Jumat, 20 Mei 2016

Salah Asuhan?

Aku tidak tahu kenapa, beberapa film anak-anak yang kutonton membuatku berpikir bahwa tokoh villain dalam film tersebut menjadi jahat karena kesalahan didikan orang tua atau orang dewasa yang bertanggung jawab mengasuh mereka. Setidaknya orang-orang dewasa itu turut andil dalam memicu sifat jahat mereka. Film pertama yang membuatku berpikir demikian adalah Alice in Wonderland. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Iracebeth (Red Queen) merasa iri pada saudarinya (Mirana, White Queen) karena orang tua mereka dan rakyat kerajaan mereka lebih mencintai saudarinya itu. Mungkin ada yang menjawab, "Salah sendiri dia merasa iri." Atau ada yang berkomentar, "Dia kan jahat. Wajar saja kalau orang-orang lebih mencintai saudarinya." Iya, memang idealnya manusia tidak boleh merasa iri. Namun, rasa iri itu tidak muncul dengan sendirinya. Bisa saja Iracebeth merasa iri karena diperlakukan berbeda dan hal itu memicunya berbuat jahat pada saudarinya dan orang-orang yang menurutnya tidak mencintainya. Karena kejahatannya, dia semakin dibenci. Semakin dibenci, semakin besar pula rasa irinya, semakin jahat pula dia. Seperti lingkaran setan, ya?

Selain itu, ada tokoh Megamind. Kalau ini sih lebih kompleks ya... Pertama dia dibesarkan oleh para napi yang mengajarkan berbagai kesesatan: polisi dikenalkan sebagai orang yang jahat (well, ada sih polisi yang jahat, ups!), perbuatan kriminal diajarkan sebagai perbuatan yang baik, dan sebagainya. Hal itu diperparah oleh reaksi orang-orang terhadap usaha baik yang dilakukan Megamind. Beberapa kali Megamind berusaha melakukan hal baik tetapi hasilnya tidak sebaik harapannya. Guru dan teman-temannya hanya melihat hasil perbuatannya tanpa memedulikan niat baiknya. Akhirnya Megamind pun dicap buruk/jahat oleh mereka. Akibatnya? dia jadi berpikir bahwa dia memang ditakdirkan untuk menjadi orang jahat dan kemudian memutuskan untuk benar-benar menjadi orang jahat. Bisa dibilang dia adalah korban labelling. Dia berperilaku sesuai cap/label yang diberikan padanya yaitu label nakal/jahat.

Ada juga tokoh Gru dalam film Despicable Me. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana ibu Gru tidak pernah menghargai apapun yang dilakukan Gru. Bahkan, saat Gru berkata ingin ke bulan sang ibu justru menjawab, "Sepertinya sudah terlambat. Mereka tidak mengirim monyet lagi ke sana." Kezzaaaaam! Terus, apa hubungannya penghargaan orang tua dengan perubahan anak menjadi jahat? Kalau menurut pemikiran ngawurku, sih, orang yang berbuat baik tetapi tidak dihargai mungkin akan berpikir, "Untuk apa jadi anak baik? Toh, kebaikanku tidak pernah dihargai. Sekalian saja jadi orang jahat." Namun, itu hanya dugaan ngawur. Karena penasaran, aku pun gugling mengenai pengaruh verbal abuse (sulit mencari padanan kata yang pas untuk istilah ini dalam Bahasa Indonesia) oleh orang tua kepada anak (seperti yang dilakukan ibu Gru terhadap Gru) terhadap kecenderungan anak berperilaku jahat/buruk. Ternyata ada tulisan lama yang membahasnya, yaitu tulisan oleh Yvonne M Missing dan Murray S Strauss yang berjudul "Verbal aggression by parents and psychosocial problems of children". Sayangnya tulisan itu sudah jadul sekali, tahun 1991, tidak bisa dijadikan rujukan tulisan ilmiah. Untung post di blog ini cuma curhatan, jadi bisa lah tulisan itu dijadikan rujukan. Ada beberapa tulisan lain sih yang mengutip kalimat yang menjelaskan kaitan mengenai pengaruh tindak kekerasan pada anak terhadap perkembangan psikologinya. Tapi, tidak disebutkan sumbernya dengan jelas jadi aku tidak bisa mencari tulisan asli yang dikutip tersebut. Jadi, dari hasil penelitian Missing dan Strauss ini, semakin sering anak yang mengalami verbal aggression oleh orang tua maka semakin besar kemungkinan si anak menjadi agresif, nakal, dan memiliki masalah interpersonal. Kalau dihubungkan dengan kasus Gru, bisa jadi Gru menjadi jahat karena verbal abuse yang dilakukan ibunya. Bisa jadiii ....

