Sabtu, 29 September 2012

Dia Bilang Aku Tidak Butuh Teman

Katanya aku seperti tidak butuh teman. Dia menyampaikan hal itu lewat sms. Aku cuma diam, tidak bereaksi apapun, tidak menjawab sms-nya. Tidak butuh teman? Mustahil. Semua orang di dunia ini butuh teman. Sejak SD sampai SMA, kita selalu diajari bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang saling membutuhkan. Karena aku manusia, berarti aku juga makhluk sosial. Aku tidak bisa hidup sendiri. Aku juga butuh orang lain. Aku membutuhkan petani yang menanam padi (karena aku perlu makan nasi), aku butuh petani yang menanam kapas dan para pekerja industri tekstil karena aku perlu pakaian, aku butuh para penjual sayuran, dan lainnya. Selain aku membutuhkan orang lain dengan alasan ekonomis tadi, aku juga membutuhkan orang lain dengan alasan psikologis. Aku membutuhkan orang lain untuk bertukar pikiran, untuk berbagi perasaan, meminta saran, dan sebagainya. Dan aku akan menemukan kebutuhan itu dalam sosok seorang teman.

Dia bilang aku tidak butuh teman. Aku tahu alasannya: aku tidak suka berkumpul dan mengobrol dengan teman-teman kos. Aku memang lebih suka langsung masuk kamar untuk beristirahat setelah pulang kerja. Di akhir pekan pun aku lebih suka menonton film di kamar atau main game di laptop. Tapi, apa itu alasan yang kuat untuk mengatakan aku tidak butuh teman? Mengobrol? Aku sering mengobrol dengan kawan kantorku. Obrolan kami macam-macam, mulai dari obrolan tentang pekerjaan yang tak ada habisnya dan sampai terbawa mimpi, obrolan tentang keponakan masing-masing, sampai obrolan tentang cowok yang gantengnya juara. Aku pernah pamer pada Rika dan Meri, kawan akrabku di kantor, "Aku kemarin dirazia, lho! Yang razia Rendra, manis bangeeet!" Aku juga sering curhat pada mereka berdua tentang kegalauanku ketika dikejar deadline pekerjaan. Kalau tidak ada mereka berdua, sudah tentu suasana kantor kurang menyenangkan. Sewaktu kuliah pun aku sering mengobrol dengan teman-teman kampusku, mulai dari onrolan tentang dosen yang ganteng, ibu penjaga perpustakaan yang judes minta ampun, sampai mengobrol tentang apa yang akan terjadi ketika bumi disedot black hole.

Dia bilang aku tidak butuh teman. Sebenarnya aku sangat butuh teman. Tapi, mungkin bukan teman seperti dia-dan-teman-temannya yang kubutuhkan. Aku bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain. Bagiku, teman itu seperti jodoh, seperti enzim dan koenzim. Ketika aku bertemu seorang yang 'cocok' menurut hatiku, aku bisa akrab dengannya meskipun baru kali pertama bertemu. Ketika aku merasa 'tidak cocok' dengan seseorang, bertahun-tahun kenal pun tidak bisa akrab. Terlebih ketika mulai terlihat perbedaan pola pikir yang mencolok, tentunya sulit berakrab-akrab ria.

Dia bilang aku tidak butuh teman. Dia tidak tahu, sewaktu awal penempatan, aku pernah menangis sedih ketika merasa kesepian di sini, merasa tak punya siapa-siapa. Padahal, biasanya selalu ada Wida, Ndaru, Eny, dan Heni yang bisa kuganggu, ku-curhat-i, kuajak menggelandang, kuajak beli es krim atau jus. Tentu saja aku butuh teman. Tapi, yang kubutuhkan adalah teman yang membantuku beranjak dewasa, bukan teman yang masih sibuk galau karena tidak punya pacar dan galau karena kesepian di malam Minggu!

Ah, sudahlah.

