Dahulu kala, tidak ada sungai di muka bumi. Naga Gioklah
yang bertugas menjaga awan, menentukan di mana akan hujan dan kapan reda.
Hingga suatu hari ia mendengar beberapa penduduk suatu desa berkata, “Aku sudah
muak pada hujan. Aku senang karena awan telah pergi dan matahari akhirnya
bersinar.” Kalimat itu membuat Naga Giok marah. Ia pun berhenti menurunkan
hujan. Kekeringan di mana-mana. Keempat anaknya – Mutiara, Kuning, Panjang, dan
Hitam – merasa kasihan pada penduduk bumi. Mereka memutuskan turun ke bumi dan
mengubah diri menjadi empat larik sungai. Ketika menyadari perbuatan anaknya
Naga Giok menyesali kesombongannya. Karena kesedihannya, ia jatuh dari langit
dan menjadi Sungai Giok. Hatinya menjadi Gunung Nirbuah. Tidak ada yang bisa
tumbuh dan hidup di gunung itu, kecuali bila Naga Giok sudah bersatu kembali
setidaknya dengan salah satu anaknya. Itu adalah kisah yang sering didengarkan Minli dari Ba, ayahnya. Dan saat Minli bertanya
bagaimana Gunung Nirbuah bisa menghijau, Ba menjawab, “Itu pertanyaan yang
harus kauajukan pada Kakek Rembulan.” Setiap dia mengajukan pertanyaan penting,
jawabannya selalu seperti itu.
Setiap hari baru, selalu ada harapan baru. Setiap hari baru, selalu ada pengalaman baru. Bila hidup adalah perjalanan, nikmatilah pemandangan yang ada di sekitarmu. Fokus pada tujuan perjalanan memang penting. Tapi, MENIKMATI PERJALANAN juga tak kalah penting. Enjoy your life, Dude!
Tampilkan postingan dengan label Buku Bacaanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Bacaanku. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 November 2014
Senin, 10 November 2014
The Story Girl
Jika suara mempunyai warna, warna
suaranya mirip seperti pelangi. Membuat kata-kata menjadi hidup.
– kata Beverly tentang Gadis Dongeng –
Beverly King – sebut saja Bev – dan Felix King harus meninggalkan Toronto untuk
tinggal bersama paman dan bibi mereka di Carlisle, Pulau Prince Edward. Alan
King, ayah mereka, harus pergi ke Rio de Janeiro dan tidak bisa membawa mereka
bersamanya. Bev dan Felix sangat antusias pergi ke tempat di mana ayah mereka
menghabiskan masa kecilnya. Setibanya di sana mereka merasa sudah mengenal
tempat itu karena seringnya ayah mereka menceritakan tempat itu. Pohon-pohon
willow, kebun keluarga King, sumur dengan atap China, hingga suara kodok di
malam hari, mereka merasa sudah mengenalnya bertahun-tahun silam lewat cerita
ayah mereka.
Di Carlisle mereka berdua tinggal bersama Paman Alec dan Bibi Janet serta
anak-anak mereka: Dan, Felicity, dan Cecily. Ada juga sepupu mereka yang lain
yaitu Sara Stanley yang tinggal bersama Bibi Olivia dan Paman Roger. Di sana
mereka juga bertemu dengan Peter, anak lelaki yang bekerja untuk Paman Roger.
Ada juga Sara Ray, teman Cecily. Tidak butuh waktu lama bagi Bev dan Felix
untuk akrab dengan mereka berenam. Banyak kejadian yang mereka alami, yang menyenangkan,
menyedihkan, juga menegangkan. Misalnya ketika mereka meminta sumbangan untuk
membangun perpustakaan sekolah, ketika mereka berlomba mencatat mimpi mereka,
ketika Peter sakit campak dan teman-temannya khawatir dia akan mati, ketika
mereka membeli gambar Tuhan, dan ketika mereka ketakutan mendengar kabar akan
datangnya hari kiamat.
Jumat, 18 April 2014
The Marvelous Land of Oz
Ini kisah tentang Tip, seorang anak laki-laki yang tinggal di Gilikin,
negeri di mana semuanya berwarna ungu. Gilikin terletak di sebelah utara negeri
Oz. Sejak kecil dia tinggal bersama seorang penyihir bernama Mombi. Setiap hari
Mombi menyuruh Tip bekerja, mulai dari mencari kayu bakar, bekerja di ladang,
hingga memberi makan ternak. Suatu hari Tip mengambil salah satu labu di ladang
dan mengukirnya menyerupai wajah manusia labu. Tip juga membuatkan tubuh dari
kayu untuk manusia labu tersebut dan memakaikan pakaian padanya. Tip menamainya
Jack Si Manusia Labu.
