Senin, 03 Juni 2013

Masihkah Merasa Pekerjaanmu yang Terberat?

Sudah kesekian kalinya orang-orang itu mengeluhkan pekerjaan mereka. Memang, pekerjaan mereka -- yang sebagian besar di lapangan -- datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda. Aku pun berusaha memahami ketika mereka mengeluh. Aku tahu betapa lelahnya mereka. Aku menahan diri untuk tidak berkata, "Kalian, kan, memang dibayar untuk mengerjakan itu semua." Namun, ketika mereka berkata (lagi) bahwa kami yang bertugas di kantor -- bukan di lapangan -- pasti akan mengeluh dan menangis bila mengerjakan pekerjaan mereka, aku merasa sedikit terganggu. Aku pun teringat perkataan seseorang yang mengatakan bahwa aku selama ini duduk-duduk saja. Rasanya... Rasanya... Rasanya... Ah, tak terlukiskan dengan kata-kata.

Kalau dibilang pekerjaanku cuma duduk-duduk saja, ya, memang tugasku sebagian besar kukerjakan tanpa perlu ke lapangan. Sebagian besar tugasku adalah meng-entry hasil pencacahan lapangan. Jadi, aku di kantor saja, tanpa berpanas-panasan seperti mereka. Lalu, apa berarti pekerjaanku tidak berat? Apa berarti pekerjaanku tidak sesulit pekerjaan mereka? Sungguh tidak mungkin membandingkan kesulitan pekerjaanku dengan pekerjaan mereka, seperti membandingkan apel dengan jambu, mana bisa?

Kawanku, yang sama-sama lebih sering berada di kantor, kesal mendengar komentar miring mereka yang seakan-akan menganggap beban kerja kami tak seberat mereka. Dan aku mengamini kekesalannya. Pada dasarnya setiap pekerjaan punya tanggung jawab masing-masing, punya beban kerja masing-masing, baik itu cleaning service, office boy, satpam, kepala seksi, ataupun kepala kantor. Semuanya memiliki tanggung jawab. Kalau mereka di lapangan sebagian besar menguras kekuatan fisik, maka yang di kantor menguras otak. Aku tahu kawanku yang bertugas di kantor juga lelah mengerjakan tugas-tugas yang kelihatannya mudah tapi sebenarnya berat. Lalu, mana yang lebih lelah, yang di lapangan atau yang di kantor? Tak perlu dibandingkan. Semuanya sama-sama lelah. Sungguh.


Memang benar kata pepatah, setiap kuda merasa bebannyalah yang terberat. Setiap manusia merasa masalahnya yang paling sulit, merasa pekerjaannya yang paling berat dan melelahkan. Padahal, bisa jadi, ada banyak orang yang menghadapi masalah yang lebih berat, masih banyak yang harus mengerjakan pekerjaan yang lebih berat dari yang mereka kerjakan.

Semoga aku tidak tergoda untuk bersikap seperti mereka, merasa paling lelah dan paling 'dieksploitasi' tenaganya. Dan semoga aku bisa bekerja dengan ikhlas, meskipun aku tahu ikhlas itu sangat sulit dipraktikkan.

ARTIKEL TERKAIT



18 komentar:

  1. tergantung pembandingnya lah...
    aku ya suka mikir kerjaanku terberat kalo pas dorong truk mogok sementara di sebrang jalan ada orang lagi nuntun motor..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yen ndorong truk-e bareng-bareng wong sepuluh ya ora terlalu berat lah, kang :p

      Hapus
  2. Waahh..baru nyadar...sepertinya kita berada di instansi yang sama mbak :)(baca mengenai pencacahan lapangan dan entry data, apalagi melihat ada link pusdiklat) ^^

    Boleh dibilang saya sudah merasakan jadi orang lapangan dan yang duduk dikantor, 7 tahun 11 bulan saya di lapangan dan sekarang sudah sekitar 5 bulan duduk di belakang komputer, untuk jujurnya saya mesti bilang kadang dr pihak "org yg duduk dikantor" juga ada yg mengeneralisasi penilaiannya ttg org di lapangan, 1 yang ga bener di katainnya semua org lapangan ga bener, padahal semua itu kan tergantung individunya, sejauh mana tiap2 orang merasa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Begitu juga dengan sikap org lapangan yang diberikan ke mba, bisa jadi ada penilaian terhadap "orang kantor" lain, tapi mbak kena imbas omongannya juga..atau ada perasaan tidak adil, hanya tidak sepatutnya membandingkan seperti itu.heheh..

