi yang kurang sehat. Beberapa hari sebelumnya aku sakit tapi sehari sebelum berangkat aku merasa sudah sembuh. Eh, malah di hari Jum'at aku kembali tidak enak badan. Dan parahnya, sopirnya ngebut agar tiba di Medan pukul enam pagi. Alhasil aku muntah dengan suksesnya. Ngisin-isini. Untung aku cuma pulang bareng Rika dan Jamal. Coba kalau aku bareng mas-mas ganteng seperti Noah Wyle, bisa rusak reputasiku kalau ketahuan gampang mabuk darat. Eh, tapi kalau semobil dengan orang seganteng Noah Wyle mungkin aku tidak akan mabuk, ya? Ah, sudahlah.
Sampai di Bandar Baru kami istirahat sekalian makan sahur. Kami bertemu Mbak Novel dan Nisa yang baru penempatan di Aceh Selatan. Dan komentar Mbak Novel sewaktu melihatku, "Dirimu, kok, membengkak sekali?" Hiks! Kejamnya! Sebegitu bengkakkah diriku sekarang? Terakhir kali aku bertemu Mbak Novel adalah tahun 2009, sewaktu mudik lebaran juga. Kebetulan waktu itu kami satu pesawat. Dan waktu itu aku memang belum segemuk saat ini. OK, cukup curhat tentang berat badannya. Mbak Novel juga mengomentari jaket PKL yang kupakai. Jaket itu memang sudah 'tua', umurnya sudah sekitar 6 tahun. Tapi, aku masih setia mengenakannya kalau bepergian jauh.
Jamal menawariku untuk bertukar tempat duduk setelah tahu aku muntah. Tadinya Jamal duduk di samping sopir sedangkan aku dan Rika di belakang sopir. Tadinya aku berpikir percuma saja duduk di depan kalau sopirnya horror. Tapi, setelah dipikir-pikir, kalau aku di depan, Rika bisa leluasa duduk di belakang sopir sendirian, dan Jamal bisa mengungsi ke kursi paling belakang, sendirian juga. Akhirnya aku duduk di samping sopir. Dan Alhamdulillaah, biarpun mual, aku tidak muntah.
Minggu, 28 Juli 2013
Menjaring Angin (9)
Aku suka Pukat? Yang benar saja. Mas Wukir ini ada-ada saja. Memangnya
kalau aku membelikan Pukat makanan berarti aku menyukainya? Dia, kan, bukan
satu-satunya teman laki-laki yang kubelikan makanan. Eh, tunggu. Sepertinya ...
Selain Mas Wukir, sepertinya memang cuma Pukat teman laki-laki yang kubelikan
makanan. Selama ini aku tidak sudi berbaik hati pada teman laki-laki termasuk
tidak sudi membelikan makanan. Tapi, bukan berarti aku suka Pukat, kan? Aku
tidak suka Pukat. Aku hanya ... Aku hanya ... Aku hanya suka senyumnya, aku
hanya suka tatapan matanya yang tetap tenang meskipun aku melancarkan tatapan
penuh intimidasi, aku hanya suka bercanda dengannya. Hanya itu. Bukan berarti aku suka
Pukat, kan?
***
Setelah beberapa jam berkutat dengan komputer, saatnya aku melarikan
diri. Yeah, sudah saatnya makan siang. Itu berarti sudah saatnya kabur ke
kantin dan MAKAN! Biasanya di jam makan siang begini kantin ramai. Terlambat
sedikit saja, meja sudah penuh. Untungnya ada Matari yang ruangannya paling
dekat kantin. Dialah yang paling dulu pergi ke kantin untuk mencari tempat
duduk untuk Sasi dan aku. Begitu pun hari ini. Saat aku datang, Matari sudah
duduk (sok) manis di meja paling ujung. Masih ada empat kursi kosong lagi. Saat
aku baru duduk, Sasi pun datang. Lengkap sudah. Tinggal memesan makanan. Hari
itu kami bertiga memesan makanan yang sama: gado-gado. Sepertinya aku sedang
beruntung hari ini.
Sabtu, 27 Juli 2013
Ada Apa Di Kepalamu?