Tip meletakkan Manusia Labu di jalan yang akan dilewati Mombi untuk
menakutinya. Dia berhasil menakuti Mombi? Sayangnya tidak. Mombi tidak takut
sama sekali. Dia justru memanfaatkan Manusia Labu untuk mencoba serbuk
ajaibnya. Mombi menaburkan Serbuk Kehidupan pada Manusia Labu lalu mengucapkan
mantra daaan Manusia Labu pun HIDUP! Dia juga bisa bicara. Mombi dan Tip pun
membawanya.
Malamnya Mombi membuat ramuan dengan resep barunya dan menyuruh Tip
meminumnya bila ramuan tersebut telah mendingin. Ketika Tip bertanya apa yang
akan terjadi padanya jika dia meminumnya, Mombi menjawab, “Jika resepnya tak
salah, ramuan ini akan mengubahmu jadi batu.” Karena tak ingin menjadi batu,
Tip memutuskan untuk melarikan diri. Sebelum melarikan diri, dia mencari roti
di lemari dapur. Ternyata selain menemukan roti, dia juga menemukan kotak
berisi serbuk ajaib milik Mombi. Tip pun mengambil roti, keju, dan kotak
tersebut. Dia juga mengajak Jack kabur bersamanya.
Senin, 10 Februari 2014
Dua Belas Pasang Mata
Hisako Oishi mendapat tugas untuk mengajar di sekolah cabang di sebuah
desa terpencil di Laut Seto. Jarak sekolah itu delapan kilometer dari rumahnya.
Setiap hari dia menempuh jarak itu dengan bersepeda. Kala itu, tahun 1928,
perempuan mengendarai sepeda bukanlah hal yang lumrah. Ditambah dengan pakaian
barat yang dia kenakan. Penduduk desa jadi kurang menyukainya karena
menganggapnya “terlalu modern”.
Oishi memiliki dua belas orang murid: tujuh murid perempuan dan lima
murid laki-laki. Mereka memiliki karekter beragam. Ada Kotsuru dan Nita yang
cerewet, Sanae yang pemalu, Takeichi yang cerdas, dan lainnya. Mereka memanggil
Oishi dengan sebutan Koishi. Mereka sangat menyukai guru mereka itu. Mereka –
yang biasanya datang terlambat karena harus berjalan kaki sejauh lima kilometer
ke sekolah – tidak pernah terlambat sejak diajar Oishi.
Hingga suatu hari, ketika Oishi mengajak murid-muridnya ke pantai, ia
terkena jebakan yang mereka buat. Kakinya terluka. Dia pun tidak bisa mengajar
dalam waktu yang lama. Murid-murid yang merindukannya pun memutuskan untuk
pergi ke rumahnya. Mereka berjalan kaki ke rumahnya, sejauh delapan kilometer!
Mereka sendiri awalnya tidak menyangka kalau jarak yang akan mereka tempuh
sejauh itu. Karena peristiwa itu, penduduk desa jadi tahu betapa anak-anak mereka
menyukainya. Mereka pun mulai menyukainya juga. Sayangnya, Kepala Sekolah
justru memutuskan untuk memindahkan Oishi ke sekolah utama.
Kamis, 30 Januari 2014
Persona Non Grata (Yang Terbuang)
Namanya Dean Pramudya. Mahasiswa cerdas, selalu berprestasi sejak
kecil. Meskipun berasal dari keluarga kaya, Dean tidak merasakan kebahagiaan.
Itu karena orang tuanya terlalu sibuk sehingga tidak memberinya perhatian. Dia
juga merasa semua prestasi yang diraihnya hanya untuk memenuhi keinginan orang
tuanya, bukan keinginannya sendiri. Dean pun kemudian memutuskan melepaskan
predikat “anak baik”nya dan memilih menjadi seorang cracker. Dia menjadi
pemimpin Cream Crackers, sekumpulan cracker yang kerap membajak rekening,
memalsukan kartu kredit, dan sebagainya.
Sewaktu Dean di Batam, dia bertemu dengan seorang gadis yang
membuatnya jatuh cinta. Dia adalah korban human trafficking yang dipaksa menjadi
wanita penghibur. Dean sering mengunjunginya. Namun, setelah Dean kembali ke
Jakarta, mereka tak bertemu lagi. Hingga kemudian, gadis itu berhasil kabur
dari lokalisasi. Berbagai peristiwa dalam pelariannya “membawa” gadis itu ke
Yayasan Pelita yang dipimpin Luthfi. Gadis itu mengaku hilang ingatan, hingga
namanya sendiri pun tak tahu. Luthfi pun memberinya nama. Sarah.
Ketika Luthfi hendak mempertemukan Sarah dengan seseorang yang mungkin
mengetahui identitasnya, Sarah memutuskan kabur dari asrama yayasan. Dia pun menghubungi
Dean melalui pesan Facebook. Gadis itu dalam bahaya, begitu pikir Dean setelah
membaca pesannya. Dia pun langsung memesan tiket pesawat ke Batam. Dean tidak
sadar. Bukan hanya gadis itu yang dalam bahaya. Di Batam, ada bahaya lain yang
menunggu Dean. Bahaya apakah itu? Bagaimana pula dengan kelanjutan “karir” Cream
Crackers?