Dan beberapa minggu lalu aku menonton drama Remember You (Hello Monster) yang memberikan premis pertanyaan: Apakah seseorang menjadi psikopat karena faktor genetik atau karena faktor lingkungan? Seandainya memang benar ada faktor genetik yang menyebabkan seseorang menjadi psikopat, apakah orang yang memiliki bakat psikopat tersebut dapat tumbuh menjadi orang "normal" apabila dibesarkan di lingkungan orang-orang "normal"? Salah satu tokoh dalam drama ini juga menyebutkan bahwa critical moment bagi perkembangan otak manusia terjadi pada sepuluh sampai dua belas tahun pertama kehidupannya. Apa yang dia dengar, lihat, dan rasakan pada masa kritis itu tidak mudah untuk diubah lagi. Dengan kata lain, nilai-nilai yang didapatkan manusia di masa kritis itu juga akan susah untuk diubah di kemudian hari. Dengan kata lain lagi, didikan orang tua pada masa tersebut akan menentukan karakter si anak. Sayangnya (lagi) aku belum menemukan artikel yang menyebutkan secara spesifik bahwa perkembangan otak tersebut terjadi pada sepuluh atau dua belas tahun pertama. Entah buku atau artikel mana yang dijadikan dasar dalam drama tersebut. Lalu, jawaban dari pertanyaan drama tersebut bagaimana? Tidak dijelaskan secara eksplisit apa jawabannya. Namun, dari ceritanya sepertinya jawaban dari pertanyaan pertama adalah: bisa dua-duanya. Dalam drama ini juga digambarkan anak-anak dengan bakat psikopat bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda, tergantung lingkungan tempat mereka tumbuh. Yang tumbuh dalam asuhan pembunuh berantai tumbuh menjadi pembunuh berantai juga. Yang dibesarkan di lingkungan normal, tumbuh menjadi anak normal.

Menonton beberapa film atau drama tersebut membuatku meyakini besarnya faktor didikan orang tua atau pengasuh dalam perkembangan seseorang menjadi orang baik atau jahat. Kalau ada orang jahat, berarti itu karena orang tuanya salah mendidiknya. Hingga kemudian temanku mengatakan hal serupa saat melihat penjahat yang benar-benar sadis. Dia mengatakan bahwa itu bukan sepenuhnya salah si penjahat (yang katanya masih belum dewasa, tapi sudah baligh). Entah kenapa aku ingin membantahnya. Bisa jadi karena sifatku yang tidak suka memiliki pendapat sama dengan orang lain, bisa jadi karena aku terlanjur benci dengan si penjahat sadis yang kami bahas itu. Yang jelas, kemudian aku teringat bahwa manusia dikarunia akal. Sudah seharusnya dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar betapapun besar pengaruh didikan orang tua dan pengaruh lingkungan yang buruk. Pengaruh didikan orang tua dan pengaruh lingkungan memang bisa menyebabkan kecenderungan seseorang menjadi jahat. Tapi, itu masih kecenderungan. Ketika kecenderungan itu diwujudkan dalam tindakan, itu adalah hasil keputusan seseorang setelah memikirkannya. Jadi, ketika seseorang berbuat jahat, itu bukan semata-mata karena kesalahan didikan orang tua atau lingkungan, melainkan juga keputusan yang diambilnya secara sadar.

Ah, pusing memikirkannya. Otakku sudah terlalu random. Sudahlah.

ARTIKEL TERKAIT



29 komentar:

  1. Kereeeeeeeeeennn ulasannya :D

    Mbak, pernah baca bukunya ust. Mohammad Fauzil Adhim yg berjudul Segenggam Iman Anak Kita, serta yang berjudul Saat Berharga untuk Anak Kita?

    Dari dua buku tadi, aku mendapat jawaban atas pertanyaan, "Kenapa aku suka ngeyel dan suka ngebantah, tak suka diatur, dan sifat-sifat nakal lainnya." Ternyata, itu bukan murni karena pada dasarnya akunya yg nakal, tapi juga karena ada pengaruh dari didikan ortu.

