Selasa, 15 November 2016

Komentar Mengerikan

Beberapa pekan lalu ada berita tentang sebuah komik yang berbau pedofilia dan incest serta katanya "menyerang" komikus tertentu dengan menjadikannya salah satu karakter dalam komik tersebut. Aku beruntung tidak sempat melihat komiknya karena terlambat mengetahui huru-hara tersebut. Aku cuma membaca tulisan di blog maupun status Facebook yang membahas hal tersebut. Dan dari situlah aku melihat komentar-komentar mengenaskan. Komentar pertama yang kuingat lebih kurang seperti ini: Maybe she deserve it, that "holier than thou" b*tch. Yang paling menarik perhatianku adalah penyebutan "holier than thou". Selama ini aku merasa biasa saja melihat orang diberi predikat seperti itu. Mungkin karena aku lebih sering mendapati predikat itu disematkan pada ibu-ibu yang sering menyudutkan ibu-ibu lain pada perdebatan ASI vs sufor dan working mom vs stay at home mom. Aku lebih sering melihat predikat itu diberikan pada ibu-ibu yang judgy, menganggap dirinya lebih baik dibandingkan yang lain. Namun, ketika melihat orang yang mengkritik dan menasihati dalam perkara moral -- yang sungguh pantas untuk dikritik -- dilabeli sebagai orang yang merasa "holier than thou" aku merasa ngeri. Apa salahnya menasihati dalam perkara moral ini? Apakah orang yang menasihati begitu otomatis dianggap orang yang sok suci? Orang yang menasihati belum tentu merasa dirinya paling baik. Bisa jadi dia mengkritik atas nama para ibu yang khawatir anaknya terpapar pengaruh negatif dari komik-komik dengan konten vulgar.

Ada juga yang berkomentar, "Gue sih nggak munafik kaya mereka. Doyan b*k*p tapi sok anti pornografi." Orang yang menasihati dianggap munafik, sedangkan orang yang 'apa adanya' -- alias tidak mau menutupi aib sendiri -- dianggap keren. Memang benar, seharusnya kita tidak menyuruh orang lain melakukan apa yang kita tidak lakukan. Namun, apa semudah itu menuduh bahwa orang yang memberi nasihat itu sendiri tidak melakukan apa yang dia sampaikan? Bisa jadi, nasihat yang dia sampaikan bukanlah untuk menggurui atau menghakimi melainkan untuk mengajak bersama-sama memperbaiki diri. Kalau syarat untuk menasihati adalah harus suci tanpa dosa, berarti hanya nabi yang boleh memberikan nasihat? Di masa-masa sekarang, berarti kita tidak boleh saling menasihati dan mengingatkan? Mau jadi apa dunia ini? Kalau semua diam dan tidak ada yang mengajak untuk bersama memperbaiki diri, mau jadi apa dunia ini? Sebagai orang yang jarang punya keberanian untuk menegur dan menasihati, karena aku juga 'nggak lurus-lurus amat', aku salut pada mereka yang mau dan berani menegur dan menasihati orang lain, tentunya dengan cara yang tepat.

Dan hari ini, aku melihat satu tulisan di media sosial mengenai 4 November kemarin. Ada satu komentar yang menarik perhatianku, lebih kurang begini kalimatnya: Sehari berapa kali baca Al Qur'an? Sudah pernah ngaji nahwu shorof? Pernah ngaji tafsir? Asbabun nuzul? Baru baca Al Qur'an terjemahan saja sudah belagu seperti ahli Al Qur'an. Sebenarnya komentarnya lebih panjang tapi agak kuringkas. Aku tidak yakin komentar itu ditujukan kepada si pembuat tulisan yang pro aksi 4 November atau kepada yang kontra. Namun, yang jelas komentarnya menunjukkan bahwa dia menuduh orang-orang yang pendapatnya berseberangan dengannya itu cuma membaca Al Qur'an terjemahan, tidak pernah belajar tafsir Al Qur'an dan tata bahasa Arab. Memang, untuk memahami ayat Al Qu'ran kita perlu memahami tata bahasa Arab dan memahami sejarah penyebab turunnya ayat tersebut. Namun, belum tentu orang yang pendapatnya berbeda dengan si komentator itu tidak memahami dua hal tersebut. Bisa jadi justru lebih mengerti. Kalaupun ternyata memang pemahamannya masih kurang, perlukah menuduh mereka belagu? Akan lebih mudah untuk berdiskusi kalau langsung memberikan argumen tanpa menyerang pribadi lawan bicara dengan menunjukkan kekurangannya -- yang belum tentu juga benar.

Komentar-komentar di media sosial ternyata jauh lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Aku sendiri bukan orang yang berbesar hati dalam menerima kritik dan nasihat. Kadang aku masih ndableg ketika dinasihati oleh orang yang tidak melakukan apa yang dinasihatkan padaku. Padahal, seharusnya siapapun yang mengatakan, selama nasihat itu benar, aku harus bisa menerimanya. Semoga aku bisa menahan diri untuk tidak memberikan komentar mengerikan seperti orang-orang yang kuceritakan di atas.

ARTIKEL TERKAIT



12 komentar:

  1. kalo membaca sebuah topik, dan ada yg melakukan ad hominem, entah kenapa aku jadi ilfil sama dia. Fokus topiknya apa, yg dibahas malah apa.

    Aku selalu berpihak pada mereka-mereka yg bisa menjawab pertanyaan secara santun dan elegan, yaaayy! Salute buat mereka.

    Meski aslinya aku terkadang juga masih suka ndableg sih mbak, ndableg hanya jika nasihatnya ga bisa dinalar logika. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoi, salut sama yang jawabnya sopan tapi kena.

      aku ndablegnya sama yang beda pendapat (ini level kronis ndablegnya), tapi nggak pake debat. cuma nyuekin doang. tapi kalo orang lain argumennya bener dan meyakinkan, lama2 juga aku bisa terpengaruh sih. meskipun butuh waktu.

      Hapus
  2. mill, sori lama nggak main hehe
    tapi aku selalu suka baca tulisanmu
    aku juga barusan nulis soal 4 nov di blogku yang ini www.anindyarahadi.com
    sumpah ngeri bgt komen org jaman sekarang mil :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, aku juga keseringan jadi silent reader di listeninda :D

      Hapus
  3. Bener beud mba mil.
    Kadang orang-orang men-judge seenaknya tanpa mencoba memposisikan diri sendiri di tempat yang nda enak itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang udah nge-judge duluan..

      Hapus
  4. saya paling males buka-buka medsos mba, isinya kadang bikin naik darah, cacian dan makian kepada kebenaran...yah mungkin akun akun bayaran alias palsu yang sengaja memutar balik fakta dan kebenaran...

    naudzubillah, dunia sudah semakin rusak, yang salah dianggap benar dan yang benar dianggap salah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayanya dengan tren "kebebasan" berpendapat, jadi banyak yang mulai membalik2 yang salah jadi dianggap benar dan sebaliknya ya..

      Hapus
  5. gak cuman komen yang ngeri mil, gambar dan video sudah parah habis di salah satu medsos. kadang aku buka medsos sambil picing mata....
    Gimana moral makin nggak rusak ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. medsos mana wi yan gambar n videonya parah? biasanya korban virus itu.

      Hapus
  6. udah lama gak ikut2an medsos yang heboh kontroversi kayak gitu, udah aku hide semua jadi gak ngikutin hehee..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang ada akun2 penting yang gak bisa di-unfollow, dan ternyata mereka nge-share berita kontroversial juga.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!