Minggu, 15 November 2015

Suka Duka "Menua"


Terlihat tua--lebih tua dari umur sebenarnya, baik dari tampilan wajah maupun bentuk badan--membuatku mengalami hal-hal yang membuatku speechless. Pengalaman paling pahit adalah ketika seorang teman dengan sangat santai tanpa menimbang rasa mengatakan bahwa mukaku boros. Bukan. Dia juga bukan sedang bercanda. Beuh! Rasanya ingin membelai wajahnya dengan parutan kelapa lalu membedakinya dengan cabe bubuk plus lada bubuk. She said that I look much older than my actual age, inconsiderately. Dan aku cuma terdiam. Terlalu bete untuk menanggapi. Tapi, ada hikmahnya juga mengalami hal seperti itu. Aku jadi sadar bahwa mengatai orang "muka boros" itu kejam. Jadi, aku bisa berhati-hati jangan sampai mengatai orang seperti itu.


Karena terlihat tua, aku juga jadi sering dipanggil Bunda oleh para pedagang di mall. Dan yang paling baru adalah kejadian beberapa waktu lalu di halte Transjakarta. Ada seorang mbak-mbak yang sepertinya sedang melakukan kampanye peduli anak terlantar--semacam itulah--dan mengumpulkan donasi. Dia awalnya hanya meminta tanda tanganku, tapi kemudian mulai berkampanye. Tanpa bertanya apakah aku sudah menikah atau belum, dia langsung bertanya, "Bunda sudah dikaruniai putra berapa?" Aku bingung. Mau menjawab, "Mbak, saya belum nikah, lho!" susah juga. Entah kenapa tidak bisa mengatakannya. Akhirnya kalau tidak salah aku cuma menjawab, "Belum punya." Dan si mbak langsung berkata, "Tapi berharap segera punya ya Bunda ya!" Segera gundhulmu. Bapaknya saja belum ada.

Namun, ternyata terlihat tua juga memberiku keuntungan. Kemarin di Transjakarta ada dua mbak-mbak yang mempersilakan aku duduk sambil berkata, "Ibu, duduk." Aku sudah terlihat seperti ibu-ibu yang memiliki prioritas lebih untuk duduk dibandingkan anak muda. Jadi, sekarang aku tidak perlu lagi memberikan tempat duduk pada ibu-ibu kecuali ibu hamil, ibu-ibu yang membawa anak, atau lansia, hehehe. Maaf, ya, buibu kalau suatu saat aku egois dan tidak memberikan tempat duduk pada kalian.

ARTIKEL TERKAIT



30 komentar:

  1. Belum pernah ketemu jadi belum bs menilai boros apa engga :p

    Yang penting tetep cantik ya mbak hihi

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. hehe, iya. udah setahun lebih di jakarta.

      Hapus
  3. Aku ketawa-ketiwi baca postingan ini lho, Bunda. Hahaha
    Santai saja. Yang penting jiwa terus muda, Miiiiilllls. . .:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiwa muda terus, dolan2 terus, hura2 terus, gitu? :D

      Hapus
  4. Aku kebalikannya. Memiliki tampang lebih muda dari usianya. Sampai sekarang masih sering disangka anak sekolah.

    "Dek, Dek,.. nggak sekolah?"

    "Dek ndhasmu, wong udah berewokan gini, masih disangka anak sekolah?!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. perasaan nuel nggak imut yak :p

      apa malah brewok yang bikin mukanya gak keliatan tua?

      Hapus
  5. no picture = HOAX
    wakakakakaka XD


    hayooo donk, tunjukkan wujud aslimu mbak :D
    *dilempar parutan kelapa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. emoooh.. ga boleh pasang foto sendiri di blog :p

      Hapus
  6. Hai millaa.. kl ngebaca kisahmu harusnya aku turut simpati ya, tp ini malah ngakak baca cara kmu bercerita.. hihi

    Aku jg gitu sebelum nikah mmg gondok kalau ada yg nyapa "ibu" hikssss, serasa udah tua.. tp ya mau gimana lg krn mmg kita semakin hari semakin tua, berusaha nrimo ae :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. kok malah ketawa sih.. hiks.

      iya, berasa tua banget. pengennya kan tetep dipanggil mbak ato kakak ya :p

      Hapus
  7. Hahaha... yang penting hepi ya Bun :p

    Nek mukaku kayaknya berubah-ubah, banyak yang bilang muka tua, tapi sering juga dikatain masih SMA, ga ngerti deh =.=

    BalasHapus
    Balasan
    1. ealah, malah ikutan manggil bun -_-

      mungkin tergantung penampilan juga un. liat baju ama dandananmu..

      Hapus
  8. kalo gw kebalikan, sering dikira anak kuliahan hihihiii

    pake helm ah supaya ga dibelai parutan kelapa

    BalasHapus
  9. wakakakaka.. tabahkan dirimu nak..

    BalasHapus
  10. Kalau muka saya hemat, hidung saya hemat, hingga nggak nampak kalau dari samping..hehehehe

    BalasHapus
  11. Hihi.. awalnya simpati, tapi cara ceritainnya lucu.. jadi sempat ketawa juga. :D

    Makanya saya kalau ke mall ada yang manggil ibu langsung lewat gak jadi singgah, di Jakarta enak tuh kalau mau dipanggil kakak ke tempat pusat perbelanjaan aja :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh, sekarang di mall jakarta juga dipanggil ibu.. kalo apes ditawarin sayang anak sayang anak juga kali ya :D

      Hapus
  12. Mosok sih Mil? udah lama gak ketemu Milo jadi gak bisa menilai kebenaran ekspektasi ini... :D kalau aku kadang sebelnya, kalau ke dinas, terus ketemu orang2 penting di sono dipanggil adek, bagi mereka aku masih kayak anak honor SMA yang bantu2 di kantor,,, hellooowww!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nurin, mungkin karena tambah endut juga jadi keliatan kaya ibu2 -_-

      jadi kurang wibawanya ya kalo dikira honorer SMA..

      Hapus
  13. Gda pembanding jd nda beneran boros apa nda. Tpi selow aja mbak mil, yg penting nda boros di doku. #eh

    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh accilong.. lama gak muncul di blogosphere.. *ato aku yang gak tau ya

      doku boros juga sih.. *malu

      Hapus
  14. hahaha, jadi kapan punya anak, bun? :p
    dinikmati aja, mill. ntar kangen masa-masa muda *lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntar ya punya anaknya, nyari bapaknya dolo :p

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!