Sudah tiga kali website kantor kami diretas (di-crack). Dan yang ketiga ini yang paling membuatku merasa ngenes dibandingkan dua kejadian sebelumnya. Yang pertama, website kami dibuatkan orang dari kantor pusat, tugasku hanya mengelola. Belum sempat aku mengutak-atik website, ternyata sudah di-crack. Kemudian kami dibantu kawan dari kantor provinsi untuk memperbaikinya. Baru sebentar diperbaiki, baru upload beberapa publikasi, diretas lagi. Setelah itu diputuskan untuk membuat website baru dengan Joomla 2.5 (yang sebelumnya menggunakan Joomla 1.5). Kali ini aku membuat sendiri. Baru seminggu website diaktifkan, sudah diretas lagi. Rasanya? Ngenes. Hasil kerja selama beberapa minggu, sampai meninggalkan pekerjaan lain, dirusak begitu saja. Seperti tukang yang sudah susah payah membangun rumah, lalu ada orang tak dikenal tiba-tiba merobohkannya.
Kamis, 25 Juli 2013
Menjaring Angin (8)
Sudah seminggu aku selalu pulang malam. Lembur. Aku harus meng-entry sekaligus mengawasi ketiga stafku
yang sedang meng-entry. Eh,
sebenarnya bukan cuma mengawasi tiga orang itu. Aku juga mengawasi Pukat dan
Baruna, staf Bagian Analisis yang kubajak demi mengejar deadline entry data. Untungnya bulan ini Bagian Analisis belum
terlalu sibuk. Sasi dan Matari? Ah, lupakan mereka. Bagian Survei juga sedang
sibuk-sibuknya sebagaimana Bagian Pengolahan Data, jadi Sasi tak bisa diganggu.
Malam hari adalah jadwalnya memeriksa dokumen survei agar sudah clean ketika diserahkan ke Bagian
Pengolahan untuk di-entry. Matari?
Dia sudah stress mengatur keuangan, SPJ ini, SPJ itu, laporan keuangan. Dan
mengajaknya meng-entry malam sama
saja mencari bencana. Bisa-bisa setiap menemukan kesalahan dia mengomel, “Ini
yang bikin aplikasi siapa, sih? Error melulu!”
***
“Udah jam sembilan, Mbak. Nggak pulang?” tanya Pukat.
“Iya, bentar lagi. Mau backup hasil entry dulu,” Pawana beranjak
menuju server.
Setelah mem-backup hasil entry sementara, Pawana pun berkemas-kemas. Pukat
juga ikut berkemas-kemas.
“Ngapain kamu? Mau pulang juga?” tanya Pawana.
“Mau nganterin Mbak Nana pulang. Udah malam,” jawab Pukat.
“Sunu, saya pulang dulu, ya! Kalau udah selesai, jangan lupa backup,
terus matikan server. Kalau nanti ada error yang nggak bisa ditangani, biarin
aja error. Jangan dipaksa clean. Catat aja error-nya lalu serahin ke saya
besok. OK?” kata Pawana pada salah satu stafnya dan kemudian beranjak
meninggalkan ruang entry data setelah stafnya itu memberi tanda OK.
“Kamu pinter cari alesan, ya!” kata Pawana pada Pukat begitu mereka
keluar dari ruang entry data.
“Alesan apa?” tanya Pukat.
“Bilang aja kamu nggak mau ngentry sampai pagi. Pakai alesan nganterin
saya pulang,” sindir Pawana. Pukat hanya tertawa kecil.
“Tapi masih lumayan, lah. Setidaknya kamu masih mau bantu ngentry
sampai malam. Makasih.”
“Cuma makasih? Nggak ada imbalan? Beliin kue misalnya.”
“Kamu mau kue apa? Kue nastar? Bolu? Black forest? Atau kue cucur?”
canda Pawana.
“Kue cucur boleh juga. Aku suka. Buruan kamu jalan. Aku ngikutin dari
belakang,” Pukat bersiap-siap menyalakan sepeda motornya.
“Panggil apa tadi? ‘Kamu’? Heh, yang sopan sama senior!” Pawana mulai
memasang tatapan Medusa-nya.
