Kamis, 28 Maret 2013

Bliss: Novel tentang Kue dan Sihir

Foto ala kadarnya.

Toko roti Bliss. Itu adalah nama toko roti milik Albert dan Purdy Bliss yang ada di Calamity Falls. Kalau kau mengira itu adalah toko roti biasa, kau salah besar. Itu adalah toko roti yang tidak biasa. Kau tahu kenapa? Karena Albert dan Purdy Bliss membuat kue dengan menggunakan SIHIR! Rosemary, putri mereka, mengetahuinya ketika ia berumur sepuluh tahun. Rose melihat ibunya, Purdy, mencampurkan halilintar ke adonan kue sambil berkata, “Electro Correcto.” Kue tersebut kemudian diberikan pada seorang anak yang sedang sekarat karena tersambar petir. Dan setelah memakan kue itu, anak itu sembuh! Sejak saat itulah dia beberapa kali melihat orang tuanya mengatasi masalah di Calamity Falls dengan kue sihir mereka.

Hingga kemudian Albert dan Purdy harus ke luar kota dan meninggalkan Rose bersama ketiga saudaranya: Thyme atau Ty, Sage, dan Parsley atau Leigh. Sebelum mereka berdua pergi, mereka menunjukkan ruang rahasia tempat penyimpanan Bliss Cookery Booke – buku berisi resep-resep rahasia keluarga Bliss – pada keempat anak mereka. Albert menitipkan kunci ruangan tersebut pada Rose, dengan satu catatan: TIDAK BOLEH ADA SIHIR.

Tak lama setelah Albert dan Purdy meninggalkan rumah, seorang wanita cantik datang ke rumah mereka. Namanya Lily. Dia mengaku kepada Rose dan ketiga saudaranya sebagai bibi mereka, atau lebih tepatnya sebagai sepupu generasi keempat Purdy. Rose merasa ada yang aneh dengan Lily. Tapi, Ty dan Sage justru sangat menyukai Lily. Ty dan Sage bahkan beberapa kali hendak memberitahukan mengenai Bliss Cookery Booke pada Lily tapi dicegah oleh Rose. Kemudian Rose mengambil jalan tengah: mereka menyalin beberapa resep dari buku tersebut, mempelajarinya, lalu mengajarkannya pada Lily.

Sabtu, 23 Maret 2013

Life of Pi, Novel tentang Perjuangan untuk Bertahan Hidup

Si sapi dan novel Life of Pi
Memang benar, orang-orang yang kita jumpai bisa mengubah kita, kadang-kadang begitu hebat perubahan itu, sehingga kita tidak lagi sama sesudahnya, termasuk nama kita.


Nama lengkapnya Piscine Molitor Patel. Sebenarnya nama panggilannya adalah Piscine. Namun, karena kata Piscine sering dipelesetkan menjadi pissing, dia mengubah nama panggilannya menjadi Pi, sebuah konstanta bernilai 3,14.

Ayah Pi, Santosh Patel, adalah pemilik Kebun Binatang Pondicherry. Di kebun binatang itulah Pi belajar mengenai tingkah laku binatang, jarak ‘aman’ mendekati masing-masing binatang, sampai teori makhluk super-alfa. Agar binatang patuh pada manusia, manusia harus menunjukkan kepada mereka bahwa manusia adalah makhluk super-alfa, makhluk yang paling kuat, sedangkan para binatang adalah makhluk beta, gamma, dan omega. Binatang tipe omega – binatang yang status sosialnya paling rendah di antara kelompoknya – inilah yang biasanya paling patuh pada manusia.

Sayang sekali, kebun binatang tempat Pi belajar dan bermain itu harus ditutup. Situasi politik yang buruk membuat ayah Pi memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Canada. Kebun binatang mereka dijual. Binatang-binatang di sana juga dijual ke kebun-kebun binatang di Amerika. Keluarga Patel (Santosh Patel, istrinya, dan kedua putranya: Ravi dan Pi) – bersama binatang-binatang dari Kebun Binatang Pondicherry – meninggalkan Madras menuju Canada pada 21 Juni 1977 menumpang kapal Tsimtsum. Mereka berlayar menyeberangi Teluk Bengal, terus ke Selat Malaka, mengitari Singapura, terus ke Manila, hingga ke Samudra Pasifik. Di sinilah bencana datang. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Sebelum kapal tenggelam, beberapa awak kapal melemparkan Pi ke sekoci. Setelah itu seekor zebra melompat ke dalam sekoci tersebut.

