Jumat, 22 Juli 2011

Tentang Hidup dan Naik Motor

Dulu, saat awal-awal belajar mengendarai sepeda motor dengan Mery, aku sulit sekali mengatur kekuatan tanganku dalam menarik gas. Kadang terlalu kuat, kadang terlalu lemah. Pernah aku jatuh ketika pulang kantor. Jalan keluar dari parkiran memang agak horror bagi newbie sepertiku. Menanjak, agak sepit, lalu setelah sampai di atas tanjakan harus buru-buru belok kiri bila tidak ingin menabrak pondasi bangunan kantor sebelah yang memang lebih tinggi dari bangunan kantorku. Aku pernah diajari kawanku bila di tanjakan harus menarik gas kuat-kuat sehingga bisa naik. Aku pun melakukannya. Alhasil, aku menarik gas terlalu kencang dan... brak! Aku menabrak tanah sekitar pondasi bangunan sebelah, tanpa refleks untuk mengerem. Tak tanggung-tanggung. Seumur-umur baru kali ini aku jatuh sampai terguling. Alhamdulillah, kepalaku terlindung helm, dan aku memakai jaket tebal, sehingga lukaku tidak parah. Hanya lecet dan memar di kaki. Dan kemudian aku dinasihati bapak kosku, "Kalau nanjak tarik gasnya gak usah terlalu kencang, secukupnya aja asal bisa naik". Hmm, berbeda dengan nasihat kawanku. Tapi, setelah pengalaman jatuh itu, aku lebih setuju dengan nasihat bapak kosku.

Begitu juga dengan kehidupan. Kita harus tahu kapan harus "menarik gas" sekuat tenaga, kapan santai-santai saja, kapan harus mengerem. Kita tidak bisa menarik gas kencang setiap saat. Kita tidak bisa mengerahkan seluruh effort sepenuhnya untuk setiap pekerjaan. Ada prioritasnya. Kita juga harus tahu kapan harus "berhenti" sebelum "menabrak". Kita harus tahu batas-batas sampai di mana kita bisa bertindak.

Dan tadi pagi aku juga hampir mengalami kecelakaan. Aku baru saja dari SPBU untuk isi bahan bakar motorku. Dan untuk ke kantor, di perempatan aku harus belok menyeberang ke kanan. Aku melihat spion untuk melihat ada kendaraan di belakangku atau tidak. Karena kendaraan di belakang cukup jauh, aku pun menyeberang ke kanan. Dan ternyataaa... Ada mobil besar di depanku. Haisyy! Aku langsung tarik gas untuk cepat-cepat menyeberang. Kulihat petugas yang mengatur lalu lintas memandangku. Sampai aku jauh pun dia masih memandangku. Hehehe, aku cuma bisa "nyengir kuda". Aku tahu aku salah. Kesalahanku adalah terlalu fokus melihat spion dan mengabaikan kondisi di depanku. Persis seperti hidupku beberapa waktu lalu. Aku terlalu fokus pada masa lalu. Kenapa, kenapa, dan kenapa, selalu itu yang terngiang di kepalaku. Hingga aku kehilangan fokusku akan masa kini dan masa depan. Tak ada salahnya melihat ke masa silam, tapi tak boleh berlarut-larut seperti yang pernah kulakukan. Hanya menyakiti diri sendiri.

Dan sekarang, yang harus kupikirkan adalah sesegera mungkin membuat SIM agar aman bila ada razia, hehehe...

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. harii baru, lembaran baru, blog baru,,
    wahh.. emang knpadg yg lama mba??

    BalasHapus
  2. @ manis.asam.asin:
    Terlalu banyak cerita sedih di blog lama, jadi pindah ke sini buat ganti suasana.

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!