Tampilkan postingan dengan label Ikut Giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikut Giveaway. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Milo VS Athaya



Apa/siapa yang bisa membuat suasana hatimu yang semula mendung berubah jadi cerah ceria? Kalau pertanyaan itu diberikan pada Athaya, jawabannya adalah sepatu. Setelah memandangi puluhan pasang koleksi sepatunya, mood-nya akan membaik. Kalau pertanyaan itu diajukan padaku, jawabannya adalah Benedict Cumberbatch. Mungkin yang rajin membaca blog ini (adakah?) bosan mendengar nama Benedict Cumberbatch. Apa mau dikata. Blog ini adalah curahan pikiran dan hatiku. Dan saat ini yang ada di pikiranku dan hatiku Benedict. Problem?

Kalau Athaya pergi berbelanja sepatu untuk mengobati suasana hatinya buruk, aku cukup duduk di depan laptop dan membuka fanpage Benedict Cumberbatch di Google+ yang menyediakan banyak foto dan video yang bisa jadi eye candy bagi fans-nya. And I will smile again as if nothing bad happened before. Apa yang lebih menyenangkan dibanding seseorang yang selalu membuatmu tersenyum bila melihatnya? Halaaah! Jadi sok romantis begini.

Selasa, 23 Juli 2013

Lilin

“Sugeng tanggap warsa, Pak!” ujar Laksmi sambil memeluk Bapak.

“Oalah, Nduk! Bapak sendiri malah lupa ulang tahun Bapak. Memangnya sekarang umur Bapak berapa?” tanya Bapak pada Laksmi.

“Sudah 63 tahun, Pak,” jawab Laksmi.

“Ini, tiup lilinnya dulu. Terus potong kuenya,” Laksmi menyodorkan kue black forest yang permukaannya dipenuhi batangan lilin menyala.

“Lhadalah!” pekik Bapak terkejut melihat banyaknya lilin yang harus dia tiup: 63.



Jumat, 22 Februari 2013

Mutung Belajar Bahasa Aceh

"Ka meuthon-thon tinggay di Aceh, mantong hana caroeng basa Aceh (Sudah bertahun-tahun tinggal di Aceh, masih belum pandai Bahasa Aceh)," komentar seseorang terhadap aku yang belum terlalu mengerti Bahasa Aceh. Yang lain pun berkomentar senada, "Udah tinggal tiga tahun lebih di sini mestinya udah pandai basa Aceh." Atau komentar begini, "Itu si A baru setahun di sini udah pandai ngomong basa Aceh." Aku cuma tersenyum. Kecut.

Apa aku sama sekali tidak belajar bahasa daerah tersebut? Sebenarnya aku belajar. Bahkan, sewaktu awal penempatan aku sangat semangat belajar. Aku meminta kawanku menerjemahkan beberapa kalimat dasar ke dalam Bahasa Aceh. Misalnya seperti di bawah ini:
Apa kabar? -- Peu haba?
Kabar baik -- Haba geut
Sudah makan? -- Kalheuh pajoh bu? (literally it means "sudah makan nasi?")
Mau pergi ke mana? -- Ho jak? (literally it means "ke mana pergi?")

Aku pun beberapa kali memberanikan diri bicara dalam Bahasa Aceh. Hingga suatu ketika aku membaca nama sebuah desa yang tertulis "Bineh Krueng". Seseorang tertawa ketika mendengarku melafalkan kata "krueng" (krueng = sungai) sama seperti tulisannya, kru-eng. Padahal mestinya aku melafalkannya "krung". Gara-gara ditertawakan begitu aku langsung ngambek, mutung, bin pundung. Aku tidak mau lagi bicara dalam Bahasa Aceh. Aku bukan orang Aceh, bahasa ibuku juga bukan Bahasa Aceh. Bahasa ibuku adalah Bahasa Jawa ngapak. Di sekolah pun aku hanya diajari Bahasa Jawa (bukan ngapak), tidak diajari bahasa daerah lain. Jadi, wajar saja kalau aku tidak fasih berbahasa Aceh. Kenapa mesti ditertawakan? Toh, selama ini kawanku yang orang Sunda tidak tertawa ketika aku keliru dalam berbahasa Sunda. Kawanku yang orang Batak juga tidak menertawakanku ketika logatku aneh saat mencoba menggunakan Bahasa Batak. Yaaah, malah jadi curhat.

Sabtu, 29 Desember 2012

Kenangan PMB yang Manis

Semarang. Setelah Brebes dan Tegal, Semarang merupakan kota yang (sempat) menjadi rumahku. Aku sempat beberapa kali ke Semarang, sempat tinggal di sana selama sekitar sepuluh hari, dan sempat beberapa kali tersesat juga di sana. Mungkin karena itulah aku merasa Semarang sudah seperti rumahku, biarpun aku tidak terlalu mengenal setiap sudut kota tersebut.

