Sudah seminggu aku selalu pulang malam. Lembur. Aku harus meng-entry sekaligus mengawasi ketiga stafku
yang sedang meng-entry. Eh,
sebenarnya bukan cuma mengawasi tiga orang itu. Aku juga mengawasi Pukat dan
Baruna, staf Bagian Analisis yang kubajak demi mengejar deadline entry data. Untungnya bulan ini Bagian Analisis belum
terlalu sibuk. Sasi dan Matari? Ah, lupakan mereka. Bagian Survei juga sedang
sibuk-sibuknya sebagaimana Bagian Pengolahan Data, jadi Sasi tak bisa diganggu.
Malam hari adalah jadwalnya memeriksa dokumen survei agar sudah clean ketika diserahkan ke Bagian
Pengolahan untuk di-entry. Matari?
Dia sudah stress mengatur keuangan, SPJ ini, SPJ itu, laporan keuangan. Dan
mengajaknya meng-entry malam sama
saja mencari bencana. Bisa-bisa setiap menemukan kesalahan dia mengomel, “Ini
yang bikin aplikasi siapa, sih? Error melulu!”
***
“Udah jam sembilan, Mbak. Nggak pulang?” tanya Pukat.
“Iya, bentar lagi. Mau backup hasil entry dulu,” Pawana beranjak
menuju server.
Setelah mem-backup hasil entry sementara, Pawana pun berkemas-kemas. Pukat
juga ikut berkemas-kemas.
“Ngapain kamu? Mau pulang juga?” tanya Pawana.
“Mau nganterin Mbak Nana pulang. Udah malam,” jawab Pukat.
“Sunu, saya pulang dulu, ya! Kalau udah selesai, jangan lupa backup,
terus matikan server. Kalau nanti ada error yang nggak bisa ditangani, biarin
aja error. Jangan dipaksa clean. Catat aja error-nya lalu serahin ke saya
besok. OK?” kata Pawana pada salah satu stafnya dan kemudian beranjak
meninggalkan ruang entry data setelah stafnya itu memberi tanda OK.
“Kamu pinter cari alesan, ya!” kata Pawana pada Pukat begitu mereka
keluar dari ruang entry data.
“Alesan apa?” tanya Pukat.
“Bilang aja kamu nggak mau ngentry sampai pagi. Pakai alesan nganterin
saya pulang,” sindir Pawana. Pukat hanya tertawa kecil.
“Tapi masih lumayan, lah. Setidaknya kamu masih mau bantu ngentry
sampai malam. Makasih.”
“Cuma makasih? Nggak ada imbalan? Beliin kue misalnya.”
“Kamu mau kue apa? Kue nastar? Bolu? Black forest? Atau kue cucur?”
canda Pawana.
“Kue cucur boleh juga. Aku suka. Buruan kamu jalan. Aku ngikutin dari
belakang,” Pukat bersiap-siap menyalakan sepeda motornya.
“Panggil apa tadi? ‘Kamu’? Heh, yang sopan sama senior!” Pawana mulai
memasang tatapan Medusa-nya.
“Memang kenapa, Nana? Nggak boleh?”
“Nana? Nggak pake ‘mbak’?” Pawana makin menajamkan tatapan Medusa-nya.
Dan sayangnya, tatapan itu tidak mempan untuk Pukat. Dia tidak membatu. Dia
justru tersenyum. Pawana pun segera menyalakan sepeda motornya.
Dan sejak hari itu, selama seminggu Pukat selalu mengantar Pawana
pulang.