Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2016

Pagi yang Indah

“Bulik, bangun! Jam segini masa belum bangun,” celoteh cempreng bocah yang kerap menirukan perkataan Mamanya itu membangunkanku dari tidur.

Masih ngantuuuuuk! Semalaman tidurku tak nyenyak diganggu serangga penghisap darah. Dengungannya, gigitannya, semua membuatku yang nyaris terlelap jadi terjaga lagi. Dan pagi-pagi begini aku sudah dibangunkan keponakanku yang cerewet. Baru saja aku hendak memejamkan mata, Emak sudah memanggil menyuruhku membuat teh. Baiklah, sepertinya aku memang dilarang tidur lagi pagi ini.

Selasa, 05 November 2013

Menjaring Angin (13)

Wukir pun teringat ketika Sasi memberikan undangan pernikahan padanya dua minggu yang lalu. Sore itu, setelah jam kerja berakhir, ia bergegas ke kantor provinsi mengantarkan laptop Matari yang diperbaikinya. Ketika ia sedang mengobrol dengan Matari dan Pawana, Sasi pun datang membawa beberapa undangan.

“Akhirnya Sasi nyebar undangan juga. Mas Wukir kapan, nih?” goda Matari.

“Ntar siang aku sebar undangan,” jawab Wukir sungguh-sungguh – atau setidaknya kelihatan sungguh-sungguh.

“Serius?”

“Serius. Ntar siang aku sebar undangan. Undangannya Sasi,” kata Wukir yang langsung tergelak. Tapi ia tidak bisa lama tertawa karena Pawana langsung memukul lengannya dengan buku. Keras sekali. Ia baru saja membuka mulut hendak protes atas kesadisan Pawana ketika Matari tiba-tiba bertanya.

“Baruna? Ini bukan Baruna anak Analisis itu, kan?”

Sasi hanya tersenyum.

“Jadi Baruna yang itu? Serius? Nggak salah? Dia, kan, jauh lebih muda dari kita,” tanya Matari bertubi-tubi.

“Terus kenapa kalau lebih muda?” Sasi balik bertanya.

“Cowok seumuran dia pasti masih kekanak-kanakkan, belum dewasa!”

“Kedewasaan nggak selalu bisa dinilai dengan usia, kan? Ada orang yang bisa bersikap dewasa tanpa menunggu jadi tua. Baruna salah satunya. Asal kamu tahu aja, dia jauh lebih dewasa dari kamu,” Sasi yang biasanya tenang menghadapi Matari kini terlihat jengah.

“Eh, desainnya bagus. Siapa yang buat?” Wukir mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Nana yang buat. Minggu lalu aku minta dia buat desain, besoknya langsung dia kasih. Dan cocok. Aku sama Baruna suka gambar laut sama bulan purnamanya,” terang Sasi.

“Kok, cepet banget jadinya?” tanya Matari.

“Nggak tahu, tuh, Baruna. Kayanya kenal yang punya percetakan, jadi cepet,” jawab Sasi.

“Kamu udah desain undangan Sasi sama Baruna. Kapan kamu desain udangan nikahan kamu sama Pukat?” sindir Wukir.

***

Aaargh! Bodoh sekali. Kenapa aku harus menanyakan hal seperti itu? Kenapa aku menanyakan undangan pernikahannya dengan Pukat? Kalau dia mengajak Pukat menikah pada hari pengumuman beasiswa, berarti itu seminggu sebelum Sasi membagikan undangan. Dan itu berarti ... Sasi memintanya membuatkan undangan pernikahan tepat di hari dia ditolak? Ah, kalau saja Sasi tahu yang terjadi, dia takkan sampai hati melakukannya.

Senin, 21 Oktober 2013

Menjaring Angin (12)

Dua minggu lagi Pawana harus berangkat ke Jepang. Dan dia ingin menghabiskan dua minggu itu di kampung halaman. Untuk itu dia ke Stasiun Gambir pagi ini untuk membeli tiket kereta yang berangkat ke Tegal nanti malam. Dia ditemani Wukir. Sebenarnya bukan menemani, sih. Wukir juga hendak membeli tiket kereta ke Semarang. Sama seperti Pawana, dia juga ingin pulang kampung dulu sebelum berangkat ke Jepang. Mereka beruntung karena hari itu hari Rabu, hari kerja. Jadi mereka tak sampai kehabisan tiket. Kalau mereka membeli tiket kereta untuk akhir pekan atau hari libur, mereka harus pesan beberapa hari sebelumnya. Setelah mendapatkan tiket, mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas.