ARTIKEL TERKAIT



22 komentar:

  1. Cieee.... Milo kesedot black hole <-- komen apah inih?! O.Oa

    Aku juga gak terlalu suka ngumpul-ngumpul yang geje gitu. Ngabisin waktu sama tenaga aja. Sama, kadang pengaruh negatifnya (kalo ada lho ya) bisa bikin kita ikut ngegalau juga. Temen mah gak perlu banyak-banyak sampe orang sekampung dijadiin temen semua. Sedikit tapi loyal, punya prinsip dan pandangan yang sama, orangnya pada baik-baik dan punya semangat hidup, itu udah cukup dan oke.

    Temen yang paling aku sebelin itu: yang suka ngomong jorok, kasar, sama ngerokok. Selesai aja deh. Mau cakep kayak apa, tapi kalo kayak gitu mah mending dijauhin ajah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo yang ini sih gak ngerokok, gak ngomong jorok juga. tapi, males aja. berasa beda frekuensi sama mereka -__-'
      masih tipikal anak muda yang heboh. biarpun saya juga heboh, tapi hebohnya beda.

      Hapus
  2. wah ga butuh teman, musti tinggal di goa neh, tarzan aje butuh teman tuh hehehe, makasi udah koreksi artikel di blog aku, salam kenal

    BalasHapus
  3. wih... tidak butuh teman... perlu disadarkan tuh mbak yang bilang aw aw aw XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketokke salah paham, deh. Moco tekan rampung po ra?

      Judule: "Dia Bilang Aku Tidak Butuh Teman", bukan "Dia Bilang, 'Aku tidak butuh teman.'"

      Hapus
  4. Hihihiy... Pst klo pny temen galau ga pny pacar di malem minggu takut ketularan galau jg yaaaa...
    Tp memang siy manusia itu mahluk sosial, tp mnrt aku pst ada saat2 dimana kita pengen sendiri ajan wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benul... Biarpun makhluk sosial, manusia juga butuh me-time :)

      Hapus
  5. Sekali waktu memang perlu bertegur sapa dengan teman kos nduk. "seperlunya" gitu saja, jangan menjauh terus.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  6. Diakui maupun tidak, memang benar bahwa semua kita butuh teman.
    Hanya saja, dalam implementasinya ada yang temannya berderet2 kasat mata dan ada yang temannya terbatas bahkan tak semua diketahui orang...
    Sayang disayang, ada teman yang nyaman dan ada teman yang malah nggak layak disebut teman...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Ada yang kelihatannya temannya banyak, ada yang kelihatannya cuma punya teman sedikit. Tapi, kalo sedikit itu sudah nyaman dan klik, ya nggak masalah, kan. Nggak harus banyak-banyak.

      Hapus
  7. Ya benar .. "Ah sudahlah" saja .. mereka tak mengerti. Memang kita butuh teman yang bisa saling melengkapi seperti apa tadi istilahnya .. seperti enzim dan koenzim ya ... spt soulmate. Kalo nggak bisa ... tinggalin saja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nggak cocok ya nggak usah dipaksakan ya...

      Hapus
  8. berarti mbak sama kayak aku.... :D

    BalasHapus
  9. aih aihhhh ... ga jaman pacar2an lagi. wes sepuh, ndang tunaikan separoh dien mu nduk :-P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari dulu juga gak jaman pacar2an, makanya saya males ngumpul sama mereka.

      Hapus
  10. Huaaa... aku susah mbak dekat sama orang T.T
    Tapi kalau sudah dekat ya cewawakan, hahaha...
    Indikator aku cocok sama orang, kalau aku bisa tertawa terbahak-bahak bersama dia/mereka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Podho, Na. Aku juga susah deket sama orang.

      Aku, sih, biasanya kalo udah akrab tandanya itu ya 'nyambungan' kalo ngomong. Kalo becanda juga tahu arahnya ke mana.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!