Kamis, 27 Desember 2012

Escape Over The Himalayas: Perjuangan Anak-anak Tibet Menaklukkan Himalaya

Aku mengirim anakku ke India karena.. aku tidak pernah mengenyam pendidikan. Dan susah untuk menjalani kehidupan normal tanpa bisa membaca dan menulis. Semua orang punya masalah. Sebagai perempuan yang hidup sederhana, aku juga tidak punya uang untuk menyekolahkan anakku. Itulah alasanku mengapa aku mengirim jauh buah hatiku. Setelah ia pergi jauh, yang bisa aku lakukan hanyalah melihat fotonya dan menangis.
--Seorang ibu dari Tibet

Gambar pinjam di sini
Ini merupakan kisah nyata perjalanan enam orang anak Tibet melintasi Himalaya. Enam orang anak yang berasal dari provinsi-provinsi yang berbeda di Tibet. Enam orang anak dengan latar belakang berbeda tapi menuju satu tempat yang sama: Dharamsala, India Utara. Mereka adalah Pema Kecil, Tamding, Chime, Dholker, Dhondup, dan Lhakpa.

Pema Kecil, gadis kecil berumur tujuh tahun dari Provinsi Kham. Pema Kecil sering dipukuli oleh ayahnya yang pemabuk. Hingga suatu hari Pema Kecil tanpa sengaja menumpahkan teh ke tubuh ayahnya. Ayahnya marah lalu menganiaya Pema Kecil secara membabi buta. Kaki kirinya patah. Ibunya membawanya ke amchi (semacam tabib/dokter). Setelah amchi mengobati kaki Pema Kecil, sang ibu menanyakan kemungkinan kesembuhan kaki putrinya dan kemungkinan bila putrinya menempuh perjalanan jauh. Saat itulah amchi menyadari bahwa ibu Pema Kecil sudah berencana mengirim putrinya ke Dharamsala. Sayangnya ibu Pema Kecil tidak sanggup membayar pemandu. Amchi kemudian memberitahukan bahwa cucunya juga akan dikirim ke Dharamsala. Dia menyarankan agar Pema Kecil pergi bersama Dhondup, cucunya, dan Nima, pemandunya.

Tamding, anak laki-laki berumur sepuluh tahun dari Provinsi Amdo. Dia adalah anak ketiga. Di Tibet, tiap keluarga hanya boleh memiliki dua orang anak. Bila satu keluarga memiliki anak lebih dari dua, mereka harus membayar pajak yang tinggi. “Karena anak ketiga” Amala harus mengenakan Chuba tipis yang sama itu bertahun-tahun lamanya. “Karena anak yang ketiga” ada kerutan kekhawatiran yang mendalam di antara kedua alis Paala. “Karena anak yang ketiga” mereka tidak mampu membeli obat-obatan untuk Kakek. “Karena anak yang ketiga” anak pertama dan anak kedua tidak bisa makan kenyang. Tidak ada yang mengatakan semua itu, tapi Tamding yang memikirkan dan merasakannya. Hingga ketika ayahnya menjual domba-domba miliknya, Tamding tahu bahwa salah satu dari ia dan kedua saudaranya akan dikirim ke Dharamsala. Ia pun menemui ayahnya dan berkata, “Kirim aku pergi, Paala.”

Chime dan Dolker adalah dua anak perempuan kakak beradik. Ayah mereka seorang penjudi sehingga ibu merekalah yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dhondup adalah cucu amchi yang menolong Pema Kecil. Ayahnya – yang juga seorang amchi – mengirim dia ke Dharamsala agar bisa melanjutkan sekolahnya. Ia ditemani Dhamchoe, abang angkatnya.

Dimulailah perjalanan mereka. Pema Kecil, ibunya, Dhondup, dan Dhamchoe menumpang truk. Di Gyantse rombongan mereka bertambah dengan kedatangan Chime, Dolker, dan ibu mereka. Dan ketika mereka tiba di sebuah kuil, mereka yang hendak ke Dharamsala turun dari truk untuk melanjutkan perjalanan sedang para orang tua yang mengantar kembali naik truk. Di sinilah para ibu harus menahan perasaan melepaskan anak-anak mereka yang akan menempuh perjalanan jauh.

