Tampilkan postingan dengan label Tetanduran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tetanduran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2013

Collecting Raindrops (After the Rain)

I'm still obsessed to raindrops. I was trying to capture raindrops but the results are still not as good as my expectation.

Raindrops in the tiny flower

Above is picture that I took three days ago in the afternoon. The weather was cloudy so there was no sufficient light to make a clear picture. Hey, did I blame the weather? Ops!
Two pictures below were taken at the same time as before. Still not so good as I hope.

Raindrops on (or under?) the leaf, ready to drop (again)

Minggu, 03 Februari 2013

Yang (Mungkin) Luput dari Pandangan

 
Ada yang tahu gambar di atas gambar bunga apa? Aku, sih, menyebut tanaman itu krokot. Penggemar Curanmor pasti tidak asing dengan kalimat "sambel krokot karo gorengan godhong mangkokan". Apa iya tanaman ini bisa dibuat sambal? Entah. Silakan tanyakan pada Kaki Samidi atau Rumawi. Gambar di atas kembang krokotnya masih kuncup. Yang sudah mekar seperti di bawah ini. Cantik, kan?

Rabu, 30 Januari 2013

Markisane Mendhot

Minggu wingi aku balik maring Brebes. Jebule wit markisa nang umah lagi mendhot nemen. Lagi bada wingi, sing tak critakna nang postingan kiye, tah ora patiya mendhot. Uwohe akeh nemen. Nganti keder mangane. Kaligane malah ditawak-tawakna maring wong sing liwat. Abahe ya bolak-balik nawani tangga sing liwat ngarep umah.

Ora percaya? Keh, tak todokna wit markisa sing uwohe pating glantung


Nang ngarep umah ya ana sing pating glantung. Endep nemen. Yen pan ngempet yang kari nyawel tok. Kyeh gambare


Senin, 21 Januari 2013

Sisa Hujan Semalam

Kemarin sore aku tiba di rumah. Dan pagi ini aku sudah mulai norak-norak bergembira dengan kameraku. Awalnya aku ingin mengambil gambar embun gara-gara sempat iri melihat foto hasil jepretan teman-teman yang ada embunnya dan hasilnya bagus. Lalu, setelah melihat halaman depan, tidak ada embun. Yang ada justru bekas hujan. Iya, semalam hujan deras. Setelah berkali-kali memotret-menghapus-memotret lagi, kudapatkan juga hasil yang lumayan -- tapi tetap amatiran, hehehe... Seperti kata Nurin, keahlian dipengaruhi oleh jam terbang. Jadi, anggap saja ini merupakan proses latihan untuk menambah jam terbang agar nanti hasil potretanku bisa bagus. Oh, ya, semua tanaman ini Abahku yang menanam dan merawat. Halaman depan dan samping rumah jadi penuh tanaman sejak Abahku pensiun. Sepertinya bakat terpendamnya adalah jadi petani, hehehe...

Kamis, 03 Januari 2013

Kakao

Apa yang bisa kita lihat ketika jalan-jalan di Kabupaten Aceh Barat Daya? Sawah. Sampai daerah ini dijuluki Nanggroe Breuh Sigupai. Selain sawah? Kebun. Ada kebun kakao (coklat), ada kebun pala (bukan Kebon Pala yang di Jakarta, lho), ada kebun durian (yang ini sangat menggoda iman), dan kebun-kebun lainnya. Seringnya, sih, kebunnya ditanami bermacam-macam tanaman, bukan semacam saja. Jadi, dalam satu kebun bisa ada pohon durian, rambutan, pinang, pala, dan sebagainya. Ada juga perkebunan kelapa sawit yang banyak berada di Kecamatan Babahrot, kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya.

Kali ini aku akan bercerita tentang kakao. Di kabupaten ini tanaman kakao termasuk pating tlekcek, berserakan. Di hampir setiap desa yang kukunjungi, ada saja pohon kakao, entah ditanam di kebun atau hanya di halaman rumah. Biasanya pohonnya tidak terlalu tinggi, paling sekitar dua meteran (kalau aku tidak salah menaksir). Seperti ini gambar pohonnya

Pohon kakao yang buahnya berwarna hijau


Pohon kakao yang buahnya berwarna merah


Selasa, 11 September 2012

Markisa, Kliyengan, dan Hipotesis

Beberapa bulan terakhir Ibu sering 'pamer' jus buah markisa. Kata Ibu, tanaman markisa yang ditanam Abah berbuah banyak. Aku pun tergoda. Dan saat mudik lebaran kemarin aku beruntung karena ada beberapa buah markisa yang masak, jadi aku bisa membuat jus markisa. Kalau tidak salah, tepat di hari pertama aku sampai rumah, malamnya langsung dibuatkan jus markisa. Karena kami tidak punya blender, jadi membuat jusnya pun cuma mencampurkan buahnya ke segelas air panas/hangat, diberi gula, diaduk, lalu disaring. Rasanya? ASEM. Tapi, karena ada gulanya jadi terasa asem manis.

Di samping penasaran pada rasa buahnya, aku juga penasaran pada tanamannya. Aku pun langsung ber-norak-rorak-ria dengan kameraku. Dengan kemampuan fotografi yang pas-pasan, aku mencoba memotret tanaman itu. Ini dia hasilnya:

Tanaman markisa yang merambat di depan rumah


Bunga tanaman markisa.