“Memang kenapa, Nana? Nggak boleh?”
“Nana? Nggak pake ‘mbak’?” Pawana makin menajamkan tatapan Medusa-nya.
Dan sayangnya, tatapan itu tidak mempan untuk Pukat. Dia tidak membatu. Dia
justru tersenyum. Pawana pun segera menyalakan sepeda motornya.
Dan sejak hari itu, selama seminggu Pukat selalu mengantar Pawana
pulang.
Selasa, 23 Juli 2013
Lilin
“Sugeng
tanggap warsa, Pak!” ujar Laksmi sambil memeluk Bapak.
“Oalah,
Nduk! Bapak sendiri malah lupa ulang tahun Bapak. Memangnya sekarang umur Bapak
berapa?” tanya Bapak pada Laksmi.
“Sudah 63
tahun, Pak,” jawab Laksmi.
“Ini, tiup
lilinnya dulu. Terus potong kuenya,” Laksmi menyodorkan kue black forest yang
permukaannya dipenuhi batangan lilin menyala.
“Lhadalah!”
pekik Bapak terkejut melihat banyaknya lilin yang harus dia tiup: 63.
Rabu, 17 Juli 2013
Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat
![]() |
| Cover-nya sampai disensor karena 'ngeri' |
Kalau kata 'Islam' ditambah 'liberal', menjadi bukan Islam lagi. Itu seperti kata ‘orang’,
ditambah kata ‘hutan’. Jadinya ‘orang hutan’. Apa ‘orang hutan’ sama dengan ‘orang’?
kata Rahmat kepada Kemi
kata Rahmat kepada Kemi
Namanya Kemi, lengkapnya Ahmad Sukaimi. Dia adalah santri cerdas di Pesantren Minhajul Abidin di Jawa Timur. Suatu hari dia pamit pada Kyai Rois – pemimpin pesantren Minhajul Abidin – untuk kuliah di Jakarta. Ternyata dia mendapat beasiswa Institut Damai Sentosa, sebuah institut yang kental dengan nuansa ‘liberal’. Setelah kuliah di sana, pikiran Kemi pun mulai terpengaruh paham liberal.
Hingga
setahun kemudian Kemi bertemu Rahmat, kawannya sewaktu di pesantren. Dalam
obrolan mereka, muncullah perdebatan. Kemi mengkritisi pendapat umat Islam yang
selalu menganggap agamanya paling benar. Bagi Kemi, pada dasarnya semua agama
benar, semua menuju Tuhan yang satu, hanya saja nama Tuhannya berbeda-beda.
Rahmat pun mempertanyakan pendapat Kemi tersebut. Kalau Tuhannya sama, apa
mungkin di satu sisi Dia menyatakan bahwa Isa mati disalib dan di sisi lain Dia
menyatakan bahwa Isa tidak mati disalib? Apa mungkin Tuhan yang sama di satu
sisi mengharamkan babi dan di sisi lain menghalalkan babi? Kalau seorang muslim
berpendapat bahwa semua agama lain benar, bukankah berarti dia bukan muslim
lagi? Kalau dia memandang semua agama dalam posisi netral, tidak dalam posisi
agama manapun, sama artinya dia tidak beragama.
Senin, 15 Juli 2013
Aku, Kamu, Kita
Aku dan kamu
bukanlah sepasang padi dan gulma
Kita
hanya sepasang kecambah
Berdiri beriringan
Tegak mencari sinar matahari
Menebarkan serabut-serabut akar
mencari butir-butir air
Tumbuh bersama
menuju satu titik
yang kita sebut
DEWASA
Minggu, 14 Juli 2013
Please, Look After Mom: Novel yang Menggalaukan
![]() |
| Gambar pinjam dari Goodreads |
Bagaimana mungkin Ibu bisa hilang? Begitu tanya istri Hyong-chol atau kakak ipar Chihon. Saat itulah Chihon baru menyadari satu hal yang selama ini tidak dia perhatikan. Sewaktu Hyong-chol sekolah di Seoul, Ibu selalu meminta Chihon untuk membacakan surat dari Hyong-chol keras keras dan meminta Chihon menuliskan surat balasan untuk Hyong-chol. Chihon baru menyadari bahwa Ibu memintanya melakukan semua itu karena ia tidak bisa membaca.
