Tampilkan postingan dengan label FlashFiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FlashFiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Mei 2012

Ubur-ubur dan Kuda Nil

“Eksaaaaak!!! Pinjem gitar, dong!” teriak Milla sambil menggedor-gedor pintu kamar Eksak.
Tanpa membuka pintu kamar, Eksak balas berteriak, “Ogah gue pinjemin gitar buat dedemit kaya elo!”
Brak! Milla langsung menendang pintu kamar Eksak. “Dasar! Kesemek medhit! Eh, enggak, ding! Elo bukan kesemek. Kalo kesemek, kan, putih, pake bedak. Nggak kaya elo, udah item, jelek, idup lagi!”

Jleb! Eksak tertegun. Ejekan Milla sangat menohok di ulu hatinya. Kenapa mesti mengungkit-ungkit masalah “hitam”??? Dia pun teringat pertanyaan yang kerap diajukan kawan-kawannya. “Serius kalian kembar? Dia putih gitu kaya Cina, elo item kaya tikus kecemplung got gitu. Mana mungkin kembar???” Kalau Milla sedang murka padanya, biasanya dia akan ‘pura-pura polos’ bertanya pada Mama, “Ma, dulu waktu kami bayi, ada pembangunan jalan aspal di komplek rumah nggak, sih?” Setelah Mama balik bertanya “Emangnya kenapa?”, dia akan mengeluarkan kartu AS-nya. “Yah, sapa tahu ada pembangunan jalan, trus pas Mama jalan-jalan gendong Eksak, nggak sengaja Eksak kecemplung ke drum aspal, makanya item,” katanya sambil melirik Eksak penuh kemenangan. Dan sayangnya, ejekan tersebut diperparah oleh jawaban Mamanya. “Eksak nggak item, kok. Cuman coklat pekat. Eh, ngomong-ngomong soal coklat, kayaknya, sih, Eksak coklat karena dulu Mama ngidam lapis legit. Kan, lapis legit itu warnanya kuning ama coklat, tuh! Kuningnya buat Milla, trus coklatnya buat Eksak!”

Kamis, 15 Maret 2012

Aku Ingin...

Langit di Krueng Baroe, Aceh Barat Daya


“Lintang, pinjam kamera, dong! Abang mau foto pemandangan krueng.”
Nggak boleh!!!” ketus Lintang pada Firman.
Nabil segera menghampiri Lintang setelah Firman berlalu dengan kekecewaan.
“Sadis kali qe sama dia,” Nabil berhati-hati bicara melihat raut wajah Lintang yang masih keruh.
Biarin!” singkat jawaban Lintang.
Nabil menghela napas. Memandangi aliran Krueng Baroe yang kian sore kian deras. Memandangi kawan-kawan mereka yang sedang asyik bermain-main di sungai itu.
Udah setahun, Dek... Masih marah sama dia?” tanyanya.
Udah nggak marah lagi. Tapi sekarang benci,” sahut Lintang, lirih, pelan, tapi penuh penekanan pada kata ‘benci’.
Ingatannya melayang ke musim penghujan dua tahun lalu. Berteduh dari deras hujan bersama Firman. Sejak itulah cintanya bersemi. Dan perlahan, dia memberikan seluruh hatinya untuk pertama kali pada seorang pria. Sikap Firman yang lembut, penuh perhatian, dan kadang gombal membuatnya melambung. Hingga dua musim berlalu. Hatinya yang semula melambung, mendadak dihempas oleh selembar undangan di tangannya. Ya, Firman menikah. Tapi bukan dengannya. Rasanya seperti diterbangkan lalu dihempaskan sampai remuk. Ya, REMUK! Dua musim pun kembali berlalu setelah Firman menikah. Dia masih kecewa. Ternyata dua musim tak cukup untuk menyembuhkan luka di hatinya.
“Lintang, Tuhan aja mau memaafkan hamba-Nya. Kok, qe nggak mau maafin dia,” bujuk Nabil.
“Justru karena aku bukan Tuhan, aku nggak bisa maafin dia. Aku manusia biasa yang bisa marah dan benci. Aku bukan Tuhan yang Maha Pemaaf.”
Nabil mati kutu. Dasar keras kepala. Dia hanya bisa mengatakannya dalam hati.
Lintang pun diam, mengalihkan pandangannya ke awan mendung di hulu sungai sana.
“Aku pengen lihat dia mati, Bang!”
Nabil tersentak. Ditatapnya Lintang yang justru sedang menatap langit yang mulai gelap.
“Aku pengen dia impoten, mandul. Aku pengen lempar dia ke Leuser biar dia dimakan harimau hidup-hidup. Aku pengen dia M-A-T-I!!!”
Bek lagenyan, hai, Adek! Istighfar!” Nabil mengingatkan.
Lintang hanya terdiam. Empat musim berlalu. Cintanya tak bersisa. Hanya ada benci. Bila dulu hatinya penuh sanjung puja bagi Firman, sekarang yang ada hanya sumpah serapah.
“Jangan pernah mengharapkan keburukan untuk orang lain,” Nabil menepuk halus pundak sahabatnya itu.
Keduanya kembali larut dalam hening menikmati suara deras hujan yang baru saja turun. Tiba-tiba ada yang berteriak memecah keheningan mereka.
“Nabil! Nabil! Tolong! Firman tenggelam!”
Segera Nabil melompat meninggalkan dangau dan berenang menyelamatkan Firman. Setelah dibawa ke tepi sungai, dia segera memberi napas bantuan pada Firman tapi tak berhasil. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit.
Namun, ternyata terlambat. Firman sudah terlalu lama tenggelam ketika Nabil mencoba menolongnya. Paru-parunya sudah dipenuhi air. Sampai di rumah sakit Firman tak bisa diselamatkan.
Lintang hanya terdiam lemas menatap tubuh kaku yang terbujur di hadapannya. Tangannya menggenggam erat lengan Nabil. Teringat kata-katanya tadi. Aku pengen dia M-A-T-I!!!

Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.


arti kata/kalimat dalam Bahasa Aceh:
krueng = sungai
qe = kamu (untuk orang yang seumuran atau lebih muda)
bek lagenyan = jangan begitu
Krueng Baroe = nama salah satu sungai di Kabupaten Aceh Barat Daya
Leuser = nama salah satu gunung di Aceh