    Sepertinya, aku dan adikku memang sedikit salah asuhan. Hahaha :v
    Untungnya aku AB, jadinya ga terlalu haus akan kasih sayang seperti yg adikku alami. Jadi, taraf kenakalan yg dibuatpun juga ga separah dia, meski untuk kadar ngeyelan memang akunya parah abis. Tapi sekarang keknya udah agak mendingan sih. Sudah mulai sadar diri juga. -_-

    Curcol ya: Malam Senin lalu kan di rumah tetangga ada pengajian. Pengajian biar anaknya si tetangga ini bisa mengerjakan ujian dengan mudah. Nah, mereka ngundang ustadz dari salah satu ponpes deket desa kami. Tapi si ustadz malah nyindir2 anak2 dusun kami yg kebetulan waktu itu nyangkruk di pos ronda dan main karambol.

    Lalu anak-anak dusun kami dibanding-bandingin dengan anak didiknya ustadz yg di ponpes: main hape aja ga boleh apalagi melakukan sesuatu yg ga guna. Oke, gw tahu niatnya si ustadz baik, ingin mengajak bapak2 ibu2 agar mendaftarkan anaknya di ponpes. Tapi, kalo kata2 pak ustadz ini sampe kedengeren anak-anak dusun kami, bukankah mereka malah akan jadi benci sama si ustadz? Padahal kan, yang menyajikan suguhan (baik itu makanan maupun minuman) buat peserta pengajian -ya anak-anak dusun ini (yang tadinya main karambol di pos ronda).

    Kalo udah sampe taraf benci parah, bukankah mereka malah akan antipati pada yang namanya ponpes? Dan akan lebih benci lagi kalo didoktrin tentang benar dan salah? Niat dan ajakan pada kebaikan, tapi cara menyampaikannya salah... Seperti orang tua yg ingin anaknya baik, tapi malah salah mendidik... *deuh, logical falacy gak ya ini? Kenapa pikiranku selalu ruwet buat dituangkan dalam bentuk paragraf ya mbak? lebih mudah kalo digambar pake sketsa* :(

    Tentang Gru, setelah dia ketemu sama anak-anak yatim, sepertinya dia tidak bisa lagi dikatakan sebagai seorang penjahat. Meski kadang masih suka 'nakal' sih, tapi apa ada orang jahat yang peduli sama anak-anak? :D

    Tentang akal, kalo suatu hal yang menurut orang umum merupakan sebuah kesalahan ataupun kejahatan (tapi menurut si pelaku bukan kesalahan maupun kejahatan) dan sudah dilakukan secara berulang-ulang serta sudah jadi kebiasaan, apakah mungkin, dia akan berpikir ulang tentang benar dan salah?

    Bisa jadi, ada suatu momen bahwa pelaku kesalahan ataupun kejahatan tadi mau berpikir ulang tentang tindakan-tindakannya, dan akhirnya dia sadar bahwa yg dilakukannya selama ini adalah salah lalu mulai merubah total gaya hidupnya (fase ini mungkin bisa kita sebut sebagai fase mendapat hidayah). Tapi, bisa jadi, ketika fase 'berpikir ulang' tadi terjadi pada si pelaku kejahatan dan dianya malah melanjutkan kebiasaannya, maka apakah artinya dia gagal mendapat hidayah?

    Apakah setiap orang pernah mengalami titik balik dalam hidupnya, atau hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengalaminya? Apakah setiap orang mau dan mampu menggunakan akal yang dimilkinya untuk memikirkan segala hal yang telah dilakukannya? Apakah setiap orang mau repot-repot menguras tenaga untuk merenung dan berpikir?

    Menurutmu, piye mbak? Aku bingung. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enhaaaaaa, kalo sepanjang ini bikin posting blog aja gih :p

      Aku nggak punya dua buku itu. Udah lama gak hunting buku parenting, takut setres :p

      Aku curiga, enha ngeyelan karena waktu kecil didoktrin "kalo orang tua ngomong nggak boleh bantah" *nuduh* Soalnya, bisa jadi karena sering disuruh "diem", jadinya malah mbantah mulu.