Kamis, 21 Maret 2013

Bukan Resensi

Sampai saat ini aku tidak berani menyebut review buku di blog ini sebagai resensi. Kenapa? Karena menurutku review buku yang kutulis di blog ini belum memenuhi syarat sebagai resensi. Unsur pertama dalam penulisan resensi adalah data buku, yang terdiri atas judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit (dan cetakannya), tebal buku (atau jumlah halaman), dan kadang ada juga yang mencantumkan harga. Yang sering terlewatkan dalam review yang kubuat adalah tahun terbit. Misalnya di review buku Negeri van Oranje. Karena aku tidak menulis tahun terbitnya, ada yang menanyakan apakah buku yang kuceritakan itu buku baru atau buku lama. Aku juga beberapa kali tidak menyebutkan penerbit dari buku yang kuceritakan. Biasanya, sih, karena malas. Kalau harga? Hmmm, malas juga menyebutkan harga buku yang ku-review. Nanti orang-orang tahu betapa kayanya aku kalau melihat harga-harga buku yang ku-review. Nah, dari unsur pertama saja ada yang tidak kupenuhi. Jadi, review-ku belum bisa dikategorikan resensi.

Kamis, 14 Maret 2013

Papap, I Love You

Semua orang pasti ingin rumah tangganya berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan Bima. Sayangnya rumah tangganya dengan Rayna tidak berjalan mulus. Bima merasa Rayna terlalu mengejar kesempurnaan. Dalam kariernya, Rayna terus mengejar posisi yang lebih tinggi. Seakan tidak pernah merasa puas. Dan kadang, dia lebih mengutamakan pekerjaan daripada Kaka, putranya. Sampai-sampai Kaka jauh lebih dekat dengan Papapnya – Bima – dibandingkan Mamanya. Selain mengejar kesempurnaan untuk dirinya, Rayna juga kerap menuntut kesempurnaan dari Bima, bahkan Kaka. Dia menuntut Bima untuk berusaha meningkatkan kariernya. Dia menuntut Kaka untuk mendapatkan nilai yang tinggi di sekolah – tentunya tinggi dalam standarnya. Kalau Bima menganggap Rayna terlalu mengejar kesempurnaan, Rayna menganggap Bima sebaliknya. Di mata Rayna, Bima adalah sosok yang terlalu mudah puas. Bima tidak memiliki cukup ambisi untuk meningkatkan kariernya. Bima juga kurang inisiatif dalam rumah tangga mereka.

Dan sesuatu yang lebih menyakitkan pun terjadi. Rayna mengaku bahwa ia berselingkuh dengan Denny, sahabat Bima. Pernikahan mereka yang sudah berjalan enam tahun pun berakhir dengan perceraian. Rayna menikah lagi – dengan Denny. Kaka tinggal bersama Rayna dan bila akhir pekan dia menginap di rumah Bima – tepatnya rumah ibu Bima. Selesaikah masalahnya? Tidak. Justru itu adalah awal dari masalah-masalah yang lain, mulai dari kecemburuan Bima ketika Kaka akrab dengan Denny, Kaka yang sulit sekali diatur oleh Rayna – tapi sebaliknya justru sangat patuh pada Bima, pertengkaran Bima dan Rayna tentang cara mendidik Kaka, sampai masalah ketika Kaka kabur dari rumah karena dimarahi Rayna.

Selasa, 12 Maret 2013

Blogger's Block

Sudah beberapa pekan aku tidak membuat tulisan baru di blog ini -- kecuali post pengumuman pemenang giveaway. Mungkin bisa dibilang aku terkena writer's block. Eh, bukan. Mungkin tepatnya blogger's block. Alasannya? Banyak. Tapi tidak ada alasan yang spesifik.