    Bener yg mbak bilang semua punya porsi dan tanggung jawab masing-masing, dan sudah seharusnyalah kita saling bisa saling menghargai, menurut saya ini hanya masalah miss universe...ehh..missunderstanding saja, sy berteman baik dengan Kasi waktu di kabupaten dulu dan itu yg bikin sy mengerti bahwa pekerjaan mereka juga berat, tingkatannya beda-beda jadi tidak bisa diperbandingkan...

    Maaf panjang mbak, hanya ingin memberikan pandangan dari sisi lain (mungkin juga karna saya excited bisa ketemu mbak di blog) toh mbak sudah sangat bijak menghadapinya, semoga semakin bijak :)

    Salam PIA ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. panjang banget komennya, sampe bingung balesnya -_-

      Hapus
  3. Yang paling berat itu ya kerjaan aku, soalnya aku kerjanya cari pekerjaan buat diri sendiri hehehee

    BalasHapus
  4. Cuman mau ngehibur Milo. *puk puk*

    Jangan sedih. Ntar cepet numbuh uban. Lagian, kalo bukan job-desc kamu kan, mau dibilang apa? :D

    *puk puk lagi*

    BalasHapus
  5. rumput tetangga memang kadang terlihat lebih hijau > pepatah ini nyambung gak ya? haha.
    ("=,=)

    oh kepala seksi, kenapa aku pengen ketawa baca nama jabatan ini.. "Kepalamu seksi, itu terbukti dari caramu memimpin anak buahmu" #nyanyi ala Mulan Jamidonk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hlaaaah, imajinasimu liar sekaleeee!

      Hapus
    2. oh no, itu belum liar mbak. Yang lebih liar lagi banyak. Tapi kalo aku sebutkan semua, nanti aku dikira kurang waras. :v

      Nih, contoh imajinasi liarnya: Kalau yg sempurna hanya dan hanya Allah SWT, berarti semua ciptaanNya tak ada yg sempurna. Pun termasuk sistem alam semesta. Apapun yg gak sempurna, pasti ada celahnya. Nah, apakah celah alam semesta ini bisa ditemukan dan dicurangi (macam nyurangi game). >> pikiran sesat ini timbul gara-gara TS nya bang Rese di salah satu grup FB ku.
      Jadi, yg gila bukan dia doank, sepertinya aku terpengaruh. Huahahahaha.
      XD

      Hapus
    3. semoga kamu nggak nularin aku :p

      Hapus
  6. hati hati yang suka membandingkan... sebenarnya setiap kita punya masalahya sendiri sendiri dan tentunya diperlukan keahlian sendiri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. benul, setiap orang punya masalah sendiri.

      Hapus
    2. walah mbak Milo, ngelawak lagi nih. Benar+betul= benul?
      wkwkwkwk. XD

      tapi mbak, coba cara ngelawak yg lain. Image mbak Milo kan udah terlanjur sangar, Jadi kalo mau ngelawak rasanya kog gimanaaaaaaaa gitu. Hihihi
      *buk* digebuk pake data entry.

      Hapus
    3. eh, aku kan nggak lagi ngelawak. serius inih!

      Hapus
  7. kalo saya dulu, waktu ada yg ngomong ke saya kalo pekerjaan saya nggak seberat mereka. Saya diem aja, walo sebenernya pekerjaan kami sebenarnya sama beratnya, atau pekerjaan saya malah lebih berat karena mereka kdg nggak tau apa aja yg saya kerjakan tapi saya ngerasa seneng banget karena nggak mengeluh seperti mereka dan saya merasa berhasil menjadi orang yang bersyukur. :D

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!