Dulu, Semarang termasuk kota yang jauh menurutku. Sebelumnya jangkauanku cuma sekitar Brebes-Tegal saja. Bahkan, untuk Kabupaten Brebes pun yang sering kukunjungi cuma sekitar Kecamatan Brebes. Jadi, pergi ke Semarang benar-benar terasa sesuatu banget.

Ada banyak pengalaman "asem manis" di Semarang. Pernah aku dan mbakku 'thawaf' dari daerah sekitar RS Karyadi ke daerah sekitar RS Bhakti Wiratamtama, lanjut ke sekitaran Tugu Muda, sampai Bergota. Itu pengalaman asemnya. Kalau pengalaman manisnya... Begini ceritanya... Hari itu aku datang ke Semarang untuk kesekian kalinya. Mbak Yayu -- mahasiswa yang kukenal sewaktu daftar ulang setelah dinyatakan lulus SPMB -- mengantarku ke kontrakan kawannya di kawasan Tembalang untuk ditampung sementara (maklum, anak terlantar jadi perlu ditampung). Nama kontrakannya Tsabita. Bapakku langsung bergumam bahwa Tsabita itu artinya teguh. Hari itu seharusnya aku mengikuti apel PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) -- semacam OPSPEK -- di Undip. Tapi, aku tidak mengikuti apel karena baru datang dan baru mendapatkan tempat tinggal siang harinya. Keesokan harinya aku juga tidak bisa mengikuti PMB hari pertama di Fakultas Teknik karena harus tes kesehatan untuk masuk STIS. Mbak Yayu pun menyarankan untuk membuat surat izin untuk tidak mengikuti PMB. Awalnya aku berniat membuat alasan palsu dalam surat izin tersebut. Aku awalnya hendak menyebutkan kalau aku tidak mengikuti PMB karena sakit. Tapi, Mbak Yayu menyuruhku menyebutkan alasan sebenarnya di surat izin bahwa aku tidak mengikuti PMB karena harus tes kesehatan. "Mereka akan menghargai kalau kamu jujur," begitu katanya. Aku pun menurut.


Sabtu, 15 September 2012

Edisi "Ya, Sudahlah"

Salah satu hal yang sulit kulakukan adalah mendelegasikan tugas pada orang yang tidak akrab denganku. Dan sayangnya, aku tidak akrab dengan semua KSK (petugas) di kantorku. Kadang, terkesan aku “memonopoli” pekerjaan dan tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk mengerjakannya. Setidaknya itu kesan yang kutangkap dari pernyataan ‘seseorang’. Padahal, sebenarnya aku hanya merasa tidak enak hati memberi pekerjaan pada orang yang tidak akrab denganku. Kalau dengan teman akrabku, aku bisa dengan ringan hati – bahkan, mungkin kadang terkesan semena-mena – memintanya membantuku menyelesaikan pekerjaan. Kalau dengan yang lain? Rasanya rikuh (apa sinonim kata rikuh dalam Bahasa Indonesia?). Lagipula, aku pernah beberapa kali meminta tolong pada para KSK untuk membantuku meng-entry hasil pencacahan, dan mereka memberikan berbagai macam alasan: mau turun ke lapangan, mau memeriksa dokumen, pokoknya macam-macam,  tapi intinya tidak mau. Karena beberapa kali mereka menolak, aku pun malas meminta tolong lagi. Jadilah aku sering mengerjakan tugas hanya dengan bantuan dua orang temanku.

Hingga akhirnya ada satu pekerjaan yang mau tidak mau membuatku harus meminta tolong pada para KSK. Sebenarnya tiap semester kami harus meng-update peta desa-desa yang mengalami pemekaran. Tentu saja aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana menyuruh mereka. Awalnya aku meminta tolong pada empat orang. Yang satu merespon dengan baik, yang satu ogah-ogahan, yang satu melaporkan bahwa menurut geuchik (kepala desa) batas desanya belum jelas jadi belum bisa digambar petanya, dan yang satu bertanya, “Ini ada uangnya nggak?” Pertanyaan itu membuatku merasa... merasa... entah bagaimana perasaanku saat itu. Antara marah, bingung, capek hati, dan entah apa lagi. Yang pasti, pertanyaan itu membuatku ‘mogok’ mengurusi peta. Aku memutuskan untuk fokus pada tugas lain saja.

Kamis, 06 September 2012

Berharap Jadi Putri Yang Ditukar

Alert! Ini tulisan bernada curhat securhat-curhatnya. Kalau tidak suka baca curhatan, silakan baca tulisan lainnya saja.

Kata orang masa SMA adalah masa yang paling indah. Bertolak belakang dengan yang kurasakan. Masa SMA itu bisa dibilang masa ‘kegelapan’ bagiku. Di sekolah, aku jadi anak yang tidak populer, tidak punya banyak teman, hampir selalu jadi pilihan terakhir untuk dijadikan partner sekelompok bila ada tugas kelompok, pokoknya tidak enak. Yah, biarpun begitu, masih ada beberapa teman yang akrab denganku.