Minggu, 20 Oktober 2013

Menjaring Angin (11)


“Nana!” sapa Pukat yang tiba-tiba saja sudah berada di samping meja Pawana. Entah Pukat yang seperti hantu, kedatangannya tidak terdeteksi panca indera manusia, atau Pawana yang terlalu fokus sehingga tidak menyadari kehadiran Pukat.

“Aku disuruh minta tabel-tabel ini ke Bagian Pengolahan,” kata Pukat sambil menyodorkan selembar kertas berisi daftar variabel dan format tabel.

“Kenapa nggak minta lewat email aja? Daripada kamu capek-capek jalan ke sini,” kata Pawana.

Pukat hanya tersenyum. “Ruangan kita, kan, nggak sejauh Jakarta – Tegal, Na. Jalan kaki lima menit juga sampai. Lagian sekalian biar bisa ketemu kamu. Dua minggu kemarin aku ikut pelatihan, jadi nggak bisa ketemu kamu. Kangen,” goda Pukat.

“Apaan, sih, bilang kangen segala!” kata Pawana ketus, menutupi salah tingkahnya.

“Nanti malam ke toko buku, yuk! Kata temanku kemarin ada banyak manga baru,” kata Pukat, tak memedulikan sikap ketus Pawana.

Belum sempat Pawana menjawab ajakan Pukat,  smartphone-nya berbunyi.

Dengan kekuatan bulaaan, akan menghukummu!

Minggu, 08 September 2013

Menjaring Angin (10)



Adzan Maghrib baru saja selesai berkumandang. Namun, Pawana masih sibuk di depan komputer – yang sekarang beralih fungsi jadi server.

“Udah selesai, Na?” tanya Matari.

“Bentar lagi. Ini lagi bikin tabel rekap hasil entry yang diminta Pak Agni. Kalian?”

“Belum. Baru selesai bikin SPJ, eh, tadi ada email suruh revisi SPJ-nya. Sakit jiwa itu orang kantor pusat!” rutuk Matari.

“Sasi?” tanya Pawana sambil tetap fokus pada komputer.

“Lagi sholat. Dia juga udah stress meriksa dokumen survei seabrek-abrek. Mending kita pulang aja, lah. Percuma lembur kalau pikiran udah kusut. Kerjaan malah makin berantakan,” keluh Matari.

“Selesai!!!” Pawana menyimpan tabel yang baru saja dia print lalu mematikan komputer.

“Buat ngilangin stress, gimana kalau kita makan di luar?” usul Pawana.

“Oke! Ngramen aja, yuk! Abis itu kita nonton,” jawab Matari girang.

***

Minggu, 28 Juli 2013

Menjaring Angin (9)

Aku suka Pukat? Yang benar saja. Mas Wukir ini ada-ada saja. Memangnya kalau aku membelikan Pukat makanan berarti aku menyukainya? Dia, kan, bukan satu-satunya teman laki-laki yang kubelikan makanan. Eh, tunggu. Sepertinya ... Selain Mas Wukir, sepertinya memang cuma Pukat teman laki-laki yang kubelikan makanan. Selama ini aku tidak sudi berbaik hati pada teman laki-laki termasuk tidak sudi membelikan makanan. Tapi, bukan berarti aku suka Pukat, kan? Aku tidak suka Pukat. Aku hanya ... Aku hanya ... Aku hanya suka senyumnya, aku hanya suka tatapan matanya yang tetap tenang meskipun aku melancarkan tatapan penuh intimidasi, aku hanya suka bercanda dengannya. Hanya itu. Bukan berarti aku suka Pukat, kan?

***

Setelah beberapa jam berkutat dengan komputer, saatnya aku melarikan diri. Yeah, sudah saatnya makan siang. Itu berarti sudah saatnya kabur ke kantin dan MAKAN! Biasanya di jam makan siang begini kantin ramai. Terlambat sedikit saja, meja sudah penuh. Untungnya ada Matari yang ruangannya paling dekat kantin. Dialah yang paling dulu pergi ke kantin untuk mencari tempat duduk untuk Sasi dan aku. Begitu pun hari ini. Saat aku datang, Matari sudah duduk (sok) manis di meja paling ujung. Masih ada empat kursi kosong lagi. Saat aku baru duduk, Sasi pun datang. Lengkap sudah. Tinggal memesan makanan. Hari itu kami bertiga memesan makanan yang sama: gado-gado. Sepertinya aku sedang beruntung hari ini.

