Sabtu, 03 November 2012

Idul Adha di Blangpidie

Biarpun sudah tinggal lebih dari tiga tahun di kota Blangpidie ini, selama ini aku belum pernah sekalipun ber-Idul Adha di sini. Idul Adha pertama -- sejak penempatan -- kurayakan di Lembah Sabil -- kecamatan di Aceh Barat Daya yang berbatasan dengan Aceh Selatan. Idul Adha kedua dan ketiga kurayakan di Meulaboh, Aceh Barat. Jadilah aku masih bingung, tidak tahu mau sholat di mana dan mau berangkat jam berapa. Kalau di Kaligangsa -- kampung halamanku -- pukul enam orang sudah berduyun-duyun ke masjid. Tapi, di sini? Pukul enam langit masih lumayan gelap. Karena ragu, Kamis sore aku bertanya pada menantu ibu kos yang kebetulan sedang duduk di teras ketika aku pulang kantor. Katanya, sekitar pukul tujuh atau setengah delapan. Paginya, aku pun selesai bersiap-siap sebelum pukul tujuh. Karena masih ragu juga, aku kembali bertanya tapi kali ini aku bertanya pada Kak Fiza, anak ibu kos. Dia bilang lebih kurang begini, "Jam setengah delapan. Berangkat aja." Dalam pemahamanku aku mengira maksudnya adalah aku disuruh berangkat setengah delapan nanti. Aku pun bersantai dahulu di kamar. Tak lama kemudian Kak Fiza berteriak, "Mbak Mila, jadi ke masjid nggak? Takutnya nanti telat." Lho? Jadi, sudah harus berangkat? Ternyata tadi aku salah paham. Ternyata tadi maksud Kak Fiza adalah aku sudah bisa segera berangkat, bukannya menyuruhku berangkat pukul setengah delapan. Aku pun langsung menyambar tas berisi mukena, memakai jilbab, lalu berangkat ke masjid.

Tujuan awalku adalah Masjid Jami'. Tapi... Aku ragu apakah di masjid itu sudah mulai sholat atau belum. Kemudian, di jalan aku melihat beberapa ibu berbelok ke jalan yang mengarah ke Masjid At-Taqwa. Dengan agak impulsif aku pun bergegas mengikuti mereka. Setelah aku mengikuti mereka, eh, mereka malah berbelok lewat jalan kecil -- tapi masih mengarah ke Masjid At-Taqwa juga. Karena aku malu kalau ketahuan mengikuti mereka, aku pun ngucluk sendirian lewat jalan besar, bukan lewat jalan kecil seperti ibu-ibu tadi. Setelah berjalan dengan terburu-buru karena takut ketinggalan, aku pun sampai di masjid tujuan. Sudah ramai rupanya.

Suasana sebelum sholat id
Sampai di masjid aku bingung karena di dalam sudah terlihat penuh. Aku juga malas sholat di luar karena tidak membawa koran. Akhirnya aku dengan pede masuk ke masjid dan mencari-cari celah. Rupanya ada satu celah di ujung kanan shof di teras masjid (emmm, itu namanya teras bukan, yah?). Di sebelah kiriku seorang anak kecil. Di sebelah kirinya lagi sepertinya ibunya. Nah, masalah timbul ketika sudah takbirotul ihrom. Aku sudah mulai sholat ketika ibu di sebelah kiriku dan anaknya pindah karena melihat tempat kosong di barisan lain. Itu berarti shof di sebelahku kosong. Aku ragu hendak bergeser atau tidak. Jama'ah di sebelah kiri shof kosong itu pun tidak bergeser untuk menutupnya. Yang di belakang juga. Akhirnya sampai sholat selesai, shof itu tetap kosong. Aku merasa tidak nyaman juga karena membiarkan shof itu kosong. Tapi, aku menenangkan diriku sendiri dengan mengingatkan -- pada diri sendiri tentunya -- bahwa aturan shof itu dimulai dari kanan. Kalau di bagian kanan ada yang kosong, berarti yang kiri harus bergeser ke kanan untuk menutup shof yang kosong itu, bukannya yang di kanan yang bergeser ke kiri -- yah, meskipun sepertinya di sini banyak yang berpikiran sebaliknya, hiks.

Setelah sholat selesai, ada khutbah. Isi khutbahnya benar-benar menyindirku. Salah satu poin yang dijelaskan adalah tentang penyakit wahn -- cinta dunia dan takut mati. Wahn adalah fenomena yang sepertinya banyak menimpa umat Islam -- termasuk aku. Poin lainnya adalah kondisi umat Islam yang mulai meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah. Hadeuh, ini juga menyindirku. Khotib (penceramah) juga mengajak seluruh umat Islam menjadi pelopor, baik pelopor dalam ilmu pengetahuan, pelopor dalam penegakan hukum, pelopor dalam pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Semoga terwujud.

Aku agak kurang konsentrasi mendengarkan khutbah karena memperhatikan ibu muda di depanku. Setelah selesai sholat aku baru menyadari bahwa dia membawa anaknya yang masih bayi. Selain itu, ternyata dia juga membawa dua anaknya yang lain. Aku makin memperhatikannya ketika bayinya menangis. Sepertinya dia menyusui bayinya. Ternyata repot juga membawa tiga anak -- meskipun sepertinya ada ibu/mertuanya juga. Ditambah lagi, salah satu anaknya rewel minta ke tempat ayahnya. Untungnya sepertinya ibu itu lumayan sabar menghadapi anaknya yang rewel itu.