Selain tidak punya banyak teman, aku punya ‘masalah’ di rumah. Sebuah masalah besar yang berlarut-larut kira-kira sejak kelas satu sampai kelas tiga SMA. Waktu itu aku berumur sekitar 16 atau 17 tahun. Aku membentak adikku. Cuma karena bentakan satu SUKU KATA saja adikku langsung menangis. Alhasil, aku dimarahi Abah (ayahku). Sebal rasanya. Sebal karena adikku yang ‘segitu cengengnya’ yang membuatku dimarahi Abah. Sebal pada Abah yang ‘lebay’ dalam memarahiku. Kalau aku yang salah, langsung dimarahi. Kalau adik yang salah, tidak dimarahi. Dulu, aku bukan orang yang suka ‘membantah’, jadi waktu itu aku akan diam saja, tapi tetap memendam rasa sebal dan sekaligus sedih. Tapi, dalam diamku itu aku melakukan mogok makan (tapi tidak sampai mogok minum). Sampai beberapa hari. Sebenarnya, rasa sebalku saat itu merupakan akumulasi dari rasa sebal yang kurasakan selama beberapa tahun terakhir, dengan berbagai sebab. Dan kejadian ‘dimarahi karena hal sepele’ itu membuat semua rasa sebalku meledak, berubah jadi marah. Melihat aku mogok makan Abahku pun makin marah, lebih tepatnya murka, sampai terjadi dan terucap sesuatu – yang tidak perlu diceritakan di sini.

Selasa, 31 Juli 2012

Gelas-Gelas Jiwa

Manusia ibarat gelas kosong.. Dituang kopi isinya menghitam, dituang air putih menjadi beninglah ia. Tetapi segelap apapun gelas kopi itu, ia akan kembali bening jika terus menerus dituang air putih, begitupun sebaliknya.

Kata Mbak Nurul Fadilah, sih, begitu. Manusia diibaratkan gelas kosong? Aku tidak sepenuhnya setuju. Kalau gelas dijadikan metafora untuk jiwa manusia, tentunya gelas itu berada dalam kondisi kosong hanya ketika dia baru dilahirkan. Setelah dia menjalani kehidupan di dunia, sedikit demi sedikit gelas itu akan terisi. Apa isinya? Bisa macam-macam. Bisa air bening (bukan air putih), bisa susu, bisa kopi, bisa kopi susu, bisa teh, bisa jamu, bisa sirup, macam-macam, lah. Ehm, kenapa malah jadi menyebutkan banyak minuman begini?

Pada awal pertumbuhan dan perkembangan manusia, yang paling berperan dalam mengisi ‘gelas’ jiwanya adalah orang lain alias lingkungan terdekat, misalnya orang tua. Bisa dibilang pada fase awal pertumbuhan dan perkembangannya, manusia cenderung pasif, manut, diisi apa saja tidak menolak. Ketika manusia sudah mulai bisa berpikir, sudah bisa menilai dan membedakan baik-buruk dan benar-salah, dia sudah bisa menentukan sendiri apa saja yang ‘boleh’ masuk ke dalam ‘gelas’ jiwanya. Sudah bisa menyaring, istilah kerennya. Seiring berjalannya waktu, zat yang masuk ke ‘gelas’ bisa berubah-ubah. Misalnya awalnya diisi air bening, lalu kemudian khilaf hingga terisi air got, lalu insyaf hingga terisi air bening yang mengandung kaporit. Lalu, mana yang lebih berpengaruh terhadap kebersihan ‘gelas’ ini? Ya, tergantung mana yang lebih banyak (banyak dalam hal ini dari segi kualitas dan kuantitas). Kalau air gotnya banyak dan terlalu butek tapi air kaporitnya cuma seuprit, ya, jelas dominan air got, lah, yaaa! Dan sebagai manusia biasa, harus kuakui sangat sulit untuk mencegah ‘gelas’ milikku terisi air got butek itu. Dan butuh tekad kuat juga untuk istiqomah mengisi ‘gelas’ itu dengan air bening, apalagi air kaporit. Serius!

Rabu, 25 Juli 2012

Ada Hantu!

Ini adalah cerita ketika aku sekolah TK. Percaya, kan, kalau aku pernah TK? Nah, sekolah TK-ku ini jauh dari rumah. Ada sekitar tiga kilometer, lah, dari tempat tinggalku. Pasti ada yang bertanya, "Emang di kampungmu nggak ada TK?" Ada, sih. Tapi, MAHAL. Hahaha! Asli. Ini alasan yang sesungguhnya.

