Selasa, 15 Oktober 2013

You See What You Want To See

*Warning! Tulisan ini mengandung unsur SARA*
"You see what you want to see," kata Dumbledore pada Snape.

Kamu melihat apa yang ingin kamu lihat. Memang benar demikian adanya. Kita tidak akan melihat apa yang tidak ingin kita lihat. Maksudnya? Ketika kita "meyakini" sesuatu, kita akan menutup mata terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita yakini. Dan kita menjadi lebih jeli untuk menemukan segala sesuatu yang mendukung apa yang kita yakini.

Contohnya adalah orang-orang yang membenci agama Islam, atau memiliki pandangan buruk tentang Islam. Aku tidak tahu agama mereka, bisa jadi juga mereka tidak beragama. Sodorkanlah Al Qur'an kepada mereka. Apa yang akan mereka temukan? Besar kemungkinan yang mereka temukan adalah ayat tentang perang, qishash, poligami, atau hal lain yang (kelihatannya) buruk. Mereka akan berpendapat bahwa orang Islam suka berperang, tanpa melihat asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tentang perang. Padahal, ada beberapa ayat yang memerintahkan perang karena umat Islam sudah terlebih dahulu diperangi. Mereka juga akan berpendapat bahwa orang Islam kejam karena menerapkan hukum qishash, tanpa memperhatikan bahwa qishash tidak sembarangan dilakukan, tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya qishash efektif menimbulkan efek jera. Ada kalanya seseorang yang membunuh atau melukai seseorang tidak menjalani hukuman qishash dan "hanya" membayar diyat (denda) karena keluarga korban sudah memaafkan.

Mereka berkata dalam Islam tidak ada kasih sayang mungkin karena mereka "hanya" melihat sikap beberapa orang Islam yang keras, dan mereka tidak tahu (atau mungkin tidak mau tahu) betapa Rosululloh dan para sahabat adalah orang-orang yang penuh kasing sayang dan selalu mengajarkan kasih sayang. Mereka berkata bahwa Al-Qur'an adalah perkataan orang "gila" karena mereka tidak "melihat" ayat-ayat "ilmiah" di dalamnya. Bagaimana mungkin orang gila bisa tahu bahwa pada seorang bayi berada dalam tiga kegelapan pada masa kehamilan, bahwa ada dua laut yang tidak bisa menyatu karena ada pembatas (barzakh) diantara keduanya, bahwa kerajaan Romawi akan dikalahkan? Bagaimana mungkin orang gila bisa memimpin berbagai perang besar dan memenangkannya?

Mungkin akan ada yang berkata bahwa perkataan "you see what you want to see" juga berlaku padaku. Memang. Sebagai orang Islam, tentu saja aku berpendapat bahwa agama yang kuanut itu benar. Dengan begitu, aku tentu lebih jeli mencari kebenaran tentang agamaku dan jeli juga dalam mencari bantahan atas pendapat yang menjelekkan agamaku, serta jeli melihat "kesalahan" dalam agama lain. Itu sebabnya aku tidak suka berdebat tentang agama. Jelas-jelas yang diimani berbeda. Berdebat tentang agama ujung-ujungnya hanya saling mencari celah dalam ajaran agama lain. Lebih baik memperdalam pengetahuan agama sendiri saja, agar makin meyakini kebenarannya. Lagipula, dalam debat agama berisiko menghina tuhan agama lain, padahal dalam Islam hal tersebut dilarang. Ada dalilnya, lho!

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. al-An'am (6) : 108)

So, berhenti buang-buang energi untuk memperdebatkan hal yang tidak akan ada titik temunya.

ARTIKEL TERKAIT



10 komentar:

  1. Apa yang kau cari ya itu yang kau temukan, coba nyarinya yang baik maka yang baik yang ditemukan dan sebaliknya.
    Saya orang yang berpandangan positive terhadap suatu masalah karena itu saya jauhi mencari keburukan-keburukan sesuatu. Kalau ada yang tidak saya suka ya sudah, biarin saja, gak mau mencari-cari kecuali si jelek menyodorkan diri, he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. etapi positive thinking itu susah juga sih -_-

      Hapus
  2. Yang paling gue sebel dari agama.... banyak orang yang pola pikirnya sepertinya masih menganggap agama itu sebuah komoditas, jadi harus terus laku keras....

    BalasHapus
  3. Santai saja, yu
    Semua agama benar kok asal dijalankan secara benar pula
    Yang jadi masalah orang kadang sibuk berebut syariat sampai melupakan hakikatnya. Bila itu terus berlanjut, kapan bisa sampai tahapan makrifatnya..?

    BalasHapus
  4. yap, berdebat itu hanya menguras energi. Paling sedih kalo lihat orang2 berdebat, lalu saling menghina dg kata2 yg tak pantas.

    Mending perbaiki diri sendiri, lalu tunjukkan sisi positif kita pada dunia. Karena kita tak akan bisa mengubah dunia, kalo kita tidak bisa mengubah diri kita sendiri. :(

    BalasHapus
  5. Bbrapa waktu lalu mira sempat terjebak di diskusi soal poligami sama bule2 sini.. berat euyy..mau dijelasin beda keyakinan..g dijelasin..ntar pemahaman mereka g bnr trs..duhh -_-'

    BalasHapus
  6. @ cumilebay: :)
    @ Rawins: ah, saya mah gak percaya semua agama benar. kalo semua agama benar menurut penganutnya, itu baru pas
    @ enha: perbaiki diri sendiri yah? duh, susah
    @ Mira: kalo dari awal mereka udah nganggep poligami buruk ya susah sih. tapi kalo ditanya mah jawab aja.

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!