Sabtu, 30 Juni 2012

Wisata Budaya, dari Dies Natalis sampai Perantauanku

Sewaktu kuliah dulu, setiap ulang tahun kampus (Dies Natalis) selalu ada acara semacam pentas seni. Ada banyak stand dari tiap himada (himpunan mahasiswa daerah). Berhubung mahasiswa di kampus kami berasal dari berbagai penjuru Indonesia, stand-nya pun mewakili berbagai daerah tersebut. Desain bangunannya kadang mirip rumah adat atau yang mencerminkan daerah asal para mahasiswa. Di stand tersebut, dijual makanan khas masing-masing daerah. Di stand mahasiswa asal Jawa Barat ada cimol, moci, dan jajanan lainnya. Di stand mahasiswa asal Riau ada mie sagu. Di stand Kalimantan ada soto Banjar. Di stand Palembang ada pempek. Pokoknya, keliling stand sudah berasa keliling Indonesia. Ditambah lagi, biasanya ada mahasiswa yang didandani menggunakan busana daerahnya. Jadi, momen Dies Natalis ini benar-benar seperti Taman Mini Indonesia Indah yang lebih mini, hehehe... Sayangnya dulu sewaktu kuliah aku tidak punya banyak uang, jadi tidak bisa wisata kuliner sepuasnya. Cuma bisa membeli cimol dan mie sagu. Untungnya ada teman yang baik yang mau berbagi jajanan yang dia beli.

Selain wisata kuliner, yang ditunggu-tunggu adalah penampilan masing-masing himada dalam pentas. Biasanya, sih, yang ditampilkan tarian. Pernah juga ada yang menampilkan parodi cerita daerah. Kalau tidak salah parodi cerita Banyuwangi, yang mestinya sad ending tapi malah jadi happy ending. Dari sekian banyak tarian, ada tarian dari dua daerah yang paling menarik, yaitu tarian persembahan mahasiswa asal Maluku dan Papua serta mahasiswa asal Aceh. Mahasiswa asal Papua dan Maluku mempersembahkan tari apa, ya? Aku lupa namanya. Yang jelas tarian asal Maluku itu seperti permainan anak Pramuka. Kira-kira seperti gambar di bawah ini. Hanya saja, penarinya ada empat orang jadi lebih heboh, ditambah musik yang rancak.

gambar pinjam dari gopego.com

Jumat, 29 Juni 2012

Semua Tentang Cinta

Ketika dua anak manusia bicara tentang cinta, bagaimana pembahasan mereka? Mungkin bila orang biasa, pembahasannya akan cenderung romantis. Namun, ketika yang berbincang adalah dua makhluk jenius (dengan definisi "jenius beda tipis dengan gila"), yang timbul adalah diskusi yang sangat filosofis, penuh dengan pemahaman yang sulit dijangkau nalar orang biasa, penuh logika yang membuat orang lain terpukau, tercengang, terpaku (emang kuntilanak?), termehek-mehek, ups, yang terakhir ini nggak banget!

Begitulah yang terjadi ketika tadi pagi aku membuat status Facebook begini: Love is You. Cinta adalah Kamu. Kata orang cinta itu buta. Jadi, kamu buta? *silogisme ngawur* Kawanku, sebut saja Ndayu, langsung merespon begini: Cinta itu gila...jadi kamu gila? Cinta itu tak ada logika... Jadi kamu tak punya logika? Benar-benar respon yang cerdas!!! Pembicaraan pun bergulir. Berikut ini printscreen pembicaraan dahsyat kami:

9 Matahari: Membosankan tapi Tetap Mendidik


Gambar dari sini

Aku membeli novel 9 Matahari ini bulan September tahun lalu. Cuma karena melihat tulisan BEST SELLER dan melihat testimoni para pembaca di sampul belakangnya, aku langsung memutuskan membelinya. Selain itu, aku memang sedang keranjingan novel tentang perjuangan seseorang dalam kuliah. Ditambah lagi, di sampulnya ada tulisan Nominasi Khatulistiwa Award untuk Penulis Muda Berbakat Tahun 2009. Waktu melihatnya sekilas, kukira tulisan mendapatkan award, tapi ternyata baru nominasi, hehehe...

Setelah aku membaca beberapa halaman, ternyata aku tidak terlalu tertarik. Membosankan. Entah karena gaya bahasanya yang terlalu datar, entah karena ceritanya yang terlalu ‘panjang’. ‘Panjang’ di sini maksudku bukan dari segi tebalnya buku, banyaknya kata, ataupun banyaknya bab. ‘Panjang’ di sini maksudnya isi cerita. Entah kenapa aku merasa novel ini terlalu ‘ngalar-ngalar’ dan bertele-tele. Mungkin karena ceritanya seperti orang curhat. Alhasil, siklus yang terjadi adalah baca-bosan-tutup-baca-bosan-tutup. Begitulah. Beberapa kali aku mencoba membaca novel ini dan berhenti di tengah jalan. Hingga akhirnya aku kehabisan bacaaan dan tergoda untuk menamatkan novel ini. Dan... TAMAT!