Beberapa hari pertama aku sudah memiliki ide tentang "berita dari sahabat" dan sudah menulis satu paragraf tapi kubatalkan karena berpikir, "Ngapain nulis kaya gitu?" Penyebabnya adalah ide yang hendak kutulis itu terlalu emosional. Emosional di sini bukan berarti marah-marah melainkan terlalu banyak menunjukkan perasaanku baik sedih maupun kecewa. Bagaimanapun aku mencoba menggunakan bahasa netral dalam tulisan itu, tetap saja aku merasakan emosi yang kuat dalam tulisan itu. Akhirnya tidak kulanjutkan tulisan itu.

Aku juga sempat berniat menuliskan kekecewaanku pada salah satu penyelenggara lomba yang ternyata memajukan deadline. Padahal aku sudah susah payah membuat tulisan dan mengejar deadline (yang belum dimajukan) tapi tetap saja aku terlambat. Kubatalkan menulis tentang itu karena sudah pasti akan lebih emosional dari tulisan yang kutunda sebelumnya dan berpotensi menyudutkan pihak penyelenggara lomba. Aku tidak mau dianggap menyudutkan pihak lain.

Jumat, 08 Maret 2013

Pengumuman Pemenang GA Gendu-gendu Rasa Perantau

Alhamdulillaah, akhirnya Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau terlaksana dengan lancar. Setelah awalnya ketar-ketir karena pesertanya hanya sedikit, ternyata pesertanya mencapai 41 blogger. Padahal di minggu pertama aku sempat menurunkan target jumlah peserta. Tadinya aku berharap peserta mencapai dua puluhan. Tapi, di beberapa hari pertama pesertanya sangat sedikit. Jadi, aku cuma berharap pesertanya mencapai minimal lima orang, sesuai jatah hadiah. Eh, ternyata lama-lama terus bertambah pesertanya.

Sebelum mengumumkan pemenang, aku ingin meminta maaf pada para peserta yang merasa tulisannya tidak dikomentari oleh penyelenggara giveaway. Sebenarnya aku sudah mengunjungi blog-nya dan membaca tulisannya tapi tidak sempat komentar karena keterbatasan waktu dalam blogwalking beberapa pekan terakhir. Dan maaf juga pada teman-teman yang meminta giveaway ini diundur. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Semoga dimaafkan, yaaa!

Lalu, siapa saja pemenang giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau ini? Setelah mendapatkan nilai rata-rata dari penilaian kedua juri (Nurin dan Millati Indah), diperoleh lima peserta dengan nilai tertinggi. Kelima peserta tersebut adalah:

Kamis, 28 Februari 2013

Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau

Sewaktu ulang tahun pertama blog ini ada beberapa teman yang menodongku untuk mengadakan giveaway. Salah satunya Mbak Octa. Awalnya, sih, maleees... Apalagi aku bingung membayangkan kalau nanti harus menilai tulisan para peserta. Tapi, setelah menemukan satu korban yang dengan suka rela bersedia menjadi juri, yaitu Nurin, aku pun memberanikan diri mengadakan giveaway.
Bismillaahirrohmaanirohiim
Dengan ini kami mengundang teman-teman blogger perantau dan mantan perantau untuk berpartisipasi dalam Giveaway Gendu-gendu Rasa Perantau. Gendu-gendu rasa itu apa artinya? Mbuh. Aku juga tidak yakin, hehehe... Semacam berbagi rasa, mungkin.
Siapa saja yang diundang dalam perhelatan akbar ini? Ini dia ketentuan pesertanya:

Jumat, 22 Februari 2013

Mutung Belajar Bahasa Aceh

"Ka meuthon-thon tinggay di Aceh, mantong hana caroeng basa Aceh (Sudah bertahun-tahun tinggal di Aceh, masih belum pandai Bahasa Aceh)," komentar seseorang terhadap aku yang belum terlalu mengerti Bahasa Aceh. Yang lain pun berkomentar senada, "Udah tinggal tiga tahun lebih di sini mestinya udah pandai basa Aceh." Atau komentar begini, "Itu si A baru setahun di sini udah pandai ngomong basa Aceh." Aku cuma tersenyum. Kecut.