Silakan baca novel Persona Non Grata (Yang Terbuang) karya Riawani
Elyta untuk mengetahui jawabannya.
Senin, 27 Januari 2014
Geek in High Heels
Athaya, perempuan berusia 27 tahun, web designer, pencinta sepatu,
SINGLE. Yang terakhir itu yang paling penting. Single. Status yang membuat
Athaya sering diinterogasi di acara keluarga. Athaya juga (menganggap dirinya)
kurang beruntung dalam urusan percintaan karena tiap pacaran selalu putus.
Dan di saat dia merasa tidak beruntung dalam percintaan, dia justru
mendapatkan dua “cinta” sekaligus: Ibra dan Kelana. Ibra adalah seorang marketing manager di perusahaan klien
Athaya. Introvert, womanizer, dan workaholic, atau menurut pengakuannya: mencintai pekerjaan. Ibra
juga sering mengirim kue untuk Athaya alih-alih mengirim bunga. Kelana adalah
seorang penulis muda yang novel-novelnya jadi best seller. Kalau sedang sibuk menulis, Kelana akan sangat susah
dihubungi. Manda, sahabat Athaya, menyebutnya makhluk setengah demit.
Athaya dihadapkan pada dua pilihan: Ibra dengan keseriusannya untuk
berkomitmen atau Kelana dengan sikapnya yang sulit ditebak yang selalu membuat
Athaya rindu. Siapa yang akan ia pilih? Kalau mau tahu jawabannya, baca saja
novel Geek in High Heels. Hehehe....
Minggu, 27 Oktober 2013
Born Under A Million Shadows (Dalam Sejuta Bayangan)
Fawad nama anak laki-laki itu. Dia lahir di Afghanistan, di bawah bayang-bayang Taliban. Ia memiliki dua orang kawan baik, yaitu Spandi dan Jamilla. Nama asli Spandi adalah Abdullah. Namun, karena dia menjual spanduk, orang-orang memanggilnya Spandi.
Fawad dan Mariya, ibunya, semula tinggal
bersama keluarga bibinya meskipun hubungan antara ibunya dan bibinya tidak
begitu baik. Setelah ibunya mendapat pekerjaan sebagai pengurus rumah, mereka
pun kemudian tinggal di rumah “majikan” ibunya. Orang itu bernama Georgie. Dia
berasal dari Inggris. Di Afghanistan Georgie bekerja di LSM dan menjadi
pencukur kambing kashmir. Di rumah itu Georgie tinggal bersama dua orang
kawannya: seorang jurnalis bernama James dan ahli teknik bernama May.
Tak butuh waktu
lama bagi Georgie untuk akrab dengan Fawad. Georgie adalah wanita yang
menyenangkan dan dia bisa berbahasa Dari. Fawad pun berpikir bahwa dia menyukai
Georgie. Tapi, kemudian dia tahu bahwa Georgie sudah memiliki kekasih bernama
Haji Khalid Khan. Sayangnya hubungan mereka cukup rumit. Perbedaan budaya dan
perbedaan keyakinan – Haji Khalid Khan muslim sedangkan Georgie bisa dibilang
tidak percaya Tuhan – membuat mereka sulit untuk menikah. Dari sinilah berbagai
masalah mulai berdatangan.
Rabu, 23 Oktober 2013
The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu)
Hanya manusia yang mengukur waktu.
Itu sebabnya hanya manusia yang mengalami ketakutan
hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya.
Takut kehabisan waktu.
Dor adalah manusia pertama yang berusaha menghitung, membuat angka-angka. Ia selalu asyik mengukur apapun, batu, ranting, kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya. Hanya satu yang bisa mengalihkannya dari kegiatan menghitung: Alli, teman masa kecilnya yang kemudian menjadi istrinya.
Dor juga menandai waktu, dengan menandai ujung
bayangan pada sebuah tongkat, dengan mengukir takik-takik pada lempeng tanah
liat, dan juga membuat jam pertama. Dialah manusia pertama yang menandai waktu.
Sementara itu, Nim, kawannya, sedang membuat menara yang akan membawa Nim ke
langit untuk mengalahkan dewa-dewa.
Rabu, 17 Juli 2013
Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat
![]() |
| Cover-nya sampai disensor karena 'ngeri' |
Kalau kata 'Islam' ditambah 'liberal', menjadi bukan Islam lagi. Itu seperti kata ‘orang’,
ditambah kata ‘hutan’. Jadinya ‘orang hutan’. Apa ‘orang hutan’ sama dengan ‘orang’?
kata Rahmat kepada Kemi
kata Rahmat kepada Kemi
Namanya Kemi, lengkapnya Ahmad Sukaimi. Dia adalah santri cerdas di Pesantren Minhajul Abidin di Jawa Timur. Suatu hari dia pamit pada Kyai Rois – pemimpin pesantren Minhajul Abidin – untuk kuliah di Jakarta. Ternyata dia mendapat beasiswa Institut Damai Sentosa, sebuah institut yang kental dengan nuansa ‘liberal’. Setelah kuliah di sana, pikiran Kemi pun mulai terpengaruh paham liberal.
