Rabu, 20 Juli 2016

The Unspoken

Mengejar mimpi itu tidak mudah. Dan ternyata, menyemangati seseorang untuk mengejar mimpinya juga tidak mudah.

Menghadapi kegagalan itu tidak mudah. Menyemangati seseorang untuk mencoba lagi setelah mengalami kegagalan pun ternyata tidak mudah.


"Kamu tidak lulus tes masuk jurusan itu. Berarti kamu memang tidak mampu. Kamu harus menerima kenyataan. Jangan memaksakan diri masuk jurusan yang nantinya kamu tidak sanggup mengikuti kuliahnya!" begitu kata beberapa orang kepada salah satu anggota keluarga mereka yang tidak lulus tes di beberapa universitas. Jujur, perkataan itu sedikit mematahkan keyakinanku selama ini. Aku termasuk orang yang terkena doktrin "di mana kemauan di situ ada jalan". Aku juga termasuk orang yang meyakini bahwa dengan kegigihan, seseorang dapat memperoleh yang dia inginkan. Murid yang cerdas bisa dikalahkan oleh murid yang rajin, begitu kata kawan SMA-ku dulu. Semua orang dilahirkan dengan jumlah sel otak yang sama, begitu juga Einstein. Tidak ada orang yang bodoh. Mungkin hanya cara belajarnya saja yang salah. Begitu kata dosenku dulu. Aku mempercayai semua itu. Melihat seseorang gagal dalam tes, yang ingin sekali kukatakan, "Coba lagi tahun depan. Gunakan setahun nanti untuk mempersiapkan diri untuk tes tahun depan. Belajar lebih giat lagi. Cari cara belajar yang lebih efektif." Ingin sekali aku mengatakannya. Namun, mendengar perkataan "memang tidak mampu" aku tidak bisa membantah meskipun aku ingin.

Apakah seseorang harus langsung mundur dan melepaskan mimpinya setelah mengalami beberapa kegagalan? Apakah orang yang bersikeras mengejar mimpinya bisa dianggap orang yang tidak dapat mengukur kemampuannya sendiri? Apakah berkeras mengejar mimpi yang tinggi berarti tidak menerima kenyataan? Bukankah mimpi bisa diwujudkan menjadi kenyataan? Apakah ketekunan dan kegigihan tidak ada artinya tanpa bakat ataupun kecerdasan?

Jangan seperti pungguk merindukan bulan. Begitu kata mereka. Sungguh, aku tahu, kalimat itu merupakan bentuk perlindungan agar seseorang tidak terlalu berharap lalu kecewa. Aku yang awalnya ingin menyemangati untuk mencoba lagi tahun berikutnya pun jadi tak bisa berkata-kata. Apakah kalau aku menyemangatinya berarti aku membuat dia terlalu berharap? Apakah kalimat semangat yang kuberikan itu akan membuatnya bermimpi terlalu tinggi?

Melihat seseorang berusaha mengejar mimpi, aku tidak tahu harus berkata, "Go on! The sky is the limit," atau, "Don't force yourself! Enough is enough." Aku ingin sekali mengatakan yang pertama. Namun, sekarang aku tidak yakin itu pilihan yang tepat. Entahlah.

ARTIKEL TERKAIT



15 komentar:

  1. Semangat ya Mbak!
    *memang ngomong doang itu gampang*
    *sendirinya aku nggak semangat*
    Aku lagi naksir sama Dean Fujioka nih, Mbaaak. Parah istrinya orang Indonesia :'(
    Kenapa nggak sama aku ajaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rebut aja Un, rebuuuut! *eh

      Masih banyak yang cakep selain Dean Fujioka kok. Ngincer yang masih belum punya istri aja :P

      Hapus
  2. Ini tentang snmptn ya? Hmmm, aku juga bingung kalau di posisimu

    BalasHapus
  3. aku pun mikir begitu
    tapi sambil nunggu tahun depan sih jangan di rumah aja
    lebih baik sambil kuliah juga
    siapa tahu malah passionnya ganti dan nemu diri kita yang sebenarnya dalam proses hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo nunggu tahun depan sambil kuliah terus tahun depannya ganti jurusan, sayang dong kuliah yang setahun.