Apa aku sama sekali tidak belajar bahasa daerah tersebut? Sebenarnya aku belajar. Bahkan, sewaktu awal penempatan aku sangat semangat belajar. Aku meminta kawanku menerjemahkan beberapa kalimat dasar ke dalam Bahasa Aceh. Misalnya seperti di bawah ini:
Apa kabar? -- Peu haba?
Kabar baik -- Haba geut
Sudah makan? -- Kalheuh pajoh bu? (literally it means "sudah makan nasi?")
Mau pergi ke mana? -- Ho jak? (literally it means "ke mana pergi?")

Aku pun beberapa kali memberanikan diri bicara dalam Bahasa Aceh. Hingga suatu ketika aku membaca nama sebuah desa yang tertulis "Bineh Krueng". Seseorang tertawa ketika mendengarku melafalkan kata "krueng" (krueng = sungai) sama seperti tulisannya, kru-eng. Padahal mestinya aku melafalkannya "krung". Gara-gara ditertawakan begitu aku langsung ngambek, mutung, bin pundung. Aku tidak mau lagi bicara dalam Bahasa Aceh. Aku bukan orang Aceh, bahasa ibuku juga bukan Bahasa Aceh. Bahasa ibuku adalah Bahasa Jawa ngapak. Di sekolah pun aku hanya diajari Bahasa Jawa (bukan ngapak), tidak diajari bahasa daerah lain. Jadi, wajar saja kalau aku tidak fasih berbahasa Aceh. Kenapa mesti ditertawakan? Toh, selama ini kawanku yang orang Sunda tidak tertawa ketika aku keliru dalam berbahasa Sunda. Kawanku yang orang Batak juga tidak menertawakanku ketika logatku aneh saat mencoba menggunakan Bahasa Batak. Yaaah, malah jadi curhat.

Sabtu, 16 Februari 2013

Eksotisme Pantai Barat Aceh

Sewaktu pertama kali ditugaskan di Aceh, aku bertekad untuk menjadikan tugas ini sebagai wisata, baik wisata alam, wisata budaya, maupun wisata kuliner. Aku berwisata budaya dengan melihat upacara adat misalnya dalam pesta pernikahan. Aku jadi bisa melihat dari dekat bagaimana upacara ketika dara baroe (mempelai wanita) diantar ke kediaman linto baroe (mempelai pria). Aku jadi tahu bagaimana variasi pelaminan di Aceh. Selain itu aku juga sedikit belajar bahasa daerah di Aceh. Sampai saat ini aku sedikit belajar Bahasa Aceh dan Jamee (mirip dengan Bahasa Minang). Padahal di Aceh ada banyak bahasa daerah yang lain misalnya Bahasa Gayo dan Alas. Wisata kuliner kunikmati dengan mencicipi berbagai makanan khas Aceh, terutama kuenya. Ada kue sepit, keukara, apam, dan yang paling ekstrim adalah makan ketan dengan kuah durian.

Kalau wisata alam? Naaah, ini dia yang paling nendang. Aku tak menyangka alam Aceh sangat mempesona. Biarpun pernah mendengar tentang Danau Laut Tawar, aku tidak menyangka danaunya begitu indah.

