Jumat, 02 Oktober 2015

Random tentang Moral dan Agama

Moral itu ukuran manusia. Bisa berubah, termasuk berubah mengikuti nafsu. Tadinya ciuman dengan lawan jenis dianggap tidak bermoral. Sekarang, jangankan dengan lawan jenis, sesama jenis juga dianggap wajar, tidak melanggar moral. Tadinya, hubungan sesama jenis dianggap nggak bermoral. Sekarang, malah didukung ramai-ramai. Malah, mulai ada yang mendukung incest. Hoax? Beneran kok. Di Jerman sana sudah mulai diusulkan. Katanya, biar aja sih, toh mereka saling cinta, yang penting mereka bahagia. Mungkin sebentar lagi boleh nikah sama babi. Yang hari ini menghujat PM bule yang main babi, mungkin beberapa tahun lagi justru mendukung perkawinan dengan babi. Love wins, katanya. Tadinya perempuan memakai baju minimalis dan hemat alias kurang bahan dianggap perempuan nakal, tidak bermoral. Sekarang, orang bebas memakai baju seminim mungkin. Tanktop dan celana gemes? Nggak papa. Baju menerawang sampai beha kelihatan? Biasa. Berpakaian itu salah satu cara berekspresi. Kita bebas dong berekspresi, katanya.


See? Betapa labilnya aturan manusia. Betapa mudah berubahnya ukuran moral. Itu sebabnya kita perlu agama, perlu aturan Tuhan yang mengikat, tidak bisa diubah as delicious your belly button. Ah, situ sok relijius, Mil. Nope. Aku bukan orang yang relijius. Aku sempat memikirkan enaknya hidup tanpa aturan agama. Tapi, ya itu tadi. Aturan buatan manusia terlalu labil. Terlalu berpotensi mengikuti nafsu manusia, dan tahu sendiri manusia nggak pernah puas. Dibolehin A, nuntut dibolehin B. Hari ini boleh jualan miras di warung, besok nuntut dibolehin buka diskotik deket kampung. Ujung-ujungnya, semua bebas. Tanpa agama, kebebasan bakal kebablasan.

Agama harus mengikuti perkembangan zaman, katanya. Kitab suci harus direvisi, katanya. Lah, kalo agama terus berubah-ubah seperti perkembangan zaman, apa bedanya dengan aturan buatan manusia. Yamasa agama ngikutin maunya situ? Situ dong yang ngikutin aturan agama. Itu konsekuensi beragama. Kalau kata Eny (sebenarnya kata ibunya Eny sih, tapi aku mendengarnya dari Eny), ketika kamu memilih memeluk suatu agama, berarti kamu juga harus menaati aturan agama. Kalau kamu memilih memeluk agama Islam misalnya, ya kamu harus sholat, puasa, dan sebagainya. Begitu katanya. Untuk contoh yang lebih kekinian yaitu orang-orang yang mengaku Islam tapi mendukung pernikahan sesama jenis padahal jelas-jelas dilarang agama Islam. Mereka mengutak-atik tafsir ayat Al-Qur'an dan hadits demi mencari pembenaran pendapat mereka. Sepertinya kecenderungan manusia memang seperti itu, "memaksa" aturan yang ada untuk menyesuaikan dengan kemauannya sendiri (aku pun kadang seperti itu). Lagi-lagi nafsu manusia yang bicara, keinginan manusia yang tidak ada batasnya. Padahal, kalau seseorang mengaku muslim, semestinya dia menaati aturan agama yang melarang perkawinan sesama jenis itu dan mencari solusi dalam koridor agama yang dianutnya itu. Kalau mau tetap dengan pendapatnya, tidak usah mengutak-atik ajaran agama. Silakan tetap dengan argumen menggunakan logika dan alasan "yang penting kan cinta".

Menurutku orang-orang yang berkomentar bahwa agama harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman itu menganggap bahwa agama merupakan ciptaan manusia dan kitab suci bukan kalam Tuhan. Kenapa? Karena mereka menganggap ajaran agama bukan kebenaran mutlak. Mereka menganggap bahwa kitab suci bisa salah dan perlu direvisi. Apa mungkin kalam Tuhan salah? Well, itu masalah kepercayaan. Beragama memang perlu iman, tidak semata-mata menggunakan logika. Ada aturan agama yang secara logika dianggap tidak sesuai perkembangan zaman. Tapi, orang beriman akan meyakini bahwa aturan itu benar, dan suatu saat akan diketahui hikmahnya seiring perkembangan ilmu manusia. Mereka percaya bahwa ilmu Tuhan jauh lebih tinggi dari ilmu manusia. Istilah sederhananya: manusia ilmunya belum sampai. Kalau yang tidak mengimani hal itu? Yah.. Susah. Sudah beda sudut pandang.