TK tempatku bersekolah ini dekat dengan rumah simbahku. Jadi, tiap pagi aku diantar oleh Abahku ke rumah simbahku lalu kemudian pergi ke sekolah (entah sendiri entah diantar, aku lupa) lalu siangnya pulang dari kantor Abah menjemputku, naik sepeda. Biasanya dalam perjalanan -- berangkat ataupun pulang -- kami bernyanyi ataupun bersholawat. Lagu yang masih kuingat yang liriknya "bila kuingat lelah ayah bunda, bunda piara, piara akan daku, sehingga aku besarlah". Dulu aku tahunya bukan "besarlah" melainkan "bersalah". Biasa, lah, anak-anak.

Selasa, 17 Juli 2012

Aku Benci Puisi

Dua anak lelaki berjalan telanjang kaki menapaki rerumputan. Sesekali mata mereka melihat ke bawah, khawatir menginjak kotoran kambing atau lembu yang sering ber’tamasya’ ke pantai Rindu Alam. Makin dekat ke pantai, rerumputan makin jarang. Yang tersentuh oleh kaki mereka kini hanya pasir putih.

Setelah berjalan sebentar, mereka pun sampai di dekat karang. Dengan tangkas mereka naik ke atas karang lalu duduk di atasnya. Lalu, ritual kebiasaan mereka pun dimulai. Menikmati suasana senja di pesisir barat Sumatera lalu menanti mentari terbenam di Samudera Hindia. Bila beruntung, mereka bisa melihat lumba-lumba.

pemandangan dari atas karang di Pantai Rindu Alam

“Pe-er dari Bu Suri sudah kaukerjakan?” tanya Salman tanpa mengalihkan pandangannya dari birunya laut, berharap akan ada lumba-lumba yang muncul.

“Belum. Aku malas. Kenapa pula Bu Suri memberi tugas membuat puisi? Aku, kan, benci puisi,” sahut Darwis sambil mengacak-acak rambut keritingnya. Sebal.

Refleks Salman pun menoleh. “Kenapa benci?”

“Puisi itu aneh. Bisa-bisanya wajah orang disamakan dengan rembulan. Rembulan itu tidak punya mata, tidak punya hidung,” kata Darwis berapi-api.
“Kau ingat pelajaran IPA kemarin? Bulan itu tidak bersinar. Bulan cuma memantulkan sinar matahari. Dan kaulihat puisi-puisi di buku pelajaran? Katanya bulan bersinar! Apa itu bukan bodoh namanya?”

Salman hanya terdiam dan menghela napas. Menyesali pertanyaannya yang membuatnya harus mendengarkan luapan kekesalan Darwis.

Minggu, 15 Juli 2012

Just Ephemera

There’s no song that can perfectly represent my character, my feelings, or my life story. Usually, only several lines of the whole lyric of a song that can represent ‘me’. One of those songs is Ephemera. It's sung by Letto, my favorite band. Honestly, when I heard ‘ephemera’, I didn’t know the meaning. And then, I searched its meaning in my dictionary, and found that ‘ephemera’ means ‘nymph or something that has short life’. So, when I heard this song for the first time, about three or four years ago, I presume that this song tells us about human’s life that is not everlasting. But, after I saw it’s video clip and read it’s lyric, I knew that it doesn’t tell us about human’s life but tells us about human’s feeling or human’s emotion that isn’t everlasting. We (especially me) are often drown in our feeling, whether happiness or sadness, although we know happiness won’t last forever, a sadness won’t either. Sometimes, we even can't remember how long those feelings last. It's a good song, a combination of inspiring lyric and beautiful music.

Sabtu, 30 Juni 2012

Wisata Budaya, dari Dies Natalis sampai Perantauanku

Sewaktu kuliah dulu, setiap ulang tahun kampus (Dies Natalis) selalu ada acara semacam pentas seni. Ada banyak stand dari tiap himada (himpunan mahasiswa daerah). Berhubung mahasiswa di kampus kami berasal dari berbagai penjuru Indonesia, stand-nya pun mewakili berbagai daerah tersebut. Desain bangunannya kadang mirip rumah adat atau yang mencerminkan daerah asal para mahasiswa. Di stand tersebut, dijual makanan khas masing-masing daerah. Di stand mahasiswa asal Jawa Barat ada cimol, moci, dan jajanan lainnya. Di stand mahasiswa asal Riau ada mie sagu. Di stand Kalimantan ada soto Banjar. Di stand Palembang ada pempek. Pokoknya, keliling stand sudah berasa keliling Indonesia. Ditambah lagi, biasanya ada mahasiswa yang didandani menggunakan busana daerahnya. Jadi, momen Dies Natalis ini benar-benar seperti Taman Mini Indonesia Indah yang lebih mini, hehehe... Sayangnya dulu sewaktu kuliah aku tidak punya banyak uang, jadi tidak bisa wisata kuliner sepuasnya. Cuma bisa membeli cimol dan mie sagu. Untungnya ada teman yang baik yang mau berbagi jajanan yang dia beli.

