Jumat, 07 September 2012

Penonton yang Rame

Aku bukanlah seorang fans klub sepakbola manapun. Bahkan, aku bukanlah orang yang suka menonton pertandingan sepakbola, entah yang ditayangkan sore hari, siang hari, apalagi tengah malam. Aku lebih memilih menonton acara lainnya. Tapi, anehnya, aku sangat suka mengikuti berita tentang pertandingan sepakbola, juga berita tentang para pemainnya. Bagi yang sering mengakses portal berita seperti detik.com dan okezone.com pasti tahu betapa “ramai”-nya bila ada berita tentang sepakbola. Yang paling ramai – menurut pengamatanku – adalah berita tentang Barcelona dan Real Madrid. Jumlah komentar pada berita tentang Barcelona atau Real Madrid bisa dibilang fantastis dibandingkan berita lain. Selain jumlahnya banyak, komentarnya pun lucu-lucu. Mulai dari yang memelesetkan Barcelona menjadi Barcelana dan Bancilona (yang kedua ini lebih sering dilontarkan), Real Madrid menjadi Real Madrot, mengubah nama Ronaldo menjadi Ronaldongo, CR7 menjadi Curut7, Mourinho menjadi Mounyet, sampai yang mengatai Lionel Messi cebol. Selain mencela dan menghina klub yang dibenci beserta pemainnya, kadang para komentator juga menuduh klub yang dibenci tersebut. Misalnya penggemar Real Madrid menyebut pemain Barcelona cengeng, kesenggol dikit ngadu wasit, suka diving, dibantu wasit, dan sebagainya. Sebaliknya penggemar Barcelona menyebut pemain Madrid suka main kasar, main terlalu defensif, parkir bus, dan sebagainya. Dan sekali pemain klub musuh melakukan kesalahan, langsung dicela habis-habisan. Misalnya ketika Messi ataupun Ronaldo gagal melakukan penalti, langsung dicela tanpa ampun. Kadang, yang lebih aneh, beritanya tentang Real Madrid lawan klub lain (misalnya Atletico Madrid), masih saja ada komentator yang membawa-bawa Barcelona. Demikian juga sebaliknya. Beritanya tentang Barcelona lawan Valencia misalnya, ada saja komentator yang membawa-bawa Real Madrid.

Para pemain kedua klub belum tentu berseteru sebegitu hebohnya, tapi para penggemarnya sudah sedemikian parahnya dalam berseteru. Padahal, apa untungnya, sih, sebegitunya membela pemain kesayangan dan menghina pemain yang dibenci? Sampai-sampai menuduh wasit dibayar. Kalaupun memang benar, biar saja yang berwenang yang mengusutnya. Mereka tentu lebih paham dibandingkan kita tentang kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam pertandingan. Selama belum terbukti, ya, tidak perlu menuduh. Ada fans Real Madrid yang sebegitu bencinya pada Messi sampai menghina ketika diberitakan bahwa kekasihnya hamil. Emm, itu memang bukan contoh yang baik. Dalam Islam malah dosa besar itu (zinanya, bukan hamilnya), jadi tidak boleh ditiru. Tapi, pemain kesayangannya (misalnya Ronaldo) juga belum tentu lebih baik dari Messi. Apakah kalau Ronaldo juga melakukan hal yang sama, dia akan mencela sekeras itu? Atau akan memaklumi dengan dalih Ronaldo bukan muslim? Di sini muncul ketidakadilan dalam menilai seseorang dikarenakan kecintaan dan kebencian yang berlebihan. Ketika orang yang kita benci dan orang yang kita cintai melakukan tindakan buruk, tentu saja kita harus menganggap tindakan keduanya buruk. Bukan malah menganggap tindakan pemain yang satu buruk dan menganggap tindakan pemain lainnya wajar. Begitu pun dalam kebaikan. Kalau memang keduanya berprestasi, ya, akuilah prestasi keduanya. Bukannya mengingkari prestasi. Kalau memang Ronaldo memang jadi top scorer, ya, akuilah kehebatannya. Bukannya berkomentar negatif karena saking bencinya pada Ronaldo. Kalau Messi meraih Ballon d’Or, ya, akuilah kehebatannya. Bukannya berkomentar negatif, mengatakan dia tidak layak mendapatkannya, karena saking bencinya pada Messi. Ngomong mah gampang. Praktiknya yang susah. Hehe, memang, sih. Ketika kebencian dan kecintaan sudah berlebihan, amat sangat sulit menilai sesuatu secara adil. Aku juga begitu. Tapi, kita bisa belajar untuk lebih adil dalam menilai, kan?