*selfreminder*

ARTIKEL TERKAIT



21 komentar:

  1. aku juga pernah dapat denger seperti ini "agama / kitab suci harus disesuaikan dengan perkembangan zaman"
    aneh juga kalau ada yang ngomong begitu, lah wong Al - quran menulis semua tentang kehidupan, menjelaskan tentang ilmu kedoteran (lalat dan penawarnya), dan banyak teladan seperti jasad firaun yang benar - benar mati karena tenggelam, banyak sekali keteladanan dalam Al - Quran yang memang bersifat kekal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itu tadi, orang-orang itu nggak meyakini kebenaran ilmu di Al Qur'an atau cuma meyakini sebagian saja. they see what they want to see.

      Hapus
  2. Lama ga main ke sini, apa kabar Mil? Smg sehat yaaa!
    Yup, aq sepakat dg tulisan ini. Manusia memang butuh agama agar ada aturan yg harus dipatuhi dan dijalani. Krn bebas yg sebebas2nya justru akhirnya akan berujung pada yg namanya Jenuh, frustasi dan segala hal negatif lainnya. Ujung2nya, ini salah itu salah, pengin coba ini dan itu tanpa pernah puas bahkan akhirnya terjerumus. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah, sehat.

      Iya, kadang bebas sebebas2nya justru bikin hati nggak tenang..

      Hapus

  3. sak enak udele dewe as delicious as your belly buttons..

    BalasHapus
  4. Menggugat aturan untuk disesuaikan berarti orang tersebut punya kepentingan dan mungkin selama ini kita juga tidak sadar sudah ikut-ikutan menggugat walaupun dalam skala kecil, tersamarkan. Ya kita ini.. manusia yang tidak pernah puas..

    BalasHapus
  5. Hhhhh makinmengerikan perkembangan sekarang. Diamanahi 3 anak, bikin saya harus ekstra waspada. Kita gak bisa menebak pengaruh yang mereka bisa dapatkan dari luar kayak apa. Si sulung disekolahin di tsanawiyah yang termasuk terbaik di kota saya, ternyata toh ada juga anak2 nakal di sekolahnya. Ada yang dikeluarin dari sekolah (lupa apa masalahnya, pokoknya pelanggarannya sudah banyak banget), lalu anak itu melarikan ceweknya yang juga anak tsanawiyah. Hhh ... kita gak tahu, di lingkungan baik2 tempat kita menitipkan anak kita, ternyata ada orang yang anaknya sudah rusak, berharap sekolah bisa memperbaikinya. Na'udzu billah, berharap saja anak2 seperti ini tak pernah dekat2 dengan anak kita ..... kebayang pengaruh apa yang bakal mereka tularkan.

    Jadi ingat juga, dekat sini ada gigolo ABG. Siangnya laki beneran, malamnya berubah jadi cantik, buat cari uang, pacaran dengan om2 yang orientasinya salah. Duh, ampun. Padahal anak itu anak kampung biasa saja, sama kayak kita yang tinggal di daerah kampung lingkungannya. Serem kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Bikin emak2 dagdigdug kalo anak keluar rumah. Dulu, cuma kuatir sama anak perempuan, sekarang mau perempuan mau laki-laki tetap bahaya mengintai.

      Itu beneran masih ABG udah kaya gitu Kak? Ngeri.. Na'udzubillaah min dzaalik.

      Hapus
  6. Kalo menurut aku agama itu sbg "pagar" yg jagain moral spy org gak keblablasan, lain kata menjaga norma spy kehidupan sosial teratur dan gak liar. Kalo makin liar namanya bukan perkembangan jaman, malah mundur donk jd ke jaman jahiliah atau bahkan jaman sebelom ada peradaban wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagian nganggep agama sebagai "pagar", tapi sebagian yang lain nganggepnya sebagai "penjara".

