Kamis, 18 April 2013

Hoax Melulu

Sering wara-wiri di Facebook? Kalau sering, mestinya pernah (atau malah sering) membaca artikel sebuah Page yang banyak di-share oleh teman-teman kita di Facebook. Kalau artikelnya benar dan bagus, sih, tidak apa-apa. Yang menyebalkan adalah kalau artikelnya bohong alias hoax. Misalnya artikel tentang orang yang mengonsumsi seafood dengan jus jeruk (atau minuman lain yang mengandung vitamin C) lalu keluar darah dari panca inderanya kemudian meninggal atau artikel tentang orang yang mengonsumsi mie instan dan cokelat lalu keluar nanah dari panca inderanya kemudian meninggal. Artikelnya terlihat sangat ilmiah dengan mencantumkan nama-nama senyawa yang asing di telinga orang awam seperti diriku dikuatkan pula dengan mencantumkan rumus ilmiahnya. Kalimat di artikelnya pun sangat meyakinkan dan membuat pembacanya tergerak untuk menyebarkannya. Misalnya kalimat, “Kalau kalian menganggap artikel ini penting dan kalian menyayangi teman-teman kalian, bagikan artikel ini.”

Parahnya, yang kerap memublikasikan artikel semacam ini di Facebook adalah Page yang pengikutnya lumayan banyak. Kalau pengikutnya ada seribu dan semuanya membagikan (share) artikel tersebut lalu dibaca oleh kawan-kawan mereka, berapa banyak orang yang ‘tertipu’? Bagaimana kalau orang tersebut juga memublikasikannya di web-nya lalu dibaca ribuan orang? Berapa orang lagi yang ‘tertipu’? ‘Penipuan’ berantai itu namanya.

Orang yang ‘tertipu’ hoax tersebut banyak dan bukan hanya orang awam. Orang dengan pendidikan tinggi pun ada yang percaya dan membagikan artikel hoax. Misalnya saja aku. Biarpun (katanya) sarjana, aku tidak menguasai ilmu kimia jadi tidak tahu tentang racun Arsenik bla bla bla yang disebutkan dalam hoax tentang seafood dan jus jeruk. Lha, wong aku kuliahnya statistik (padahal ditanya tentang statistik pun nggak tahu). Kalau saja aku tidak iseng ngubek-ubek Google untuk mencari artikel lain yang menjelaskan benar tidaknya artikel seafood dan jus jeruk tersebut, tentu aku sudah percaya kalau artikel itu benar. Untungnya aku curiga pada gejala kematian yang sangat lebay dan mistis (keluar darah dari panca indera). Setelah googling ternyata hoax.

Sayangnya tidak semua orang mengecek kebenaran suatu artikel sebelum membagikannya. Ada orang yang begitu melihat artikel menarik langsung membagikannya. Yang lebih parah adalah para admin Page yang (sepertinya) tidak mengecek kebenaran artikel sebelum memublikasikannya di Page-nya. Kalau pengikut Page saja harus pintar dalam memilah artikel mana yang benar mana yang bohong, berarti adminnya harus lebih pintar, kan? Kalau adminnya tidak teliti memilah artikel, mana yang benar mana yang bohong, bisa menyesatkan banyak orang.

Memang kita dianjurkan untuk tidak jadi orang yang mudah curiga. Nggak boleh su’uzhon katanya. Tapi, tidak ada ruginya juga kalau mengecek kebenaran mengenai berita yang sampai kepada kita sebelum kita menyebarkannya kepada orang lain. Semoga aku juga bisa selalu mengecek lebih dulu sebelum membagikan artikel yang kubaca. Stop spreading hoax!

ARTIKEL TERKAIT



20 komentar:

  1. Aku suka ngecek ke naturalnews.com soalnya kebanyakan artikel hoax itu datengnya dari onoh. Ini web sama yang bikin juga terang-terangan dibilang cuman buat hiburan doang. Bener apa kagaknya isi web-nya, dia sendiri kagak ngerti. T_________T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya malah belum pernah ngecek ke naturalnews...

      Hapus
  2. aku juga akhir2 ini hati2 kalau share, kalau dirasa terlalu bombastis ga usah di share

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho'oh, biasanya yang bombastis emang mencurigakan.

      Hapus
  3. Bener juga ya Mil. Harus cek and ricek dulu kebenarannya sebelum ikutan share or publish yaaa? Aku pernah juga lho berlaku serupa, karena merasa yakin and logic dengan artikel yang dishare itu, aku ikutan ngeshare deh. :D

    Apa kabar Mil? Sering hujan ga di Blang Pidie?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah baik. Cuaca di Blangpidie masih ababil, Kak, kadang panas banget kadang hujan seharian.

      Hapus
  4. cek and recek..itu yang selalu digembar gemborkan sebagai nasihat saat internet dengan segala kecanggihannya mulai mewabah di Indonesia, cek and recek perlu agar kita tidak tertipu oleh segala sesuatu yang berbau hoax, dan juga bisa terhindar dari penipuan internet yang marak belakangan ini :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, memang harus cek dan recek sebelum menyebarkan berita.

      Hapus
  5. aku jadi inget kasus serupa mbak. Sering aku wara-wiri di sebuah grup FB, dan ada salah satu TS nyebarin berita bhwa ada yg mati gara2 makan kangkung. Katanya di kangkungnya ada semacam lintahnya. Hiii, untungnya belum sempet aku sharekan dimana2.

    Dibawah post si TS, udah ada penjelasan dr para ahli yg memang juga gabung sama grup itu. Si TS dibabat habis. wekeke.

    Mau gabung grup itu juga nggak mbak? #promosi terselubung.
    ~jangan2 mbak Milo malah udah gabung. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, yang itu emang sempet heboh. Jadi takut makan kangkung waktu itu. Sadis yang bikin hoax.

      Aku jarang gabung di grup, kok. Paling gabung di grup temen sekolah doang.

      Hapus
  6. Kalo aku emang paling males menyebar luaskan berita/ artikel yg suka ada di BBM/FB.. Apalagi yang suka ada kalimat ancaman. Iiihh udah males banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, yang ada ancemannya itu malah bikin ilfil.

      Hapus
  7. yang terbaru berita tentang Luwak White Coffe yang katanya mengandung babi, bener ga ya? padahal aku lagi demen2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo Luwak White Koffe kan katanya halal yak. Kalo ada unsur babinya masa iya LPPOM-MUI ngelolosin.

      Hapus
  8. qku tuh malas baca yang share2 gitu :) kecuali share info lomba hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, menguntungkan temen itu mah kalo share info lomba :)

      Hapus
  9. Hati2 dalam meng-share apapun. Bahkan kadang yang terlihat baikpun belum tentu benar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Kadang yang kelihatannya baik belum tentu benar. Berita bohong pun biasanya dikemas dengan menyampaikan berita baik, tapi dicampuradukkan dengan kebohongan.

      Hapus
  10. hehehe itulah indonesia raya
    yang sebenarnya belum siap menerima internet. masih gumunan dan seneng heboh kalo dengan sesuatu tapi tak pernah mau croschek...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masih latah, apa-apa di-forward, di-broadcast -___-

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!