Hingga
setahun kemudian Kemi bertemu Rahmat, kawannya sewaktu di pesantren. Dalam
obrolan mereka, muncullah perdebatan. Kemi mengkritisi pendapat umat Islam yang
selalu menganggap agamanya paling benar. Bagi Kemi, pada dasarnya semua agama
benar, semua menuju Tuhan yang satu, hanya saja nama Tuhannya berbeda-beda.
Rahmat pun mempertanyakan pendapat Kemi tersebut. Kalau Tuhannya sama, apa
mungkin di satu sisi Dia menyatakan bahwa Isa mati disalib dan di sisi lain Dia
menyatakan bahwa Isa tidak mati disalib? Apa mungkin Tuhan yang sama di satu
sisi mengharamkan babi dan di sisi lain menghalalkan babi? Kalau seorang muslim
berpendapat bahwa semua agama lain benar, bukankah berarti dia bukan muslim
lagi? Kalau dia memandang semua agama dalam posisi netral, tidak dalam posisi
agama manapun, sama artinya dia tidak beragama.
Minggu, 14 Juli 2013
Please, Look After Mom: Novel yang Menggalaukan
![]() |
| Gambar pinjam dari Goodreads |
Bagaimana mungkin Ibu bisa hilang? Begitu tanya istri Hyong-chol atau kakak ipar Chihon. Saat itulah Chihon baru menyadari satu hal yang selama ini tidak dia perhatikan. Sewaktu Hyong-chol sekolah di Seoul, Ibu selalu meminta Chihon untuk membacakan surat dari Hyong-chol keras keras dan meminta Chihon menuliskan surat balasan untuk Hyong-chol. Chihon baru menyadari bahwa Ibu memintanya melakukan semua itu karena ia tidak bisa membaca.
Chihon juga teringat kondisi Ibu belakangan ini. Ia pernah melihat Ibu pingsan di rumah. Ibu pernah mengatakan padanya bahwa Ibu kerap merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan sering lupa ketika hendak melakukan sesuatu. Ibu tidak bisa membaca, ditambah penyakit Ibu belakangan ini, bisa jadi itu alasan Ibu tidak bisa naik kereta sendiri untuk menyusul ayah mereka.
Kamis, 28 Maret 2013
Bliss: Novel tentang Kue dan Sihir
![]() |
| Foto ala kadarnya. |
Toko roti Bliss. Itu adalah nama toko roti milik Albert dan Purdy Bliss yang ada di Calamity Falls. Kalau kau mengira itu adalah toko roti biasa, kau salah besar. Itu adalah toko roti yang tidak biasa. Kau tahu kenapa? Karena Albert dan Purdy Bliss membuat kue dengan menggunakan SIHIR! Rosemary, putri mereka, mengetahuinya ketika ia berumur sepuluh tahun. Rose melihat ibunya, Purdy, mencampurkan halilintar ke adonan kue sambil berkata, “Electro Correcto.” Kue tersebut kemudian diberikan pada seorang anak yang sedang sekarat karena tersambar petir. Dan setelah memakan kue itu, anak itu sembuh! Sejak saat itulah dia beberapa kali melihat orang tuanya mengatasi masalah di Calamity Falls dengan kue sihir mereka.
Hingga
kemudian Albert dan Purdy harus ke luar kota dan meninggalkan Rose bersama
ketiga saudaranya: Thyme atau Ty, Sage, dan Parsley atau Leigh. Sebelum mereka
berdua pergi, mereka menunjukkan ruang rahasia tempat penyimpanan Bliss Cookery
Booke – buku berisi resep-resep rahasia keluarga Bliss – pada keempat anak
mereka. Albert menitipkan kunci ruangan tersebut pada Rose, dengan satu catatan:
TIDAK BOLEH ADA SIHIR.
Tak lama
setelah Albert dan Purdy meninggalkan rumah, seorang wanita cantik datang ke
rumah mereka. Namanya Lily. Dia mengaku kepada Rose dan ketiga saudaranya
sebagai bibi mereka, atau lebih tepatnya sebagai sepupu generasi keempat Purdy.
Rose merasa ada yang aneh dengan Lily. Tapi, Ty dan Sage justru sangat menyukai
Lily. Ty dan Sage bahkan beberapa kali hendak memberitahukan mengenai Bliss
Cookery Booke pada Lily tapi dicegah oleh Rose. Kemudian Rose mengambil jalan
tengah: mereka menyalin beberapa resep dari buku tersebut, mempelajarinya, lalu
mengajarkannya pada Lily.
