Selasa, 30 Agustus 2016

Menjejaki Jalan Kenangan

Retrace the path we used to take to go there. Itu poin yang mengena di pikiranku dari Arashi's Discovery oleh Ohno Satoshi hari ini.

Menapaki kembali jalan-jalan yang pernah kulewati. Jadi teringat sewaktu ikut jalan sehat dengan ibu dan adikku tahun lalu. Aku melewati jalan-jalan yang pernah aku lewati dulu, entah saat main ke rumah teman atau bersepeda keliling kampung. Dan ... semuanya terlihat berbeda. Rasanya bukan seperti mengunjungi tempat "bermain"-ku di masa lalu. Rasanya seperti ke tempat asing. Tanah kosong yang dulu penuh ilalang, sekarang sudah jadi komplek perumahan. Rumah-rumah pun terlihat berbeda. Entah memang bangunannya berubah, atau aku yang sudah lebih tinggi sehingga rumah-rumah itu terlihat berbeda.


Saat ke Semarang, aku juga berniat menapaktilasi jalan-jalan yang pernah kulewati dengan kakakku saat aku sibuk mendaftar dan mengikuti berbagai tes. Dan saat menjejakkan kaki di sana, aku merasa seperti belum pernah ke Semarang. Stasiun Poncol, Simpang Lima, semuanya terasa berbeda. Entah memang sudah berbeda, atau aku memang tidak pernah mengingat Semarang secara visual. Kalau diingat-ingat, sepertinya aku bukan orang yang mengingat detail sesuatu. Aku bahkan baru sadar kalau alis temanku cuma setengah setelah mengenalnya dan seringkali bertemu selama empat tahun. Mungkin alasan aku merasa asing dengan tempat-tempat yang seharusnya akrab denganku adalah suasana yang berbeda, perasaan yang berbeda. Mungkin dulu saat aku menjelajahi kampung dengan sepeda suasana yang kurasakan adalah suasana petualangan. Setelah datang kembali, aku tidak lagi merasa tempat itu penuh petualangan. Mungkin dulu saat ke Semarang dengan kakakku yang melekat di benakku adalah kenangan bahwa kami harus berjalan jauh dan beberapa kali tersesat. Hanya kejadiannya saja yang kuingat. Adapun detail jalan-jalan yang kulewati, aku sudah lupa seperti apa wujudnya. Dan saat ke sana dengan kawan-kawanku, aku tidak merasakan lagi sensasi kebingungan mencari alamat.

Sepertinya memang begitu. Aku tidak mengenang sesuatu yang berupa visual tetapi mengenang suasana dan mengenang kejadian. Misalnya, bukan foto Si Komo yang membuatku mengingat masa kecil. Justru hembusan angin di pagi hari berpadu sinar matahari yang hangat yang membuatku teringat masa-masa menonton Si Komo di pagi hari. Bukan jalan-jalan di Semarang yang membuatku terkenang masa-masa terlunta-lunta. Aku justru sering terkenang masa-masa itu ketika mencium aroma sabun mandi seperti yang kami bawa saat itu.

Menjejaki jalan-jalan yang pernah kutapaki di masa lalu seperti mencari sisa-sisa kenangan yang tertinggal di sana. Namun, aku tidak menemukannya. Karena kenangan yang kuingat bukan tentang jalan yang kutapaki melainkan tentang perjalananku. Karena kenanganku bukan tentang tempat melainkan tentang yang kualami di tempat itu. Jangan-jangan ini salah satu yang membuatku sulit move on. I tend to cling to the past. Karena yang kuingat bukan sesuatu yang kasat mata, bukan suatu tempat -- yang mudah berubah. Suatu tempat mungkin suatu saat akan berubah. Namun, perasaan yang pernah ada, tetap tertinggal di hati.

ARTIKEL TERKAIT



6 komentar:

  1. Kebalikan dengan Milo, aku tipikal yang bisa mengingat peristiwa dengan detil, dan mengingat tempatnya. Dan itu membuat aku susah move on juga. Dan, untuk itu, yang kulakukan pasti menghindar. Menghindari tempatnya. Itu sebabnya, aku gak berani ke Jakarta lagi. Karena Jakarta mengingatkan aku dengan kenangan yang mau kulupain. Kemarin waktu ke Jakarta, agak-agak takut, tapi aku mulai tahu bahwa aku bisa ke sana, dan baik-baik saja, #malah curhat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh eh, ada kenangan apa di Jakarta? *malah mengungkit

      kalo tipe yang mengingat tempat dengan detail, pas ke sana lagi dan tempatnya udah berubah, gimana rasanya?

      Hapus
  2. Rasanya aku kembali ingat masa lalu. :D. Aku inget kejadian2 yang terjadi di tempat-tempat itu, hati berdesir, hebat, juga berat, tapi aku tahu aku bisa berdiri tegak dengan dua kaki. Karena aku orang yang berbeda dari tahun-tahun itu. :)

    BalasHapus
  3. Mil aku persis bgt kayak kamu.. yg kuinget suasananya bukan tempatnya.. kadang pergi ke suatu tempat untuk bisa merasakan perasaan seperti dulu lagi, ternyata setelah sampai gak dapat apa2.. ternyata memang perasaan itu gak akan bisa terulang hanya bisa dikenang (tsahhh :p)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, bener. perasaan itu memang gak bisa terulang, cuma bisa dikenang.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!