Kamis, 25 Juli 2013

Menjaring Angin (8)

Sudah seminggu aku selalu pulang malam. Lembur. Aku harus meng-entry sekaligus mengawasi ketiga stafku yang sedang meng-entry. Eh, sebenarnya bukan cuma mengawasi tiga orang itu. Aku juga mengawasi Pukat dan Baruna, staf Bagian Analisis yang kubajak demi mengejar deadline entry data. Untungnya bulan ini Bagian Analisis belum terlalu sibuk. Sasi dan Matari? Ah, lupakan mereka. Bagian Survei juga sedang sibuk-sibuknya sebagaimana Bagian Pengolahan Data, jadi Sasi tak bisa diganggu. Malam hari adalah jadwalnya memeriksa dokumen survei agar sudah clean ketika diserahkan ke Bagian Pengolahan untuk di-entry. Matari? Dia sudah stress mengatur keuangan, SPJ ini, SPJ itu, laporan keuangan. Dan mengajaknya meng-entry malam sama saja mencari bencana. Bisa-bisa setiap menemukan kesalahan dia mengomel, “Ini yang bikin aplikasi siapa, sih? Error melulu!”

***

“Udah jam sembilan, Mbak. Nggak pulang?” tanya Pukat.

“Iya, bentar lagi. Mau backup hasil entry dulu,” Pawana beranjak menuju server.

Setelah mem-backup hasil entry sementara, Pawana pun berkemas-kemas. Pukat juga ikut berkemas-kemas.

“Ngapain kamu? Mau pulang juga?” tanya Pawana.

“Mau nganterin Mbak Nana pulang. Udah malam,” jawab Pukat.

“Sunu, saya pulang dulu, ya! Kalau udah selesai, jangan lupa backup, terus matikan server. Kalau nanti ada error yang nggak bisa ditangani, biarin aja error. Jangan dipaksa clean. Catat aja error-nya lalu serahin ke saya besok. OK?” kata Pawana pada salah satu stafnya dan kemudian beranjak meninggalkan ruang entry data setelah stafnya itu memberi tanda OK.

“Kamu pinter cari alesan, ya!” kata Pawana pada Pukat begitu mereka keluar dari ruang entry data.

“Alesan apa?” tanya Pukat.

“Bilang aja kamu nggak mau ngentry sampai pagi. Pakai alesan nganterin saya pulang,” sindir Pawana. Pukat hanya tertawa kecil.

“Tapi masih lumayan, lah. Setidaknya kamu masih mau bantu ngentry sampai malam. Makasih.”

“Cuma makasih? Nggak ada imbalan? Beliin kue misalnya.”

“Kamu mau kue apa? Kue nastar? Bolu? Black forest? Atau kue cucur?” canda Pawana.

“Kue cucur boleh juga. Aku suka. Buruan kamu jalan. Aku ngikutin dari belakang,” Pukat bersiap-siap menyalakan sepeda motornya.

“Panggil apa tadi? ‘Kamu’? Heh, yang sopan sama senior!” Pawana mulai memasang tatapan Medusa-nya.

“Memang kenapa, Nana? Nggak boleh?”

“Nana? Nggak pake ‘mbak’?” Pawana makin menajamkan tatapan Medusa-nya. Dan sayangnya, tatapan itu tidak mempan untuk Pukat. Dia tidak membatu. Dia justru tersenyum. Pawana pun segera menyalakan sepeda motornya.

Dan sejak hari itu, selama seminggu Pukat selalu mengantar Pawana pulang.

Selasa, 23 Juli 2013

Lilin

“Sugeng tanggap warsa, Pak!” ujar Laksmi sambil memeluk Bapak.

“Oalah, Nduk! Bapak sendiri malah lupa ulang tahun Bapak. Memangnya sekarang umur Bapak berapa?” tanya Bapak pada Laksmi.

“Sudah 63 tahun, Pak,” jawab Laksmi.

“Ini, tiup lilinnya dulu. Terus potong kuenya,” Laksmi menyodorkan kue black forest yang permukaannya dipenuhi batangan lilin menyala.

“Lhadalah!” pekik Bapak terkejut melihat banyaknya lilin yang harus dia tiup: 63.



