Jumat, 28 Juni 2013

Menjaring Angin (2)

“Pukat, kamu sudah punya pekerjaan tetap, gaji lumayan, udah waktunya nikah,” kata Mama pada Pukat, putra bungsunya yang sedang asyik dengan smartphone-nya.

“Ma, umur Pukat baru dua tiga. Nanti aja nikahnya kalau udah dua lima,” jawab Pukat.

“Mama udah tua, Pukat. Kelamaan kalau mesti nunggu dua tahun lagi. Kalau tahun depan Mama mati gimana?”

“Tuh, kan. Mama bawa-bawa mati mulu. Ya, Mama jaga kesehatan lah, biar bisa lihat Pukat nikah dua tahun lagi,” kata Pukat mulai merajuk. Biasanya jurus ini ampuh untuk membuat Mama berhenti mendesak Pukat untuk menikah. Sayangnya, kali ini tidak.

“Mama nggak tenang kalau kamu belum nikah. Apalagi kamu tinggal jauh di Jakarta. Kalau kamu punya istri, kan, kamu nggak sendirian lagi di sana. Mama bisa tenang,” kata Mama membujuk. Melihat Pukat hanya terdiam, Mama pun melanjutkan bujukannya.

“Mau nggak Mama kenalin sama anak teman Mama? Anaknya baik, pintar, dari keluarga baik-baik, dia kerja di Jakarta juga, lho!”

“Umurnya? Sepantaran Pukat?” tanya Pukat, mulai tertarik.

“Umm, udah dua tujuh, sih, umurnya. Tapi, mukanya awet muda, kok!” jawab Mama.
“Ma, she’s much older than me! Nggak bakal cocok lah!”

“Cuma beda empat tahun. Mama lebih tua lima tahun dari Papa, dan kami cocok-cocok aja,” jawab Mama sedikit kesal mendengar Pukat mempermasalahkan perbedaan umur.

Pukat yang menangkap raut kekesalan di wajah Mama pun merasa bersalah. Dia jarang bertemu Mama. Sekalinya bertemu, malah membuat Mama kesal. Pukat sungguh tak enak hati. Tanpa pikir panjang dia berkata, “Pukat mau, deh, dikenalin sama anaknya teman Mama.”

“Oke. Nanti Mama dan teman Mama yang atur waktu dan tempat kalian ketemu,” kata Mama girang.

Pukat terdiam. Menyesali kalimat persetujuannya tadi. Dia mulai memutar otak mencari cara agar perjodohan dengan anak-teman-Mama-nya itu gagal tapi tanpa menyakiti perasaan Mama.

***

“Katanya pengen nikah, tapi sampai sekarang, kok, belum ada usaha cari jodoh?” sindir Matari pada Pawana yang tengah asyik menyantap semangkuk soto ayam. Untungnya kantin sedang sepi sehingga tak banyak yang mendengarnya.

“Aku nggak jadi pengen nikah, ah!” sahut Pawana setelah buru-buru menelan makanan yang tadi tengah dikunyahnya.

“Kok gitu?” tanya Sasi yang mendadak batal menyuapkan gado-gado ke mulutnya lantaran mendengar pernyataan Pawana.

“Cowok itu bawel, banyak maunya, sok kuasa, belagu, suka protes ini itu. Nggak kebayang aku harus menghabiskan sisa hidupku dengan makhluk macam itu,” kata Pawana sambil mencomot jagung rebus yang ada di gado-gado Sasi.

“Nggak semua cowok kaya gitu, Na,” kata Matari yang sebelumnya terpesona melihat “kehebatan” Pawana yang sanggup menghabiskan semangkuk soto dalam waktu lima menit.
“Semua cowok sama aja. Jadi, aku nggak mau nikah!” Pawana ngeyel.

“Kemarin bilang mau nikah, hari ini bilang nggak mau nikah. You’re just like your name,” kata Sasi. Pawana hanya mengerutkan kening. Maksudnya?

“Pawana itu artinya angin. Sama kaya sifat kamu, angin-anginan!” Sasi menjelaskan maksud kalimatnya yang sebelumnya. Penjelasan yang tenang, pelan, tapi menusuk hati.

Belum lama Pawana “menikmati” sakit hatinya karena perkataan Sasi, ponselnya berdering. Di layar tertulis “Jok”. Ibunya menelepon rupanya.

Halo, Assalaamu’alaikum.
Apa? Dikenalin sama cowok? Anak temen Ibu?
Minggu?
Tapi ... Tapi ...

Pawana terdiam. Ibunya tadi menelepon untuk mengabarkan bahwa hari Minggu nanti dia harus bertemu dengan anak teman Ibunya di salah satu restoran fast food di dekat kantornya pukul sepuluh. Tidak ada kata tidak. Dan tak lupa Ibu tadi mengancam, “Awas kalau kamu macam-macam, sengaja biar cowok itu nggak mau dijodohin sama kamu. Jangan telat, jangan kemproh, jangan ngupil, jangan sendawa keras-keras, jangan judes, duduknya yang manis, pokoknya jangan bikin malu Ibu!”

Pawana mati kutu. Semua ide licik yang ada di otaknya sudah dibaca oleh Ibu.


bersambung

ARTIKEL TERKAIT



9 komentar:

  1. ceritanya kok hampir sama dengan kisah perjalanan cintaku dulu ya. Aku dan mantanku dulu juga terpaut sekitar 3 tahun. Lebih tua si cewek. Di tanyain kapan menikah terus. Bedanya ane nggak dikenalin ma seseorang.

    Kelanjutan ceritanya bikin penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, trus akhirnya nikah nggak?

      Hapus
    2. ane yang ditinggal nikah mbak :-)
      Ayo dong mbak cerita 5 segera diluncurkan. Pengen tahu kisah selanjutnya.

      Hapus
    3. Wah, ternyata ditinggal nikah... *pukpuk*

      Hapus
  2. milooo sukaaaaaa penasaran ma lanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. beneran suka ato cuma menghibur nih?

      Hapus
  3. akhirnya mereka berdua live happily ever after *ditimpukember

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, langsung selese dong ceritanya kalo gitu -_-

      Hapus
  4. whahaha, kog aku jadi semakin curiga. Jangan2 Pawana gambaran diri Mbak Milo.
    Bukan ya? Lanjut lagi deh...

    Btw, mbak-mbaknya Dee (temenku), juga dapet brondong. Dan mereka hidup bahagia selamanya. Aamiin.

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!