Senin, 25 Juni 2012

Giveaway Azzet: Ketika Bertemu Blogger Nyolot

Ada banyak karakter bloggerwan dan bloggerwati yang bergentayangan di blogosphere. Ada yang baik hati, penyabar, cerdas, penuh inspirasi, suka bagi-bagi uang -- eh, yang terakhir ini tidak termasuk -- pokoknya sifatnya dominan baiknya. Ada yang lucu, seru, absurd, pokoknya tulisannya bisa mengocok perut (emangnya mixer?). Ada juga yang biasa-biasa saja, tidak keren, tulisannya tidak terlalu menginspirasi, istilahnya blogger jelata, lah. Nah, aku termasuk tipe kedua ini. Ada lagi bloggerwan dan bloggerwati yang nyolot, suka mencela, menghujat, pokoknya kalau aku membaca tulisannya atau komentarnya serasa ingin menjedot-jedotkannya ke tembok. Bikin bludreg!

Kalau 'bertemu' dengan bloggerwan/wati tipe pertama, rasanya itu indah. Aku bisa mendapat wawasan baru, mendapat teman baru yang menyenangkan. Banyak informasi, nasihat, dan tips yang bisa didapatkan. Kalau bloggerwan/wati tipe ini berkunjung balik ke blog-ku, biasanya komentarnya sopan, kalaupun mereka tidak sependapat dengan artikelku, komentar mereka tetap sopan. Kalau 'bertemu' bloggerwan/wati tipe kedua, biasanya sakit perut karena terus tertawa. Bloggerwan/wati tipe ini patut diwaspadai karena bisa membuat kita bertingkah seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri bahkan ngakak sendirian, hehehe.. Kalau 'bertemu' tipe ketiga, biasa saja. Naaah, tipe keempat ini yang perlu dihindari. Dua kali aku 'bertemu' bloggerwan nyolot. Aku tidak berkunjung ke blog-nya makhluk nyolot itu tapi cuma kebetulan sama-sama mengomentari artikel yang sama.

"Cinta Sejati"-nya Tetangga Sebelah


Gambar pinjam dari
http://karya-azraaryriesa.blogspot.com
 “Zarif, kau sibuk ke sekarang ni?”
Zarif yang sibuk menulis di mejanya segera mendongak. Wajah Baharin yang tersembul dari balik pintu dipandang sekilas. Dia mendengus kecil sebelum mengurut dadanya perlahan-lahan.
“Kalau iya pun Baha, bagilah salam dulu. Terkejut aku,” ujar Zarif, menggeleng beberapa kali. Kemudian dia tunduk semula menyambung kerjanya yang terhenti.

Membaca halaman awal novel ini membuatku bingung. Sepertinya ada yang tidak normal. Kuteruskan membacanya. Kemudian aku menemukan kata ‘kat’ yang menguatkan kecurigaanku. Beuh! Ini, sih, bukan novel Indonesia! Langsung kuperiksa halaman keterangan buku. Heuheuheu... Ternyata novel tetangga. Itu, tuh... Malaysia.

Aku pun memutuskan untuk melanjutkan membaca novel hadiah giveaway-nya Eksak ini. Dengan satu pesan untuk diri sendiri: SIAP-SIAP ROAMING! Maklum, selama membaca tulisan blogger Malaysia, selalu berujung pertanyaan, “Ini ngomongin apaan, sih?”. Atau pertanyaan, “Eh, kosakata ini artinya apa?” Tapi, ternyata bahasa dalam novel ini tidak terlalu roaming. Yeah, tolong dicatat: tidak terlalu. Jadi, masih ada roaming-nya, hehehe... Setidaknya memahami novel ini tidak sesulit memahami tulisan blogger Malaysia. Mungkin karena dalam blog orang cenderung menggunakan bahasa gaul atau prokem atau slang yang tentunya berbeda antarnegara.