Kamis, 11 Juli 2013

Menjaring Angin (7)

“Yuk, kita cari novelnya,” Pawana menarik lengan jaket Wukir.
“Digandeng tangannya langsung aja, Mbak. Nggak usah narik jaketnya,” ledek Pukat.
Pawana melepaskan pegangannya pada jaket Wukir lantas berlalu menuju rak tempat novel-novel. Merengut. Wukir bergegas menyusulnya.

***

“Siapa tadi?” tanya Wukir sambil diam-diam membuka plastik yang membungkus sebuah novel. Eragon, judul novel itu. Matanya bergerak-gerak mengawasi siapa tahu ada penjaga yang melihatnya.

“Pukat. Anak baru di kantor,” jawab Pawana singkat. Wajahnya masih ditekuk, masih kesal dengan sindiran Pukat tadi.

“Kok, aku baru lihat, ya? Rasanya aku kenal semua karyawan di kantor provinsi DKI,” tanya Wukir sambil membolak-balik novel yang baru berhasil dia buka bungkusnya.

“Baru kerja dua bulanan. Fresh graduate. Dia di Bagian Analisis. Dia juga belum pernah pergi ke kantor pusat, makanya Mas Wukir nggak pernah lihat dia,” jawab Pawana.

“Kayaknya Siwi belum punya novel ini, deh. Beliin ini aja. Bagus ceritanya,” Pawana menyodorkan novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye.

“Oh, ini, kan, novel yang bikin kamu mewek itu. Kalau kamu sampai mewek, berarti ceritanya memang bagus,” Wukir tersenyum lebar sedangkan Pawana kembali merengut.

“Kalau orang kantor tahu kamu nangis cuma gara-gara baca novel, rusak image garangmu,” Wukir masih semangat menggoda Pawana, tak peduli biarpun Pawana terlihat makin murka.

“Sorry. Just kidding!” kata Wukir sambil mengacak rambut gadis yang sudah dikenalnya selama empat tahun itu.

“Oke. Aku ambil novel yang itu sesuai saran kamu. Kamu mau beli novel apa? Sesuai janji, aku traktir kamu satu buku,” kata Wukir. Pawana menunjukkan novel tebal di tangannya. The Lost Symbol. Lalu membaliknya, menunjukkan label harganya.

“Itu, kan, mahal, Na,” kata Wukir lemas. Pawana tersenyum lebar. Puas.

Selasa, 02 Juli 2013

Menjaring Angin (6)

Dengan kekuatan bulaaan, akan menghukummu!

Pawana menoleh mendengar suara tersebut. Ada sms masuk rupanya. Dari Pak Agni. Hati Pawana rusuh. Pasti teguran karena dia terlambat mengirimkan hasil entry data ke kantor pusat. Dan ternyata ... dugaannya benar. Tidak meleset sama sekali.

“Semena-mena! Bikin deadline nggak rasional, mepet. Giliran telat, aku juga yang diomelin. Sehari kerja 24 jam pun nggak terkejar itu deadline!” rutuk Pawana.

Baru saja Pawana hendak meraih smartphone-nya untuk mematikannya – demi menghindari sms (lagi) dan telepon dari Pak Agni – benda itu berbunyi sekali lagi.

Cahaya cinta perlahan menyilaukan. Itulah mimpi kehidupan kedua. Mimpi itu dari mana datangnyaaa?

Di layar tertulis “Mas Wukir”. Pawana langsung mengangkat teleponnya. Selama menerima telepon, wajah Pawana berseri-seri.

***

Sabtu, 29 Juni 2013

Menjaring Angin (5)

I hate Monday. Kali ini aku benar-benar membenci hari Senin. Bukan. Bukannya aku benci bekerja. Aku benci hari Senin ini karena hari ini aku harus ke kantor dan harus bertemu Medusa. Hari ini aku kembali diperbantukan di Bagian Pengolahan Data.

Tak bisa kubayangkan bagaimana sikapnya nanti padaku. Sebelum peristiwa kemarin pun dia sudah bersikap judes padaku, apalagi setelah kemarin aku mengatakan tak mau dijodohkan dengannya? Bisa-bisa makin bengis sikapnya padaku.

Selain harus menghadapi Medusa, aku juga harus menghadapi Mama. Semalam Mama menanyakan bagaimana pertemuanku dengan Medusa, eh, Pawana. Mau tak mau aku menceritakan semua yang terjadi. Dan Mama? Seperti yang kuduga, mendadak galau. Mama khawatir Pawana dan Tante Kartika akan tersinggung dengan perkataanku. Dan satu yang tak terpikirkan olehku sebelumnya: hal ini bisa merusak persahabatan Mama dan Tante Kartika. Huh, rumitnyaaa!