Akhirnya khutbah selesai. Itu artinya, pulang! Aku pulang lewat jalan yang berbeda dari jalan yang kulewati ketika berangkat. Entah khotib atau pengurus masjid yang lain yang mengingatkan hal tersebut.

Suasana setelah sholat id
Dan di jalan, aku melakukan satu hal yang mungkin norak di mata orang lain. Ketika melihat bunga canti di tepi jalan, aku langsung mengeluarkan kameraku dan memotretnya. Kemudian ada satu ibu yang memandangiku. Aku cuma tersenyum padanya. Hehehe... Malu.

Bunganya cantik, kan?

Yah, begitulah sebagian cerita Idul Adha pertamaku di Blangpidie. Kira-kira tahun depan -- semoga masih ada umur -- aku Idul Adha di mana, ya?

ARTIKEL TERKAIT



28 komentar:

  1. Balasan
    1. aku kan baca tulisannya, mil.. trus aku being distracted ama potonya, trus aku jadi interested ama poto kembang itu.. aku jadi lupa ama ceritamu, jadi aku baca sampe 3x deh... :D

      Hapus
    2. ampe 3 kali, en? aku terharuuuuuuuuuuuuu T____T

      Hapus
    3. barusan aku baca lagi, jadi 4x deeeehhh...

      Hapus
    4. *tambah terharu* *nangis* *keluar ingus* *lap ingus pake jilbab eny*

      Hapus
  2. Meski ditempat berbeda, suasana Idul Adha biasanya hampir sama...
    Dan dimanapun itu, yg penting kita bisa ambil hikmahnya...
    Selamat berakhir pekan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak. Suasananya hampir sama..

      Hapus
  3. waduh.. menarik topik wahn nya.. jadi pingin tau khutbahnya

    selamat mbak akhirnya bisa juga ber i'd adha di blangpidie #perludikatainselamatgsihXd

    hemm.. itu bunga apa mbak @. , beautiful, untunglah kameranya tidak sampai menodai kecantikannya.

    tahun depan idul adha di surabaya ya... dikampusku :)) ayo kopdar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo soal wahn kayaknya kamu lebih paham, deh.

      Sejak kapan kamera bisa menodai? -__-'

      Semoga tahun depan Idul Adha di kampus a.k.a kuliah lagi :)

      Kopdar? Di kampusmu? Taun depan kan kamu dah lulus.

      Hapus
    2. oh y ding, emm,, siapa tau lanjut sekolahnya disini lagi @.

      y dah, ayo kita sekolah lagi.... kopdar di luar negeri #bayangin..hopewishcametrue

      wah, ada kamera yang buram lo mbak. kasian yang dipotret @.

      Hapus
    3. Hayuk, mau lanjut sekolah ke mana?

      Hapus
    4. ntust taiwan? tokyo univ? asian univ thailand?

      yang agak kongkrit sepertinya di ntust.. banyak temen2ku yang udah berangkat duluan.
      kalo di dalam negeri sepertinya ingin ke ugm yogya. @

      Hapus
    5. kalo di UGM mah kayaknya aku bakal ditolak (jurusan gak cocok) :D

      Hapus
  4. Kasihan itu ibunya,,, apa gak capek ya...???
    :)

    blog.umy.ac.id/workaholic

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya sih capek. tapi ibunya sabar gitu deh, jadi mungkin gak dirasain capeknya.

      Hapus
  5. Kayaknya aku doang yang belom bikin post Idul Adha.... T_________T

    Di sini jam 6:30 udah mulai sholatnya. Tapi orang pada shoat di lapangan. Mesjidnya ada bagian yang lagi direnovasi. Jadi gak leluasa kayaknya. Aku mbikin post Idul Adha aaaaah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya Mba Ayum belum bikin juga deh :p

      Jam 6.30 kayaknya saya belum selesai mandi :D Etapi, 6.30 di sana udah rada tinggian ya mataharinya?

      Hapus
    2. apa sih, apa sih? kalian pada janjian nulis kok aku gak diajak?

      Hapus
    3. Hehehe, ini janjian para kaum rusuh yang suka nyampah di pesbuk. Kalo Nurin mau ikutan juga boleeeeeeeh :)

      Hapus
    4. Oh, aku udah tuh, yang kisah cinta Ibrahim. Itu tulisan Idul Adha yang ku buat. Nyambung dengan tema kalian kan? hehe.. *ngeles*. Kalau disini rame Mil, takbirannya keren, pake perahu hias menyusuri sungai. Satu fotonya tak pake di tulisan behind the scene itu,

      Hapus
    5. Di sini takbirannya gak rame. Mungkin karena musim hujan juga kali ya, jadi nggak ada takbir keliling.

      Hapus
  6. Dan selama saya di Banyuwngi, sptnya belum prnh merayakan idhul adha di sini. Mksdnya ikut sholat Id-nya. MOment lebaran [idhul fitri-idhul adha] masih menjadi pilihan utk berada di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks, saya mah Idul Adha gak bisa pulang kampung. Males ijinnya. Pulang kampung palingan pas Idul Fitri...

      Hapus
  7. mesjidnya kerenn...

    moga tahun depan bisa Idhul adha di kampung sendiri...aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiiin... Semoga bisa Idul Adha di kampung sendiri :)

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!