Danau Laut Tawar

Yang lebih tak terduga adalah pantainya. Beyond my imagination. Selama ini aku baru mengunjungi pantai barat Aceh jadi tidak bisa menceritakan pantai timurnya. Pantai barat Aceh sangat eksotis karena sebagian lokasinya berdekatan dengan perbukitan. Kalau kita melakukan perjalanan darat lewat jalan nasional di jalur barat, kita dapat menikmati keindahan pantai-pantai tersebut terutama di wilayah Geurutee (ini masuk Aceh Jaya atau Aceh Besar, ya?), Tapaktuan, Samadua, dan Sawang (ketiga daerah ini merupakan kecamatan di Aceh Selatan). Biarpun medannya membuat perut serasa dikocok-kocok, semua itu terbayarkan oleh keindahan yang dinikmati dalam perjalanan (tentunya kalau perjalanannya bukan pada malam hari). Kalau di Aceh Selatan pantainya berpasir putih dan berkarang. Aku terobsesi membuat foto postwedding di sana, tapi entah kapan, hahaha! Seperti apa pemandangan pantainya? Lihat saja gambar-gambar berikut:
Pantai Rindu Alam, Tapaktuan

Pemandangan dari karang di Pantai Rindu Alam

Aceh Selatan (entah tepatnya di mana, lupa)

Kamis, 07 Februari 2013

Collecting Raindrops (After the Rain)

I'm still obsessed to raindrops. I was trying to capture raindrops but the results are still not as good as my expectation.

Raindrops in the tiny flower

Above is picture that I took three days ago in the afternoon. The weather was cloudy so there was no sufficient light to make a clear picture. Hey, did I blame the weather? Ops!
Two pictures below were taken at the same time as before. Still not so good as I hope.

Raindrops on (or under?) the leaf, ready to drop (again)

Rabu, 06 Februari 2013

Jakarta, Rumah Para Perantau

Kata orang kehidupan di Jakarta itu ‘kejam’. Dulu aku juga berpikir demikian. Sewaktu baru tiba di Jakarta untuk pertama kalinya aku langsung berpikir bahwa kehidupan di Jakarta benar-benar keras. Wajar saja aku berpikir begitu karena saat itu aku langsung menginap di warteg ‘berlantai dua’ yang bangunannya terbuat dari triplek dengan kamar mandi yang amat sangat ala kadarnya.

Kehidupan di Jakarta memang sedemikian keras. Tapi, kenapa ada banyak orang yang merantau ke Jakarta? Selain alasan ekonomi, alasan lainnya adalah ‘keramahan’ Jakarta terhadap para perantau. Jakarta adalah rumah bagi semua perantau, setidaknya itu menurutku. Jumlah perantau di Jakarta amat banyak, bahkan melebihi penduduk asli di sana. Perantaunya pun datang dari berbagai daerah di Indonesia dan dari bermacam-macam suku. Keberagaman inilah yang membuatku nyaman di Jakarta. Aku tidak merasa seperti orang yang berbeda dengan yang lain. Aku bertemu dengan orang yang beragam. Ibu kos yang keturunan Arab, tukang siomay yang orang Sunda, tukang bubur ayam yang orang Jawa dari Bumiayu, tukang pecel yang orang Jawa dari Klaten,  sopir metromini yang orang Batak, dan sebagainya. Bertemu dengan orang-orang yang semuanya berbeda membuatku tidak merasa berbeda. Ibaratnya ketika datang ke pesta di mana semua tamu seragam mengenakan pakaian hitam dan hanya aku yang mengenakan pakaian merah, tentu aku akan merasa tidak nyaman karena berbeda. Lain ceritanya bila aku datang ke pesta di mana para tamu mengenakan pakaian yang dengan warna yang beragam. Apapun warna pakaianku tidak akan membuatku merasa berbeda.

Minggu, 03 Februari 2013

Yang (Mungkin) Luput dari Pandangan

 
Ada yang tahu gambar di atas gambar bunga apa? Aku, sih, menyebut tanaman itu krokot. Penggemar Curanmor pasti tidak asing dengan kalimat "sambel krokot karo gorengan godhong mangkokan". Apa iya tanaman ini bisa dibuat sambal? Entah. Silakan tanyakan pada Kaki Samidi atau Rumawi. Gambar di atas kembang krokotnya masih kuncup. Yang sudah mekar seperti di bawah ini. Cantik, kan?