Sabtu, 23 Maret 2013
Life of Pi, Novel tentang Perjuangan untuk Bertahan Hidup
![]() |
| Si sapi dan novel Life of Pi |
Memang benar, orang-orang yang kita jumpai bisa mengubah
kita, kadang-kadang begitu hebat perubahan itu, sehingga kita tidak lagi sama
sesudahnya, termasuk nama kita.
Nama lengkapnya Piscine Molitor Patel. Sebenarnya nama panggilannya
adalah Piscine. Namun, karena kata Piscine sering dipelesetkan menjadi pissing, dia mengubah nama panggilannya
menjadi Pi, sebuah konstanta bernilai 3,14.
Ayah Pi, Santosh Patel, adalah pemilik Kebun Binatang Pondicherry. Di
kebun binatang itulah Pi belajar mengenai tingkah laku binatang, jarak ‘aman’
mendekati masing-masing binatang, sampai teori makhluk super-alfa. Agar
binatang patuh pada manusia, manusia harus menunjukkan kepada mereka bahwa
manusia adalah makhluk super-alfa, makhluk yang paling kuat, sedangkan para
binatang adalah makhluk beta, gamma, dan omega. Binatang tipe omega – binatang yang
status sosialnya paling rendah di antara kelompoknya – inilah yang biasanya
paling patuh pada manusia.
Sayang sekali, kebun binatang tempat Pi belajar dan bermain itu harus
ditutup. Situasi politik yang buruk membuat ayah Pi memutuskan untuk membawa
keluarganya pindah ke Canada. Kebun binatang mereka dijual. Binatang-binatang
di sana juga dijual ke kebun-kebun binatang di Amerika. Keluarga Patel (Santosh
Patel, istrinya, dan kedua putranya: Ravi dan Pi) – bersama binatang-binatang
dari Kebun Binatang Pondicherry – meninggalkan Madras menuju Canada pada 21
Juni 1977 menumpang kapal Tsimtsum. Mereka berlayar menyeberangi Teluk Bengal,
terus ke Selat Malaka, mengitari Singapura, terus ke Manila, hingga ke Samudra
Pasifik. Di sinilah bencana datang. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam.
Sebelum kapal tenggelam, beberapa awak kapal melemparkan Pi ke sekoci. Setelah
itu seekor zebra melompat ke dalam sekoci tersebut.
Kamis, 14 Maret 2013
Papap, I Love You
Semua orang
pasti ingin rumah tangganya berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan Bima.
Sayangnya rumah tangganya dengan Rayna tidak berjalan mulus. Bima merasa Rayna
terlalu mengejar kesempurnaan. Dalam kariernya, Rayna terus mengejar posisi yang lebih
tinggi. Seakan tidak pernah merasa puas. Dan kadang, dia lebih mengutamakan
pekerjaan daripada Kaka, putranya. Sampai-sampai Kaka jauh lebih dekat dengan
Papapnya – Bima – dibandingkan Mamanya. Selain mengejar kesempurnaan untuk
dirinya, Rayna juga kerap menuntut kesempurnaan dari Bima, bahkan Kaka. Dia
menuntut Bima untuk berusaha meningkatkan kariernya. Dia menuntut Kaka untuk
mendapatkan nilai yang tinggi di sekolah – tentunya tinggi dalam standarnya.
Kalau Bima menganggap Rayna terlalu mengejar kesempurnaan, Rayna menganggap
Bima sebaliknya. Di mata Rayna, Bima adalah sosok yang terlalu mudah puas. Bima
tidak memiliki cukup ambisi untuk meningkatkan kariernya. Bima juga kurang
inisiatif dalam rumah tangga mereka.
Dan sesuatu
yang lebih menyakitkan pun terjadi. Rayna mengaku bahwa ia berselingkuh dengan
Denny, sahabat Bima. Pernikahan mereka yang sudah berjalan enam tahun pun
berakhir dengan perceraian. Rayna menikah lagi – dengan Denny. Kaka tinggal
bersama Rayna dan bila akhir pekan dia menginap di rumah Bima – tepatnya rumah
ibu Bima. Selesaikah masalahnya? Tidak. Justru itu adalah awal dari
masalah-masalah yang lain, mulai dari kecemburuan Bima ketika Kaka akrab dengan
Denny, Kaka yang sulit sekali diatur oleh Rayna – tapi sebaliknya justru sangat
patuh pada Bima, pertengkaran Bima dan Rayna tentang cara mendidik Kaka, sampai masalah ketika Kaka kabur dari rumah karena dimarahi
Rayna.
Minggu, 13 Januari 2013
The Railway Children: Novel Anak yang Sederhana
“Terowongan ini tak ada ujungnya,” keluh Phyllis – dan memang, rasa-rasanya terowongan itu panjang sekali.“Jangan ngawur,” kata Peter tegas. “Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Yang penting, kita terus maju.”