Selain wisata kuliner, yang ditunggu-tunggu adalah penampilan masing-masing himada dalam pentas. Biasanya, sih, yang ditampilkan tarian. Pernah juga ada yang menampilkan parodi cerita daerah. Kalau tidak salah parodi cerita Banyuwangi, yang mestinya sad ending tapi malah jadi happy ending. Dari sekian banyak tarian, ada tarian dari dua daerah yang paling menarik, yaitu tarian persembahan mahasiswa asal Maluku dan Papua serta mahasiswa asal Aceh. Mahasiswa asal Papua dan Maluku mempersembahkan tari apa, ya? Aku lupa namanya. Yang jelas tarian asal Maluku itu seperti permainan anak Pramuka. Kira-kira seperti gambar di bawah ini. Hanya saja, penarinya ada empat orang jadi lebih heboh, ditambah musik yang rancak.

gambar pinjam dari gopego.com

Senin, 25 Juni 2012

Giveaway Azzet: Ketika Bertemu Blogger Nyolot

Ada banyak karakter bloggerwan dan bloggerwati yang bergentayangan di blogosphere. Ada yang baik hati, penyabar, cerdas, penuh inspirasi, suka bagi-bagi uang -- eh, yang terakhir ini tidak termasuk -- pokoknya sifatnya dominan baiknya. Ada yang lucu, seru, absurd, pokoknya tulisannya bisa mengocok perut (emangnya mixer?). Ada juga yang biasa-biasa saja, tidak keren, tulisannya tidak terlalu menginspirasi, istilahnya blogger jelata, lah. Nah, aku termasuk tipe kedua ini. Ada lagi bloggerwan dan bloggerwati yang nyolot, suka mencela, menghujat, pokoknya kalau aku membaca tulisannya atau komentarnya serasa ingin menjedot-jedotkannya ke tembok. Bikin bludreg!

Kalau 'bertemu' dengan bloggerwan/wati tipe pertama, rasanya itu indah. Aku bisa mendapat wawasan baru, mendapat teman baru yang menyenangkan. Banyak informasi, nasihat, dan tips yang bisa didapatkan. Kalau bloggerwan/wati tipe ini berkunjung balik ke blog-ku, biasanya komentarnya sopan, kalaupun mereka tidak sependapat dengan artikelku, komentar mereka tetap sopan. Kalau 'bertemu' bloggerwan/wati tipe kedua, biasanya sakit perut karena terus tertawa. Bloggerwan/wati tipe ini patut diwaspadai karena bisa membuat kita bertingkah seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri bahkan ngakak sendirian, hehehe.. Kalau 'bertemu' tipe ketiga, biasa saja. Naaah, tipe keempat ini yang perlu dihindari. Dua kali aku 'bertemu' bloggerwan nyolot. Aku tidak berkunjung ke blog-nya makhluk nyolot itu tapi cuma kebetulan sama-sama mengomentari artikel yang sama.

Jumat, 22 Juni 2012

Adil dalam Kasih Sayang

Seorang adik sedang bersama kakak tertuanya, sebuat saja Mbak A. Setelah obrolan panjang lebar, tiba-tiba sang kakak berkata, "Si I, tuh, enak. Anak kesayangan ibu." Di lain waktu, sang adik bersama dengan kakak keduanya, Mbak I. Saat sedang bersama-sama mengeluh, Mbak I berkata, "Bapak, mah, lebih sayang sama Mbak A. Kalo dia salah, nggak pernah dimarahin. Marahnya malah sama kita." Sang adik pun diam. Yang ada di kepalanya sama dengan kedua kakaknya. Namun, dia punya keluhan yang lebih parah dari kedua kakaknya. Mbak A anak kesayangan Bapak, Mbak I anak kesayangan Ibu, Dek F anak kesayangan Bapak dan Ibu, dan aku bukan anak kesayangan Bapak ataupun Ibu, begitu pikirnya.

Kejadian di atas benar-benar ada. Dan kejadian di atas terlintas setelah membaca tulisan Pakdhe Abdul Cholik tentang bersikap adil kepada anak-anak. Dalam tulisan itu disebutkan hadits mengenai bersikap adil. Berikut ini hadits-nya:
Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a, ia berkata, “Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku, lalu ibuku Amrah binti Rahawah berkata, “Saya tidak rela sehingga kau persaksikan kepada Rasulullah Saw. Lalu ayahku dan aku pergi kepada Nabi Saw untuk mempersaksikan pemberian kepadaku tersebut, kemudian Rasullulah Saw bertanya kepada ayahku: ”Apakah kau lakukan pemberian itu kepada semua anakmu?”.
Ayahku menjawab: ”Tidak“. Rasulullah Saw bersabda: ”Jangan lakukan! Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah dengan adil terhadap anak-anakmu!” Kemudian ayahku pulang lalu menarik kembali pemberian tersebut. (HR. Muslim).