Ah, sudahlah. Lebih baik aku segera bersiap berangkat ke kantor.

Jumat, 28 Juni 2013

Menjaring Angin (4)

Dua bulan lalu, ketika aku baru seminggu bekerja di kantorku, aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Sebenarnya aku bertugas di Bagian Analisis tapi karena pekerjaan di Bagian Pengolahan Data sedang membanjir lantaran ada proyek besar, aku pun diperbantukan di sana. Aku menjadi salah satu entrior. Karena masih belum perpengalaman dalam hal entry data, aku pun sering bertanya pada supervisor.

“Mbak, ini kenapa, ya? Kok, ada pesan error begini?”

“Itu artinya penjumlahannya salah. Nilai isian kolom lima ditambah kolom enam harusnya sama dengan nilai isian kolom tujuh,” jelasnya.

“Mbak, ini kenapa lagi?”

“Kamu ngapain ngisi itu? Kalau pertanyaan nomor lima isinya kode dua, pertanyaan enam dan tujuh kosongin aja,” katanya sembari menghapus isianku yang dimaksud.

“Mbak, ini, kok, ada tulisan network error?”

Si Mbak Supervisor pun segera mengecek kotak kecil yang ada di sampingku.

“Itu kabelnya kendur, nggak pas nyolok di switch-nya,” jawabnya sambil membenarkan posisi kabel abu-abu ke lubang di kotak kecil di sampingku. Jadi, kotak itu namanya switch.

“Makanya, kamu duduknya jangan lasak!” katanya. Sekilas aku melihat matanya. Tatapannya terkesan mengintimidasi, meskipun aku tidak merasa terintimidasi.

Menjaring Angin (3)

Pawana sudah tiba restoran ayam goreng franchise sepuluh menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Biarpun kesal karena orang-yang-entah-siapa-namanya mengubah tempat bertemu yang tadinya dekat kantornya menjadi sedikit jauh, dia tetap berusaha untuk tidak mangkir. Dia teringat semua ancaman Ibu. Lagipula perpindahan lokasi itu menguntungkan Pawana karena tempatnya di samping toko buku. Jadi, sebelum ke restoran, Pawana mampir dulu ke toko  buku untuk mengkhilafkan diri memborong buku-buku secara impulsif. Hasilnya? Kantung plastik besar berisi buku-buku yang jika ditotal harganya cukup untuk membeli harddisk eksternal 320 GB – yang sebenarnya lebih dia butuhkan saat ini.

Pawana melihat screen saver jam digital di smartphone-nya. Pukul 10.45. Sudah lewat lima belas menit dari waktu yang ditentukan. Bosan. Pawana meraih smartphone-nya dan menyalakan aplikasi chat dan mulai mengganggu Sasi dan Matari dengan stiker-stiker aneh. Begitulah. Kalau Pawana sudah bosan, yang jadi korban adalah Sasi dan Matari. Sembari chatting mengganggu dua kawannya, Pawana memesan ayam goreng dan french fries. Tapi, kali ini Pawana tak bisa menghabiskannya dalam waktu lima menit. Butuh waktu lama menghabiskan makanan yang tidak terlalu disukainya itu. Ia pun teringat kata-kata Ibunya ketika dia protes karena tempat pertemuannya di restoran ayam goreng. “Bagus kalau ketemuannya di situ. Kamu, kan, nggak doyan ayam goreng begituan. Jadi nanti nggak kelihatan nggragas,” kata Ibu. Pawana pun susah payah membayangkan bahwa di hadapannya bukan ayam goreng tepung melainkan ayam penyet kesukaannya.

Sudah pukul 10.55 dan orang-yang-entah-siapa-namanya masih belum terlihat batang hidungnya.

Menjaring Angin (2)

“Pukat, kamu sudah punya pekerjaan tetap, gaji lumayan, udah waktunya nikah,” kata Mama pada Pukat, putra bungsunya yang sedang asyik dengan smartphone-nya.

“Ma, umur Pukat baru dua tiga. Nanti aja nikahnya kalau udah dua lima,” jawab Pukat.

“Mama udah tua, Pukat. Kelamaan kalau mesti nunggu dua tahun lagi. Kalau tahun depan Mama mati gimana?”