      Kalo cara ustadz itu pake nyindir2 gitu kurang pas sih. Tapi tergantung sasarannya juga. Kalo sasarannya orang yang nggak suka disindir, jelas langsung antipati. Kalo sasarannya tipe yang jadi sadar setelah disindir, bisa-bisa aja. Cuma kayanya sebagian besar orang nggak suka disindir ya.. Ujung-ujungnya ya itu, malah jadi males ke pesantren. Mestinya mah promosinya njelasin kebaikan program di pesantren aja, nggak perlu menjelekkan cara asuh orang tua di desa itu. Kalaupun mau ngasih contoh pola asuh yang salah, bisa kasih contoh yang sifatnya lebih global. *ih, aku sotoy banget dah*

      Itu bukan logical fallacy sih menurutku. Bisa aja orang yang tujuannya baik, tapi cara untuk mencapainya salah, hasilnya jadi nggak baik.

      Yang dibahas di sini emang karakter Gru pas belum dibuka hatinya oleh bocah-bocah yatim itu.

      Nah, komentar selanjutnya makin rumit. Kalo ada orang yang menganggap sesuatu-yang-salah/jahat-di-mata-umum sebagai sesuatu yang tidak salah/jahat, mungkin ada yang salah dengan otaknya, mungkin dia termasuk yang "berbakat" jadi psikopat (konon katanya psikopat itu kan gak menganggap apa yang mereka lakukan itu salah) dan lingkungannya "mendukung" bakat psikopat itu berkembang (terbukti dia bisa melakukan tindakan yang salah berulang-ulang). Kalo kasusnya kaya gitu, mungkin agak susah ya buat berpikir ulang, karena keyakinan bahwa "apa yang dia lakukan tidak salah" itu udah nempel banget. Aaaah, sudah sudah. Kayanya jawabanku ngawur dan sok tahu, padahal bukan psikolog.

      Pertanyaan soal hidayah ini juga rumit :'(

      Kayanya ada yang kurang di bahasan tulisan ini: hati. Untuk mengalami titik balik, menurutku bukan cuma peran akal. Biasanya kan awalnya karena kata hati. Biasanya berangkat dari hati kecil yang merasa gelisah, yang membuat dia mempertanyakan apakah yang dia lakukan itu benar atau tidak. Setelah itu, bisa dipikir dengan akal, atau bisa juga memutuskan berubah cuma karena kata hati. Apakah semua orang pernah mengalami titik balik? Nggak mesti. Tergantung dia mendengarkan kata hatinya atau nggak. Aku termasuk yang ndableg, dan belum mengalami titik balik. Masih nakal :'( :'( :'( *malah curcol*

      Aku melu-melu bingung :'(

      Hapus
    2. Gak tahu juga kalo bakal sepanjang itu mbak. :v

      Kenapa takut setres? Bagus lho, kalopun tidak bisa membacanya dari sudut pandang orang tua, maka bisa membacanya sudut pandang anak. Bisa jadi acuan untuk menemukan jati diri. Eh?

      Aku lupa baca ini di mana, yang kuingat cuma: anak yang sedari sebelum sekolah sudah diajari berhitung, maka dianya akan tumbuh menjadi anak yg suka ngeyel. -_-

      Selain itu, aku juga kurang puas aja dengan jawaban ortu yang kalo ditanya suka ngejawab dengan kalimat 'pokoknya'. Pokoknya begini, pokoknya begitu bla bla bla bla. Jawaban 'pokoknya' itu seharusnya dijelasin lebih detil lagi. Biar anak bisa paham.

      Betewe, ternyata mbak Milo udah nonton Despicable Me juga ya? Minionnya unyu ya mbak. OOT. Wkwkwkwkwk XD

      Masalah hati, apakah orang-orang yang hatinya telah keras seperti batu atau telah mati, tak bisa mengalami perubahan? Kenapa sampai ada orang-orang keras hati atau bebal? Apakah tidak bisa disembuhkan lagi? Bukankah kemauan untuk sembuh itu berperan penting pada keberhasilan kesembuhan? Tapi, kalo gak mungkin untuk sembuh, kenapa musti ada para da'i?

      *mulai ngelantur*

      Hapus
    3. Enha, kamu ditanyain sama Nurin itu, soal pola didik ortumu waktu kecil.