![]() |
| My Pinky Bear is reading The Railway Children |
Roberta, Peter, dan Phyllis adalah tiga
bersaudara yang tinggal bersama ibu mereka di Pondok Tiga Cerobong – begitulah
orang-orang menyebut tempat tinggal mereka yang memiliki tiga cerobong asap. Sebelumnya
mereka tinggal di rumah di pedesaan itu. Mereka sebelumnya tinggal di Vila
Edgecombe, di sebuah rumah yang indah dengan dinding bata merah dan
jendela-jendela besar menghadap ke kebun. Tak hanya rumah yang indah. Kehidupan
mereka pun menyenangkan. Mereka punya ibu yang selalu siap bermain dengan
mereka, membacakan cerita, dan membantu mereka menyelesaikan PR. Bila mereka
sedang sekolah, Ibu menulis cerita untuk mereka lalu membacakannya keras-keras
setelah acara minum teh di sore hari. Mereka juga punya ayah yang sempurna –
tak pernah marah, selalu adil, dan selalu siap diajak bermain – kalaupun tidak
siap diajak bermain, dia akan memberi alasan yang bagus dan menjelaskannya
dengan cara yang lucu dan menarik. Itu saja? Tentu tidak. Mereka juga selalu
memperoleh apa yang mereka inginkan: baju-baju bagus, perapian yang hangat,
kamar bermain yang penuh mainan, dan dinding kamar berlapis kertas dinding
bergambar tokoh-tokoh dongeng.
Mereka bahagia, tapi tidak menyadari
betapa bahagianya mereka sampai suatu saat kehidupan yang menyenangkan di Vila
Edgecombe itu terpaksa ditinggalkan. Malam itu, dua pria datang ke rumah mereka
untuk menemui Ayah. Hingga kemudian Ayah harus pergi bersama mereka – kata Ibu:
urusan dinas. Selama beberapa minggu Ibu jarang ada di rumah. Hingga kemudian
Ibu mengatakan pada anak-anak bahwa mereka akan pindah ke pedesaan. Ya, ke
Pondok Tiga Cerobong itulah mereka pindah. Bobbie – nama panggilan Roberta –
dan kedua adiknya berhenti sekolah sehingga mereka punya banyak waktu
bermain-main di sekitar stasiun kereta api. Ibu pun setiap hari mengurung diri
di kamar seharian untuk menulis cerita dan baru keluar pada waktu minum teh di
sore hari lalu membacakan cerita-cerita itu pada ketiga anaknya. Cerita-cerita
itu kemudian dikirim ke redaksi majalah. Ayah pun tak kunjung pulang.
Minggu, 06 Januari 2013
Bidadari Bidadari Surga: Novel tentang Kasih Sayang Seorang Kakak
Dengarkanlah kabar bahagia ini.Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilah wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir, sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.
Kisah ini tentang Laisa dan keempat adiknya: Dalimunte, Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta. Meskipun secara fisik Laisa sangat berbeda dengan mereka, meskipun Laisa tidak memiliki hubungan darah dengan mereka, Laisa akan selalu menjadi kakak mereka. Laisa akan selalu menjadi kakak terbaik mereka. Laisa akan selalu menjadi kakak mereka yang tidak pernah terlambat datang untuk mereka.
Umur Laisa sebelas tahun ketika ia mengatakan kepada Mamak Lainuri
bahwa dia ingin berhenti bersekolah. Ia tahu Mamak tidak punya cukup uang untuk
membeli seragam Dalimunte. Ia pun memutuskan berhenti sekolah. Biar Dalimunte
saja yang sekolah. Ia memutuskan untuk membantu Mamak bekerja agar kelak
Wibisana, Ikanuri, dan Yashinta juga bisa sekolah.
Ternyata keputusan Laisa tidaklah salah. Dengan pengorbanannya,
adik-adiknya menjadi orang-orang sukses. Dalimunte menjadi profesor di bidang
Fisika, Wibisana dan Ikanuri memiliki pabrik – atau lebih tepatnya bengkel
modifikasi – mobil, dan Yashinta menjadi petugas konservasi – atau semacamnya,
lah – bagi hewan-hewan langka.
Kecerdasan Dalimunte sudah terlihat sejak kecil. Dia suka membuat
penemuan ini, lah, itu, lah. Salah satunya adalah kincir air yang ia buat untuk
mengalirkan air dari sungai melewati cadas setinggi lima meter menuju
ladang-ladang di kampung mereka. Awalnya Dalimunte gugup dalam menjelaskan
rancangan kincir airnya di dalam rapat kampung. Tapi, Laisa dengan penuh
percaya diri mengatakan bahwa rancangan Dalimunte akan berhasil. Orang-orang
pun percaya. Dan nyatanya kincir air itu memang berfungsi dengan baik. Ladang
mereka yang biasanya hanya mengandalkan air hujan kini bisa diairi dengan
irigasi.