“Tuh, kan. Mama bawa-bawa mati mulu. Ya, Mama jaga kesehatan lah, biar bisa lihat Pukat nikah dua tahun lagi,” kata Pukat mulai merajuk. Biasanya jurus ini ampuh untuk membuat Mama berhenti mendesak Pukat untuk menikah. Sayangnya, kali ini tidak.

“Mama nggak tenang kalau kamu belum nikah. Apalagi kamu tinggal jauh di Jakarta. Kalau kamu punya istri, kan, kamu nggak sendirian lagi di sana. Mama bisa tenang,” kata Mama membujuk. Melihat Pukat hanya terdiam, Mama pun melanjutkan bujukannya.

“Mau nggak Mama kenalin sama anak teman Mama? Anaknya baik, pintar, dari keluarga baik-baik, dia kerja di Jakarta juga, lho!”

Kamis, 27 Juni 2013

Menjaring Angin (1)

“Nana!” teriak Matari. Napasnya terengah, tampaknya dia baru saja berlari demi segera sampai di ruangan kerja Pawana. Pawana yang dipanggil pun menoleh.

“Tari, di mana-mana kalau masuk ruangan orang lain itu ketuk pintu atau salam. Ini malah teriak nggak jelas!” sembur Pawana. Sasi yang sedang duduk di samping Pawana hanya tersenyum. Maklum dengan kelebihan kedua kawannya itu, yang satu kelebihan energi dan semangat, yang satu lagi kelebihan emosi.

Matari menyodorkan kartu undangan berwarna merah hati pada Pawana lalu segera duduk di kursi di depan meja kerja kawan akrabnya itu.

“Minggu depan Lia nikah, Na,” kata Matari yang hanya ditanggapi Pawana dengan “oh” panjang.

“Alhamdulillah kalau gitu. Akhirnya Lia ketemu jodohnya juga,” sahut Sasi sambil membaca undangan yang tadi dibawa Matari.

“Kok, kalian santai gitu? Kalian nggak sadar? Kalau Lia nikah, berarti di antara SEMUA teman kuliah seangkatan, tinggal kita bertiga yang belum nikah!” Matari berapi-api berusaha menyadarkan kedua kawannya akan kenyataan pahit yang akan mereka hadapi.

So what?” tanya Pawana sambil tetap berkutat dengan laptopnya. Dia tetap acuh tak acuh sedangkan Sasi sudah mulai terpengaruh kalimat-kalimat Matari nan dramatis bin lebay.
“Kamu nggak iri sama teman-teman kita yang udah nikah? Kamu nggak pengen nikah, Na?” tanya Sasi.

“Kenapa aku mesti nikah? Give me a reason!

Selasa, 17 Juli 2012

Aku Benci Puisi

Dua anak lelaki berjalan telanjang kaki menapaki rerumputan. Sesekali mata mereka melihat ke bawah, khawatir menginjak kotoran kambing atau lembu yang sering ber’tamasya’ ke pantai Rindu Alam. Makin dekat ke pantai, rerumputan makin jarang. Yang tersentuh oleh kaki mereka kini hanya pasir putih.

Setelah berjalan sebentar, mereka pun sampai di dekat karang. Dengan tangkas mereka naik ke atas karang lalu duduk di atasnya. Lalu, ritual kebiasaan mereka pun dimulai. Menikmati suasana senja di pesisir barat Sumatera lalu menanti mentari terbenam di Samudera Hindia. Bila beruntung, mereka bisa melihat lumba-lumba.

pemandangan dari atas karang di Pantai Rindu Alam

“Pe-er dari Bu Suri sudah kaukerjakan?” tanya Salman tanpa mengalihkan pandangannya dari birunya laut, berharap akan ada lumba-lumba yang muncul.

“Belum. Aku malas. Kenapa pula Bu Suri memberi tugas membuat puisi? Aku, kan, benci puisi,” sahut Darwis sambil mengacak-acak rambut keritingnya. Sebal.

Refleks Salman pun menoleh. “Kenapa benci?”

“Puisi itu aneh. Bisa-bisanya wajah orang disamakan dengan rembulan. Rembulan itu tidak punya mata, tidak punya hidung,” kata Darwis berapi-api.
“Kau ingat pelajaran IPA kemarin? Bulan itu tidak bersinar. Bulan cuma memantulkan sinar matahari. Dan kaulihat puisi-puisi di buku pelajaran? Katanya bulan bersinar! Apa itu bukan bodoh namanya?”

Salman hanya terdiam dan menghela napas. Menyesali pertanyaannya yang membuatnya harus mendengarkan luapan kekesalan Darwis.