Sementara itu, Tamding diantar ayahnya ke seorang pemandu. Dia satu kelompok dengan Suja, mantan Wujing (polisi) yang berhenti dari pekerjaannya karena tidak tahan melihat seorang biksu disiksa sewaktu diinterogasi. Sayangnya, di tengah perjalanan ada razia oleh para petugas patroli China. Mereka pun tercerai berai. Suja kemudian bertemu dengan Nima yang mengajaknya ikut dengan rombongannya. Suja juga bertemu dengan Lobsang, seorang biksu muda yang ‘menyeberang’ ke Dharamsala karena tidak tahan terus-menerus diberikan ‘tes’ oleh polisi China.

Perjalanan penuh rintangan pun dimulai. Melintasi pegunungan bersalju bukanlah hal mudah. Apalagi bersama anak-anak. Ada kalanya anak-anak terlalu lelah hingga berjalan sambil tidur padahal mereka sedang melintasi jalanan sempit, di satu sisi mereka ada tebing dan di sisi lainnya ada jurang. Lengah sedikit saja, mereka bisa berakhir sebagai kepingan di dasar jurang. Bisakah mereka semua bisa menghadapi semua rintangan dan sampai dengan selamat di Dharamsala?

Itu adalah sebagian kisah dalam buku Escape Over The Himalayas yang ditulis oleh Maria Blumencron. Jujur saja, membuat review buku setebal 322 halaman ini sangat sulit. Menurutku semua bagian buku terbitan Imania ini penting, jadi tidak tahu bagaimana meringkasnya. Tapi, aku tetap ngotot menuliskannya karena menurutku buku ini bagus. Kisah nyata yang disampaikan begitu menyentuh. Tak terbayangkan bagaimana perasaan para anak yang harus berpisah dengan orang tuanya di mana kemungkinan untuk bertemu kembali sangat kecil. Juga perasaan mereka yang setelah tiba di Dharamsala perlahan mulai lupa paras orang tua mereka. Tak terbayangkan juga bagaimana perasaan para ibu yang harus melepas anaknya untuk menempuh perjalanan jauh dan berbahaya ditambah kecilnya kemungkinan anak mereka akan kembali. Benar-benar membuat galau. Dan kegalauan itu bertambah ketika membaca lagu anak-anak Tibet berikut:
...
Tapi rambut ibuku
Perlahan memutih,
Dan tiap hari, yang memisahkan kami,
Muncul kerut di wajahnya.
Aku ingin membuat ibu muda kembali,
Tapi tidak bisa.
Aku cuma bisa mencium fotonya sambil menangis,
Untuk menyatakan betapa aku menyayangi ibu.

ARTIKEL TERKAIT



16 komentar:

  1. Kayaknya mengharukan banget mbak :(
    Pengen euyyy ke Tibet...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan cuma mengharukan tapi juga menggalaukan :p

      Hapus
  2. ada nggak buku gratisannya?

    hue nggak bisa di tarik2 skrolnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo nyari gratisan ada tuh di perpus. gratis minjem :p

      Hapus
  3. aha keren nih, must read di 2013

    BalasHapus
  4. sayang mereka ga kenal facebook, biar ga lupa wajah ibu/anak-nya ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boro-boro Facebook. Hape juga belum tentu punya...

      Hapus
  5. ini baru kisah. saya Insya Allah targetin beli bukunya. makasih udah bikin reviewnya. pasti capek nyimpulin dari buku tebel gini, hehe..

    BalasHapus
  6. kebingungan yg sama saya alami adalah, bingung mengambil point-point of view ketika mau menulisakan review sebuah buku/novel. BErasa semua bagiannya penting.

    #322 pages itu gak tebal ya? Kalau saya [sekarang] mbaca setebal itu dalam seminggu belum tentu kelar lho? *parah pollll*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, ada yang senasib rupanya :D

      322 halaman mah dikiiiit. Kalo 322 lembar (alias 644 halaman) itu baru tebal.. Lagian kalo buku cerita mah cepet kelarnya. Kalo diktat kuliah, itu baru lama tamatnya. Setahun bisa tamat aja udah bagus :D

      Hapus
  7. terimakasih treviuwnya.. meskipun sudah ada bocoran mereka bakal nyampe di Dharamsala (keceplosan tuh di Paragraf terakhir) tapi tetep pengen beli buku-nya. oh ya, salam kenal. saya newbie di dunia blog.. :)

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!