Senin, 26 Agustus 2013

Gara-Gara Sembarangan Beli Buku

Biasanya aku adalah orang yang pemilih dalam membeli buku. Biasanya aku membeli buku yang bisa 'membangun', atau setidaknya bukan buku yang 'merusak' mentalku (dalam standarku sendiri, tentunya). Bukannya sok atau bagaimana. Tapi, aku selalu menganggap bahwa kelak buku yang kumiliki akan kuwariskan pada orang lain, misalnya anak atau keponakanku. Jadi, selain mencari buku yang baik untukku sendiri, aku juga mencari buku yang baik bagi pewarisnya nanti. Masa iya aku akan mewariskan buku yang bisa membuat mereka menye-menye, cengeng, labil, berpikiran pendek, dan sebagainya.

Itu sebabnya dulu aku jarang iseng membeli buku yang aneh-aneh. Tapi, setelah bekerja, aku mulai iseng. Beberapa kali aku membeli buku hanya karena melihat sampulnya yang cantik atau hanya berdasarkan dugaan "kayaknya bagus, deh". Tapi, selama ini buku-buku yang dibeli secara impulsif itu masih dalam kadar aman alias tidak berpotensi merusak mental pembacanya. Misalnya Bliss, Born Under Million Shadows, dan Sang Penerjemah. Dan tanggal 17 lalu aku kembali bertindak impulsif. Akibatnya? Fatal! Aku membeli sebuah buku karya penulis Korea yang bergenre romance (jangan tanya apa judulnya). Iya, emang nggak gue banget! Aku memang tidak terlalu suka romance. Tapi, membaca tulisan di bagian belakang buku aku jadi tertarik. Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang ingin bercerai dengan suaminya. Menarik, kan? Ditambah lagi sampulnya cantik, warna-warni. Lalu, apakah isinya secantik sampulnya? Sayangnya tidak. Isinya horror! Bukan horror yang hantu-hantuan melainkan 'horror' yang lainnya. Di awal cerita memang menarik. Ada bau-bau romantisnya. Tapi, kemudian ada adegan dewasanya. Tentu saja aku kaget. Kupikir ini cerita konflik rumah tangga yang hanya menceritakan masalah perasaan tanpa adegan begituan. Ternyataaa...

Memangnya kenapa kalau ada adegan dewasanya? Yah, sebuah tulisan, kan, bisa mempengaruhi pembacanya. Mungkin ada yang berpendapat kalau orang yang sudah dewasa seumuranku boleh-boleh saja membaca buku seperti itu. Fine. Masalahnya adalah kalau kelak ada orang lain yang membaca buku itu dan terpengaruh. Aku kena dosa berantai, dong! Lalu, harus kuapakan bukunya? Dibuang? Sayang, bok! Mahal. Disimpan? Bahaya kalau nanti ada yang membaca. Tuh, kan, jadi galau.

Gara-gara kejadian itu, aku jadi bertekad untuk tidak impulsif lagi dalam membeli buku. Kalau nanti aku ke toko buku lagi, buku yang kubeli harus buku yang sudah kubaca resensinya, atau buku yang pernah direkomendasikan kawan, atau buku yang aku tahu penulisnya tidak mungkin menulis hal-hal horror begitu, atau buku yang sudah kuintip isinya (ini berarti aku harus mencari buku yang sudah dibuka dulu segelnya untuk mengintip isinya baru nanti membeli yang masih disegel, hehehe!). Pokoknya mulai sekarang tidak boleh sembarangan membeli buku lagi.

ARTIKEL TERKAIT



28 komentar:

  1. kalo saya kadang baca resensinya dulu,kalo nggak asal comot hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga kadang baca resensinya dulu. Tapi, kalo lagi iseng, gak pernah baca resensi pun diambil :D

      Hapus
  2. dosa warisan itu tidak ada kok
    yang aku pernah denger malah begini
    saat ada orang yang butuh pertolongan
    bila tidak ditolong dia akan mati, namun bila ditolong dia bisa bikin banyak kematian
    katanya kita tetap wajib menolongnya. masalah kemudian dia banyak bikin dosa, itu urusan dia sendiri dengan tuhannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan dosa warisan, kang. ini maksudnya dosa berantai. kita bikin satu orang berbuat dosa, dan ngaruh ke orang lain juga, berarti kita kena dosanya juga kan...

      Hapus
  3. Setuju saya mbak..

    dan saya juga pernah salah beli, akhirnya saya jual lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo yang ini mah nggak bisa saya jual lagi -_-

      Hapus
  4. Balasan
    1. haiyah, Kak Eky malah nanya judulnya -_-

      Hapus
  5. Aku juga pernah salah beli buku 'horor' yang begituan mbak.... hasilnya harus cepat-cepat aku sembunyikan takut kalau ada yang minjam :D Jadinya merasa rugi ya, mahal-mahal malah bikin galau. Hahaha.

    BalasHapus
  6. Malah jadi penasaran kan sob xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan-jangan langsung hunting di toko buku nih :p

      Hapus
    2. toko buku di tempatku masih biasa.
      Paling yang ada buku pelajaran sekolah kak. Bagaimana kalau bukunya dikirim ke saya aja hehehe

      Hapus
  7. Kalau gue beli novel, biasanya yah karna penulisnya atau ceritanya.... Jarang terpengaruh sama kavernya... Seringkali yang kavernya jelek, ceritanya malah bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada juga sih yang cover nya jelek tapi isinya bagus..

      Hapus
  8. bakar aja mil hehehehe piiisssss

    BalasHapus
  9. Bukunya bisa dikirim ke saya saja Mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, nanti dibaca sama cucunya Pak Mars gawat loh!

      Hapus
  10. simpen aja, siapa tau suatu saat bisa jd referensi *ditimpuk novel adegan dewasa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih, maunyaaa, pengen ditimpuk buku 'itu' ya :p

      Hapus
    2. Udah dijadikan GA aja... Siapa tahu, ada yang berminat baca2 buku kayak gitu.... Hehehe... COntohnya aku... Kalau bikin GA, hadiahnya itu, aku ikutan deh pasti... :D

      Hapus
  11. Lebih baik disimpan bila ragu dengan hal seperti itu.

    BalasHapus
  12. saya juga pernah salah beli buku, tapi bukan isi yang 'horor' gitu. Beli buku, tapi gak sesuai sama bayangan yg ada di kepala :)

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!