      Pokoknya pusing baca buku parenting *ngeyel*

      Barusan gugling, emang ada artikel yang ngutip statement itu, tapi nggak nyebutin sumber artikelnya. Nggak asik.
      Mungkin bukan sekadar diajari berhitung melainkan dipaksa belajar berhitung (lagi asik manjat pohon disuruh turun buat belajar) dan dituntut untuk bisa berhitung (misalnya setelah seminggu diajari harus udah bisa berhitung 1-10). Kalo diajari berhitung (dan baca tulis) dengan cara yang fun, biar dia tertarik, kayanya nggak masalah ya. *tuh, kan, sotoy lagi*

      Memang ada sebagian orang yang harus diberi penjelasan yang rasional, nggak cuma pokoknya. Nggak cuma dibilang "Jangan main pisau". Mesti dijelasin "Pisau itu tajam, kalo kena tangan nanti luka, jadi jangan main pisau." Itu sebabnya orang yang ngeyelan kalo disuruh atau dilarang malah nanya, "Kenapa? Kenapa mesti gitu? Kenapa nggak boleh gini?"

      Nggak unyu a minionnya. Lebih unyu Agnes, apalagi pas tepok2 pipi :D

      Katanya kan kalo hatinya udah mati disuruh berdoa minta hati yang baru yak? Mestinya sih bisa, selama masih ada umur. Namanya juga qolb, mudah dibolak-balik. Wallohua'lam.

      Hapus
    4. maksudnya Mestinya sih bisa berubah atau sembuh, selagi masih ada umur.

      Hapus
    5. Ataukah karena dengan berhitung itu kita diajari rumus kepastian? Misal 1+1 = 2, 1+2=3, dst...

      jadinya kalo dijelasin tentang masalah yg bukan ilmu pasti, si anak malah ngejar jawaban terus hingga ketemu jawaban yang bisa dinalar otak? Kalo nggak bisa dinalar, artinya jawabannya salah karena harusnya ada jawaban yg pasti benar? Mbuhlah bingung. -_-

      Tapi nggak semua orang tua mau menjawab pertanyaan anak secara mendetil mbak. Alasannya bisa beraneka ragam, mulai dari capek karena terlalu banyak kerjaan, hingga emang tidak tahu musti ngejawab apaan. Ya jatuhnya malah ngejawab, "Pokoknya".

      Tapi (untungnya) keknya nggak semua anak sangat kepo hingga nanyain banyak hal secara mendetil. :,v

      trus, kalo hatinya udah mati, yg harus ngedoa'in siapa? diri sendirikah? kalo diri sendiri, lha itu bukannya dia sadar kalo hatinya mati? kalo sadar, berarti belum matikah itu hatinya?

      ataukah bisa didoakan oleh orang lain?

      Hapus
    6. Asli, aku bingung banget jawabnya.

      Soal jawaban pasti, kayanya sih nggak gitu. Soalnya tulisan yang kutemuin rata-rata nggak nyebutin spesifik berhitung tapi sepaket: calistung. Soal jawaban yang pasti benar, kayanya untuk sesuatu yang anak kecil belum nyampe ilmunya, dikasih jawaban yang salah pun dia nggak tahu kan ya? Kalo soal nalar, itu kayanya default ya. Manusia cederung nyari jawaban yang bisa dinalar otak, tapi ya nggak semua yang benar itu bisa dinalar otak dan nggak semua yang bisa dinalar otak itu benar. Mungkin anak yang ngeyelan itu sejak kecil nggak diarahkan untuk mengekpresikan pertanyaannya dengan selow, jadinya sampe gede nanyanya nyolot. Mungkin juga dari kecil keseringan dikasih jawaban nggak memuaskan jadinya gedenya antipati sama aturan karena biasanya nggak ada alasan rasionalnya. Ah, embuh. Kita nanya psikolog aja lah, biar nggak sesat.

      Yang nyadar hatinya mati kan bukan hatinya, tapi akal. Halah, mbulet gini. Bisa aja didoakan orang lain. Minta didoakan gitu.

      Hapus
    7. panggilkan psikolognya :v

      Hapus
    8. gak punya kenalan psikolog :P

      Hapus
  2. biasanya memang suka ada hubungannya begitu. Mungkin karena, gak mungkin seseorang bisa dengan sendiri mempunyai karakter baik atau jahat, ya? Biasanya ada cerita di baliknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, biasanya ada cerita yang jadi penyebab seseorang jadi jahat.

      Hapus
  3. Maaf, aku gak ngerti drama yg dimaksud, :p. Aku malah penasaran dengan didikan enha, dgn statemennya yg bilang salah asuhan. Dgn sifatnya yg ngeyelan dn gak mau diatur, emang kenapa dulunya dididik gimana? Haus kasih sayang kenapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini nanya ke enha kan ya? Bukan ke aku kan? :P

      Bisa intip2 blognya, mungkin dari curhat terselubungnya bisa ditebak pola asuh ortunya gimana.

