Jumat, 28 Juni 2013

Menjaring Angin (3)

Pawana sudah tiba restoran ayam goreng franchise sepuluh menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Biarpun kesal karena orang-yang-entah-siapa-namanya mengubah tempat bertemu yang tadinya dekat kantornya menjadi sedikit jauh, dia tetap berusaha untuk tidak mangkir. Dia teringat semua ancaman Ibu. Lagipula perpindahan lokasi itu menguntungkan Pawana karena tempatnya di samping toko buku. Jadi, sebelum ke restoran, Pawana mampir dulu ke toko  buku untuk mengkhilafkan diri memborong buku-buku secara impulsif. Hasilnya? Kantung plastik besar berisi buku-buku yang jika ditotal harganya cukup untuk membeli harddisk eksternal 320 GB – yang sebenarnya lebih dia butuhkan saat ini.

Pawana melihat screen saver jam digital di smartphone-nya. Pukul 10.45. Sudah lewat lima belas menit dari waktu yang ditentukan. Bosan. Pawana meraih smartphone-nya dan menyalakan aplikasi chat dan mulai mengganggu Sasi dan Matari dengan stiker-stiker aneh. Begitulah. Kalau Pawana sudah bosan, yang jadi korban adalah Sasi dan Matari. Sembari chatting mengganggu dua kawannya, Pawana memesan ayam goreng dan french fries. Tapi, kali ini Pawana tak bisa menghabiskannya dalam waktu lima menit. Butuh waktu lama menghabiskan makanan yang tidak terlalu disukainya itu. Ia pun teringat kata-kata Ibunya ketika dia protes karena tempat pertemuannya di restoran ayam goreng. “Bagus kalau ketemuannya di situ. Kamu, kan, nggak doyan ayam goreng begituan. Jadi nanti nggak kelihatan nggragas,” kata Ibu. Pawana pun susah payah membayangkan bahwa di hadapannya bukan ayam goreng tepung melainkan ayam penyet kesukaannya.

Sudah pukul 10.55 dan orang-yang-entah-siapa-namanya masih belum terlihat batang hidungnya.

***

Huh, sudah hampir satu jam aku menunggu, dia belum datang juga. Pokoknya kalau lima menit lagi dia tidak datang juga, aku langsung pulang. Yang penting aku sudah punya bukti untuk kutunjukkan pada Ibu bahwa aku datang tepat waktu. Tadi aku sudah berfoto di restoran ini dan di foto itu ada time stamp yang bisa menunjukkan bahwa aku sudah ada di restoran pukul 09.50.

Dasar, bertingkah sekali Si ... eh, siapa namanya? Ah, sudah beberapa kali Ibu memberitahukan nama orang itu tapi aku selalu lupa. Sepertinya kami memang tidak jodoh. Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang namanya saja sulit untuk kuingat? Lagipula, aku tidak suka laki-laki yang tidak tepat waktu. Belagu! Memangnya dia orang yang sepenting apa sampai harus membuat orang lain menunggu lama? Kalau memang tidak sempat datang, kenapa tidak memberitahu dari kemarin? Dia belum tahu siapa aku, Pawana, pembantai paling bengis sedunia – setidaknya itu kata Sasi dan Matari. Ah, semakin lama di sini membuatku semakin banyak menggerutu. Aku pulang saja!

Baru saja aku mulai mengemasi buku-buku belanjaanku dan bersiap pulang, seorang laki-laki muncul dan berjalan santai ke arah mejaku. Wajahnya terasa tak asing bagiku. Saat dia sampai di mejaku barulah aku benar-benar mengenalinya. Dia sangat terkejut melihatku.

“Medusa,” desisnya.


***

Malas sekali rasanya harus bertemu dengan anak-teman-Mama. Siapa namanya? Pawan? Atau Wawan? Ah, seperti nama laki-laki saja. Jangan-jangan kelakuannya juga seperti laki-laki? Hahaha, sepertinya begitu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia belum menikah di usia dua tujuh? Sayang sekali aku lupa melihat fotonya yang diberikan Mama kemarin dan Mama pun katanya lupa memberikan fotoku pada temannya. Ah, memang ini pertanda bahwa kami tidak berjodoh. Tapi, kenapa Mama keukeuh menjodohkanku dengannya? Aneh.

Aku sengaja melakukan banyak hal lain – yang sebenarnya selama ini jarang kulakukan – hari ini agar punya alasan datang terlambat. Mencuci baju, membereskan kamar, merapikan buku-bukuku yang selama ini kubiarkan berserak. Semuanya baru selesai kukerjakan pukul 10.00 padahal seharusnya saat itu sudah tiba di restoran yang disebutkan Mama. Hahaha, rencanaku untuk datang terlambat akhirnya sukses. Dan aku punya alasan yang keren di depan si Wawan itu kenapa aku terlambat.

Sampai di restoran sudah hampir pukul 11.00. Aku langsung menuju meja paling ujung dekat jendela. Tapi, siapa itu di sana? Jadi ... anak teman Mama itu ... Medusa?

ARTIKEL TERKAIT



8 komentar:

  1. Medusa? aih milo ternyata keren banget bikin cerita fiksi udah gak sabar melahap part 4 nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Bingung nih bikin part 4 nya.

      Hapus
  2. jadi anak temen mama tak lain adalah orang yang sudah dikenal. Siap melanjutkan ke cerita empat. Sudah terbit kan ya mbak?

    BalasHapus
  3. semua ya anak mama lah
    emang bapane yang manak..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbokan sih Kang Rawins bisa manak :D

      Hapus
  4. Medusa? Wah, Pukat ama Pawana udah saling kenal ya?
    Ckk ckk... ternyata...
    Lanjut lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bujug! Setiap bagian dikomenin enha. Aku jadi terharuuuuuuuu :'(

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!