Magnitudo 9: Kumpulan Kisah Inspiratif Pascabencana Jepang 2011

Buku dan kartu pos dari Mbak Yustha TT

Buku Magnitudo 9 ini hadiah giveaway dari Mbak Yustha TT. Buku ini merupakan hasil kerjasama antara Fahima (Forum Silaturahmi Muslimah) Jepang dan FLP (Forum Lingkar Pena) Jepang. Ternyata ada FLP di Jepang, toh... Baru tahu aku, hehehe... Awalnya aku mengira isinya pengalaman orang-orang Jepang yang mengalami gempa pada tahun 2011 silam. Ternyata, kontributor buku ini sebagian besar orang-orang Indonesia yang sedang tinggal di Jepang dan mengalami gempa tersebut. Setahuku cuma satu kontributor dari Jepang. Dari sekian banyak nama kontributor buku ini, ada satu penulis populer yang sudah banyak menelurkan (emangnya ayam?), maksudku menerbitkan buku. Penulis itu adalah Shofwan Al Banna. Dan tulisannya dalam buku ini termasuk favoritku. Dalam tulisannya dia menceritakan perbandingan cara media memberitakan bencana di negerinya masing-masing. Media Indonesia langsung memainkan lagu-lagu sendu seperti lagunya Ebiet G Ade dan mengekspos penderitaan yang menyayat hati serta menampilkan gambar mayat berserakan. Sedangkan media lebih sering membahas aspek penanggulangannya, seperti kondisi terakhir, daftar orang yang hilang, nomor yang harus dihubungi oleh korban atau keluarga korban, prediksi gempa susulan, serta informasi lainnya. Shofwan juga menceritakan bahwa di tengah kekhawatiran, masyarakat Jepang lebih memilih untuk memelihara optimisme. “Dulu juga Jepang pernah kena bom atom, kalah perang, dan miskin – kondisi yang jauh lebih parah dari ini” demikian kalimat yang dikutip Shofwan. Sejalan dengan motto Shofwan yang selalu percaya bahwa “kegelapan ada bukan untuk dikutuk tapi untuk dicahayai”. Optimisme yang juga sesuai dengan ayat Al-Qur’an: Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Optimisme dan positive thinking inilah yang perlu kita tiru.

Jumat, 22 Juni 2012

Mata Melek, Endhas Gundhul Diseriti!

Warning! Akeh istilah sing kurang sopan nang tulisan kiye.

"Mata melek, oh! Endhas gundhul diseriti!" jare ibune aku. Pancen yen aku lagi nggoleti barang terus jebule barange ana nang ngarepane aku dhewek langsung diomongi kaya kuwe. Endhas, eh, sirah gundhul yen diseriti pimen rasane? Pedes nemen, lah... Ledhes kabeh. Eh, ngko ndhisit. Pada ngarti serit belih? Kanca SMP-ku gemiyen ora pada ngarti, lho... Eram aku. Serit kuwe sejenis jungkat, garu, atawa Bahasa Indonesiane sisir, tapi rapet nemen. Biasane dinggo nggo nggoleti tuma. Kyeh, gambare:
Gmbar nyilih nang kene

Aku ilon-ilon ngomong kaya kuwe maring batire aku. Eh, pada ilon-ilon. Dadine ya istilah "mata-melek-oh-endhas-gundhul-diseriti" dadi terkenal.

Adil dalam Kasih Sayang

Seorang adik sedang bersama kakak tertuanya, sebuat saja Mbak A. Setelah obrolan panjang lebar, tiba-tiba sang kakak berkata, "Si I, tuh, enak. Anak kesayangan ibu." Di lain waktu, sang adik bersama dengan kakak keduanya, Mbak I. Saat sedang bersama-sama mengeluh, Mbak I berkata, "Bapak, mah, lebih sayang sama Mbak A. Kalo dia salah, nggak pernah dimarahin. Marahnya malah sama kita." Sang adik pun diam. Yang ada di kepalanya sama dengan kedua kakaknya. Namun, dia punya keluhan yang lebih parah dari kedua kakaknya. Mbak A anak kesayangan Bapak, Mbak I anak kesayangan Ibu, Dek F anak kesayangan Bapak dan Ibu, dan aku bukan anak kesayangan Bapak ataupun Ibu, begitu pikirnya.

Kejadian di atas benar-benar ada. Dan kejadian di atas terlintas setelah membaca tulisan Pakdhe Abdul Cholik tentang bersikap adil kepada anak-anak. Dalam tulisan itu disebutkan hadits mengenai bersikap adil. Berikut ini hadits-nya:
Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a, ia berkata, “Ayahku memberikan sebagian hartanya kepadaku, lalu ibuku Amrah binti Rahawah berkata, “Saya tidak rela sehingga kau persaksikan kepada Rasulullah Saw. Lalu ayahku dan aku pergi kepada Nabi Saw untuk mempersaksikan pemberian kepadaku tersebut, kemudian Rasullulah Saw bertanya kepada ayahku: ”Apakah kau lakukan pemberian itu kepada semua anakmu?”.
Ayahku menjawab: ”Tidak“. Rasulullah Saw bersabda: ”Jangan lakukan! Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah dengan adil terhadap anak-anakmu!” Kemudian ayahku pulang lalu menarik kembali pemberian tersebut. (HR. Muslim).

