Jumat, 28 Juni 2013

Menjaring Angin (4)

Dua bulan lalu, ketika aku baru seminggu bekerja di kantorku, aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Sebenarnya aku bertugas di Bagian Analisis tapi karena pekerjaan di Bagian Pengolahan Data sedang membanjir lantaran ada proyek besar, aku pun diperbantukan di sana. Aku menjadi salah satu entrior. Karena masih belum perpengalaman dalam hal entry data, aku pun sering bertanya pada supervisor.

“Mbak, ini kenapa, ya? Kok, ada pesan error begini?”

“Itu artinya penjumlahannya salah. Nilai isian kolom lima ditambah kolom enam harusnya sama dengan nilai isian kolom tujuh,” jelasnya.

“Mbak, ini kenapa lagi?”

“Kamu ngapain ngisi itu? Kalau pertanyaan nomor lima isinya kode dua, pertanyaan enam dan tujuh kosongin aja,” katanya sembari menghapus isianku yang dimaksud.

“Mbak, ini, kok, ada tulisan network error?”

Si Mbak Supervisor pun segera mengecek kotak kecil yang ada di sampingku.

“Itu kabelnya kendur, nggak pas nyolok di switch-nya,” jawabnya sambil membenarkan posisi kabel abu-abu ke lubang di kotak kecil di sampingku. Jadi, kotak itu namanya switch.

“Makanya, kamu duduknya jangan lasak!” katanya. Sekilas aku melihat matanya. Tatapannya terkesan mengintimidasi, meskipun aku tidak merasa terintimidasi.

Kemudian ada seorang staf yang mendatangi Si Mbak Supervisor.

“Mbak, itu komputer yang baru di-install ulang sistem operasinya nggak bisa nyambung ke jaringan. Katanya conflict,” keluh staf tadi.

“Kamu salah isi IP address kali. Kalau conflict berarti IP address-nya sama dengan komputer lain, padahal semua sudah saya atur biar nggak ada yang sama. Kamu yakin IP address-nya sama kaya yang tertulis di label yang di CPU?” tanyanya.

“Wah, nggak tahu Mbak. Saya tulis seingat saya aja, cuma kira-kira,” jawab staf tadi sambil menunduk tak berani membalas tatapan Si Mbak Supervisor yang mulai terlihat mengintimidasi.

Mulai saat itu aku tahu alasan orang-orang di kantor menyebutnya Medusa. Tatapan matanya membuat orang tidak berkutik, sama seperti tatapan Medusa yang membuat orang membatu. Dan sampai saat ini aku pun mengenalnya sebagai Medusa tanpa tahu nama aslinya.

***

Jadi? Dia yang mau dijodohkan denganku? Dia yang kata Ibu ganteng, pintar, sopan, alim, anak berbakti, dan menantu idaman semua ibu? Maaf, Ibu. Setelah selama 27 tahun ini aku selalu setuju dengan semua pendapatmu, kali ini aku harus tidak setuju. Ganteng? Iya, sih. Pintar? Mungkin. Sopan? Hah! Jelas-jelas dia tadi memanggilku Medusa. Di mana letak sopannya? Alim? Nggak yakin. Cuma terlihat berjenggot tipis, bukan jaminan dia alim, kan?

Ingin sekali kusemprotkan saus ke wajahnya. Tapi ... Ah, aku sudah terlanjur berjanji pada Ibu untuk bersikap manis demi nama baik Ibu. Duh, Gusti, paringana sabar.

***

“Anaknya Tante Kartika, ya?” tanya Pukat.

“Iya. Ternyata kamu anaknya Tante Tirta, ya? Dunia sempit, ya?” Pawana berbasa-basi dan mencoba tersenyum meski tetap saja senyumnya terlihat kaku.

“Sorry, saya lupa nama kamu. Siapa?”

“Pukat. Nama Mbak?”

“Pawana. Teman-teman, sih, manggilnya Nana.”

“Saya telat banget, ya? Maaf, ya, Mbak,” kata Pukat ketika sudah duduk di hadapan Pawana.

“Banget. Sampai lumutan saya nunggu kamu. Sampai kelaparan juga. Akhirnya saya makan duluan,” cerocos Pawana. Judes. Sedetik kemudian dia menyesal sikap judesnya karena teringat ancaman Ibu: jangan judes! Dan Pukat hanya menanggapinya dengan tergelak.

Setelah menghabiskan sepiring nasi dan ayam goreng sambil mengobrol basa-basi, Pukat mulai mencoba bicara serius.

“Saya belum ingin nikah,” katanya memulai pembicaraan. Pawana hanya menatap Pukat dengan isyarat agar Pukat melanjutkan perkataannya.

“Saya nggak nyaman dengan perjodohan ini,” lanjut Pukat.

“Saya nggak memenuhi kriteria kamu?” tanya Pawana to the point.

“Bukan itu maksud saya. Kan, saya bilang tadi saya belum ingin nikah. Jadi, lebih baik perjodohan ini nggak dilanjutkan,” Pukat serba salah.

“Ya, sudah. Silakan bilang itu ke Mama kamu,” kata Pawana sambil bergegas mengemasi belanjaannya lalu pergi meninggalkan Pukat.

ARTIKEL TERKAIT



13 komentar:

  1. makin asyik aja ceritanya mbak.
    Sifat judes-nya berkarakter saat pukat bilang nggak nyaman dengan perjodohan ini.


    Ayo mbak segera diluncurkan cerita 5 nya. Jangan kelamaan. Soalnya ane tipe orang yang pengen langsung selesai membaca ceritanya. Jadi masih ingat jalan ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, semoga bagian 5 nya tetep asyik ya :)

      Hapus
  2. tambah lagi daftar penulis yang ane sukai gaya penulisannya.
    1. Nurmayantizain
    2. Kak Mugniar
    3. Kang uzay (azura-zie)
    4. Pak Marsudiyanto
    5. Pakde cholik
    6. Blog ini setelah membaca cerita menjaring angin.

    BalasHapus
  3. ganti bae jenenge
    wedusa...
    haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rika bae lah kang sing jenenge ganti WEDUSA :D

      Hapus
  4. Pawana,apakah pukat yg membuatmu galau di fb?

    #apaansik

    BalasHapus
  5. hahahhaha. Judes rek.
    Pawanan itu kak Milo bukan sih? jangan-jangan ini cerita berdasarkan kisah nyata?
    Bukan ya? Lanjuuuttt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan kisah nyata, enhaaa! lihat dong labelnya, fiksi :p

      Hapus
  6. Yang di awal bagian ini, kayak tiba-tiba lompat dari bagian sebelumnya.... Kalo itu flashback, disempilin tiba-tiba gini, malah bikin ceritanya kayak berhenti. Padahal beat-nya lagi kenceng sebelum ketemuan di warung fast-food itu.

    Satu lagi, pertanyaannya: ini emang sengaja dibuat minim deskripsi setting atau gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mampus, aye di-proofread!

      saya nggak ngerti beat-beat-an. ngalir aja ini mah -_-

      jadi, yaaa... jujur aja saya males bikin deskripsi :D :D :D

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!