Selasa, 14 Mei 2013

Empat Tahun yang Heboh

Hari ini aku baru ingat bahwa 3 Mei 2013 lalu genap empat tahun aku menginjakkan kaki di tanah rencong. Dan 5 Mei 2013 kemarin aku genap empat tahun ditempatkan di Aceh Barat Daya. Yang kuingat justru anniversary blog-ku yang kedua 23 Mei nanti. Ternyata sudah empat tahun aku di sini, ya? Time flies so fast, huh? Rasanya baru kemarin muntah di pesawat, baru kemarin muntah di mobil bos dalam perjalanan Banda Aceh – Lhokseumawe. Eh, tapi setelah membaca pernyataanku yang merasa bahwa waktu berlalu sangat cepat jangan menuduhku sudah sangat betah di Aceh, ya. Aku juga masih mau pindah ke Jawa, hehehe...

Kalau diingat-ingat banyak juga hal heboh yang kualami selama  empat tahun. Tahun 2009 adalah tahun adaptasi, penuh dengan culture shock, penuh dengan pengalaman pertama. Tahun adaptasi karena pada saat itu aku harus membiasakan diri tinggal di tempat yang minim fasilitas terutama fasilitas internet. Saat itu di Blangpidie cuma ada sedikit warnet, kecepatannya pun kurang memuaskan). Aku juga harus beradaptasi dengan makanan di sini. Saat itu sedikit sekali rumah makan yang menyajikan makanan selain makanan Aceh. Di tahun 2009 pertama kalinya aku melihat yang namanya meugang (semacam syukuran menyambut Ramadhan), melihat orang ramai mandi di sungai dan pantai. Di tahun itu pula pertama kalinya aku merasakan hebohnya perjuangan untuk mudik dengan pesawat terbang. Dan di tahun itu pula pertama kalinya aku mengurus KTP karena untuk membuat rekening di bank setempat harus memiliki KTP lokal. Sebelumnya sewaktu di Jawa aku tinggal titip berkas pada tetanggaku – yang menjabat Ketua RT – lalu beberapa hari kemudian KTP sudah diantar ke rumah.

Di tahun 2010 pun aku mulai sibuk. Maklum, 2010 adalah tahun vital bin berbahaya karena ada sensus penduduk. Banyak pengalaman baru, mulai dari ikut ratekda (ini pertama kalinya juga) di Banda Aceh, menjadi inda (instruktur daerah) untuk Sensus Penduduk 2010 (SP2010), mewawancara Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRK (atau DPRA, ya?), dan Dandim pada awal pelaksanaan sensus, sampai begadang hingga pukul tiga pagi demi memeriksa dan memperbaiki tulisan di dokumen SP2010. Meskipun ada peristiwa menyedihkan di 2010, kalau diingat-ingat tidak apa-apanya dibandingkan pengalaman nano-nano selama SP2010.

Setelah sempat berasumsi bahwa tahun 2011 akan dijalani dengan santai dibandingkan tahun 2010, kenyataannya jauh berbeda. Tahun 2011 jauh lebih sibuk dan heboh dibanding 2010. Ternyata selain harus heboh meng-handle entry Susenas yang mulai dilaksanakan triwulanan dan mulai di-entry menggunakan aplikasi berbasis jaringan (bukan lagi stand alone) ada proyek-proyek lain yang lumayan membuat sakit kepala: PSPK dan PPLS. Aku harus menjadi inda untuk PSPK (Pendataan Sapi Potong Sapi Perah dan Kerbau) dan meng-handle entry datanya. Aku juga harus menjadi inda PPLS (Pendataan Program Perlindungan Sosial) juga meng-handle entry datanya. Aku juga harus meng-handle entry PODES. Selama itu banyak tragedi yang terjadi, mulai dari server yang rusak lantaran listrik yang tidak stabil, dokumen yang hilang entah ke mana (dan Alhamdulillah ketemu), aplikasi yang berkali-kali harus di-patch. Dan aku diuntungkan oleh semua pekerjaan yang membuat senewen itu. Kenapa diuntungkan? Karena pekerjaan-pekerjaan itu membuatku lupa pada patah hatiku sewaktu ditinggal nikah, hihihi...

Tahun 2012? Tidak seheboh 2011, sih... Apa yang istimewa di tahun 2012, ya? Seingatku cuma heboh update web. Oh, iya, update peta untuk desa-desa yang mengalami pemekaran dan membuat laporan tentang desa-desa yang mengalami pemekaran. Senewen juga, sih.

Dan 2013 ini heboh Sensus Pertanian. Entah setelah Sensus Pertanian ini akan heboh apa lagi. Semoga banyak hal menyenangkan di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

ARTIKEL TERKAIT



20 komentar:

  1. Udah 4 tahun aja mbak,padahal kayaknya dulu ga betah,,hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang gravitasi bumi disana sedemikian kuaat

      Hapus
    2. Iya. Nganti saiki be esih durung betah kok :D

      @ zachflazz: gravitasi nya sama kok Pak :p

      Hapus
  2. ohh pernah ditinggal nikah, pantas mila pernah bilang Allah Maha membolak-balikan hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang yang udah ditinggal nikah doang yang ngomong kaya gitu?

      Hapus
  3. Ga terasa udah 4 tahun ya mbak, sptnya itu tanda selama di Aceh memang bnyk aktivitas dan artinya lagi semakin bnyk aktivitas semakin banyak pengalaman yg didapatkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepertinya karena banyak kesibukan (kalo lagi sibuk doang sih) :D

      Hapus
  4. aceh tetaplah eksotik. saya masih pengin kesana.
    beruntunglah Mbak bisa tinggal di serambi mekkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya termasuk beruntung ya?

      Hapus
  5. santai bae yu...
    baru 4 tahun. aku udah bertahun tahun di jogja juga betah betah saja... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karuan lah, wong nang Jogja ya betah :D

      Hapus
  6. Selamat ya... --selamat sudah mampu bertahan selama 4 tahun--- ^^,

    BalasHapus
  7. udah empat tahun ya mbak... semoga empat tahun yg heboh itu memberi pengalaman seru ya... aku malah pingin pulang ke Aceh makan tumis ikan pake asam sunti :D

    BalasHapus
  8. Kerja di BPS ya mbak Milla? Aku udah 5 tahun nih di Aceh. Aku wong jowo juga kok. Hehehe.. Kalau aku sih betah-betah aja di Aceh. Ada banyak hal positif dan mendewasakan aku sejak aku tinggal di Aceh. Hehehe..
    Salam kenal ya mbak.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, kerja di BPS.

      Mantep, udah 5 tahun. Masalah betah nggak betah sih sebenernya betah-betah aja. Tapi, kalo ingat jauh dari keluarga, mikirin perjalanan pulang kampung, jadi senewen :D

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!