Selasa, 28 Juni 2016

Salonpasku Ditolak

Hari Minggu kemarin aku memulai perjalanan mudik. Perjalanan pertama yang kutempuh adalah perjalanan melalui jalan darat naik L300 dari Blangpidie menuju Bandara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya untuk naik pesawat ke Kualanamu lalu lanjut naik pesawat ke Soetta. Saat naik L300 di sebelahku ada seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang umurnya sekitar enam tahunan. Belum sampai setengah perjalanan, si adik ini sudah muntah dua kali. Antara sebal dan kasihan. Sebal karena khawatir aku akan ketularan mual setelah mencium aroma muntahnya. Kasihan karena aku tahu rasanya mabuk perjalanan. Mual, pusing, benar-benar tidak nyaman. Aku sendiri sudah memakai dua buah koyo di pusar untuk mencegah mabuk dan Alhamdulillah ampuh. Setelah beberapa kali bolak-balik antara ingin menawari dan enggan menawari karena malu berbicara dengan orang asing, akhirnya aku bertanya apakah si adik sudah memakai Salonpas (aku menyebutnya Salonpas meskipun mereknya Hansaplast) di pusarnya. Ternyata belum. Aku pun menawarkan koyo yang kubawa. Ternyata si adik menolak. Yasudahlah.


Kupikir kejadian yang melibatkan Salonpas cuma itu saja. Ternyata tidak. Keesokan harinya aku ke Salemba untuk mengambil ijasah lalu ke Depok untuk mengurus legalisasi ijasah. Saat melakukan verifikasi, ada seorang dedek-dedek (karena sepertinya dia jauh lebih muda dariku, aneh rasanya menyebutnya mas-mas) yang lewat dan berkata kepada pegawai yang ada di situ, "Pak XX, punya Salonpas nggak?" Orang-orang yang ada di situ pun langsung menjawab, "Ya nggak ada lah." Karena aku ingat di tasku ada Salonpas, eh Hansaplast koyo, aku spontan berkata, "Ada, nih!" Si dedek itu langsung menjawab, "Nggak usah, nggak jadi!" Laaah? Dalam dua hari berturut-turut aku ditolak dua kali sewaktu menawarkan koyo.

Sudah selesai? Belum. Setelah membayar di ATM, aku kembali ke tempat verifikasi tadi. Daaan ... si dedek-dedek itu lewat lagi sambil bertanya, "Bu YY, ada Salonpas nggak?" Masih nyari Salonpas? Entah kenapa aku tidak bisa menahan tawa. Lalu, Salonpasnya? Aku tidak menawarkannya lagi. Daripada nanti si dedek makin malu diberi Salonpas oleh orang asing. Meskipun kejadian tersebut lumayan geje, aku berterima kasih pada dedek-dedek pencari Salonpas itu. YOU MADE MY DAY! Asli! Kejadian itu benar-benar mencerahkan hariku.

Aku sendiri heran kenapa aku bisa menawarkan koyo pada dua orang tersebut. Biasanya aku diam saja melihat orang yang tidak kukenal mencari sesuatu. Aku tipe orang yang baru bereaksi setelah ada orang yang meminta padaku langsung, bukannya proaktif menawari. Well, ada masa-masa di mana kita bersikap tidak seperti biasanya, kan?

ARTIKEL TERKAIT



8 komentar:

  1. salonpas nya yang ternyata adalah hansaplast

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, iya, hansaplast. tapi enakan bilang salonpas sih.

      Hapus
  2. Gak papa, ga ada ruginya berbuat baik :))

    BalasHapus
  3. barakallah fii umrik mbak...
    happy milad, wish you all the best.
    maaf telat >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks, aku terharu ada yang inget ultahku. Makasih Enha :)

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!