Chihon juga teringat kondisi Ibu belakangan ini. Ia pernah melihat Ibu pingsan di rumah. Ibu pernah mengatakan padanya bahwa Ibu kerap merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan sering lupa ketika hendak melakukan sesuatu. Ibu tidak bisa membaca, ditambah penyakit Ibu belakangan ini, bisa jadi itu alasan Ibu tidak bisa naik kereta sendiri untuk menyusul ayah mereka.
Jumat, 12 Juli 2013
27
Tanggal 11 Juli kemarin aku genap berusia 27 tahun. Lho, 27 bukannya
ganjil? Oke, aku ganjil berusia 27 tahun. Sudah tua? Iya, memang. Sudah dewasa?
Sepertinya belum. Umm, sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu batasan seseorang
bisa disebut dewasa atau tidak. Kalau dewasa itu artinya tidak egois,
sepertinya aku belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya sabar, sepertinya aku
juga belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya bisa mengendalikan dan
menyembunyikan amarah, yah, berarti aku belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya
bisa menghadapi masalah dengan tenang, tidak grusa-grusu, tidak panik, berarti
aku juga belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya bisa mengambil keputusan dengan
cepat dan bertanggung jawab, sepertinya aku juga masih jauh dari kata dewasa. Hmm,
sudahlah. Lagipula, sepertinya dewasa bukanlah pencapaian melainkan proses.
Sejak lahir sampai mati kita akan selalu menjalani proses pendewasaan diri.
Kamis, 11 Juli 2013
Menjaring Angin (7)
“Yuk, kita cari novelnya,” Pawana menarik lengan jaket Wukir.
“Digandeng tangannya langsung aja, Mbak. Nggak usah narik jaketnya,” ledek
Pukat.
Pawana melepaskan pegangannya pada jaket Wukir lantas berlalu menuju
rak tempat novel-novel. Merengut. Wukir bergegas menyusulnya.
***
“Siapa tadi?” tanya Wukir sambil diam-diam membuka plastik yang
membungkus sebuah novel. Eragon, judul novel itu. Matanya bergerak-gerak
mengawasi siapa tahu ada penjaga yang melihatnya.
“Pukat. Anak baru di kantor,” jawab Pawana singkat. Wajahnya masih
ditekuk, masih kesal dengan sindiran Pukat tadi.
“Kok, aku baru lihat, ya? Rasanya aku kenal semua karyawan di kantor
provinsi DKI,” tanya Wukir sambil membolak-balik novel yang baru berhasil dia
buka bungkusnya.
“Baru kerja dua bulanan. Fresh graduate. Dia di Bagian Analisis. Dia
juga belum pernah pergi ke kantor pusat, makanya Mas Wukir nggak pernah lihat
dia,” jawab Pawana.
“Kayaknya Siwi belum punya novel ini, deh. Beliin ini aja. Bagus ceritanya,”
Pawana menyodorkan novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye.
“Oh, ini, kan, novel yang bikin kamu mewek itu. Kalau kamu sampai
mewek, berarti ceritanya memang bagus,” Wukir tersenyum lebar sedangkan Pawana
kembali merengut.
“Kalau orang kantor tahu kamu nangis cuma gara-gara baca novel, rusak
image garangmu,” Wukir masih semangat menggoda Pawana, tak peduli biarpun
Pawana terlihat makin murka.
“Sorry. Just kidding!” kata Wukir sambil mengacak rambut gadis yang
sudah dikenalnya selama empat tahun itu.
“Oke. Aku ambil novel yang itu sesuai saran kamu. Kamu mau beli novel
apa? Sesuai janji, aku traktir kamu satu buku,” kata Wukir. Pawana menunjukkan
novel tebal di tangannya. The Lost Symbol. Lalu membaliknya, menunjukkan label
harganya.
“Itu, kan, mahal, Na,” kata Wukir lemas. Pawana tersenyum lebar. Puas.
Langganan:
Postingan (Atom)