      Hapus
    2. Rahasia~

      *dikeplak*

      lha habisnya, kalo diceritakan di mari, bukannya itu namanya mengumbar aib sendiri mbak? :v

      Hapus
    3. Mbak Nurin tertarik dg kasusku karena mengalami sendiri juga? Atau ada kenalan yg kasusnya sama?
      Baca aja 2 buku karya ustadz Mohammad Fauzul Adhim yg kusebutin di atas, mbak. :D

      Hapus
  4. bukan otakmu yang berpikir terlalu random mi, i thought so...
    ya kalo udah gede mah dosa tanggung sendiri atuh
    kan punya pilihan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indeed.
      Kalo dosa emang ditanggung sendiri. Karakter seseorang mungkin banyak dipengaruhi pola asuhan orang tua dan lingkungan, tapi keputusan untuk melakukan sesuatu yang baik atau nggak baik itu ada di tangan dia sendiri.

      Hapus
  5. memang itu kan tujuan yang ngarang ceritanya, kalau tokoh penjahat pasti dibikin background masa kecilnya yang bikin dia jadi jahat. itu salah satu moral of the story kayaknya karena tiap anak pada dasarnya lahir seperti kertas kosong, yang menentukan gambarnya ya bisa jd ortu atau faktor lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak semua digambarin masa kecilnya gitu sih..

      Hapus
  6. sukak Mil, ini tulisan kece banget sih. Filmnya aku udah nonton semua. Menurutku sih itu bukan film anak-anak hehehe tapi film ABG. Soalnya anak-anak akan keracunan kalau disuguhi film seperti itu.
    Itulah rumit dan peliknya ortu, apalagi di jaman serba digital begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. etapi banyak anak2 yang nonton wid, termasuk aku *nggakingetumur*

      semua jaman ada untung ruginya sih. jaman digital begini, malah lebih mudah komunikasi dan ngontrol anak juga kan?

      Hapus
  7. Betul sekali, Mbak, betapa didikan dari lingkungan sekitar, termasuk orangtua, pengasuh, pendidik, sangat berpengaruh dalam pemahaman dan karakter anak. Namun, bagaimanapun didikan, kemampuan anak untuk mengambil keputusan, terutama jika telah dewasa, juga berpengaruh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, dua-duanya berpengaruh, didikan dan kemampuan mengambil keputusan.

      Hapus
  8. Aku juga mikirnya gitu. Sifat negatif kan gak mungkin tiba-tiba muncul. Bahkan The Grinch sekalipun, dia gak akan segitu bencinya sama Natal kalau dulu gak diolok-olok sama teman-temannya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sifat negatif biasanya ada pemicunya.

      Hapus
  9. Bener banget mba. Saya kebetulan mahasiswi Psikologi, jadi dikit2 dikasih tahu sama buku2 yg saya pelajari di kuliah. Memang pola asuh ortu itu pengaruh banget buat karakter anak. Karakter dasar seseorang itu memang dibentuk ketika masa kanak-kanaknya. Kalo masa kanak2nya suram dengan ortu yg otoriter, menurut penelitian juga anak akan tumbuh jadi kaku, rebel, dan parahnya lagi akan menurunkan pola parenting otoriter ke anaknya kelak. Pola asuh salah memang kayak lingkaran setan. Sadar ga sadar, nantinya kita juga bakal mendidik anak kita nanti kayak cara didikan ortu kita. Tapi, mata rantai itu bisa diputus, ya salah satunya dengan belajar tentang parenting, tahu do and dont ketika mendidik anak. Jadi ortu memang ga ada sekolahnya soalnya, semacam langsung terjun langsung ke realita :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti emang bener ya pola asuh itu "menurun". Kadang agak khawatir mewarisi pola asuh yang salah. Mungkin udah tahu pola asuh yang diterapkan orang tua salah, tapi khawatirnya tanpa sadar menerapkan pola asuh yang sama.

      Hapus
    2. Selalu ada jalan untuk berubah jika memang ada kemauan. Dan mungkin, inilah yang membuat buku parenting ala Rasulullah kini marak beredar. Karena sudah banyak yang tertarik untuk meneladani gaya hidup hingga gaya mendidik anak a la Rasulullah. ^^

      Hapus
    3. buku-buku itu teori. praktiknya berat. butuh waktu lama buat mengubah kebiasaan, biar nggak terbawa pas mendidik anak. *skeptis banget ya*

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!