Selasa, 19 Juni 2012

Bahasa Pemersatu, Bahasa yang Sangat Indonesia

Waktu itu aku iseng membaca undangan buka puasa bersama KAJABA -- perkumpulan mahasiswa asal Jawa Barat di kampusku. Undangan tersebut ditulis dalam Bahasa Sunda. Aku mencoba mengartikannya dan 'memamerkannya' pada kawanku -- pemilik undangan tersebut. Saat aku menemukan kata 'dina' aku dengan percaya diri mengartikannya 'hari' sebagaimana arti kata 'dina' dalam Bahasa Jawa. Dia pun menjelaskan padaku bahwa dalam Bahasa Sunda kata 'dina' berarti 'di' sedangkan kata 'hari' itu Bahasa Sundanya 'dinten'. Hihihi, jadi malu... Jadi, teringat zaman masih kecil. Waktu itu kami sedang panen jambu air. Ketika Budhe-ku makan jambu air tersebut, dia berkomentar, "Amis." Kami pun bingung. Kok, bisa bau amis? Budhe makan jambu apa makan ikan, sih? Ternyata 'amis' itu dalam Bahasa Sunda artinya manis. Kemudian, aku membaca di majalah Bobo mengenai kosa kata yang sama dalam Bahasa Jawa dan Sunda tapi artinya beda, yaitu gedang. Kalau orang Jawa disuruh membawa gedang, yang akan dibawa adalah pisang. Sedangkan kalau orang Sunda, yang akan dibawa adalah pepaya.

Ada lagi. Aku dulu suka menceritakan lelucon ini pada kawanku.
A (orang Sunda):  *mengantri toilet* Atos? (Sudah?)
B (orang Jawa Pantura): *di dalam toilet* Atos apane!!! Wong mencret, ka! (Keras apanya!!! Orang mencret, kok!)
Iya, dalam Bahasa Sunda 'atos' berarti 'sudah' sedangkan dalam Bahasa Jawa berarti 'keras'. Masih ada yang lebih lucu lagi. Aku menemukan lelucon ini di blognya Kang Rawins. Lelaki Sunda menikah dengan perempuan Jawa. Sang suami berkata kepada istrinya, "Sayang, cokot baud (Sayang, ambil baut)" Dan apa yang dilakukan istrinya? Kalau dia patuh, dia akan menggigit baut seperti yang diminta suaminya. Kalau dia tipikal pemberontak, dia pasti sudah mencak-mencak. Kenapa? Karena dalam Bahasa Jawa 'cokot' itu artinya 'gigit'.

Kamis, 14 Juni 2012

Menikmati Bahagia

Sebagai salah satu anggota kaum moody, sulit bagiku menjelaskan mengenai apa itu puas, kecewa, bahagia, senang, sedih, atau apalah. Perasaanku mudah berubah, setelah tertawa-tawa bisa saja langsung cemberut, marah. Tapi, tak apalah. Sekali-kali menggali lebih dalam, me-retrieve lebih jauh memori untuk menemukan momen-momen apa yang membuatku perasaanku 'berwarna'.

Bahagia. Senang. Dua kata itu seakan beda rupa tapi sejatinya sama. Kita leburkan saja dua kata itu jadi satu, cukup bahagia saja. Boleh? Kalau ada yang tidak setuju, silakan tinggalkan halaman ini. Hehehe, arogan, yah!

Bahagia. Satu kata yang bisa jadi rumit sekaligus sederhana. Rumit, karena kadang kita "merepotkan" diri sendiri dengan membuat begitu banyak rumus dan formula untuk meraihnya. Sederhana, karena sesungguhnya ada banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia.

Jumat, 08 Juni 2012

APA? Poligami?

Madu itu enak. Manis. Menyehatkan. Aku sering meminumnya agar tidak mudah sakit. Nah, kalau dimadu? Hmm.. Hmm.. Enak tidak, yah? Hmm.. Menurutku, sih, pahit.

Eh, menikah saja belum, kok, sudah memikirkan tentang dimadu? Hehehe... Entah. Mungkin karena hal tersebut sering dibahas -- dan memang topik poligami sangat gurih untuk dibahas habis-habisan -- jadi hal itu sering terlintas di kepalaku.

Eh, tunggu! Poligami itu apa, sih? Selama ini seringkali kata poligami diartikan sebagai pernikahan di mana sang suami memiliki lebih dari satu istri. Padahal, seingatku dalam pelajaran waktu SMA disebutkan bahwa poligami adalah pernikahan di mana seseorang memiliki pasangan lebih dari satu. Jadi, satu suami memiliki lebih dari satu istri atau sebaliknya satu istri memiliki lebih dari satu suami, atau banyak istri memiliki banyak suami (ini yang paling 'mengerikan'). Sedangkan pernikahan di mana satu suami memiliki lebih dari satu istri disebut poligini dan pernikahan di mana satu istri memiliki lebih dari satu suami disebut poliandri. Jadi, kita gunakan istilah poligini saja dalam pembahasan selanjutnya (pembahasan? seperti seminar saja!).

