Tampilkan postingan dengan label Kesukuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesukuan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juli 2012

Kebanggaan yang Salah Kaprah

Tadi aku mengintip grup perkumpulan pemuda  kabupaten asalku di Facebook. Dan aku menemukan satu tulisan yang bunyinya lebih kurang begini: Menurutku Kecamatan A lebih baik dari Kecamatan B. Dan banyak yang berkomentar marah. Saat membacanya aku juga marah. Bukan Cuma karena kecamatan tempat tinggalku dicela. Aku lebih marah karena dia sudah menebarkan aroma permusuhan. Aku sudah sering melihat pernyataan satu suku yang merasa lebih baik, lebih terhormat, dan lebih beradab dibandingkan suku lain. Tapi, ini lebih parah. Sama sukunya, sama kabupatennya, cuma beda kecamatan saja sudah merendahkan yang lain. Aku bingung menyebutnya. Lebih sempit dari rasis, apa namanya?

Kalau di level sekecil itu saja sudah menciptakan permusuhan, bagaimana kabupaten kami akan maju? Dan kalau tiap kabupaten tidak bisa maju, bagaimana negara ini akan maju? Apa hubungannya sikap seperti itu terhadap kemajuan? Wow! Tentu sangat erat hubungannya. Kemajuan suatu negara harus dicapai dengan kerjasama. Tidak mungkin, kan, memajukan negara sementara cuma sekelompok orang yang ‘berjuang’? Nah, kalau salah satu kelompok sudah merendahkan kelompok lain, masih bisakah kerjasama dilaksanakan? Nyaris mustahil.
Mungkin ada yang menganggap kemarahanku berlebihan. Yah, kalau hanya sekali menemui makhluk seperti itu, sih, mungkin memang berlebihan. Tapi, ini adalah kali kesekian aku menghadapi orang yang menganggap kelompoknya (termasuk sukunya) lebih baik dari yang lain dan cenderung merendahkan kelompok lain. Primordialisme memang kadang diperlukan. Tapi, ketika berlebihan, bisa jadi pemicu permusuhan. Aku, sih, biasa saja kalau ada orang yang bangga dengan sukunya, juga bangga dengan budayanya. Aku juga tidak keberatan ketika ada orang yang bangga dengan daerahnya. Tapi, ketika kebanggaan itu berubah menjadi kesombongan, berubah menjadi sikap merendahkan pihak lain, that’s irritating!

Senin, 30 April 2012

Lampuki, Novel yang Membuatku Berpikir Negatif

Apakah kehadiranku di Aceh ini tidak disukai? Pertanyaan itu yang muncul ketika aku membaca novel Lampuki karya Arafat Nur. Kenapa tiba-tiba aku bertanya begitu? Karena dalam novel tersebut digambarkan bagaimana tokoh-tokohnya tidak menyukai pendatang dari Jawa. Dan aku orang Jawa, meskipun dalam sekilas pandang banyak orang yang terkecoh dan menduga aku bukan orang Jawa. Otomatis, aku berpikir bahwa kalau orang Aceh tahu aku orang Jawa, mereka tidak akan menyukai keberadaanku di antara mereka.

Jujur, ketika membaca novel ini, aku merasa terusik, tersinggung, marah, dan entah apa lagi rasa yang mucul. Ada sedikit rasa sesal sudah membeli dan membacanya. Aku tergoda membeli novel ini karena temanku Karzel pernah memuji novel ini. Tapi ternyata aku justru kecewa membacanya dan, maaf, tidak bisa memberikan pujian.