Lalu aku pun ingat hal lain. PNS. Bertahun-tahun PNS digambarkan sebagai kelas pekerja yang makmur tapi pemalas, menghabiskan uang rakyat. Demonisasi, kalau tidak salah begitu istilahnya. Akibatnya rakyat yang bukan PNS pun membenci PNS. Mereka sibuk menghujat PNS sampai lupa siapa yang sebenarnya banyak menghabiskan uang rakyat.
Ada juga upaya membenturkan pendemo/demonstran dengan rakyat yang tidak turun ke jalan. Demonstrasi diidentikkan dengan macet, rusuh, dan merusak fasilitas umum. Akibatnya sebagian rakyat tidak menyukai demo. Dulu aku pun sempat berpikir begitu. Lalu, aku sadar. Harusnya aku marah pada penguasa yang membuat para pendemo ini turun ke jalan. Kalau situasinya baik-baik saja, tentu saja mereka tidak akan melakukan demonstrasi. Kalau penguasa selalu mendengarkan aspirasi rakyat, demonstran juga tidak akan punya alasan untuk demonstrasi.
Ternyata praktik devide et impera masih dilestarikan. Aku saja yang tidak sadar. Dan sayang sayangnya, praktik-praktik adu domba tersebut masih cukup efektif. Masih banyak yang sibuk membenci sesama rakyat jelata dan lupa siapa antagonis yang sesungguhnya. Bahkan, masih ada yang suka rela membela penguasa. Mereka lupa, penguasa bisa mengorbankan siapapun, bahkan pembelanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!