Kamis, 21 Juni 2012

Ada Udang Di Balik Batu, Ada Pamrih Di Balik Komentar

Sudah beberapa kali aku mendapat komentar di blog ini yang isinya lebih kurang: ditunggu kunjungan baliknya, ditunggu folbeknya (folbek = follow back). Entah kenapa rasanya risih membaca komentar tersebut. Serasa 'dipaksa' berkunjung dan follow blog mereka. Terlebih lagi, komentar mereka cuma itu, tidak mengomentari tulisanku. Dan kadang aku curiga mereka tidak membaca tulisanku dan langsung komentar seperti itu. Maaf kalau su'uzhon.

Tidak bisa dipungkiri, ketika berkomentar di blog orang aku pun berharap mereka akan berkunjung ke blog-ku, membaca tulisanku, lalu mengomentarinya. Namun, aku tidak berkomentar "ditunggu kunjungan baliknya" karena aku tidak ingin mereka merasa 'dipaksa' mengunjungi blog-ku. Aku berusaha membaca tulisan mereka dan berkomentar yang (agak) nyambung dengan tulisan mereka. Kalau tulisan terbaru tidak menarik bagiku, aku tidak memaksakan diri untuk berkomentar. Kalau aku benar-benar tergoda untuk meninggalkan jejak di sana, aku akan ngubek-ubek blog tersebut dan mencari-cari tulisan yang menarik lalu meninggalkan komentar di sana.

Selasa, 19 Juni 2012

Bahasa Pemersatu, Bahasa yang Sangat Indonesia

Waktu itu aku iseng membaca undangan buka puasa bersama KAJABA -- perkumpulan mahasiswa asal Jawa Barat di kampusku. Undangan tersebut ditulis dalam Bahasa Sunda. Aku mencoba mengartikannya dan 'memamerkannya' pada kawanku -- pemilik undangan tersebut. Saat aku menemukan kata 'dina' aku dengan percaya diri mengartikannya 'hari' sebagaimana arti kata 'dina' dalam Bahasa Jawa. Dia pun menjelaskan padaku bahwa dalam Bahasa Sunda kata 'dina' berarti 'di' sedangkan kata 'hari' itu Bahasa Sundanya 'dinten'. Hihihi, jadi malu... Jadi, teringat zaman masih kecil. Waktu itu kami sedang panen jambu air. Ketika Budhe-ku makan jambu air tersebut, dia berkomentar, "Amis." Kami pun bingung. Kok, bisa bau amis? Budhe makan jambu apa makan ikan, sih? Ternyata 'amis' itu dalam Bahasa Sunda artinya manis. Kemudian, aku membaca di majalah Bobo mengenai kosa kata yang sama dalam Bahasa Jawa dan Sunda tapi artinya beda, yaitu gedang. Kalau orang Jawa disuruh membawa gedang, yang akan dibawa adalah pisang. Sedangkan kalau orang Sunda, yang akan dibawa adalah pepaya.

Ada lagi. Aku dulu suka menceritakan lelucon ini pada kawanku.
A (orang Sunda):  *mengantri toilet* Atos? (Sudah?)
B (orang Jawa Pantura): *di dalam toilet* Atos apane!!! Wong mencret, ka! (Keras apanya!!! Orang mencret, kok!)
Iya, dalam Bahasa Sunda 'atos' berarti 'sudah' sedangkan dalam Bahasa Jawa berarti 'keras'. Masih ada yang lebih lucu lagi. Aku menemukan lelucon ini di blognya Kang Rawins. Lelaki Sunda menikah dengan perempuan Jawa. Sang suami berkata kepada istrinya, "Sayang, cokot baud (Sayang, ambil baut)" Dan apa yang dilakukan istrinya? Kalau dia patuh, dia akan menggigit baut seperti yang diminta suaminya. Kalau dia tipikal pemberontak, dia pasti sudah mencak-mencak. Kenapa? Karena dalam Bahasa Jawa 'cokot' itu artinya 'gigit'.

Jumat, 15 Juni 2012

Rindu Purnama, antara Novel dan Film

Judul novel ini Rindu Purnama. Mirip dengan judul film? Iya, novel ini memang adaptasi dari skenario film tersebut. Namun, lebih rumit dibandingkan filmnya. Ada bumbu yang ditambah-tambahi, juga ada tambahan beberapa tokoh yang membuat ceritanya agak berbeda dengan filmnya.

Novel ini bercerita tentang Imas, gadis kecil yang merantau ke Jakarta menjadi penjual koran. Setelah penerbit koran tersebut bangkrut, Imas pun jadi anak jalanan dan tinggal di rumah singgah. Di rumah singgah inilah dia bertemu dengan Bondan lalu bertemu Gaj Ahmada, lelaki yang memanggilnya "Rindu". Ya, tokoh Gaj ini tidak ada dalam skenario filmnya. Dan setahuku di filmnya pun tidak diceritakan bahwa Rindu sebenarnya bernama Imas.