Jumat, 04 Januari 2013
The Lost Java: Tentang Konspirasi, Global Warming, dan Zionis
Apa yang akan terjadi bila es abadi di Antartika mencair? Naiknya permukaan air laut? Tenggelamnya daratan, terutama pulau-pulau kecil? Hanya itu? Tidak, Kawan. Ada ancaman yang lebih mengerikan: methane hydrate, gas metana yang terperangkap dalam struktur kristal air, membentuk solid berupa es. Kau tahu? Ada lebih kurang 400 miliar ton methane hydrate yang terpendam di es Abadi Antartika. Kalau es abadi tersebut mencair, gas methane hydrate akan terlepas sedikit demi sedikit, lalu terus naik hingga mencapai atmosfer. Lah, memangnya kenapa? Ah, iya. Aku belum memberitahumu tentang bahaya gas tersebut. Methane hydrate memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar daripada gas karbon dioksida.
Itu sebabnya para ilmuwan GarPu (Garuda Putih) melakukan penelitian untuk mencari cara untuk membuat lapisan es abadi baru di Antartika agar gas tersebut tidak ‘terbebas’. Laboratorium GarPu – yang disebut Garpu Lab – berada di Indonesia dan dipimpin oleh Profesor Deni. Dan ternyata ada pihak yang berusaha menjebol jaringan elektronik di laboratorium tersebut. Oleh karena itu, Profesor Deni pun memutuskan untuk meminta para anggota GarPu yang baru saja selesai mengikuti IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) untuk segera datang ke GarPu Lab. Mereka adalah Gia Ihza, Dale Davis, dan Anjeli Joda. Davis membawa serta kekasihnya, Sharma – yang juga adik Joda, ke laboratorium. Selain mereka juga ada Rio, putra Profesor Riyadi. Lah, siapa lagi itu Riyadi? Selain Profesor Deni, ada dua profesor lain yang ikut andil dalam penelitian yang dilakukan GarPu Lab, yaitu Profesor Riyadi – yang melakukan penelitian di Colorado – dan Profesor Wahyu – yang melakukan penelitian di Himalaya.
Kamis, 27 Desember 2012
Escape Over The Himalayas: Perjuangan Anak-anak Tibet Menaklukkan Himalaya
Aku mengirim anakku ke India karena.. aku tidak pernah mengenyam
pendidikan. Dan susah untuk menjalani kehidupan normal tanpa bisa membaca dan
menulis. Semua orang punya masalah. Sebagai perempuan yang hidup sederhana, aku
juga tidak punya uang untuk menyekolahkan anakku. Itulah alasanku mengapa aku
mengirim jauh buah hatiku. Setelah ia pergi jauh, yang bisa aku lakukan
hanyalah melihat fotonya dan menangis.
--Seorang ibu dari Tibet
| Gambar pinjam di sini |
Pema Kecil, gadis kecil berumur tujuh
tahun dari Provinsi Kham. Pema Kecil sering dipukuli oleh ayahnya yang pemabuk.
Hingga suatu hari Pema Kecil tanpa sengaja menumpahkan teh ke tubuh ayahnya. Ayahnya
marah lalu menganiaya Pema Kecil secara membabi buta. Kaki kirinya patah.
Ibunya membawanya ke amchi (semacam tabib/dokter). Setelah amchi mengobati kaki
Pema Kecil, sang ibu menanyakan kemungkinan kesembuhan kaki putrinya dan
kemungkinan bila putrinya menempuh perjalanan jauh. Saat itulah amchi menyadari
bahwa ibu Pema Kecil sudah berencana mengirim putrinya ke Dharamsala. Sayangnya
ibu Pema Kecil tidak sanggup membayar pemandu. Amchi kemudian memberitahukan
bahwa cucunya juga akan dikirim ke Dharamsala. Dia menyarankan agar Pema Kecil
pergi bersama Dhondup, cucunya, dan Nima, pemandunya.
Tamding, anak laki-laki berumur sepuluh
tahun dari Provinsi Amdo. Dia adalah anak ketiga. Di Tibet, tiap keluarga hanya
boleh memiliki dua orang anak. Bila satu keluarga memiliki anak lebih dari dua,
mereka harus membayar pajak yang tinggi. “Karena anak ketiga” Amala harus
mengenakan Chuba tipis yang sama itu bertahun-tahun lamanya. “Karena anak yang
ketiga” ada kerutan kekhawatiran yang mendalam di antara kedua alis Paala. “Karena
anak yang ketiga” mereka tidak mampu membeli obat-obatan untuk Kakek. “Karena
anak yang ketiga” anak pertama dan anak kedua tidak bisa makan kenyang. Tidak
ada yang mengatakan semua itu, tapi Tamding yang memikirkan dan merasakannya. Hingga
ketika ayahnya menjual domba-domba miliknya, Tamding tahu bahwa salah satu dari
ia dan kedua saudaranya akan dikirim ke Dharamsala. Ia pun menemui ayahnya dan
berkata, “Kirim aku pergi, Paala.”
