Tampilkan postingan dengan label Catatan Mudik 2012. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Mudik 2012. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

Markisa, Kliyengan, dan Hipotesis

Beberapa bulan terakhir Ibu sering 'pamer' jus buah markisa. Kata Ibu, tanaman markisa yang ditanam Abah berbuah banyak. Aku pun tergoda. Dan saat mudik lebaran kemarin aku beruntung karena ada beberapa buah markisa yang masak, jadi aku bisa membuat jus markisa. Kalau tidak salah, tepat di hari pertama aku sampai rumah, malamnya langsung dibuatkan jus markisa. Karena kami tidak punya blender, jadi membuat jusnya pun cuma mencampurkan buahnya ke segelas air panas/hangat, diberi gula, diaduk, lalu disaring. Rasanya? ASEM. Tapi, karena ada gulanya jadi terasa asem manis.

Di samping penasaran pada rasa buahnya, aku juga penasaran pada tanamannya. Aku pun langsung ber-norak-rorak-ria dengan kameraku. Dengan kemampuan fotografi yang pas-pasan, aku mencoba memotret tanaman itu. Ini dia hasilnya:

Tanaman markisa yang merambat di depan rumah


Bunga tanaman markisa.

Minggu, 09 September 2012

Kebaikan Kecil

11 Agustus 2012. Seperti lebaran-lebaran sebelumnya, kali ini aku juga mudik ke Brebes. Dan seperti biasanya, aku harus menempuh perjalanan darat dulu ke Medan, naik pesawat ke Jakarta, lalu lanjut naik kereta ke Brebes.  Dari Blangpidie ke Medan aku naik travel. Pagi itu aku datang ke bandara Polonia terlalu awal. Biasanya, begitu tiba di Medan aku mampir dulu ke kos Caca di daerah Glugur lalu baru ke bandara sekitar dua jam sebelum pesawatku berangkat. Tapi, beberapa minggu terakhir Caca tak bisa dihubungi sehingga aku tak bisa menelepon untuk memberitahu dia bahwa kami akan singgah. Jadilah aku dan Intan meminta kepada sopir travel untuk langsung mengantar kami ke bandara. Kami tiba di bandara sekitar pukul tujuh sedangkan pesawat Intan berangkat pukul sepuluh dan pesawatku berangkat pukul setengah dua belas. Sekitar pukul sembilan lewat (atau setengah sepuluh, ya?), Intan mengajakku check in. Lalu, kami pun masuk. Intan sudah bisa check in sedangkan aku masih harus mencari-cari tempat check in untuk penumpang Mandala. Setelah bertanya pada petugas, aku ditunjukkan loket – atau apalah namanya, pokoknya tempat check in – paling ujung, dekat loket pembayaran boarding pass. Ternyata yang paling ujung adalah loket untuk penumpang Citilink (kalau tidak salah) dan loket Mandala ada di sebelahnya. Tapi, loket tersebut belum dibuka jadi aku belum bisa check in. Aku pun menunggu. Intan sudah berpamitan untuk ke ruang tunggu lebih dulu. Pesawatnya memang sudah hampir berangkat. Jadilah aku menunggu sendirian – bukan berarti tidak ada orang lain di bandara melainkan tidak ada orang lain yang kukenal di sana. Setelah loket dibuka, aku langsung check in kemudian membayar boarding pass lalu bergegas ke ruang tunggu.

Di ruang tunggu, aku teringat ponselku yang sudah sekarat. Aku pun segera ke dekat pintu toilet. Di situ, tepatnya di sebelah lemari yang berisi minuman ringan (yang dijual, bukan gratis untuk para calon penumpang pesawat), ada stop kontak. Di situ ada dua. Saat aku datang ke situ, ada bapak yang baru saja men-charge ponselnya. Lalu, aku pun menanyakan apakah aku bisa menggunakan stop kontak satunya. Yah, siapa tahu bapak itu mau men-charge dua ponsel. Ternyata dia cuma men-charge satu ponsel jadi aku bisa men-charge ponselku di stop kontak satunya. Bapak itu pun meninggalkan ponselnya di situ. Aku cuma bengong. Memangnya dia tidak takut ponselnya hilang? Bisa saja, kan, aku – atau orang lain yang berniat jahat – mengambil ponselnya itu?

ini dia stop kontak yang ada di dekat pintu masuk ke toilet


Rabu, 05 September 2012

Sepur Yang Tertukar

12 Agustus 2012

Pagi itu aku diantar Ndaru ke Stasiun Gambir. Rencananya aku akan melanjutkan perjalanan mudik ke Brebes dengan kereta api Cirebon Ekspres yang berangkat pukul sebelas siang. Kami berangkat cukup awal jadi sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul sembilan lewat. Kami pun menunggu seperti anak hilang. Sekitar pukul setengah sembilan (sebenarnya aku lupa-lupa ingat waktunya), aku iseng mencoba masuk melewati gerbang.

Stasiun Gambir.

Setelah menunjukkan tiket dan KTP, aku diperbolehkan naik. Sampai di peron, aku bingung, kereta Cirebon Ekspress itu 'muncul'nya di sebelah mana, ya? Yang pasti bukan di peron 9 3/4 seperti Hogwart Express. Dan waktu itu ada dua kereta api yang sedang berhenti, di sebelah kanan dan kiri peron tempat aku berada. Karena kudengar ada orang yang menyebut Cirebon Ekspres, aku pun curiga salah satu dari dua kereta yang berhenti itu adalah kereta tersebut. Aku pun bertanya pada seseorang. Sebenarnya aku bertanya di mana aku harus menunggu kereta tersebut. Tapi, langsung dijawab, "Itu Cirebon Ekspres. Buruan, udah mau berangkat!" Mendengar kata "udah mau berangkat" aku pun langsung bergegas naik ke kereta. Dan benar saja, tak lama kemudian kereta jalan. Di dalam kereta aku sibuk mencari tempat dudukku. Setelah ketemu, ternyata ada seorang bapak yang duduk di tempat dudukku. Aku pun menanyakan apakah itu memang tempat duduknya. Ternyata memang benar. Dia pun menunjukkan tiketnya. Aku pun bingung. Di tiketku juga tertulis nomor gerbong dan bangku tersebut. Bapak itu meminta tiketku. Setelah dia memeriksa tiketku, dia pun berkata, "Ibu yang salah tiket. Tiket ibu buat kereta jam 11, ini kereta jam 9.45." Hening. Memangnya ada kereta Cirebon Ekspres yang berangkat pukul 9.45? Terus, kereta ini tujuan akhirnya ke mana? Ternyata kata bapak tadi kereta yang kunaiki tujuan akhirnya cuma sampai Cirebon, tidak sampai Tegal seperti kereta Cirebon Ekspres yang berangkat pukul sebelas.