Rabu, 30 Januari 2013

Markisane Mendhot

Minggu wingi aku balik maring Brebes. Jebule wit markisa nang umah lagi mendhot nemen. Lagi bada wingi, sing tak critakna nang postingan kiye, tah ora patiya mendhot. Uwohe akeh nemen. Nganti keder mangane. Kaligane malah ditawak-tawakna maring wong sing liwat. Abahe ya bolak-balik nawani tangga sing liwat ngarep umah.

Ora percaya? Keh, tak todokna wit markisa sing uwohe pating glantung


Nang ngarep umah ya ana sing pating glantung. Endep nemen. Yen pan ngempet yang kari nyawel tok. Kyeh gambare


Rabu, 23 Januari 2013

Curhat Kamera Saku

Tadi pagi aku berburu foto lagi. Objeknya? Masih di halaman rumah. Kali ini yang kujadikan sasaran adalah bonsai beringin yang dua hari lalu daunnya sempat kufoto. Sayangnya, kemarin bonsainya digunduli Abah. Jadi, tinggal ranting-rantingnya dan daun-daun kecil. Susah juga memotret makro dengan kamera saku Panasonic Lumix DMC-S3. Kenapa? Sampai saat ini aku tidak menemukan fitur makro manual di kamera tersebut. Hanya adalah pilihan Intelligent Auto dan Scene Mode. Untuk Scene Mode ini ada sepuluh pilihan scene, misalnya Scenery (untuk memotret landscape), Party (untuk memotret indoor), dan sebagainya. Mode Intelligent Auto dalam kamera ini sebenarnya sudah lumayan oke. Kalau aku memotret pemandangan misalnya, si kamera ini otomatis mengaktifkan Scenery. Kalau memotret benda dalam jarak dekat (tapi tidak terlalu dekat), biasanya (tapi tidak selalu) fitur makro akan langsung aktif. Sayangnya, kadang aku mau fokus ke benda A, tapi kamera malah fokus ke benda B dan membuat benda A justru terlihat kabur (blur). Untuk mengakalinya aku harus menggeser-geser posisi dan mengatur jarak dengan benda. Riweuh! Sebenarnya kamera ini sudah cocok, sih, untuk amatiran sepertiku. Ada Intelligent Auto-nya. Jadi, aku tidak perlu repot mengatur macam-macamnya. Tapi... Kalau mendengar teman-teman menyuruhku mengatur ini itu, misalnya mengaktifkan fitur makro secara manual, mengatur apperture, exposure, dan sebagainya aku jadi senewen. Di mana ngaturnyaaa? Tapi, tidak apalah. Masih mending punya kamera saku daripada tidak punya sama sekali. Semoga kelak aku akan semakin memahami kamera ini sehingga bisa menghasilkan foto yang bagus.

Oh, iya. Ini dia sebagian foto-foto tadi pagi. Masih berburu embun dan sepertinya yang didapat justru sisa hujan semalam.

Senin, 21 Januari 2013

Sisa Hujan Semalam

Kemarin sore aku tiba di rumah. Dan pagi ini aku sudah mulai norak-norak bergembira dengan kameraku. Awalnya aku ingin mengambil gambar embun gara-gara sempat iri melihat foto hasil jepretan teman-teman yang ada embunnya dan hasilnya bagus. Lalu, setelah melihat halaman depan, tidak ada embun. Yang ada justru bekas hujan. Iya, semalam hujan deras. Setelah berkali-kali memotret-menghapus-memotret lagi, kudapatkan juga hasil yang lumayan -- tapi tetap amatiran, hehehe... Seperti kata Nurin, keahlian dipengaruhi oleh jam terbang. Jadi, anggap saja ini merupakan proses latihan untuk menambah jam terbang agar nanti hasil potretanku bisa bagus. Oh, ya, semua tanaman ini Abahku yang menanam dan merawat. Halaman depan dan samping rumah jadi penuh tanaman sejak Abahku pensiun. Sepertinya bakat terpendamnya adalah jadi petani, hehehe...

