Jumat, 12 April 2019

Cie-cie yang Tak Bertanggung Jawab

Salah satu risiko menjadi jomblo adalah "dijodoh-jodohkan". Bukan dijodohkan secara serius dengan membahasnya secara empat mata antara si yang dijodohkan dengan mak comblang melainkan ledekan dan "cie-cie" saat beramai-ramai. Kalian cocok, deh. Cie-cie duduk sebelahan. Udah, kamu sama dia aja. Itu sedikit contohnya. Dulu aku pernah menjadi korban cie-cie. Di kantor banyak yang meledek mengatakan aku cocok dengan seseorang, sebut saja bekantan. Sebagai orang yang mudah sekali ge-er, dengan bodohnya aku termakan ledekan itu dan mulai menyukai si bekantan. Hingga akhirnya si bekantan ini menikah dengan orang lain dan aku patah hati. Apa kabar orang-orang yang sebelumnya heboh "menjodoh-jodohkan" aku dengan si bekantan? Mereka ikut bergembira bersama si bekantan. Adakah yang ikut sedih merasakan patah hatiku? Nggak ada. Blas. Saat itu aku sadar, yang mereka lakukan selama ini hanya ledekan untuk lucu-lucuan. Kalau berhasil "menjodohkan" mereka akan bangga sudah berhasil. Kalau yang di-cie-cie tidak jadi pasangan, mereka tidak ambil pusing. Aku yang di-cie-cie hanyalah objek lelucon.

Sejak saat itu aku belajar menahan diri untuk tidak ikut "menjodoh-jodohkan" tidak jelas seperti itu. Susah, sih. Godaannya terlalu besar karena meledek seperti itu memang seru. Namun, setidaknya berusaha terus mengingatkan diri sendiri betapa bahayanya meledek seperti itu. Kalau yang ge-er dan berakhir patah hati seperti diriku, memangnya mau tanggung jawab?

Selain mulai menahan diri dari menjodoh-jodohkan orang, aku juga jadi mudah kesal ketika dijodoh-jodohkan. Aku merasa dijadikan bahan lelucon dan itu bukan hal yang menyenangkan. Aku suka ketika orang tertawa karena leluconku tapi aku tidak suka menjadi bahan lelucon.

Sepertinya tidak banyak yang memikirkan efek negatif dari ledekan-ledekan semacam ini. Biasanya mereka meledek dengan alasan peduli. Padahal kalau benar-benar peduli mereka bisa membahasnya secara personal tanpa meledek di depan umum. Mereka bisa secara empat mata menjelaskan tentang si wanita ke si pria dan sebaliknya. Tanpa cie-cie. Kalau tertarik bisa dilanjutkan. Kalau tidak? Stop. Selesai. Tidak dibahas lagi.

Kadang ada yang beralasan "biar saya dapet mesjid di surga". Katanya kalau berhasil menjodohkan orang bisa mendapat masjid di surga. Lah, mau dapet pahala kok caranya ngeselin. Berisiko membuat orang ge-er lalu patah hati pula.

Sepertinya orang yang "menjodoh-jodohkan" dengan cie-cie ini hanya mencari objek yang bisa dirundung (di-bully). Peduli, ingin mendapat masjid di surga, semua hanya kedok untuk bisa menjadikan seseorang objek lelucon. Peduli? Bullshit. Mungkin banyak yang menganggapku terlalu berpikir negatif. Emang. Tapi kayanya pikiran negatif gue nggak salah kok.

Wahai kalian yang gemar "menjodoh-jodohkan" para jomblo, kalian yakin kalau kalian melakukan itu semata-mata karena peduli dan mengharapkan pahala? Yakin kalau motivasi utama kalian bukan untuk seru-seruan dan lucu-lucuan?

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. Dulu pernah dijodoh1in gitu sih sama temen. Dicie2in. Ternyata dianya malah belum moveon ama mantannya. Wkwk. Pen misuh2 akutu mba. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya udah misuh aja. Lempar sendal sekalian :D

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!