Cerita bergulir. Gaj pergi. Entah kemana. Lalu, muncul Sarah. Dia yang 'menggantikan' peran Gaj 'mendidik' para anak jalanan di rumah singgah. Ketika Rindu tengah dikejar petugas berpentungan (mungkin kamtib), dia tertabrak mobil milik Surya, seorang eksekutif muda. Dia pun menyuruh sopirnya membawa Rindu ke rumah sakit. Dan ternyata, setelah dibawa ke rumah sakit, Rindu dibawa ke rumah Surya, alih-alih diantar ke rumahnya sendiri. Terus? Terus? Terus, ternyata Rindu ini hilang ingatan akibat tertabrak tadi, jadi dia tidak ingat di mana tempat tinggalnya sehingga tidak bisa diantar pulang. Begono... Bahkan, Rindu pun tidak ingat namanya sendiri. Hingga kemudian Pak Pur -- sopirnya Surya -- memberinya nama Purnama.

Kamis, 14 Juni 2012

Menikmati Bahagia

Sebagai salah satu anggota kaum moody, sulit bagiku menjelaskan mengenai apa itu puas, kecewa, bahagia, senang, sedih, atau apalah. Perasaanku mudah berubah, setelah tertawa-tawa bisa saja langsung cemberut, marah. Tapi, tak apalah. Sekali-kali menggali lebih dalam, me-retrieve lebih jauh memori untuk menemukan momen-momen apa yang membuatku perasaanku 'berwarna'.

Bahagia. Senang. Dua kata itu seakan beda rupa tapi sejatinya sama. Kita leburkan saja dua kata itu jadi satu, cukup bahagia saja. Boleh? Kalau ada yang tidak setuju, silakan tinggalkan halaman ini. Hehehe, arogan, yah!

Bahagia. Satu kata yang bisa jadi rumit sekaligus sederhana. Rumit, karena kadang kita "merepotkan" diri sendiri dengan membuat begitu banyak rumus dan formula untuk meraihnya. Sederhana, karena sesungguhnya ada banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia.

Jumat, 08 Juni 2012

APA? Poligami?

Madu itu enak. Manis. Menyehatkan. Aku sering meminumnya agar tidak mudah sakit. Nah, kalau dimadu? Hmm.. Hmm.. Enak tidak, yah? Hmm.. Menurutku, sih, pahit.

Eh, menikah saja belum, kok, sudah memikirkan tentang dimadu? Hehehe... Entah. Mungkin karena hal tersebut sering dibahas -- dan memang topik poligami sangat gurih untuk dibahas habis-habisan -- jadi hal itu sering terlintas di kepalaku.

Eh, tunggu! Poligami itu apa, sih? Selama ini seringkali kata poligami diartikan sebagai pernikahan di mana sang suami memiliki lebih dari satu istri. Padahal, seingatku dalam pelajaran waktu SMA disebutkan bahwa poligami adalah pernikahan di mana seseorang memiliki pasangan lebih dari satu. Jadi, satu suami memiliki lebih dari satu istri atau sebaliknya satu istri memiliki lebih dari satu suami, atau banyak istri memiliki banyak suami (ini yang paling 'mengerikan'). Sedangkan pernikahan di mana satu suami memiliki lebih dari satu istri disebut poligini dan pernikahan di mana satu istri memiliki lebih dari satu suami disebut poliandri. Jadi, kita gunakan istilah poligini saja dalam pembahasan selanjutnya (pembahasan? seperti seminar saja!).

Rabu, 06 Juni 2012

Melawan Arus

Beberapa hari lalu aku membeli komik saku Paman Gober edisi 153: Perjalanan Para Pencari Emas. Di cerita pertama yang berjudul sama, Paman Gober bercerita kepada Kwak, Kwik, dan Kwek tentang salah satu pengalamannya dalam mencari emas. Kala itu Gober muda sedang mencari emas di sungai Bonanza di Klondike bersama kawannya Niko Kobo dan Luna, pacar Niko. Gober berhasil menemukan sebongkah emas. Dia pun memberi tahu Niko dan Luna. Lalu dia menyuruh Niko dan Luna mengurus ijin untuk menambang emas di sungai tersebut. Ketika Niko berniat mendaftarkan atas nama Gober, dia pun menolak. Satu hal yang aneh menurutku karena seorang yang 'serakah' seperti Gober tidak mungkin menolak kesempatan untuk mendapatkan ijin semacam itu. Gober hanya mengambil sepuluh bongkah emas. Cuma sepuluh? Iya. Padahal sungai itu bisa dibilang dipenuhi oleh emas, tapi kenapa cuma sepuluh yang diambil Gober?