      Hapus
  7. jadi keinget si Uly yang pernah masang quote di wall FBnya dg gambar bertuliskan kurang lebih: 'we don't need religion to have morality'. Tuh orang kemana ya sekarang?

    mbak, aku nemu typo lagi di tulisan ini. *salah fokus*

    Yep, setuju dg kalimatmu mbak. Beragama memang perlu iman. Iman = percaya. Percaya aja bahwa aturan yang telah ditetapkan oleh agama (Islam) memang aturan yang paling pas dan paling menyehatkan bagi sistem kehidupan dan alam semesta. Wah, gw SARA neeehhh...

    Percaya aja, meski kadang logika belum bisa menjelaskannya. Karena dengan percaya, maka jiwa menjadi lebih tenang.

    Tapi banyak yang lupa, bahwa kita dituntut untuk tidak 'hanya percaya' saja, bukan? Bukankah kita juga dituntut untuk lebih berilmu? Sehingga kita bisa menjelaskan, mengapa Tuhan menetapkan aturan begini dan begitu. Becoming a free thinker but not so free (laaahh), because we DO HAVE boundaries. Prinsip ini membuatku gak bisa kebablasan kayak temen2 free thinker yang menuhankan ilmu pengetahuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uly siapa? Gak kenal :D

      Udah ketemu typo-nya. Satu doang kan?

      Ada kalanya aturan bisa dijelaskan dengan ilmu manusia. Tapi, biasanya sih cuma hikmah dari aturan. Misalnya soal babi haram. Ilmu pengetahuan membuktikan kalau babi banyak mengandung cacing hati. Itu hikmah pelarangan makan babi. Kalo babinya gak mengandung cacing pita, berarti nggak haram? Ya tetep haram. Alasannya? Wallohu a'lam. *duuuuh, berasa sok pinter banget deh gue*

      Hapus
    2. Peraturan dibuat untuk dilanggar > cara pikir B-bloodtype *lalu dikeplak*
      Peraturan dibuat agar hidup kita menjadi lebih baik. Eh, apa iya kah? Iya kan?

      kalo babi gak mengandung cacing pita? Ya tetep haram. Katanya, sifat dari apa yang kita makan akan mempengaruhi perilaku kita. Kalo kebanyakan makan babi, ntar sifatnya jadi kek babi > berkubang dikotoran ga masalah, pasangan diserobot babi lain-didiemin aja, dan sebagainya. Apa iya? Wallahu a'lam.
      *gw baca di mana ya, lupa*

      Hapus
    3. kerbau juga suka berkubang di lumpur kotor. kalo makan daging kerbau, sifatnya kaya gitu dong?

      Hapus
  8. Iya setuju, Mil. Masalah iman ya kita percaya aja. Apa yang disuruh, itu yang diturut. Apa yang dilarang, ya jangan dilanggar. Kalo dibilang babi haram ya udah percaya aja sih, nggak usah dicari-cari kenapanya. Nanti kayak orang yang bilang bahwa jilbab itu dulu diperintahkan supaya muslimah nggak diganggu, jadi kalo negaranya udah aman nggak perlu lagi berjilbab. Kebablasan.
    Sekarang orang rame solat karena katanya "terbukti secara ilmiah" gerakan solat mencegah penyakit ini itu. Nanti kalo ada "penelitian ilmiah" lagi yang bilang bahwa gerakan solat membahayakan terus kita nggak solat, gitu? Hihihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, ada ya yang sampe berpendapat kalo negaranya aman udah nggak perlu berjilbab? kalo aturan agama ditafsirkan sendiri memang rawan kebablasan.

      Hapus
  9. Ajaran dari Tuhan itu nggak perlu direvisi kok. Bisa berlaku kapan pun. Cuma itu dia. Otak manusia aja yang sableng, selalu pengen pembenaran untuk memenuhi segala hawa nafsunya. Yah kayak contoh di atas itu. Dulu nikah sesama jenis itu haram. Sekarang kita ngatain orang gay aja bisa dipidana. Dan bukan ga mungkin banyak pernikahan yang aneh2 yang demi memenuhi hasrat aneh2 manusia. Gimana ga nambah banyak dosa? Manusia selalu bikin pembenaran. Kebenaran selalu tercipta terus dan terus, hingga yang hakiki tak akan terlihat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang ya, manusia (termasuk aku) selalu bikin pembenaran.
      Aturan agama diutak-atik untuk membenarkan pendapat sendiri.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!