Kamis, 08 Desember 2016

Gempa dan Peduli

Kemarin pagi gempa, beberapa menit sebelum azan Subuh. Lumayan kencang getarannya. Alasanku menganggap kencang bukan karena aku bisa membandingkan dengan gempa-gempa sebelumnya. Ukuranku adalah keributan yang ditimbulkan. Tiga hari sebelumnya ada gempa juga pagi-pagi tapi orang-orang di kos tidak bereaksi. Adapun sewaktu gempa kemarin orang-orang di kos lumayan ribut meskipun tidak sampai keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Jadi, aku menganggap gempa kemarin lebih besar dari sebelumnya.


Aku mengecek Twitter siapa tahu BMKG merilis berita mengenai gempa tersebut. Ternyata pusat gempanya di Pidie Jaya dengan kekuatan 6,4 skala Richter (rilis awal BMKG menyebutkan 6,4 SR tetapi beberapa portal berita menyebutkan 6,5 SR). Ah, cuma 6 SR-an, beda tipis sama 5 SR yang biasanya, begitu pikirku. Yah, di Aceh sini gempa dengan kekuatan 4-5 SR bukan hal yang asing. Jadi, aku pun menganggap gempa dengan kekuatan 6 koma sekian SR itu biasa saja.

Sampai kemudian banyak portal berita yang mengabarkan jumlah korban tewas. Pagi-pagi sudah dikabarkan korbannya lebih dari 20 orang. Ada juga yang menyebarkan gambar-gambar bangunan yang roboh. Kok bisa sebanyak itu korbannya? Kok sampai roboh begitu bangunannya? Memangnya sekuat apa gempanya? Aku pun teringat artikel yang pernah kubaca -- kalau tidak salah di majalah Bobo -- yang menyebutkan kalau perbedaan 1 skala Richter itu artinya 10 kali lipat. Berarti gempa 6 SR itu kekuatannya 10 kali kekuatan gempa 5 SR. Seingatku begitu. Aku pun mencari tahu. Ternyata memang ukuran skala Richter termasuk skala logaritmik. Jadi, sepertinya benar kalau perbedaan 1 skala Richter artinya perbedaan kekuatannya sebesar sepuluh kali lipat. Sepertinya begitu .... Kalau 6,4 SR, kekuatannya berapa kali lipat dibanding 5 SR? Entah.

Pantas saja banyak bangunan yang roboh. Kekuatan gempanya sepuluh kali kekuatan gempa yang biasanya. Untung aku tidak sampai keceplosan mengatakan 'lebay' pada orang-orang yang heboh di media sosial mengabarkan tentang gempa tersebut dan menyampaikan belasungkawa. Bisa-bisa dihujat sebagai orang yang tidak berperasaan. Dengan korban jiwa nyaris 100 orang, wajar saja banyak yang mengucapkan belasungkawa.

Dan kemarin aku sama sekali tidak menanyakan kabar rekan-rekanku di pantai timur sana yang kemungkinan terkena dampak gempa. Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan mereka. I can't believe that I was so ignorant. Padahal dulu kalau ada gempa aku rajin menghubungi rekan-rekanku dan menanyai kabar mereka, dan sebagian akan bertanya, "Ini siapa?" Dan gempa kali ini aku tidak menghubungi siapapun, tidak memedulikan keselamatan siapapun. Have I lost my heart? I hope not.

ARTIKEL TERKAIT



4 komentar:

  1. akupun kaget karena ternyata merusak dan memakan korban
    sedih :(
    gempa memang ngeri sih, hm

    BalasHapus
  2. Sukurlah kamu gak terlalu kena efek gempanya ya.

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!