Usul Untuk Produsen Sepeda Motor

Sebagai seorang pengendara sepeda motor yang baru berkecimpung di dunia per-sepedamotor-an selama setahun, tentunya aku menghadapi banyak kendala. Mulai dari buru-buru mencari kunci sampai terjebak hujan deras. Oleh karena itu, aku ingin memberi usul -- atau lebih tepatnya request -- kepada para produsen sepeda motor.

1. Kunci sepeda motor yang bisa di-misscall
Bagi makhluk dengan daya ingat jangka pendek yang rendah, tentunya sulit menemukan kunci sepeda motor dalam waktu singkat ketika sedang terburu-buru. Salah satu solusinya adalah kunci sepeda motor yang bisa di-misscall jadi bisa dideteksi keberadaannya dari bunyinya.

2. Helm dengan wiper
Mengendarai sepeda motor ketika hujan adalah hal yang sulit. Terlebih ketika air hujan sudah mulai membasahi kaca helm. Pandangan mata pun terganggu. Mengelap kaca helm dengan tangan berkali-kali adalah hal yang tidak efisien. Jadi, salah satu solusinya adalah dengan memasang wiper di kaca helm. Jadi, ketika titik-titik air hujan di kaca helm sudah mulai mengganggu pandangan mata, wiper bisa diaktifkan. Pandangan mata pun bebas dari gangguan titik-titik air hujan.

3. Lampu sen otomatis
Banyak pengendara sepeda motor yang lupa menyalakan lampu sen ketika hendak belok kiri atau kanan. Hal ini bisa berakibat fatal terutama ketika hendak menyeberang. Untuk itu perlu diberi sensor, ketika mobil belok kanan atau kiri minimal sekian derajat, lampu sen otomatis menyala.

Untuk saat ini, cukup tiga hal ini saja yang bisa kuusulkan. Semoga dibaca oleh para produsen sepeda motor dan direalisasikan. Ada ide lain dari teman-teman?

Kamis, 31 Mei 2012

Indonesia Rasa Kacang!

Pernah mengalami mati lampu? Eh, ralat. Pernah mengalami listrik padam? Sering? Yang tinggal di luar Jawa mungkin agak akrab dengan mati lampu. Lalu bagaimana reaksi kita? Mungkin sebagian besar (termasuk aku) akan misuh-misuh, terutama ketika mati lampunya malam hari. Mungkin ada yang akan mengomel, “Kambing, nih, PLN. Gue lagi belajar malah mati lampu. Mana besok ujian pula. Semprul!” Atau mungkin ada yang mengomel, “Asem! Lagi seru-serunya nonton SFC lawan Persipura malah mati lampu!” Dan sebagian lain (yang sepertinya jumlahnya sedikit) memilih tidak banyak bicara dan langsung mencari lilin atau lampu minyak dan menyalakannya.

Mirip dengan reaksi masyarakat atas kondisi negara kita yang belum baik (sekali lagi ‘belum’, bukan ‘tidak’). Banyak – tapi bukan berarti kebanyakan – yang menanggapinya dengan misuh-misuh, menghujat (baik menghujat pemerintah maupun sesama warga negara), atau minimal mengeluh. Ini bisa dilihat dari komentar-komentar negatif di situs berita elektronik seperti detik.com. Contohnya untuk masalah pendidikan. Melihat minimnya tenaga pengajar di daerah pedalaman, mungkin banyak yang langsung menghujat pemerintah dan mengatakan pemerintah tidak becus mengatur negara. Berlawanan dengan sikap mereka yang banyak berkomentar dan mengeluh, ada beberapa anak bangsa yang justru sigap menyikapinya dengan tindakan langsung. Mereka langsung berusaha mengatasi masalah pendidikan dengan terjun ke pedalaman menjadi tenaga pengajar di sana. Salah beberapa dari mereka adalah pengajar muda dari Indonesia Mengajar yang ditempatkan di beberapa pelosok negeri. Ada juga yang sigap mengumpulkan buku untuk disumbangkan ke daerah tertinggal untuk menunjang pendidikan di sana. Juga tentang masalah kemiskinan. Ketika sebagian besar orang mencela kinerja pemerintah dalam mengurangi tingkat kemiskinan, ada sebagian anak bangsa yang mengumpulkan zakat untuk kemudian diberikan sebagai modal usaha bagi penduduk yang kurang mampu. Sungguh, empat jempol pun belum cukup untuk menunjukkan betapa salutnya aku pada mereka.

Senin, 28 Mei 2012

Misi Penyelamatan Dunia Kartun

Alert! Yang tidak suka anime mungkin akan “nggak nyambung” dengan cerita berikut.

