Ketika seorang perempuan sudah mencapai umur 25 tahun biasanya akan ditodong dengan pertanyaan, "Kapan nikah?" Ketika satu per satu temannya menikah dia pun ditanya, "Kapan nyusul temannya?" Ketika dia tak kunjung menemukan pendamping hidup orang-orang bertanya, "Kamu nyari yang kayak gimana, sih?" Ketika usia semakin matang dan pasangan hidup pun tak kunjung datang kalimat yang muncul dari orang-orang adalah: "Kamu nyari yang kaya gimana? Jadi orang jangan pilih-pilih!"
Reaksi para lajang pun berbeda-beda. Ada yang cuek, ada yang cukup tersenyum, ada menjawab dengan gurauan, ada yang langsung galau, ada yang mendadak bete lalu misuh dalam hati, "Lambemuuuuuu!" Iya, yang terakhir itu reaksiku. Risih sekali rasanya ditanya kapan menikah. Ngomong-ngomong tentang pertanyaan "kapan nikah", kebanyakan yang mengajukan pertanyaan itu justru dari luar keluarga inti. Ini berdasarkan pengalaman pribadi. Yang nyinyir menanyakan kapan aku menikah justru bukan Abah atau Ibu melainkan omku. Awalnya aku mencoba menjawab diplomatis, "Nanti, kalau sudah waktunya." Eh, omku malah menyahut, "Lah, sekarang, kan, sudah waktunya." Suasana hatiku mendadak buruk. Ingin sekali aku menjawab, "Situ siapa? Situ Tuhan? Yang ngatur waktu orang ketemu jodoh, kan, Tuhan. Kok, berani-beraninya situ bilang aku udah waktunya nikah?" Untungnya waktu itu aku hanya diam. Tapi, tetap saja dengan muka ditekuk. Bete.
Hal menyebalkan lainnya adalah ketika ada teman menikah lalu ditodong, "Kapan nyusul? Teman-teman seangkatanmu udah nikah semua, lho!" Hellooooo! Ini bukan pertandingan, ya, sodara-sodara! Kalau teman seumuran sudah banyak yang menikah, bukan berarti yang lajang harus buru-buru menikah. Tidak ada patokan pasti. Memangnya imunisasi, kalau sudah sembilan bulan waktunya imunisasi campak. Jadinya kalau orang sudah 25 tahun langsung ditodong, "Dua puluh lima tahun, kan, waktunya nikah!"