Kamis, 31 Mei 2012

Indonesia Rasa Kacang!

Pernah mengalami mati lampu? Eh, ralat. Pernah mengalami listrik padam? Sering? Yang tinggal di luar Jawa mungkin agak akrab dengan mati lampu. Lalu bagaimana reaksi kita? Mungkin sebagian besar (termasuk aku) akan misuh-misuh, terutama ketika mati lampunya malam hari. Mungkin ada yang akan mengomel, “Kambing, nih, PLN. Gue lagi belajar malah mati lampu. Mana besok ujian pula. Semprul!” Atau mungkin ada yang mengomel, “Asem! Lagi seru-serunya nonton SFC lawan Persipura malah mati lampu!” Dan sebagian lain (yang sepertinya jumlahnya sedikit) memilih tidak banyak bicara dan langsung mencari lilin atau lampu minyak dan menyalakannya.

Mirip dengan reaksi masyarakat atas kondisi negara kita yang belum baik (sekali lagi ‘belum’, bukan ‘tidak’). Banyak – tapi bukan berarti kebanyakan – yang menanggapinya dengan misuh-misuh, menghujat (baik menghujat pemerintah maupun sesama warga negara), atau minimal mengeluh. Ini bisa dilihat dari komentar-komentar negatif di situs berita elektronik seperti detik.com. Contohnya untuk masalah pendidikan. Melihat minimnya tenaga pengajar di daerah pedalaman, mungkin banyak yang langsung menghujat pemerintah dan mengatakan pemerintah tidak becus mengatur negara. Berlawanan dengan sikap mereka yang banyak berkomentar dan mengeluh, ada beberapa anak bangsa yang justru sigap menyikapinya dengan tindakan langsung. Mereka langsung berusaha mengatasi masalah pendidikan dengan terjun ke pedalaman menjadi tenaga pengajar di sana. Salah beberapa dari mereka adalah pengajar muda dari Indonesia Mengajar yang ditempatkan di beberapa pelosok negeri. Ada juga yang sigap mengumpulkan buku untuk disumbangkan ke daerah tertinggal untuk menunjang pendidikan di sana. Juga tentang masalah kemiskinan. Ketika sebagian besar orang mencela kinerja pemerintah dalam mengurangi tingkat kemiskinan, ada sebagian anak bangsa yang mengumpulkan zakat untuk kemudian diberikan sebagai modal usaha bagi penduduk yang kurang mampu. Sungguh, empat jempol pun belum cukup untuk menunjukkan betapa salutnya aku pada mereka.

Senin, 28 Mei 2012

Misi Penyelamatan Dunia Kartun

Alert! Yang tidak suka anime mungkin akan “nggak nyambung” dengan cerita berikut.

Profesor Senbei

Arale

Kenapa wajahmu begitu besar
Banyak yang memanggilmu wajah besar
Bahkan di foto wajahmu tak terpotret semua karna wajahmu besar
Apapun usahamu... Wajah besar, wajah besar...
Walau keras upayamu... Wajah besar, wajah besar, wajah besaaar...
Tidaaaaak! [1]

“Hey, Arale!” teriak Profesor Senbei memanggil Arale, robot ciptaannya, yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya – meskipun Profesor Senbei sangat membenci lagu itu karena lagu itu adalah ejekan untuknya. “Bantu aku mengerjakan mesin ini,” lanjut Profesor Senbei.
“Oyoyo???” seperti bisa Arale memasang wajah polos – mungkin lebih tepatnya agak bodoh.
“Memangnya Profesor mau buat mesin apa? Kok, mirip mesin cuci?” tanya Arale sambil mengambilkan obeng yang ditunjuk Profesor Senbei.

Sambil memasang baut di mesin ciptaannya Profesor Senbei menjelaskan pada Arale. “Dunia kartun sedang dalam bahaya. Marishito semakin berambisi menguasai dunia. Setelah dia gagal menguasai dunia dengan ciptaan pertamanya, Karamel Man yang malah jadi naksir kamu, dia menciptakan robot bernama Korean Man yang sedang berusaha mencaplok wilayah kekuasaan kita di otak manusia. Dia menyebarkan virus K-Pop dan K-Drama. Kalau hal ini dibiarkan, tidak lama lagi kita akan terhalang untuk masuk otak manusia, dan dunia kita cuma di dalam televisi.”

Beberapa jam kemudian, Profesor Senbei selesai mengerjakan mesin ciptaan barunya. Ternyata itu adalah sebuah mesin cuci, eh, mesin lintas dimensi. Mesin ini akan digunakan untuk melakukan perjalanan ke dimensi lain. Profesor Senbei berniat mengirim Arale ke beberapa dimensi untuk menjemput para superhero agar berjuang bersama melawan Korean Man. Iya, benar, Profesor Senbei terinspirasi oleh film The Avengers yang ditontonnya di memori otak manusia yang sempat dijelajahinya.

