Jumat, 03 Februari 2012

Aku, Status Facebook, Laki-laki, dan Cucian

Sebenarnya aku sudah lama ingin mem-posting hasil kedudulanku di Facebook beberapa hari lalu. Tapi, ternyata malah sudah keduluan oleh Kie. Begini awal ceritanya... Malam itu, ada adik tingkatku (laki-laki) yang membuat status begini:

ada yang lg disetrika, ada yg nunggu disetrika, ada yg dijemur, ada yang nunggu dijemur, ada yg lg dikucek, ada yg nuggu di kucek, ada yg lg direndam, ada yg nunggu buat direndam...
Tidak!!!!!! kapan siklus ini berakhir!!!! T_T

Lalu ada yang komentar cuma "hahahahaha!". Dan adik tingkatku ini pun berkomentar "nasib ga ada istri". Komentarnya membuatku teringat kalimat kawan-kawanku (yang laki-laki) yang lebih kurang bunyinya "pengen nikah biar ada yang nyuciin baju", atau "nasib jomblo, ngga ada yang nyuciin baju". Ada juga yang membuat status mirip adik tingkatku itu dan kemudian kawan lainnya berkomentar "makanya nikah, biar nggak usah nyuci baju sendiri".

Jujur saja, aku kesal, sangat kesal bila melihat atau mendengar statement seperti itu. Seolah-olah laki-laki mencari istri hanya untuk mengerjakan pekerjaan domestik. Yah, memang tidak semua laki-laki seperti itu. Ada juga yang bersedia berbagi kerepotan rumah tangga dengan istrinya. Namun, tetap saja aku kesal dengan statement itu. Dan karena kesal, aku pun membuat status di Facebook begini:

Pengen nikah. Biar ada yang nyuciin ma nyetrikain bajuku. GRATIS.

Aku sengaja menulis seperti itu untuk menyindir para laki-laki yang sering berkata "pengen nikah biar ada yang nyuciin baju". Aku ingin mereka tahu bagaimana rasanya bila kami yang mengungkapkan kalimat seperti itu. Aku sudah siap dengan komentar keras dari teman-teman laki-lakiku. Tapi, ternyata tidak ada yang berkomentar terlalu keras. Aku sudah bersiap-siap menerima komentar "mau cari suami atau cari pembantu?" dan bersiap-siap membalikkan kalimat itu pada mereka dan berkata, "kalian juga sering bilang gitu. kalian cari istri atau cari pembantu?".

Ini dia printscreen dari status dan komen tersebut.



Komentar-komentar yang muncul:
LI (P) = Nikah sm mesin cuci aja mil.. wkwkwk
Berhubung yang komentar adalah perempuan jadi kuanggap biasa saja. Dan dia memang teman dekatku yang tahu pola pikirku jadi dia bukan target dari status ini. Tapi, komentarnya bisa digunakan untuk menjawab statement para laki-laki yang ingin punya istri agar ada yang mencucikan baju. Aku bisa menjawab, "Nikah sama mesin cuci aja!"
SR (L) = Niatnya udah gak pas.
Yang ini komentar dari laki-laki. Dan ternyata dia tidak sadar dengan maksud terselubung dari statusku dan mengira aku sungguh-sungguh mencari suami agar ada yang mencucikan bajuku.
HP (L) = Kalo gini, gimana ada yang mau sama kamu mil?
Lagi-lagi teman laki-laki yang komentar tidak memahami maksud kalimatku. Dan kujawab saja, "Kalo gak ada yang mau ya gapapa". Mungkin karena aku masih belum terlalu menggebu-gebu untuk menikah jadi aku bisa menjawab seperti itu.
MI (P) = Jiah, malah kalo dah nikah cucian n setrikaanmu jadi dobel mil..
Yang ini komentar dari perempuan yang sudah menikah dan termasuk kalangan perempuan berjiwa besar yang mau mencucikan baju suaminya.
AA (L) = Ntar kita beli mesin cuci aja kan beres tuh geto aja kok rempong eh repot
Nah, ini dia komentar yang lumayan sesuai harapan. Meskipun sebagai laki-laki dia tidak berniat meringankan pekerjaan istri dengan membantu, setidaknya dia berniat meringankan dengan membelikan peralatan yang memudahkan pekerjaan istri.

Eits, jangan-jangan ada yang mengira bahwa aku ini feminis. Bukan. Aku bukan termasuk feminis yang menuntut kesetaraan yang berlebihan. Aku hanya ingin dalam kehidupan berkeluarga para laki-laki tidak melulu melemparkan setiap tanggung jawab pada perempuan. Aku hanya ingin para laki-laki berhenti berpikir bahwa semua pekerjaan domestik itu pekerjaan perempuan. Hanya ingin mereka mengerti bahwa pekerjaan domestik bukanlah pekerjaan mudah, dan sepatutnyalah mereka bersedia meringankan tangan untuk membantu. Bukan, aku bukan ingin mereka mengambil alih semua pekerjaan domestik. Membatu sedikit saja sudah cukup. Mencuci piring ketika istri sibuk mengasuh anak, atau membantu menyeterika baju setelah istri mencuci dan menjemurnya. Apakah terlalu berat?

Sebenarnya masih banyak uneg-uneg-ku tentang sudut pandang laki-laki yang menyebalkan terhadap pernikahan. Tapi, kali lain saja, lah, kutuangkan di sini.

ARTIKEL TERKAIT



6 komentar:

  1. Tidak semua laki-laki Mil. Mereka umumnya berfikir demikian karena budaya kita mengkotak-kotakkan tugas laki-perempuan dalam rumah tangga seperti itu. Dan lagi mungkin laki-laki berfikir demikian karena mencuci dan menyetrika itu tugas yang lumayan berat dan menyenangkan jika bisa berbagi. Kalau aku jadi perempuan yang belum menikah, aku juga pasti akan buat status gini: "Pengen nikah, biar ada yang antar jemput kemana-mana", "pengen nikah biar ada yang bayarin makan, bayarin kontrakan, bayarin listrik". Mirip-mirip kan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang nggak semua laki-laki begitu. Tapi, banyak yang kaya gitu, dan sering diucapin juga. Jadi sebel.

      Hapus
  2. menikah itu bukan proses mencari. . .melainkan proses menjadi. . .
    dan tentu saja dituntut untuk saling mengerti hak dan kewajiban masing2

    :D

    BalasHapus
  3. Siiipp. Setelah scrolling-scrolling (karena ga bisa klik kanan T^T) akhirnya ketemu juga tulisannya. :D
    laki-laki yg berpikir bhw urusan sumur dapur kasur adalah kewajiban istri, sepertinya harus dikasih sedikit pemahaman, agar mereka tidak menyamaratakan antara istri dengan pembantu. >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah, bisa nemuin sendiri.

      Gimana yaa.. Biasanya sih yang punya pemikiran kaya gitu udah keukeuh ama pendapatnya. Dikasih pemahaman juga ga ngaruh..

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!