Jumat, 10 Mei 2013

Kenapa Fiksi?

“Itu novel semua?” tanya seseorang ketika melihat setumpuk buku yang kubeli. Aku mengangguk. Sebagian besar memang novel, kecuali dua buku: Indonesia Mengajar dan Selimut Debu. Kemudian dia pun berkomentar bahwa aku tidak membeli buku yang bisa menambah ilmu.

Apakah kita tidak bisa mendapat ilmu dari novel atau cerita fiksi lainnya? Hmm, tidak juga. Memang banyak novel – atau buku fiksi lainnya – yang (menurutku) tidak ‘menyampaikan’ ilmu bagi para pembacanya. Memang ada novel yang (menurutku) hanya mengandung unsur hiburan. Akan tetapi, tidak sedikit juga novel yang ceritanya mengandung ilmu atau hikmah, misalnya Toto-chan, trilogi Negeri 5 Menara, Serial Anak-anak Mamak, atau novel-novel lainnya. Ada banyak pesan moral yang terselip di dalamnya. Itu ilmu juga, kan? Ada juga novel yang kental sekali pesan ideologisnya, seperti Kemi dan The Lost Java. Dan satu yang kadang kita lupa, ketika kita membaca lebih dalam, kita bisa menemukan ‘hikmah’ dari sebuah buku yang kelihatannya sama sekali tidak mengandung nilai moral. Seperti ketika melihat apel jatuh. Orang lain mungkin mengabaikan apel jatuh tersebut. Tapi, seorang Isaac Newton bisa ‘menemukan’ teori gravitasi bumi ‘hanya’ karena melihat apel jatuh.

Pada dasarnya kita bisa belajar dari mana saja, dari apa saja, dari siapa saja, selama kita mau belajar. Kita bisa belajar dari film. Kita bisa belajar dari obrolan ringan di warung kopi. Kita bisa ‘belajar’ dari buku nonfiksi ataupun buku fiksi. Tergantung selera bacaan kita. Dulu, sewaktu tingkat 1, aku gemar sekali membaca buku psikologi dan buku motivasi. Dan beberapa tahun kemudian, bacaan itu sudah tidak mempan lagi untukku. Aku cenderung menganggap buku-buku motivasi itu ‘cuma teori’. Kemudian aku membaca novel dan ternyata ceritanya memotivasiku. Ternyata kepekaan seseorang bisa berubah. Yang tadinya mempan dimotivasi lewat buku nonfiksi, lama-lama jadi tidak mempan dan akhirnya justru lebih mempan dimotivasi lewat buku fiksi.

Kenapa bagi beberapa orang buku fiksi lebih mempan memotivasi dibanding buku nonfiksi? Mungkin salah satu alasannya adalah contoh. Dalam fiksi, pembaca melihat tokoh utama menghadapi konflik lalu berusaha mengatasinya. Pembaca kemudian menjadikan tokoh itu sebagai ‘model’ yang dia tiru. Apa yang dia tiru? Bisa cara si tokoh mengatasi konflik, bisa semangat si tokoh, bisa kesabaran si tokoh. Misalnya saja kalimat “man jadda wa jada”. Ada beberapa orang yang mungkin tidak akan termotivasi membaca kalimat tersebut bila ditulis dalam buku nonfiksi. Namun, ketika kalimat “man jadda wa jada” ini ‘diwujudkan’ dalam kegigihan dan keteguhan seorang Alif dalam mencari ilmu, orang akan lebih termotivasi.

Tapi, lagi-lagi semua kembali kepada selera. Ada yang suka fiksi, ada yang suka nonfiksi.

ARTIKEL TERKAIT



23 komentar:

  1. aku malah ga punya novel
    kalo majalah banyak

    *dapet nyolong di pesawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. majalah sing niate nggo pamer tapi malah dadi diece "nyolong nang pesawat" yah :p

      Hapus
  2. aku donk, juga mengalami perubahan selera baca yg cukup signifikan. Biasanya kalo ke toko buku atau bazar buku, aku belinya novel2 misteri. Nah sekarang, kalo pergi ke toko buku atau bazar2 buku, belinya buku2 teori. Karena novel terlalu mainstream. #jiaaahhh

    ~alasan, bilang aja kalo sekarang emang lagi butuh buku2 teori woy! T_T

    Coba baca2 bukunya bang Darwis Tere Liye kak, katanya bagus2 lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiah, songong euy bilang novel terlalu mainstream :p

      belinya buku teori biar cepet lulus yak?

      aku mah udah baca sebagian besar bukunya Tere Liye..

      Hapus
    2. hehehehe, kak Milo tahu saja kalo aku lagi songong. :3

      Iya begitulah, biar cepet lulus... :3

      wah, udah baca bukunya bang Tere ya... Kalo bukunya master Hoeda Manis? Udah baca juga? Keknya buku2nya bagus, coz isi blognya lumayan bagus. :3

      Hapus
    3. Bukunya Hoeda itu yang mana ya?

      Hapus
    4. googling aja kak. Belum tahu jumlahnya berapa. Tapi kalo isi blognya sih menurutku lumayan bagus. Khususnya tulisan2 yg pake label pembelajaran.
      :3

      Hapus
  3. aku juga suka fiksi, jd biasanya klo baca buku dalam satu waktu aku selalu baca dua sekaligus, yang non-fiksi dan fiksi. ganti2 gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa ya dalam satu waktu baca dua buku sekaligus? mata kanan liat buku fiksi, mata kiri liat buku nonfiksi gitu???

      Hapus
    2. huahahahahha, apasih kak Milo nih, ngelawak ya?
      XD

      Hapus
    3. Iya, nih. Nyoba ngelawak. Gagal ya?

      Hapus
    4. kalo gagal masak aku ketawa sihhh.
      XD

      Hapus
    5. Jadi terharu ada yang ketawa karna lawakanku T_____T

      Hapus
  4. fiksi juga bisa menambah wawasan apalagi kalau novel fiksi ilmiah juga kadang pake istilah yg sebenarnya.

    Bukan cuman itu, novel bisa bikin kita lebih memahami dan mengasah sensitivitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengasah sensitivitas ya? hmmm...

      Hapus
  5. Aku suka apa ya??? tauk ah :D

    Blogger baru nih. Butuh teman buat ngeblog :)

    BalasHapus
  6. napa hrs fiksi ya..? pdhl msh bnyk kisah2 indah dan penuh heroik dr sahabat2 Nabi dan dua jaman setelahnya termasuk para Ulama.., saking cintanya sama fiksi lalu lupa sama kisah2 para sahabat dan org2 sholeh.. *smile

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!