Jumat, 25 Mei 2012

Episode Cita-Cita

“Kamu nanti kuliah mau ngambil jurusan apa?” tanya sang kakak pada adiknya.
Setelah berpikir sejenak sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
“Memangnya cita-citamu apa?” tanya sang kakak lagi.
Lagi lagi sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
Sang kakak pun kesal hingga kemudian berkata, “Orang hidup, kok, nggak punya cita-cita.”
Datar, tanpa tekanan, tapi kata-kata itu sudah menggoreskan luka yang bekasnya takkan hilang seumur hidup.

Benar apa yang di-sirat-kan oleh kakaknya adalah hal yang benar bahwa orang hidup seharusnya punya cita-cita. Tapi, sayangnya dia tidak tahu apa cita-citanya. Yang dia tahu selama ini hanyalah sekolah, mendapat rangking bagus, serta lulus dengan nilai memuaskan. Setelah itu? Sama sekali tak pernah ia pikirkan masak-masak.

Dia teringat masa kecilnya. Ketika kebanyakan anak kecil di-kudang oleh orang tuanya agar menjadi dokter, ayahnya justru ‘mencekokinya’ dengan cita-cita menjadi mubalighoh. Ayahnya ingin agar dia belajar ilmu agama lalu menjadi seorang penceramah. Anak kecil tentu saja masih sekadar menjawab ‘iya’ atas ‘arahan’ orangtuanya. Dia pun menyimpan cita-cita mulia menjadi mubalighoh. Setelah beranjak remaja, dia pun melupakan kudang-an ayahnya agar dia menjadi mubalighoh. Saat kelas enam SD dia justru sempat berkeinginan menjadi pemain band yang ahli memainkan berbagai alat musik: piano, gitar, drum, biola, dan sekaligus menjadi vokalisnya. Tapi, lagi-lagi keinginan itu cuma numpang lewat di kepalanya. Hal tersebut juga didukung jiwa premannya yang jauh lebih dominan dibandingkan jiwa religiusnya. Sebentar kemudian, sudah hilang cita-cita itu. Saat lulus SD, kakak tertuanya masuk kuliah di Fakultas Pertanian. Jiwa labilnya membuat dia bercita-cita untuk kuliah di fakultas yang sama dengan kakaknya kelak. Dan lagi-lagi, cita-cita itu numpang lewat. Seperti angin yang dengan mudah berhembus datang dan pergi. Dia menjalani hidup tanpa tahu kelak ingin menjadi apa, ingin kuliah di mana, ingin kerja sebagai apa. Dia hanya tahu sekolah dan bermain.

Jumat, 11 Mei 2012

Ubur-ubur dan Kuda Nil

“Eksaaaaak!!! Pinjem gitar, dong!” teriak Milla sambil menggedor-gedor pintu kamar Eksak.
Tanpa membuka pintu kamar, Eksak balas berteriak, “Ogah gue pinjemin gitar buat dedemit kaya elo!”
Brak! Milla langsung menendang pintu kamar Eksak. “Dasar! Kesemek medhit! Eh, enggak, ding! Elo bukan kesemek. Kalo kesemek, kan, putih, pake bedak. Nggak kaya elo, udah item, jelek, idup lagi!”

Jleb! Eksak tertegun. Ejekan Milla sangat menohok di ulu hatinya. Kenapa mesti mengungkit-ungkit masalah “hitam”??? Dia pun teringat pertanyaan yang kerap diajukan kawan-kawannya. “Serius kalian kembar? Dia putih gitu kaya Cina, elo item kaya tikus kecemplung got gitu. Mana mungkin kembar???” Kalau Milla sedang murka padanya, biasanya dia akan ‘pura-pura polos’ bertanya pada Mama, “Ma, dulu waktu kami bayi, ada pembangunan jalan aspal di komplek rumah nggak, sih?” Setelah Mama balik bertanya “Emangnya kenapa?”, dia akan mengeluarkan kartu AS-nya. “Yah, sapa tahu ada pembangunan jalan, trus pas Mama jalan-jalan gendong Eksak, nggak sengaja Eksak kecemplung ke drum aspal, makanya item,” katanya sambil melirik Eksak penuh kemenangan. Dan sayangnya, ejekan tersebut diperparah oleh jawaban Mamanya. “Eksak nggak item, kok. Cuman coklat pekat. Eh, ngomong-ngomong soal coklat, kayaknya, sih, Eksak coklat karena dulu Mama ngidam lapis legit. Kan, lapis legit itu warnanya kuning ama coklat, tuh! Kuningnya buat Milla, trus coklatnya buat Eksak!”