Selasa, 27 Februari 2018

Random Tentang Ojek, Jalanan Jakarta, dan Religiositas

Salah satu hal yang tidak menyenangkan dari Jakarta adalah jalanannya. Ramai. Mengerikan. Terutama para pengendara motornya. Setidaknya itu yang kurasakan.


Rasa ngeri melihat jalanan Jakarta itu makin terasa saat naik ojek. Sekitar dua tahun lalu saat kuliah, aku beberapa kali naik ojek yang kerap menyelip di antara mobil padahal celahnya sangat sempit. Pernah sampai kakiku menyenggol angkot. Mungkin si kadang tukang ojek lupa kalau penumpangnya duduk menyamping dan hanya mempertimbangkan jarak dengan kendaraan lain yang memungkinkan kalau penumpangnya duduk ala laki-laki alias mengangkang. Mungkin. Ditambah lagi para pengendara motor lain yang kadang posisinya sangat dekat sampai membuatku ngeri kalau sampai tersenggol. Dan setelah kembali ke Jakarta bulan ini, aku kembali naik ojek dan melihat seramnya jalanan Jakarta. Aku pun kembali memikirkan hal yang kupikirkan dua tahun lalu: naik ojek di Jakarta membuat kita lebih religius meskipun sesaat. Kalau abang ojeknya membawa motor dengan kencang dan penuh akrobat, kita jadi lebih ingat mati dan ingat Tuhan. Akhirnya jadi ingat berzikir. Yah, meskipun setelah sampai di tujuan lupa berzikir lagi. Eh, apa cuma aku yang begitu? Jadi ingat lelucon tentang sopir angkot yang masuk surga karena membawa angkot secara ugal-ugalan sehingga membuat para penumpangnya ingat Tuhan dan berdoa.

Kenapa lebih ingat Tuhan ketika naik ojek dibandingkan kendaraan lain? Mungkin karena aku merasa tingkat keamanannya lebih rendah. Kalau ada sepeda motor bertabrakan dengan mobil, mungkin orang yang di dalam mobil tidak mengalami cedera parah. Apalagi kalau mereka menggunakan sabuk pengaman. Paling-paling mobilnya yang rusak. Yang naik motor? Bisa saja terpelanting lalu cedera parah atau malah kehilangan nyawa. Atau ini hanya sugesti saja yang membuatku merasa kendaraan roda empat lebih aman dari kendaraan roda dua? Entah.

Selain jadi ingat Tuhan, naik ojek juga kadang membuatku sedikit merasa bersalah. Kenapa? Kadang ada abang ojek yang melanggar aturan lalu lintas, misalnya masuk ke jalur busway. Kadang juga ada yang naik ke trotoar. Dua hal itu adalah hal paling membuatku sebal ketika posisiku sebagai penumpang Transjakarta atau pejalan kaki. Namun, ketika naik ojek, aku tidak berani menegur si abang ojek. Biasanya misuh-misuh melihat pelanggaran itu, tetapi ketika aku menjadi orang yang secara tidak langsung melakukannya aku cuma bisa diam. Ironis. Apa itu termasuk munafik, ya? Semoga bukan.

Ngomong-ngomong tentang pengendara motor, penumpang kendaraan umum, dan pengendara motor, aku jadi ingat sikapku yang berubah-ubah tergantung kepentingan. Aku tidak suka kepentinganku diganggu. Sebagai pejalan kaki, aku ingin pengendara motor atau mobil menghormati hakku ketika akan menyeberang jalan dan memelankan kendaraan mereka. Ketika aku menjadi pengendara motor, aku kadang kesal pada pejalan kaki yang lambat ketika menyeberang jalan. Curang, ya! Ketika aku menjadi penumpang Transjakarta, aku sangat kesal pada para pengendara mobil dan sepeda motor yang masuk ke jalur busway. Ketika aku menjadi penumpang ojek, aku tidak bisa berkata apa-apa pada si abang ojek. Apa itu karena itu demi kepentinganku sendiri sehingga aku tidak menegur si abang ojek? Semoga bukan karena itu. Jangan sampai nilai baik dan buruk di mataku berubah tergantung kepentinganku.

Lalu, inti tulisan ini apa? Kok random banget? Lah, biasanya juga tulisanku random.

ARTIKEL TERKAIT



4 komentar:

  1. Kadang aku juga merasa begitu, hehehe.. Kadang berbisik pada abang ojek nya "Bang kalau semakin kencang semakin dekat juga dengan tuhan" seketika dia tersadar karena ceramah singkatku.. Hahahaa... Salam kenal.. Kalau ada waktu main ke blog ku, aky mau follow yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mah nggak bisa nyeramahin tukang ojeknya :D
      Salam kenal juga.

      Hapus
  2. Sama naik pesawat, sih. Langsung mendadak relijius... berdoa takut pesawatnya jatoh. Aku kemaren naik taksi dari bandara trus liat taksi lain jalan di bahu jalan, trus aku komentar, "Wih gila tuh Pak, tuh taksi udah di bahu jalan, ngebut pula." Ngga lama taksi yang kunaiki juga mlipir ke bahu jalan... beuh podo bae.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik pesawat juga gitu ya? Kalo aku kayanya nggak segitunya. Mungkin karena udah terlalu fokus mikirin gimana caranya biar nggak muntah :D

      Jangan2 sopir taksinya ngirain kamu ngiri pengen taksinya naik trotoar juga.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!