Rabu, 07 November 2012

Melantur tentang Film Kolosal Mandarin

Aku suka film Mandarin, terutama film kolosal. Temanya seringkali tak jauh-jauh dari  pertarungan/peperangan, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan sebangsanya. Ada juga, sih, film kolosal yang temanya tidak fokus pada peperangan atau pertarungan (meskipun tetap ada unsur itu). Ada Confucius, film tentang biografi tokoh -- kalau tidak salah -- filsafat Cina yang bernama Kong Qiu yang diperankan oleh Chow Yun Fat. Film ini menceritakan kisah ketika Kong Qiu diberi jabatan sebagai menteri hingga karirnya terus meningkat kemudian dikhianati hingga dia harus pergi dari negerinya. Yang kusuka dari film ini adalah prinsip dari Kong Qiu yang 'memimpikan' keadaan di mana rakyat mematuhi hukum bukan karena takut melainkan kesadaran, orang tua menyayangi anak dan anak menghormati orang tua. Aku juga suka tokoh Kong Qiu yang -- kata musuh-musuhnya -- hanya memahami etika dan puisi  ternyata juga menguasai taktik perang. Misalnya ketika dia tidak mendapat bantuan kereta perang. Dia pun mengelabui musuh dengan membawa 'pasukan' yang terdiri atas gelandangan yang membawa kereta lembu. Karena posisi 'pasukan' ini jauh, musuh pun mengira mereka adalah pasukan sungguhan dengan kereta perang sungguhan pula. Tapi, ada satu yang tidak kusukai, yaitu adegan ketika Kong Qiu mengajak murid-muridnya untuk meninggalkan kerajaan Wei yang sedang mereka singgahi karena akan ada kerusuhan. Tokoh sehebat Kong Qiu bukannya seharusnya bisa ikut meredakan kerusuhan? Kenapa justru menghindarinya? Tapi, secara keseluruhan film ini bagus dan mengharukan. Yang paling mengharukan adalah ketika Yan Hui -- murid Kong Qiu yang menurutku paling ganteng (dibandingkan murid lainnya) -- berusaha menyelamatkan buku-buku Kong Qiu yang tenggelam di laut atau danau (entah mana yang benar, pokoknya di air). Sayangnya dia justru tenggelam dan mati. Kenapa yang mati justru yang ganteng? Kenapa bukan yang jelek??? Kenapaaaaaaah??? Ah, sudahlah.

Kong Qiu dan muridnya yang unyu-unyu (gambar pinjam dari sini)
Ada lagi film yang menurutku tidak terlalu fokus pada pertarungan yaitu Detective Dee and The Mistery of Phantom Flame. Ada banyak adegan kungfunya, sih... Tapi, sepertinya intinya bukan itu. Intinya adalah Detective Dee -- yang diperankan oleh Andy Lau -- diperintahkan untuk memecahkan misteri kematian beberapa orang. Orang-orang itu tubuhnya terbakar dengan sendirinya. Awalnya diduga orang-orang itu terkena kutukan karena memindahkan jimat yang dipasang pada menara yang sedang dibangun. Setelah diselidiki, ternyata mereka 'diracuni'. Air minum mereka sudah mengandung "fire turtles" (disebut turtles tapi wujudnya mirip serangga). Ketika darah mereka yang sudah bercampur dengan racun tersebut terkena sinar matahari, darah mereka akan terbakar. Ceritanya lumayan menarik. Sayangnya, di akhir cerita Detective Dee ini juga terkena racun tersebut sehingga dia harus terus bersembunyi di bawah tanah untuk menghindari sinar matahari. Dia hanya bisa 'naik' ketika malam hari. Tapi, masih lebih mending, lah, ending-nya. Andy Lau di sini tidak mati. Tidak seperti di film The Duel, Shaolin, dan Three Kingdoms di mana Andy Lau mati di akhir cerita. Menyebalkan.