Rabu, 16 Januari 2013

Aku dan Televisi

Gimana rasanya hidup tanpa televisi? Nggak bosen? Nggak ada hiburan, dong! Adikku juga pernah bertanya padaku bagaimana rasanya tidak punya televisi. Menurutku, sih, biasa saja. Mau lihat berita? Buka saja portal berita di internet. Mau menonton film? Cari saja DVD atau copy saja dari teman, hehehe... Masih bosan? Main game saja. Aku juga diuntungkan oleh jam kerja yang lumayan panjang: pukul 7.30 sampai 16.00. Waktu yang kuhabiskan di kos (dalam keadaan sadar, bukan tidur) hanya sebentar. Jadi, tidak terlalu berpengaruh apakah aku punya televisi atau tidak, kan?

Itu jawabanku sekarang. Kalau pertanyaan serupa diajukan sewaktu aku masih SMA sudah jelas aku akan menjawab, “Hidupku hampa tanpa televisi.” Yah, kalau saat itu televisi di rumahku rusak, tentunya aku akan uring-uringan karena tidak bisa menonton Endless Love, Winter Sonata, All About Eve, Meteor Garden, Amigos X Siempre, Inuyasha, Detective Conan, dan semua acara kesukaanku. Well, I was television-addicted. Aku bisa tahan menonton televisi selama berjam-jam, menonton semua acara yang ada mulai dari film kartun, gosip, sampai FTV. Yang paling jarang kutonton adalah berita, apalagi berita kriminal yang isinya pembunuhan.

Selasa, 15 Januari 2013

Ada Satu

aku sungguh percaya
Kau bisa memerahkan langit yang biru
dalam sekejap
tanpa sempat kukedipkan mata

aku sungguh percaya
Kau bisa menurunkan salju di manapun
bahkan di tepian pantai di khatulistiwa

aku sungguh percaya
Kau selalu memberi yang kami minta

dan aku pun tak pernah ragu meminta
meminta segalanya
tanpa tahu malu

tapi
ada satu yang tak berani kuminta
meski Engkau telah berjanji
memberikan semua yang kami minta
meski aku tahu Engkau takkan pernah ingkar janji

ada satu yang tak berani kuminta
dan aku tak mengerti kenapa

Minggu, 13 Januari 2013

Saat Kau Merasa

Saat kau merasa lelah menjalani hidup
ingatlah ia yang lelah membawamu ke sana kemari
ingatlah ia yang begitu lelah menjagamu selama sembilan bulan
agar kelak kau bisa terlahir dan memiliki kehidupan

Saat kau merasa ingin mati
ingatlah ia yang bertaruh nyawa
berjuang antara hidup dan mati
demi melihatmu terlahir ke dunia

Saat kau merasa tak ada yang merindukanmu
ingatlah ia yang begitu merindukanmu
begitu sabar menantimu selama sembilan bulan
dan begitu bahagia ketika akhirnya kau hadir

Saat kau merasa tak punya siapa-siapa
ingatlah ia yang terjaga sepanjang malam ketika kau demam
ingatlah ia yang sibuk seharian menemanimu bermain

Saat kau tak tahu lagi hendak ke mana
pulanglah
pulanglah saja
bukankah Ibu adalah 'rumah' yang paling hangat untuk anak-anaknya?




Tuhan sungguh menyayangimu
dengan mengirimkan malaikat bernama "IBU"
untukmu

The Railway Children: Novel Anak yang Sederhana

    “Terowongan ini tak ada ujungnya,” keluh Phyllis – dan memang, rasa-rasanya terowongan itu panjang sekali.
     “Jangan ngawur,” kata Peter tegas. “Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Yang penting, kita terus maju.”