Profesor Senbei

Arale

Kenapa wajahmu begitu besar
Banyak yang memanggilmu wajah besar
Bahkan di foto wajahmu tak terpotret semua karna wajahmu besar
Apapun usahamu... Wajah besar, wajah besar...
Walau keras upayamu... Wajah besar, wajah besar, wajah besaaar...
Tidaaaaak! [1]

“Hey, Arale!” teriak Profesor Senbei memanggil Arale, robot ciptaannya, yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya – meskipun Profesor Senbei sangat membenci lagu itu karena lagu itu adalah ejekan untuknya. “Bantu aku mengerjakan mesin ini,” lanjut Profesor Senbei.
“Oyoyo???” seperti bisa Arale memasang wajah polos – mungkin lebih tepatnya agak bodoh.
“Memangnya Profesor mau buat mesin apa? Kok, mirip mesin cuci?” tanya Arale sambil mengambilkan obeng yang ditunjuk Profesor Senbei.

Sambil memasang baut di mesin ciptaannya Profesor Senbei menjelaskan pada Arale. “Dunia kartun sedang dalam bahaya. Marishito semakin berambisi menguasai dunia. Setelah dia gagal menguasai dunia dengan ciptaan pertamanya, Karamel Man yang malah jadi naksir kamu, dia menciptakan robot bernama Korean Man yang sedang berusaha mencaplok wilayah kekuasaan kita di otak manusia. Dia menyebarkan virus K-Pop dan K-Drama. Kalau hal ini dibiarkan, tidak lama lagi kita akan terhalang untuk masuk otak manusia, dan dunia kita cuma di dalam televisi.”

Beberapa jam kemudian, Profesor Senbei selesai mengerjakan mesin ciptaan barunya. Ternyata itu adalah sebuah mesin cuci, eh, mesin lintas dimensi. Mesin ini akan digunakan untuk melakukan perjalanan ke dimensi lain. Profesor Senbei berniat mengirim Arale ke beberapa dimensi untuk menjemput para superhero agar berjuang bersama melawan Korean Man. Iya, benar, Profesor Senbei terinspirasi oleh film The Avengers yang ditontonnya di memori otak manusia yang sempat dijelajahinya.

Jumat, 25 Mei 2012

Episode Cita-Cita

“Kamu nanti kuliah mau ngambil jurusan apa?” tanya sang kakak pada adiknya.
Setelah berpikir sejenak sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
“Memangnya cita-citamu apa?” tanya sang kakak lagi.
Lagi lagi sang adik hanya menjawab, “Nggak tahu.”
Sang kakak pun kesal hingga kemudian berkata, “Orang hidup, kok, nggak punya cita-cita.”
Datar, tanpa tekanan, tapi kata-kata itu sudah menggoreskan luka yang bekasnya takkan hilang seumur hidup.

Benar apa yang di-sirat-kan oleh kakaknya adalah hal yang benar bahwa orang hidup seharusnya punya cita-cita. Tapi, sayangnya dia tidak tahu apa cita-citanya. Yang dia tahu selama ini hanyalah sekolah, mendapat rangking bagus, serta lulus dengan nilai memuaskan. Setelah itu? Sama sekali tak pernah ia pikirkan masak-masak.

Dia teringat masa kecilnya. Ketika kebanyakan anak kecil di-kudang oleh orang tuanya agar menjadi dokter, ayahnya justru ‘mencekokinya’ dengan cita-cita menjadi mubalighoh. Ayahnya ingin agar dia belajar ilmu agama lalu menjadi seorang penceramah. Anak kecil tentu saja masih sekadar menjawab ‘iya’ atas ‘arahan’ orangtuanya. Dia pun menyimpan cita-cita mulia menjadi mubalighoh. Setelah beranjak remaja, dia pun melupakan kudang-an ayahnya agar dia menjadi mubalighoh. Saat kelas enam SD dia justru sempat berkeinginan menjadi pemain band yang ahli memainkan berbagai alat musik: piano, gitar, drum, biola, dan sekaligus menjadi vokalisnya. Tapi, lagi-lagi keinginan itu cuma numpang lewat di kepalanya. Hal tersebut juga didukung jiwa premannya yang jauh lebih dominan dibandingkan jiwa religiusnya. Sebentar kemudian, sudah hilang cita-cita itu. Saat lulus SD, kakak tertuanya masuk kuliah di Fakultas Pertanian. Jiwa labilnya membuat dia bercita-cita untuk kuliah di fakultas yang sama dengan kakaknya kelak. Dan lagi-lagi, cita-cita itu numpang lewat. Seperti angin yang dengan mudah berhembus datang dan pergi. Dia menjalani hidup tanpa tahu kelak ingin menjadi apa, ingin kuliah di mana, ingin kerja sebagai apa. Dia hanya tahu sekolah dan bermain.

