Minggu, 08 September 2013

Menjaring Angin (10)



Adzan Maghrib baru saja selesai berkumandang. Namun, Pawana masih sibuk di depan komputer – yang sekarang beralih fungsi jadi server.

“Udah selesai, Na?” tanya Matari.

“Bentar lagi. Ini lagi bikin tabel rekap hasil entry yang diminta Pak Agni. Kalian?”

“Belum. Baru selesai bikin SPJ, eh, tadi ada email suruh revisi SPJ-nya. Sakit jiwa itu orang kantor pusat!” rutuk Matari.

“Sasi?” tanya Pawana sambil tetap fokus pada komputer.

“Lagi sholat. Dia juga udah stress meriksa dokumen survei seabrek-abrek. Mending kita pulang aja, lah. Percuma lembur kalau pikiran udah kusut. Kerjaan malah makin berantakan,” keluh Matari.

“Selesai!!!” Pawana menyimpan tabel yang baru saja dia print lalu mematikan komputer.

“Buat ngilangin stress, gimana kalau kita makan di luar?” usul Pawana.

“Oke! Ngramen aja, yuk! Abis itu kita nonton,” jawab Matari girang.

***


“Yakimeshi,” kata Pawana pada waiter. Sasi dan Matari memesan miso ramen.

“Yakimeshi? Kamu pergi jauh-jauh ke sini cuma buat makan nasi goreng?” tanya Matari setelah waiter meninggalkan meja mereka. Pawana yang semula sibuk dengan smartphone-nya langsung mengangkat mukanya dan menatap Matari seakan berkata “Emang kenapa?”

“Mulai lagi, deh! Suasana hatiku lagi happy sekarang. Jangan sampai rusak gara-gara perdebatan kalian yang nggak penting itu,” kata Sasi.

“Happy? Setelah meriksa bertumpuk-tumpuk dokumen kamu masih bisa happy?” tanya Matari curiga.

“Namanya juga lagi jatuh cinta,” Sasi tersipu malu menjawab pertanyaan Matari.

“Sama siapa?”

“Ada, deh!” Sasi sengaja membuat Matari penasaran.

“Emang jatuh cinta itu gimana rasanya, sih?” tanya Pawana sambil bertopang dagu. Matanya menerawang, tidak menyadari kehadiran waiter yang mengantarkan pesanan mereka.

“Aku juga bingung jawabnya. Kalau di film-film, sih, katanya jatuh cinta itu rasanya seperti ada kupu-kupu di perutmu,” jawab Sasi sambil mulai menyantap mie ramennya.

“Kaya masuk angin, dong?”

Sasi dan Matari langsung tersedak mendengar konklusi ‘bodoh’ itu. Mereka memutuskan berhenti makan sejenak daripada nanti tersedak lagi mendengar omongan absurd Pawana. Dan Pawana, sang pencetus konklusi itu, tetap bertopang dagu dan menerawang.

“Kalau kamu ngerasa nggak bisa jauh dari seseorang, itu berarti kamu jatuh cinta sama dia,” Matari mencoba menjawab.

“Berarti aku jatuh cinta sama kasur, dong? Bawaannya pengen nempel terus sama kasur,” jawab Pawana yang disambut tatapan sebal kedua kawannya.

“Kalau kamu sampai rela mengorbankan segalanya buat seseorang, berarti kamu cinta sama dia,” kali ini Sasi yang menjawab.

“SEGALANYA? It doesn’t make sense! Ada hal yang bisa dikorbankan dan ada yang nggak bisa. Lagipula, aku nggak sudi mengorbankan apapun buat orang lain. Rugi, lah!” sanggah Pawana.

“Oke. Itu berarti kamu belum pernah jatuh cinta dan NGGAK BAKAT buat jatuh cinta. Case closed. Sekarang kita makan aja. Mie ramennya keburu dingin,” kata Matari meluapkan rasa sebalnya yang ditahannya sejak tadi.

***

Selesai makan, Pawana dan kawan-kawannya menuju bioskop. Bioskop itu ada di mall yang sama dengan restoran tempat mereka makan, hanya beda lantai. Mereka duduk lesehan menunggu film dimulai. Masih lima belas menit sebelum pintu teater dibuka. Pawana kembali mengecek dengan smartphone-nya, untuk kesekian kalinya.

“Kamu dari tadi ngecek HP terus. Nunggu telfon dari siapa?” tanya Matari yang melihat Pawana tampak gelisah.

“Nggak. Biasanya ada yang ngajak chat jam segini. Tapi udah tiga hari dia nggak ngajak chat. Eh-“ Pawana kelepasan bicara.

“Siapa?” tanya Matari lagi. Penasaran.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Pawana.

“Siapaaa? Setahuku kamu cuma sering chat sama kami berdua. Nomor yang kamu pakai buat akun chat itu nomor rahasia, kan? Cuma kami berdua sama Mas Wukir yang tahu. Siapa lagi yang tahu nomor itu selain kami sama keluarga kamu?” Matari makin penasaran.

“Bukan siapa-siapa. Nggak usah dibahas,” jawab pawana enggan. Matari hanya bisa menghela napas. Hari ini ia sudah dibuat penasaran dua kali. Pertama, Sasi. Sekarang Pawana juga membuatnya penasaran.

Pawana kembali melihat smartphone-nya. Menimbang-nimbang sejenak, kemudian mengetik sesuatu.

Hey, udah tiga hari kamu nggak gangguin aku. Sakit?

Pawana mengirim chat itu. Tak berapa lama muncul balasan.

Kenapa? Kangen, ya? Udah kubilang minggu lalu, kamu pasti bakal kangen sama aku.

Pawana tersenyum simpul membaca balasan itu. Segera dia mengetik balasan.

Dasar Pukat narsis!


*bersambung

ARTIKEL TERKAIT



7 komentar:

  1. Mbak tolong situsnya di cek keamanannya. Ini pas tak buka lewat leptop, secara otomatis kok terlempar ke ww2.mahesajenar.com gimana ini. saya nggak bisa membaca tulisan kamu.

    Ini darurrat kak buka lewat operamini baru bisa terbuka.

    BalasHapus
  2. Ternyata yang ditunggu chat-nya adalah pukat too? Untuk cerita ini kurang sedikit seru kak. Ayo dong kak bikin yang seru sehingga membuat orang penasaran.

    BalasHapus
  3. rela mengorbankan segalanya? doesn't make sense.
    Jangan2, sebenarnya aku juga belum pernah jatuh cinta :v

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!