Pinjam dari sini
Oh, ya. Film berjudul Shaolin juga menarik, lho... Film ini bercerita tentang Hou Jie (diperankan oleh Andy Lau), seorang commander (apa, sih, kata dalam Bahasa Indonesia untuk commander?) yang berusaha menaklukkan berbagai wilayah. Dia berencana membunuh kakaknya, Hou Long, yang dia kira akan merebut wilayah kekuasaannya. Padahal ternyata kakaknya justru ingin memberikana wilayahnya pada Hou Jie. Dan saat dia hendak membunuh kakaknya, dia diserang oleh anak buahnya yang dipimpin Cao Man (diperankan oleh Nicholas Tse) yang ternyata mengkhianatinya. Dia dan anaknya ditolong oleh orang Shaolin. Ternyata anaknya terluka parah dan tidak bisa diselamatkan. Hou Jie pun kemudian bertobat dan tinggal di kuil Shaolin. Sayangnya, Cao Man tetap 'mengincar' Hou Jie. Dia menyerang kuil Shaolin. Ending-nya MATI juga.

Kalau menonton film kolosal seperti ini memang harus siap mental menerima kenyataan bahwa tokoh utamanya akhirnya mati. Seganteng apapun dia, pada akhirnya tetap mati (apa hubungannyaaa???). Selain itu, kita juga harus siap mental melihat darah muncrat, leher ditebas, pokoknya adegan-adegan brutal. Kalau aku, sih, biasanya menutupi laptop dengan tangan selama adegan brutal. Kalau sudah berganti adegan lain, baru menonton sepenuh hati. Oh, iya, kita juga harus siap mental melihat aktor-aktor ganteng (yah, meskipun jumlahnya sedikit, tapi namanya makhluk bening pasti menonjol di antara makhluk-makhluk kurang bening). Salah satu aktor yang menurutku ganteng adalah Ekin Cheng, lawan main Andy Lau di The Duel.

Dari film-film kolosal ini, biasanya kita bisa belajar banyak filosofi hidup, misalnya dalam film Confucius dan Shaolin. Tidak semua bisa ditiru, sih. Harus pintar menyaring nilai-nilai yang disampaikan oleh film. Yang jelas, ada satu hal yang tidak boleh ditiru dari film-film kolosal yaitu berperang, membunuh, pokoknya yang berbau kekerasan. Pokoknya don trai dis et hom, lah.

Aaaah, jadi melantur begini. Ngomong-ngomong, kenapa film kolosal tanah air tidak semenarik film kolosal Mandarin dan Korea, ya?

ARTIKEL TERKAIT



9 komentar:

  1. Aku juga sukaaaaa film Mandarin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sama juga dengan mba Fardelynhacky. Saya juga suka dengan film Mandarin. Yang tidak saya suka saat film Mandarin ditayangkan lalu ada dubbing Bahasa Indonesia nya.

      Jangan salah paham dulu ya. Saya suka Bahasa Indonesia. Namun dalam konteks film Mandarin saya ingin sekali belajar bahasa Mandarinya, jadi perlu dengar aksen dari penutur aselinya, Gitu

      Hapus
    2. @ fardelynhacky: ih, ikut-ikutan :p

      @ Asep Haryono: dulu, sih, saya biasa aja. tapi, sekarang saya memang lebih suka film yang nggak di-dubbing (apapun bahasanya) karena ternyata beda rasanya. penghayatannya lebih berasa pake suara aslinya.

      Hapus
  2. ehm... aku gak ngerti tentang film. Tapi yang lebih gak paham lagi kenapa murid di foto itu dibilang unyu-unyu... hehe,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, itu kan imut2 gitu cowoknya :p Yah, setidaknya dibandingin murid yang lain.

      Hapus
  3. Wah dulu wkt aku kecil pas msh jaman video betamax, suka banget nih nonton kolosal mandarin bedua ama bokap, apalg yg bersambung gitu seru....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, yang bersambung itu dulu seru banget yak. Ada Yoko, ada Pedang Pembunuh Naga, macem2 dah.

      Hapus
  4. wah hobby juga ya liat film.untuk film confucius di uraian yang awal aku juga dah ernah nonton.bagus tuh untuk orang2 yang mau memahami mengenai sebuah konflik yang bersifat politik yang dengan filsafatnya menjadikannya "negarawan yang beretika".bisa direkomendasikan untuk ditonton bagi yang suka biografi tokoh2 besar.untuk muridnya yang tenggelam didanau yang beku itu mencermikan sebuah makna "sangat berharganya ilmu itu" yang kelak akan diwariskan dan dipelajari generasi sesudahnya (termasuk kita sampai saat ini) sehingga rela mengorbarkan nyawanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin bisa diartikan seperti itu, betapa pentingnya sebuah ilmu sampai harus mengorbankan nyawa, bahkan nyawa murid yang unyu-unyu. *halah, mikirnya ke situ lagi*

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!