Rabu, 23 Mei 2012

Setahun Lembaran Baru

23 Mei 2011 - 23 Mei 2012

Sudah setahun usia blog ini. Iya, tanggal 23 Mei 2011 adalah kali pertama aku kembali ke blogosphere. Blog berjudul Hari Baru, Lembaran Baru ini seperti sebuah harapan untuk memulai dari awal, menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Menutup cerita sedih di blog lama dan memulai kembali cerita baru di blog baru. Dengan harapan, blog baruku ini akan penuh harapan, cerita lucu, menyenangkan, inspiratif, pokoknya jauh dari kata sedih. Sebagaimana yang kuceritakan di tulisan pertamaku.

Ibarat anak kecil, masih belajar berdiri, pelan-pelan berjalan, belum lancar bicara. Begitu pula blog ini. Tulisannya masih belum 'matang', masih kerap dipenuhi emosi, masih belum bisa memilih kata-kata yang tepat dan menarik. Masih belum bisa memberi hikmah bagi yang membaca blog ini. Tapi, anak umur setahun, kan, lagi lucu-lucunya. Jadi, blog ini juga lagi lucu-lucunya. Lucu, imut, ngegemesin, hehehe...

Di umur yang setahun ini, aku sudah 'menyampah' di blogosphere dan menyumbangkan sampah sebanyak 157 tulisan, yang sebagian besar isinya curhat, hehehe... Selain curhat, banyak tulisanku yang kuikutkan kontes atau giveaway. Sampai-sampai aku merasa seperti banci giveaway. Dan Alhamdulillah sudah beberapa kali menang meskipun lebih banyak kalahnya. Tapi... Kok, hadiah giveaway dari Mbak Titik dan dari Jay belum sampai, ya??? Banyak juga cerita dan foto-foto pamer sebagai dokumentasi kegiatan jalan-jalanku. Yang dipajang memang yang bagus-bagus. Mana mungkin aku memajang foto pantai atau sungai yang jelek di blog yang cantik ini? Di umur setahun ini juga follower blog ini sudah mencapai 73. Sungguh angka yang tidak terduga. Beberapa waktu lalu, ketika follower blog ini mencapai 50 orang sebenarnya aku ingin membuat posting-an FOLLOWER EMAS. Tapi, tidak jadi. Terus ditunda sampai follower semakin banyak. Saat ada posting-an yang komentarnya mencapai 50 pun aku ingin membuat posting-an KOMENTAR EMAS. Lagi-lagi tidak jadi.

Senin, 21 Mei 2012

Pantai Barat (Lagi)

Hari Rabu, 16 Mei 2012 lalu aku menghadiri acara resepsi pernikahan kawan kantor di Samadua, Aceh Selatan. Oooh, jadi kali ini posting tentang pernikahan? Bukaaan! Tentang upacara adat dalam pernikahan? Bukan jugaaa! Kali ini aku cuma mau pamer foto-foto gagal yang diambil dari atas sepeda motor. Wow, naik motor sambil memotret? Yah, bukan aku yang mengendarai, aku cuma MBONCENG!

Sebelum pamer, aku cerita dulu. Pagi itu aku dengan percaya diri memakai seragam kantor karena kata kawanku kami memang disuruh memakai seragam saja. Nah, berhubung seragamku itu tidak ada yang memakai celana panjang alias rok semua, aku pun memakai rok. Di kantor orang-orang langsung berkata lebih kurang begini, "Naik motor ke Samadua pake rok? Nggak capek?" Aku pun belum terlalu ngeh. Aku masih berpikiran bahwa Samadua itu dekat dengan Labuhan Haji, jadi jaraknya paling cuma 25 sampai 30 km dan medannya cukup 'damai'. Setelah dipikir-pikir (aku baru memikirkannya ketika sudah naik motor dengan membonceng gaya perempuan, tahu, kaaan?) aku baru sadar kalau Samadua itu dekat dengan Tapaktuan. Nah, kalau tidak salah jarak Tapaktuan-Blangpidie sendiri sekitar 90 km (kata kawanku, sih, jaraknya segitu). Jadi, jaraknya agak-agak mendekati itu, lah. Pastinya aku tidak tau, yang pasti jauh lebih dari perkiraan awal yaitu 25-30 km. Dan medannya? Uwow! Naik turun gunung, berkelok-kelok, pokoknya cocok bagi para rider yang menggemari trek menantang. Tapi, trek yang uwow ini cukup terobati dengan adanya pemandangan yang uwow juga. Selain beberapa kali melintasi gunung yang sejuk, kami juga melintasi pantai yang eksotis. Yeah, pantai barat Aceh ini memang seksi. Pokoknya Subhanalloh indahnya. Tidak percaya? Ini buktinya: