Tampilkan postingan dengan label Kata Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Hati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2016

Not Ranting, Just Whining

“Udah nggak di IPDS lagi mbak?”
“Nggak. Udah ada yang nggantiin.”
“Oh, udah digantiin sama yang lebih jago, ya?”
Deg!

I’m not mad. That’s the fact. Penggantiku memang jauh lebih jago soal TI. Hanya saja kalimat itu memperjelas fakta yang sudah terpampang nyata itu.

Rabu, 30 September 2015

Hati

Katanya ada yang dibunuh
gara-gara menolak tambang pasir
Dunia maya ramai
penuh ucapan "nyawa kami tak lebih berharga dari tambang"

Aku ikut mengutuk
Di mana hatimu?
Melihat darahnya tertumpah
melihatnya bermandi luka
melihatnya meregang nyawa
tidakkah kalian iba?

Kamis, 08 Januari 2015

Sunyi

Mungkin sunyi ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Bukankah dalam sunyi aku lebih jelas mendengar suara hatiku sendiri?
Tak ada lagi bising
Tak ada lagi suara mereka yang membuatku lupa
tentang inginku
tentang mimpiku
tentang diriku sendiri

Mungkin jarak ini memang harus dinikmati dan disyukuri
Karena jarak ini membuatku bisa melihat lebih jelas
melihatmu
melihat mereka
melihat dunia
melihat diriku sendiri

Mungkin rasa sendiri ini harus dinikmati dan disyukuri
Karena dengan rasa sendiri ini
aku tahu seberapa jauh aku bisa bertahan dengan kekuatanku sendiri

Mungkin..

Kamis, 30 Oktober 2014

Mendekatkan yang Jauh

Gadget mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Kalimat ini muncul karena banyak orang yang lebih suka bersosialisasi dengan orang yang jauh dengannya -- dengan menggunakan gadget -- dibandingkan dengan orang yang ada di dekatnya. Bahkan ada yang duduk berhadapan tapi masing-masing asyik dengan gadget-nya. Aku termasuk yang seperti itu, sibuk main ponsel atau laptop dan jarang mengobrol dengan orang. Harus kuakui, ponsel bisa jadi pelarian sempurna saat aku berada di keramaian tapi aku merasa seperti alien. Saat berkumpul dengan teman-teman di ruang makan, aku lebih suka main sudoku di ponsel karena aku memang bukan orang yang biasa mengobrol panjang lebar dengan orang yang tidak terlalu akrab denganku. Aku bukan orang yang pandai membuka pembicaraan. Kalaupun lawan bicara sudah membuka pembicaraan, kadang aku juga tidak tahu harus merespon bagaimana. Ujung-ujungnya paling yang responku, "Oh, gitu."

Rabu, 08 Oktober 2014

Nggak Ada Kerjaan, Katanya

Ada hal yang menyebalkan saat kuliah malam ini. Awalnya, sih, biasa-biasa saja. Tapi, semakin kupikirkan jadi terasa menyebalkan. Saat itu temanku (yang sesama pegawai BPS) menjelaskan kendala yang dia alami saat mengumpulkan data dari instansi lain. Kemudian ada temanku yang lain (bukan pegawai BPS) berkata lebih kurang begini, "Kalau pekerjaan BPS cuma mengumpulkan data dari instansi lain, BPS nggak ada kerjaan, dong? Buat apa ada BPS?" Berhubung dosennya juga sepertinya tidak tahu mengenai pekerjaan-pekerjaan BPS, dia juga seolah mengamini komentar tadi. Salah satu komentarnya mengenai pekerjaan BPS yang "hanya" mengumpulkan data dari instansi lain lebih kurang begini, "Mending BPS dihapus saja. Atau semua pekerjaan itu dikerjakan sama BPS saja, tidak usah dikerjakan instansi lain." Dan sayangnya waktu kuliah sudah hampir habis jadi tidak sempat ada yang membantah komentar tersebut.

Awalnya aku menganggap itu wajar karena dia tidak bekerja di BPS. Dan aku cuma berpikir kalau dia mengatakan hal itu di depan KSK (Koordinator Statistik Kecamatan), dia pasti sudah jadi dendeng. Tapi, setelah dipikir-pikir, rasanya tidak etis menjatuhkan instansi di depan umum (di depan kelas termasuk umum, kan?). Apalagi dia langsung berkata seperti itu tanpa konfirmasi ke orang-orang yang bekerja di BPS apakah benar mereka tidak ada pekerjaan seperti yang dia asumsikan. Kalau mengingat hal itu, rasanya sebal. Di saat teman-temanku senewen karena beban pekerjaan yang makin berat, ada orang yang mengatakan mereka tidak ada pekerjaan. Kalau komentar dosen, sih, aku tidak terlalu peduli. BPS dihapus? Terserah. Itu urusan para petinggi.

Tapi, gara-gara kejadian itu aku jadi tahu rasanya kalau ada orang yang menghakimi kita tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Istilah kerennya tanpa tabayyun. Jadi, harus hati-hati jangan sampai menghakimi seseorang dan berkata, "Alah, instansi ini mah nggak ada kerjaan. Cih, dinas itu mah kerja enggak korupsi banyak. Bah, orang-orang di kantor itu kerjanya cuma ngerumpi." Jangan gitu, ya, Milo! Kita tidak tahu apakah seseorang bekerja keras atau tidak.

Minggu, 21 September 2014

Menyesal

Kena batunya. Kalimat itu tepat sekali menggambarkan keadaanku saat ini. Procrastinator sejati. Hobi menunda-nunda. Ada tugas yang deadline hari ini pukul 09.50, dan sejak kemarin aku hanya gegoleran tak jelas. Tadi pagi mulai mengerjakan, malah bingung. Siangnya tidur. Setelah itu, heboh mengerjakan. Tapi, baru selesai pukul sepuluh tadi. Sudah tidak bisa upload di website. Terlambat.

Mau nangis? Ya, silakan. Nangis yang kenceng. Tidak akan bisa mengubah keadaan. Waktu tidak akan berputar kembali ke pukul 09.50.

Mau mengeluh? Nggak malu? Salahmu dewek, nok. Semua perbuatan, semua keputusan, ada akibatnya. Berani berbuat, harus berani menghadapi risikonya. Berani menunda-nunda, harus berani menghadapi risiko terparah.

Menyesal? Ah, tidak ada gunanya. Penyesalan memang datangnya belakangan. Iya. Dan kadang, orang yang terlalu ndableg memang harus mengalami hal ekstrim bin tragis agar sadar dengan kesalahannya dan mau memperbaiki diri. Seperti kata Gandalf, tangan yang terbakar lebih efektif untuk mengingatkan bahaya api. Sekarang tinggal berdoa saja, semoga tangan yang terbakar itu tidak terlalu parah lukanya. Penyesalan memang tidak bisa mengubah keadaan. Tapi, menyesal dan memperbaiki diri lebih baik daripada tidak menyadari kesalahan.

Kali lain, jangan menunda-nunda lagi. Kali lain, jangan bermalas-malasan lagi. Kali lain, harus lebih semangat, fokus, dan istiqomah belajar. Jangan tergoda untuk gegoleran ataupun internetan nggak jelas. Dan semoga masih ada kesempatan lain. 

Waktunya introspeksi diri. Waktunya memperbaiki diri.

Senin, 26 Mei 2014

Hang On

I've come this far
keep going on
keep my spirit on
try to not even give up
But it seems like the whole world force me to stop

Tell me. Should I keep going on? Should I give up on my dream that I've pursued for long time?

Does everything happens to make me stop? Does everything happens to make me struggle harder?

I have no idea. All my problems have taken all my spirits.

Maybe I need to rest for a while, clear my mind. Maybe. Just hang on.

Kamis, 06 Februari 2014

Dear You

Dear Dream,
You were there
Yeah, you were there
when my life was full of sadness and disappointment
Because of you, I could hold on and face all my problems
Pursuing you made my life so meaningful

Dear Passion,
My life was so lively because of you
When I feel so tired, you came to me
You gave me strength
You gave me spirit

But now,
I lose both of you
And without you, my life is so flat, so boring

Will you come to me once again?

Selasa, 15 Januari 2013

Ada Satu

aku sungguh percaya
Kau bisa memerahkan langit yang biru
dalam sekejap
tanpa sempat kukedipkan mata

aku sungguh percaya
Kau bisa menurunkan salju di manapun
bahkan di tepian pantai di khatulistiwa

aku sungguh percaya
Kau selalu memberi yang kami minta

dan aku pun tak pernah ragu meminta
meminta segalanya
tanpa tahu malu

tapi
ada satu yang tak berani kuminta
meski Engkau telah berjanji
memberikan semua yang kami minta
meski aku tahu Engkau takkan pernah ingkar janji

ada satu yang tak berani kuminta
dan aku tak mengerti kenapa

Minggu, 13 Januari 2013

Saat Kau Merasa

Saat kau merasa lelah menjalani hidup
ingatlah ia yang lelah membawamu ke sana kemari
ingatlah ia yang begitu lelah menjagamu selama sembilan bulan
agar kelak kau bisa terlahir dan memiliki kehidupan

Saat kau merasa ingin mati
ingatlah ia yang bertaruh nyawa
berjuang antara hidup dan mati
demi melihatmu terlahir ke dunia

Saat kau merasa tak ada yang merindukanmu
ingatlah ia yang begitu merindukanmu
begitu sabar menantimu selama sembilan bulan
dan begitu bahagia ketika akhirnya kau hadir

Saat kau merasa tak punya siapa-siapa
ingatlah ia yang terjaga sepanjang malam ketika kau demam
ingatlah ia yang sibuk seharian menemanimu bermain

Saat kau tak tahu lagi hendak ke mana
pulanglah
pulanglah saja
bukankah Ibu adalah 'rumah' yang paling hangat untuk anak-anaknya?




Tuhan sungguh menyayangimu
dengan mengirimkan malaikat bernama "IBU"
untukmu

Sabtu, 29 September 2012

Dia Bilang Aku Tidak Butuh Teman

Katanya aku seperti tidak butuh teman. Dia menyampaikan hal itu lewat sms. Aku cuma diam, tidak bereaksi apapun, tidak menjawab sms-nya. Tidak butuh teman? Mustahil. Semua orang di dunia ini butuh teman. Sejak SD sampai SMA, kita selalu diajari bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang saling membutuhkan. Karena aku manusia, berarti aku juga makhluk sosial. Aku tidak bisa hidup sendiri. Aku juga butuh orang lain. Aku membutuhkan petani yang menanam padi (karena aku perlu makan nasi), aku butuh petani yang menanam kapas dan para pekerja industri tekstil karena aku perlu pakaian, aku butuh para penjual sayuran, dan lainnya. Selain aku membutuhkan orang lain dengan alasan ekonomis tadi, aku juga membutuhkan orang lain dengan alasan psikologis. Aku membutuhkan orang lain untuk bertukar pikiran, untuk berbagi perasaan, meminta saran, dan sebagainya. Dan aku akan menemukan kebutuhan itu dalam sosok seorang teman.

Minggu, 08 Juli 2012

Memang Tidak Jodoh

Warning: Ini tulisan curhat. Yang tidak suka baca curhatan orang, silakan baca tulisan lain saja.

Siapa yang sudah pernah ditinggal nikah seseorang yang disukainya? Yang sudah pernah angkat tangan, yang belum pernah silakan angkat kaki! Hehehe... Alhamdulillaah, aku sudah pernah merasakannya. Tiga kali. Kalau saja ditinggal nikah itu seperti membeli deterjen, mungkin saat ini aku sudah mendapatkan piring, gelas, mangkok, atau payung, atau setidaknya sebuah ponsel pintar. Ngarep! Kenapa tiba-tiba bertanya tentang ‘ditinggal nikah’? Sebenarnya sudah pernah terlintas keinginan menulis tentang ini, tapi selalu kuurungkan tanpa alasan jelas. Karena beberapa hari yang lalu ada kawanku yang ditinggal nikah, aku jadi tergoda menulis tentang itu.

Kali pertama aku patah hati karena orang yang kusukai menikah (bukan denganku tentunya) adalah ketika aku sedang magang. Seseorang yang sering kuintip dari bawah pohon mangga di sore hari (ingat, dari bawah, bukan dari atas pohon mangga, aku bukan kuntilanak) ternyata menikah dengan kawanku sendiri. Bagaimana perasaanku saat itu? Tentu saja sedih. Tapi, melihat teman-teman dekatku begitu bersimpati dan berusaha menghiburku, aku jadi tak terlalu bersedih. Bahkan, aku bisa menertawakan nasibku yang ditinggal nikah. Saat itulah aku tahu betapa berartinya teman di masa sulit. Mereka yang sering kita lupakan di saat senang, datang menghibur kita di saat kita sedih.

Rabu, 04 Juli 2012

Itu Bukan Cinta, Nduk

Nduk... Kau tahu cinta itu apa? Cinta itu sulit untuk dijelaskan. Tapi, kita bisa membedakan mana yang benar-benar cinta mana yang hanya 'cinta' semu. Kalau kau mengaku mencintai seseorang, lalu semakin hari cintamu padanya semakin bertambah tanpa diiringi bertambahnya cintamu pada-Nya, itu bukan cinta.

Ketika kau merasa kau mencintainya, dan kau mencintai segala kelebihan dan kekurangannya, itu bukan cinta, Nduk. Ketika kau merasa biasa saja dengan kekurangannya tanpa membantunya dan memberinya semangat untuk menjadi lebih baik, itu bukan cinta, Nduk. Ketika kau melihatnya berbuat kesalahan tapi kau justru membiarkannya, itu bukan cinta, Nduk...

Nduk, apa yang kaulakukan ketika kau merasa jatuh cinta? Mendengarkan lagu cinta? Kalau perasaanmu padanya hanya membuatmu 'rajin' mendengarkan dan mendendangkan lagu cinta tapi membuatmu makin jarang membaca 'ayat cinta'-Nya, itu bukan cinta, Nduk...

Jumat, 22 Juni 2012

Adil dalam Kasih Sayang

Seorang adik sedang bersama kakak tertuanya, sebuat saja Mbak A. Setelah obrolan panjang lebar, tiba-tiba sang kakak berkata, "Si I, tuh, enak. Anak kesayangan ibu." Di lain waktu, sang adik bersama dengan kakak keduanya, Mbak I. Saat sedang bersama-sama mengeluh, Mbak I berkata, "Bapak, mah, lebih sayang sama Mbak A. Kalo dia salah, nggak pernah dimarahin. Marahnya malah sama kita." Sang adik pun diam. Yang ada di kepalanya sama dengan kedua kakaknya. Namun, dia punya keluhan yang lebih parah dari kedua kakaknya. Mbak A anak kesayangan Bapak, Mbak I anak kesayangan Ibu, Dek F anak kesayangan Bapak dan Ibu, dan aku bukan anak kesayangan Bapak ataupun Ibu, begitu pikirnya.

Kejadian di atas benar-benar ada. Dan kejadian di atas terlintas setelah membaca tulisan Pakdhe Abdul Cholik tentang bersikap adil kepada anak-anak. Dalam tulisan itu disebutkan hadits mengenai bersikap adil. Berikut ini hadits-nya:
Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a, ia berkata, “Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku, lalu ibuku Amrah binti Rahawah berkata, “Saya tidak rela sehingga kau persaksikan kepada Rasulullah Saw. Lalu ayahku dan aku pergi kepada Nabi Saw untuk mempersaksikan pemberian kepadaku tersebut, kemudian Rasullulah Saw bertanya kepada ayahku: ”Apakah kau lakukan pemberian itu kepada semua anakmu?”.
Ayahku menjawab: ”Tidak“. Rasulullah Saw bersabda: ”Jangan lakukan! Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah dengan adil terhadap anak-anakmu!” Kemudian ayahku pulang lalu menarik kembali pemberian tersebut. (HR. Muslim).

Kamis, 21 Juni 2012

Ada Udang Di Balik Batu, Ada Pamrih Di Balik Komentar

Sudah beberapa kali aku mendapat komentar di blog ini yang isinya lebih kurang: ditunggu kunjungan baliknya, ditunggu folbeknya (folbek = follow back). Entah kenapa rasanya risih membaca komentar tersebut. Serasa 'dipaksa' berkunjung dan follow blog mereka. Terlebih lagi, komentar mereka cuma itu, tidak mengomentari tulisanku. Dan kadang aku curiga mereka tidak membaca tulisanku dan langsung komentar seperti itu. Maaf kalau su'uzhon.

Tidak bisa dipungkiri, ketika berkomentar di blog orang aku pun berharap mereka akan berkunjung ke blog-ku, membaca tulisanku, lalu mengomentarinya. Namun, aku tidak berkomentar "ditunggu kunjungan baliknya" karena aku tidak ingin mereka merasa 'dipaksa' mengunjungi blog-ku. Aku berusaha membaca tulisan mereka dan berkomentar yang (agak) nyambung dengan tulisan mereka. Kalau tulisan terbaru tidak menarik bagiku, aku tidak memaksakan diri untuk berkomentar. Kalau aku benar-benar tergoda untuk meninggalkan jejak di sana, aku akan ngubek-ubek blog tersebut dan mencari-cari tulisan yang menarik lalu meninggalkan komentar di sana.

Jumat, 08 Juni 2012

APA? Poligami?

Madu itu enak. Manis. Menyehatkan. Aku sering meminumnya agar tidak mudah sakit. Nah, kalau dimadu? Hmm.. Hmm.. Enak tidak, yah? Hmm.. Menurutku, sih, pahit.

Eh, menikah saja belum, kok, sudah memikirkan tentang dimadu? Hehehe... Entah. Mungkin karena hal tersebut sering dibahas -- dan memang topik poligami sangat gurih untuk dibahas habis-habisan -- jadi hal itu sering terlintas di kepalaku.

Eh, tunggu! Poligami itu apa, sih? Selama ini seringkali kata poligami diartikan sebagai pernikahan di mana sang suami memiliki lebih dari satu istri. Padahal, seingatku dalam pelajaran waktu SMA disebutkan bahwa poligami adalah pernikahan di mana seseorang memiliki pasangan lebih dari satu. Jadi, satu suami memiliki lebih dari satu istri atau sebaliknya satu istri memiliki lebih dari satu suami, atau banyak istri memiliki banyak suami (ini yang paling 'mengerikan'). Sedangkan pernikahan di mana satu suami memiliki lebih dari satu istri disebut poligini dan pernikahan di mana satu istri memiliki lebih dari satu suami disebut poliandri. Jadi, kita gunakan istilah poligini saja dalam pembahasan selanjutnya (pembahasan? seperti seminar saja!).

Rabu, 23 Mei 2012

Setahun Lembaran Baru

23 Mei 2011 - 23 Mei 2012

Sudah setahun usia blog ini. Iya, tanggal 23 Mei 2011 adalah kali pertama aku kembali ke blogosphere. Blog berjudul Hari Baru, Lembaran Baru ini seperti sebuah harapan untuk memulai dari awal, menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Menutup cerita sedih di blog lama dan memulai kembali cerita baru di blog baru. Dengan harapan, blog baruku ini akan penuh harapan, cerita lucu, menyenangkan, inspiratif, pokoknya jauh dari kata sedih. Sebagaimana yang kuceritakan di tulisan pertamaku.

Ibarat anak kecil, masih belajar berdiri, pelan-pelan berjalan, belum lancar bicara. Begitu pula blog ini. Tulisannya masih belum 'matang', masih kerap dipenuhi emosi, masih belum bisa memilih kata-kata yang tepat dan menarik. Masih belum bisa memberi hikmah bagi yang membaca blog ini. Tapi, anak umur setahun, kan, lagi lucu-lucunya. Jadi, blog ini juga lagi lucu-lucunya. Lucu, imut, ngegemesin, hehehe...

Di umur yang setahun ini, aku sudah 'menyampah' di blogosphere dan menyumbangkan sampah sebanyak 157 tulisan, yang sebagian besar isinya curhat, hehehe... Selain curhat, banyak tulisanku yang kuikutkan kontes atau giveaway. Sampai-sampai aku merasa seperti banci giveaway. Dan Alhamdulillah sudah beberapa kali menang meskipun lebih banyak kalahnya. Tapi... Kok, hadiah giveaway dari Mbak Titik dan dari Jay belum sampai, ya??? Banyak juga cerita dan foto-foto pamer sebagai dokumentasi kegiatan jalan-jalanku. Yang dipajang memang yang bagus-bagus. Mana mungkin aku memajang foto pantai atau sungai yang jelek di blog yang cantik ini? Di umur setahun ini juga follower blog ini sudah mencapai 73. Sungguh angka yang tidak terduga. Beberapa waktu lalu, ketika follower blog ini mencapai 50 orang sebenarnya aku ingin membuat posting-an FOLLOWER EMAS. Tapi, tidak jadi. Terus ditunda sampai follower semakin banyak. Saat ada posting-an yang komentarnya mencapai 50 pun aku ingin membuat posting-an KOMENTAR EMAS. Lagi-lagi tidak jadi.

Minggu, 06 Mei 2012

Tentang Fanatisme

Dalam beberapa berita yang berbau agama (kadang juga berita biasa yang anehnya dihubung-hubungkan dengan masalah agama) ada komentator yang berkomentar SARA. Terhadap komentator SARA tersebut biasanya ada komentator lain yang menanggapi dengan kalimat “Jangan fanatik. Jangan menganggap agama sendiri yang paling benar”. Aku sangat tidak setuju pada komentator SARA. Tapi, aku lebih tidak setuju pada kalimat yang melarang orang untuk menganggap agamanya sebagai yang paling benar. Kenapa? Karena hal itu sangat tidak logis. Bagaimana kita bisa memutuskan untuk menganut suatu agama sementara kita tidak menganggap ajaran agama kita sebagai yang paling benar? Lantas, apa alasan kita menganut ajaran tersebut? Suka-suka? Agama adalah PEDOMAN HIDUP. Bagaimana mungkin kita memilih suatu pedoman hidup sedangkan kita tidak yakin akan kebenarannya. Berlebihan bila kita melarang seseorang menganggap ajaran agamanya yang paling benar untuk alasan toleransi. Bagiku, toleransi cukup dengan ayat terakhir dari surat Al Kaafiruun “Untukmu agamamu, untukku agamaku”. Saling menghormati dan tidak saling mengganggu antarumat agama.

Jumat, 04 Mei 2012

Terjebak Tuntutan Orisinalitas

Beberapa hari ini aku rempong mencari bahan untuk membuat tulisan untuk diikutkan dalam Kompetiblog. Maklum saja. Sudah beberapa kali aku melewatkan event tersebut karena tidak ada ide. Jadi, kali ini aku begitu menggebu-gebu untuk berpartisipasi. Tema lomba kali ini adalah mengenai kreativitas orang Belanda. Satu hal yang terpikir olehku adalah kincir angin. Kenapa? Karena aku berpikir bahwa ide warga Belanda untuk mengeringkan tanah (yang posisinya di bawah permukaan laut) dengan menggunakan kincir angin adalah ide yang kreatif. Aku pun mulai googling untuk mengumpulkan informasi mengenai kincir angin untuk memperkuat tulisanku dan agar aku mempunyai referensi yang bisa dipercaya. Dan ternyata aku menemukan tulisan dengan ide yang mirip dengan ideku yaitu menilai kincir angin sebagai salah satu hasil kreativitas orang Belanda. Aku tidak mau dikira meniru ide orang lain. Patah hati. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menulis mengenai kincir angin.

Aku pun mencari ide yang lain. Yang terpikir olehku saat itu adalah kreativitas orang Belanda dalam bidang teknologi informasi. Alasan pertama, aku mempunyai sedikit dasar pengetahuan mengenai bidang tersebut jadi tidak akan terlalu kesulitan membuat tulisan tersebut. Alasan kedua, sepertinya orang Belanda sudah sangat maju dalam bidang tersebut. Aku pun kembali googling. Aku menemukan beberapa nama tokoh Belanda dalam bidang teknologi informasi. Ada penemu bahasa pemrograman Phyton. Aku pun terinspirasi untuk mempersempit tulisanku jadi membahas mengenai para pencipta bahasa pemrograman dari Belanda saja. Dan ketika aku kembali googling, aku lagi-lagi menemukan tulisan yang idenya mirip denganku dan sepertinya juga diikutkan dalam lomba tersebut. Patah hati lagi.

Rabu, 28 Maret 2012

Apa Salahnya Anak Perempuan?

X = Istri Pak M udah melahirkan lagi.
Y = Anaknya apa?
X = Laki-laki.
Y = Senang kali, lah, Pak M. Kalau anaknya perempuan lagi, termenung-menung nanti Pak M.

Pak M memang sudah punya dua anak perempuan. Dan aku jadi memikirkan perkataan Bu Y tadi. Dari kalimatnya, Bu Y menganggap Pak M mungkin tidak akan terlalu bahagia bila anaknya perempuan lagi. Sebegitu pentingkah anak laki-laki? Sebegitu sedihkah bila memiliki anak yang semuanya perempuan? Sebegitu sedihkah tidak memiliki anak laki-laki?

Aku anak ketiga. Kedua kakakku perempuan. Aku pun perempuan. Apakah waktu aku baru lahir, Abahku kecewa karena aku tidak terlahir sebagai laki-laki? Apa Abahku kecewa karena ketiga anaknya perempuan? Apakah ketika adikku (yang juga perempuan) lahir, Abahku juga kecewa? Aku tidak tahu karena aku tidak pernah memikirkannya. Aku baru memikirkannya ketika mendengar kalimat Bu Y tadi. Semoga saja tidak. Semoga saja Abahku tetap bahagia meskipun keempat anaknya perempuan. Semoga saja Abahku tidak kecewa meskipun dari keempat anaknya tidak ada satupun yang bisa diajak menonton bola atau main catur.