      Hapus
  4. ada kalanya emang kita berfikir begitu kalau lagi down yaa mbaa.. saya juga sering. tapi kalau emang itu passion kita, insyaallah akan dikejar terus sampai dapat. kecuali emang passion nya tiba tiba berubah, berarti beneran bukan rejeki (menurut saya) :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, itu. aku mikirnya kalo emang passion kita ya nggak papa dikejar terus. tapi ada yang kesannya nganggep kalo udah gagal ya berarti nggak mampu, jadi jangan ngotot.

      Hapus
  5. kalo aku mah orangnya woles mbak. Kalo udah usaha maksimal, tapi hasilnya bukan seperti yg diidamkan, ya mungkin itu bukan rezekiku. Toh masih ada banyak hal lain yang mungkin lebih cocok dan lebih pas.

    Semisal tahun depannya ada kesempatan yang sama, ya bolehlah dicoba lagi. Tapi, dalam rentang waktu yang digunakan untuk menanti, tentunya ga cuma fokus pada keinginan untuk meraih target sebelumnya (katakanlah target A) yang setahun lalu ga kesampean, tapi juga fokus untuk menikmati hari-hari yang dijalani selama rentang waktu setahun itu. Dan siapa tahu, passion emang sudah berubah. Karena kita emang ga bisa tahu hal ghaib apa yang menanti sejam kemudian. Apakah passion berubah, apakah hati terbolak-balik, apakah begini ataukah begitu, kita ga tahu itu.

    Jadi, selama main goal of life masih bisa dituju meski dengan jalan yang sama sekali berbeda dengan yang semula direncanakan, tetap berusaha untuk dinikmati saja. Seperti tagline blogmu ini mbak, enjoy your life. :D

    Dulunya ga keterima di UGM maupun STAN, tapi keterima di salah satu PTN, lalu dijalani, ternyata aku menemukan sahabat-sahabat yang spesial. Lalu tahun depannya, ga berniat mencoba ikut tes snmptn lagi. Selalu ada hal yang bisa dikerjakan ketika masa menunggu. Dan kita tidak tahu apa yang bisa terjadi ketika masuk dalam masa menunggu. :D

    Mungkin kalimat yang akan kulontarkan pada seseorang yang sedang mengejar mimpi, tapi gagal adalah:
    Tak apalah kali ini gagal. Masih ada jalan lain yang (boleh jadi lebih mengasyikkan) bisa dilalui. Tapi, kalo tahun depan pengen nyoba lagi, Ganbatte! ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo kasusmu, diterima di salah satu PTN, berarti di rencanamu udah ada pikiran bakal kuliah di situ kan? semacam backup plan. kalo kasusnya backup plan nya pun gagal, gimana?

      aku mikirnya, kalaupun nunggu setahun, ngisinya ya bukan kuliah yang nggak sesuai passion. kursus aja buat nambah keterampilan. daripada kuliah tapi nggak niat. kalau memang mau langsung kuliah meskipun nggak sesuai passion, harus dipaksa biar itu jadi passion-nya *jahat ya*
      kalau selama setahun passion-nya berubah dan bisa dicapai, ya Alhamdulillah.

      mbuh ah, mumet.

      Hapus
    2. hehehe, iya juga sih. Semacam backup plan. Karena kata mas Danang Ambar Prabowo, kalo plan A gagal, masih ada plan B, plan C, dan seterusnya. XD

      kalo memang harus kuliah meski ga sesuai passion, ya memang harus dipaksa biar jadi passin *itu ga jahat mbak*
      karena ketika menghadapi sejibun tugas kuliah yang amit-amit, pun lagi pas se-ke-rip-si, kalo ga didukung passion, emangnya bakalan kuat ngejalanin? Gak nahan.

      Temenku aja gak cuma satu-dua-orang yang milih keluar trus ganti jurusan. Mungkin karena emang kurangnya passion mereka. Hmmm, tapi mbuh juga dink.

      Hapus
    3. bisa jadi kuat karena motivasi lain, bukan cuma passion. udah nanggung, misalnya, jadi sayang kalo mendadak pindah.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!