My Pinky Bear is reading The Railway Children
Roberta, Peter, dan Phyllis adalah tiga bersaudara yang tinggal bersama ibu mereka di Pondok Tiga Cerobong – begitulah orang-orang menyebut tempat tinggal mereka yang memiliki tiga cerobong asap. Sebelumnya mereka tinggal di rumah di pedesaan itu. Mereka sebelumnya tinggal di Vila Edgecombe, di sebuah rumah yang indah dengan dinding bata merah dan jendela-jendela besar menghadap ke kebun. Tak hanya rumah yang indah. Kehidupan mereka pun menyenangkan. Mereka punya ibu yang selalu siap bermain dengan mereka, membacakan cerita, dan membantu mereka menyelesaikan PR. Bila mereka sedang sekolah, Ibu menulis cerita untuk mereka lalu membacakannya keras-keras setelah acara minum teh di sore hari. Mereka juga punya ayah yang sempurna – tak pernah marah, selalu adil, dan selalu siap diajak bermain – kalaupun tidak siap diajak bermain, dia akan memberi alasan yang bagus dan menjelaskannya dengan cara yang lucu dan menarik. Itu saja? Tentu tidak. Mereka juga selalu memperoleh apa yang mereka inginkan: baju-baju bagus, perapian yang hangat, kamar bermain yang penuh mainan, dan dinding kamar berlapis kertas dinding bergambar tokoh-tokoh dongeng.

Mereka bahagia, tapi tidak menyadari betapa bahagianya mereka sampai suatu saat kehidupan yang menyenangkan di Vila Edgecombe itu terpaksa ditinggalkan. Malam itu, dua pria datang ke rumah mereka untuk menemui Ayah. Hingga kemudian Ayah harus pergi bersama mereka – kata Ibu: urusan dinas. Selama beberapa minggu Ibu jarang ada di rumah. Hingga kemudian Ibu mengatakan pada anak-anak bahwa mereka akan pindah ke pedesaan. Ya, ke Pondok Tiga Cerobong itulah mereka pindah. Bobbie – nama panggilan Roberta – dan kedua adiknya berhenti sekolah sehingga mereka punya banyak waktu bermain-main di sekitar stasiun kereta api. Ibu pun setiap hari mengurung diri di kamar seharian untuk menulis cerita dan baru keluar pada waktu minum teh di sore hari lalu membacakan cerita-cerita itu pada ketiga anaknya. Cerita-cerita itu kemudian dikirim ke redaksi majalah. Ayah pun tak kunjung pulang.

Jumat, 11 Januari 2013

Perubahan itu Selalu Terjadi


“Kamu nggak berubah dari dulu. Kaya gitu terus.”
“Kamu nggak berubah. Masih aja ngaco.”

Benarkah ada orang yang SAMA SEKALI tidak berubah seiring berjalannya waktu? Mustahil. Dari segi fisik, tentu saja setiap orang mengalami perubahan. Dari bayi merah tumbuh menjadi anak-anak, lalu menjadi remaja, beranjak dewasa, kemudian menua. Perubahan fisik pada seseorang terjadi terus-menerus – kecuali pada penghuni Neverland seperti Peterpan yang tidak tumbuh menjadi dewasa.

Apakah yang berubah hanya fisik? Tentu saja tidak. Sifat, pola pikir, sudut pandang terhadap suatu masalah, cara menghadapi masalah, seiring berjalannya waktu semua itu mengalami perubahan. Bahkan, seseorang yang cenderung membenci perubahan pun tetap mengalami perubahan dalam dirinya, baik disadarinya ataupun tidak. Dalam hidupnya, setiap orang menghadapi berbagai masalah, mengalami berbagai peristiwa, memikirkan berbagai hal. Semua itulah yang mempengaruhi pemikiran seseorang. Tentu saja pengaruhnya tidak sama antara satu orang dengan yang lainnya. Ada satu orang yang tadinya lemah dan pengecut tapi setelah mengalami beberapa masalah yang berat dia justru menjadi kuat. Dia berpikir, “Aku sudah mengalami banyak masalah. Kalaupun aku harus menghadapi satu masalah lain lagi, itu tak jadi soal. Aku sudah biasa.” Ada yang sebaliknya, awalnya pemberani tapi setelah menghadapi banyak masalah dia berubah jadi penakut. Dia berpikir, “Aku tak menduga akan menghadapi masalah sebanyak ini. Masalah apa lagi yang akan datang? Aku sungguh takut.” Perubahan bisa terjadi ke arah positif, bisa juga ke arah negatif seperti contoh tadi. Yang jelas, perubahan itu selalu terjadi.