Kamis, 06 Oktober 2011

Kalung Mutiara Anisa (Selalu Husnuzhon pada Takdir Alloh)

Pernahkah merasa kehilangan sesuatu yang sangat dicintai? Aku pernah. Rasanya? Tentu saja sakit. Dan kejadian itu mengingatkanku pada kisah yang pernah diceritakan murobbiku sewaktu kuliah dulu, Mbak Sulis. Sebuah kisah seorang anak yang harus merelakan kalung mutiara yang sangat disukainya. Akhirnya aku searching dan menemukan cerita itu lagi di sini. Berikut ini ceritanya.

Ini cerita tentang Anisa, gadis kecil ceria berusia lima tahun. Suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil putih berkilauan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehinggak Anisa sangat ingin memilikinya.
Tapi, dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang cantik.
Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, “Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi…” Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.
Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. “Oke… Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?”
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke-raknya. “Terimakasih…, Ibu.” Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya: “Anisa…, Anisa sayang nggak sama Ayah?”
“Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!”
“Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”
“Yah…, jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga”
“Ya sudahlah sayang… nggak apa-apa!” Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi: “Anisa…, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?”
“Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?”
“Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”
“Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.” Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya…
“Ada apa Anisa, kenapa Anisa?”
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. “Kalau Ayah mau… ambillah kalung Anisa.”
Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.
“Anisa… ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.”
Ya…, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.
Sahabat, demikian pula halnya dengan Allah SWT. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa: menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan.

Dulu, aku begitu mudah menjawab ketika Mbak Sulis bertanya, "Jadi, apa hikmah cerita ini?" Aku dengan enteng menjawab, "Husnuzhon pada Alloh". Salahkah jawabanku? Sebenarnya jawabanku sangat tepat. Tapi, jawabanku hanyalah sekadar jawaban, hanya sebuah analisa terhadap sebuah kejadian, tanpa meresapi dalam hati. Dan kejadian-kejadian pahit belakangan ini membuatku kembali teringat kisah ini. Aku seharusnya bisa mengaplikasikan apa yang dulu kukakatan, HUSNUZHON pada ALLOH, pada setiap takdir-Nya. Bukankah telah dijelaskan oleh para ustadz bahwa apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga menurut Alloh. Lupakah aku? Ya, mungkin aku terlalu memperturutkan hwa nafsuku sehingga menganggap penilaianku sebagai yang paling benar. Aku terlalu sombong dengan menganggap bahwa yang kuanggap baik memang mutlak baik. Padahal Alloh-lah yang Mahatahu atas segala sesuatu.


Segala yang digariskan oleh Alloh adalah baik. Itu mutlak! Alloh itu Mahabaik, tak mungkin Ia menzholimi hamba-Nya. Ia Maha Pengasih dan Penyayang. Tak mungkin Ia memberikan sesuatu yang buruk bagi hamba-Nya. Sepahit apapun takdir Alloh di mata manusia, pasti penuh hikmah yang nilai kebaikannya jauh melebihi pahitnya, bila aku mau belajar memahaminya. Apapun yang terjadi, tetaplah husnuzhon pada Alloh. Bila takdir itu manis, ucapkan Alhamdulillaah. Bila takdir itu pahit, ucapkan Innalillaahi wa inna ilayhi rooji'uun.. Bersyukur dan bersabar, itulah kuci hidup bahagia...

*sebuah nasihat untuk diri sendiri*

ARTIKEL TERKAIT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!