Selasa, 25 Desember 2012
Kisah Sang Penandai: Dongeng Sang Pencinta Sejati
| Gambar pinjam di sini |
...bahwa cinta adalah kata kerja, dan sebagai kata kerja jelas
ia membutuhkan tindakan-tindakan, bukan sekadar perasaan-perasaan.
Hari itu, tanggal tujuh, bulan tujuh, pukul tujuh, Jim dan Nayla,
kekasihnya, berjanji untuk bertemu di taman kota. Sayangnya, alih-alih bertemu
dengan kekasihnya, Jim justru mendapat berita buruk: Nayla bunuh diri. Dia
tidak mau dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Ketika Jim sedang ‘menikmati’ patah hatinya di bangku taman, dia
bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai Sang Penandai. “Akulah Sang
Penandai, yang menceritakan pertama-kali dongeng-dongeng tersebut dengan
tanganku. Menjaganya tetap abadi sepanjang masa. Dan yang lebih penting lagi,
membuat dongeng-dongeng baru yang dunia butuhkan,” begitu kata lelaki itu. Dia juga
mengatakan bahwa dia memilih Jim untuk ‘membuat’ dongeng (lebih tepatnya
menjadi aktor dalam salah satu dongeng). Katanya, “Aku ingin kau hanya
mempercayai satu kalimat saja: pecinta sejati tidak
akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya.
Hanya itu. Dan sisanya, serahkanlah kepada waktu. Biarlah waktu yang
menyelesaikan bagiannya. Maka dunia akan mendengarkan dongeng baru tentang
cinta yang indah. Jim, dunia membutuhkan dongeng tersebut. Kaulah yang akan
membuatnya.” Lalu, lelaki itu pun pergi, lenyap bersama formasi terbang ribuan
capung.
Di upacara pemakaman Nayla, lelaki itu datang lagi. Dia kembali ‘mengganggu’
Jim. Mengusik Jim yang tak kunjung punya keberanian untuk ‘menyusul’ Nayla,
bunuh diri. Dia kembali membahas dongeng yang akan ‘dijalani’ Jim. Dia menyuruh
Jim untuk ikut Armada Kota Terapung yang akan menuju Tanah Harapan. Ketika perjalanan laut terhenti tak bisa
disambung lagi, di tempat ketika Armada Kota Terapung memutar kemudi kembali ke
kota ini, di situlah kau akan menemukan ujung dongengmu. Dan lagi-lagi Sang
Penandai lenyap usai menjelaskan tentang dongeng itu.
Minggu, 21 Oktober 2012
99 Cahaya di Langit Eropa: Novel tentang Sejarah Islam di Benua Biru
Mengutip kata-kata George Santayana:
“Those who don’t learn from history are doomed to repeat it.” Barang siapa
melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam
kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak
banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih
besar daripada wilayah Kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak
yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada
Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat
ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat
peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.
Paragraf di atas merupakan paragraf
favoritku dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam
di Eropa) karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Aku membeli novel
terbitan Gramedia Pustaka Utama ini atas rekomendasi dari Tika. Dan ternyata
tidak mengecewakan. Novelnya memang sesuai seleraku. Bisa, lah, kali lain aku meminta rekomendasi
darinya tentang novel yang menarik. Novel setebal 414 halaman ini merupakan
novel best seller. Yang kubeli sendiri merupakan cetakan keenam (Februari
2012). Cetakan pertamanya sendiri bulan Juli 2011.
Kamis, 11 Oktober 2012
9 Summers 10 Autumns (Dari Kota Apel ke The Big Apple)
Iwan melihat anak kecil itu pertama
kalinya ketika dia sedang ditodong di dekat Stasiun Fleetwood, New York. Anak
kecil dengan celana pendek merah dan baju putih berkerah itu melambaikan tangan
lalu menghilang. Dua hari kemudian Iwan bertemu dengannya lagi. Ia pun merasa
tidak asing dengan anak itu. Perbincangannya dengan anak itu membuat Iwan
teringat masa kecilnya, teringat orang tuanya, teringat rumah mungil berukuran
6 x 7 meter di Batu tempat ia dan keempat saudaranya dibesarkan. Ia teringat
masa kecilnya, masa di mana dia dan saudaranya tak punya mainan hingga mereka
hanya bisa “bermain” dengan buku pelajaran.
Anak kecil itu pun mulai sering ‘mengunjungi’
Iwan ketika dia sedang sendirian di apartemennya. Lalu, seperti biasa, mereka
pun berbincang-bincang. Ah, mungkin tepatnya anak kecil itu mendengarkan Iwan
bercerita. Melihat apartemen luasnya, Iwan pun membandingkannya dengan tempat
tinggalnya dulu, rumah kecil di kaki Gunung Panderman di mana dia bahkan tak punya
kamar sendiri, rumah yang kecil tapi tetap selalu ia cintai.
Langganan:
Postingan (Atom)
