Selain itu, penonton dengan mudahnya mencela pemain yang gagal melakukan penalti, padahal kalau dia yang disuruh, belum tentu bisa. Jangankan gol, bisa jadi dia cuma menendang angin, bukannya menendang bola. Nendang bal be ngesrong, ora teyeng. Penonton, sih, enak. Cuma teriak-teriak sambil membodoh-bodohkan pemain. Mereka tidak merasakan betapa lelahnya berlarian di lapangan yang luas mengejar bola. Fenomena ini sesuai sekali dengan perkataan orang tua yang mengatakan bahwa penonton memang biasanya (atau memang selalu?) lebih rame dari pemain. Dalam kehidupan sehari-hari pun begitu. Kadang ada yang seenaknya mengomentari pekerjaan orang dengan berkata, “Kaya gitu aja nggak becus!” Padahal yang mengerjakan sudah setengah mati seperempat hidup seperempat mati suri. Yang berkomentar tadi pun belum tentu bisa mengerjakan dengan lebih baik. Misalnya suami mengomentari pekerjaan istri, “Kamu gimana, sih? Rumah masih berantakan, goreng tempe juga gosong.” Padahal, sang istri seharian sudah capek mencuci dan menyeterika baju sehingga tidak sempat beres-beres rumah, lalu dia harus meninggalkan tempe yang sedang digoreng karena bayinya terbangun, alhasil tempenya gosong. Kalau suami yang disuruh melakukan semua itu, belum tentu lebih baik dari istrinya. Atau istri yang mengomentari suaminya yang tukang ojek, “Seharian narik cuma dapet segini. Bisa kerja nggak, sih?” Dia tidak merasakan apa yang dirasakan suaminya. Berpanas-panasan, terjebak macet, hampir terserempet truk. Kalau dia ada di posisi suaminya, bisa jadi dia cuma mau narik setengah hari. Aku juga begitu. Kadang seenaknya mengomentari (dalam hati) tulisan seseorang, menyebut tulisan itu tidak menarik, membosankan, garing, tidak terstruktur, dan sebagainya. Padahal, penulisnya sudah susah payah menggali ide, mencari diksi yang tepat, dan banyak usaha lainnya. Tapi, ya, itu. Berkomentar memang jauh lebih mudah dibandingkan bertindak. Semoga kebiasaan jadi “penonton yang rame” bisa berkurang.

Ngomong-ngomong, yang sering mengatai Lionel Messi cebol itu sebenarnya tingginya berapa? Apa dia lebih tinggi dari Messi atau justru lebih pendek? Kalau Messi dibilang cebol, lalu aku apa? Kurcaci? Hobbit? Hiks, hiks, hiks!

ARTIKEL TERKAIT



23 komentar:

  1. memang lebih enak ngomong doang dari pada main... jadi maklum lah.. apalagi yang ngomongin messi kecil... kecil kecil buat di eropa di indo ya tinggi dia.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, buat ukuran Indonesia mah udah tinggi dia. 170 an gitu.

      Hapus
  2. itulah 'hebatnya' penonton sepakbola, bisanya cuma mencela, padahal belum tentu dia bisa main sepakbola. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho'oh. Belum tentu dia bisa main bola. Kalaupun bisa, belum tentu lebih baik.

      Hapus
  3. mengomel memang paling mudah ya, mencela juga, nggak mikir kali berada di posisi yg diomelin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lebih mudah daripada melakukan sendiri.

      Hapus
  4. aq juga nggak suka bola bro.

    futsal aja baru sekali seumur hidup q.
    jajajajajajaj

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jarang ada cowok yang gak suka bola..

      Hapus
  5. Hehehe...kita di indonesia serasa di eropa ketika melihat pertandingan real madrid melawan barcelona.
    Jadi semacam pendukung fanatik,yang sebenernya tidak tau apa apa tentang sepak bola pun bisa ikut mencela dan memaki mereka,ya karena emang begitula tradisi nya.

    BalasHapus
  6. sama... aku juga gak begitu suka nonton bola.. malah suka ngantuk nontonnya.. lebih suka nyimak beritanya aja... :))))

    BalasHapus
  7. Xixixi... berarti kamu sering baca komenku didetik juga ya ndah?? Wah, penggemar messi juga nih. Viva Barca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang kalo komen di sono, kamu pake nama siapa? Ga ada nama Anak Rantau deh :p

      Hapus
  8. ga hanya di berita bola Milla, di berita teknologi juga banyak kok perang fans boy apple vs samsung vs nokia - ios vs android vs windows

    di situs agama apalagi, lebih seram krn banyak yg berani bilang si fulan kaf*r, si fulan yg itu w*habi, dll

    akal sehat sudah hilang, terlebih karena berdiskusi tanpa bertatap muka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo tentang teknologi, yang rame biasanya emang fanboy apple vs fandroid vs bb. Tapi, kalo di portal berita macam detik, komen di berita teknologi ga sebanyak di berita bola.
      Kalo di situs agama, sih, ngeri. Apalagi kalo debatnya tanpa ilmu. Orang awam macam aku bakalan bingung.

      Hapus
  9. kl pun messi cebol tp main bolanya jago.. yg ngatain messi jago gak mainnya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, kayanya yang ngatain cebol malah ga bisa maen bola :D

      Hapus
  10. yang penting mainnya bagus juga ganteng hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata "ganteng"-nya digarisbawahi :p

      Hapus
  11. Setuju sama pendapatmu. Ga fans klub sepak bola, artis, gadget kayak mas rio bilang semuanya ya seperti itu

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!