Lalu beberapa bulan terakhir, linimasa berganti menjadi penuh kabar kebakaran pembakaran hutan. Semua menantikan turunnya hujan, berharap hujan memadamkan api yang terus merambat.
Hujan, berawal sebagai berkah, lalu ditakuti, kemudian dinanti. Di kasus banjir bandang, hujan menjadi hal yang ditakuti karena hutan yang bisa menahan aliran hujan semakin habis. Lalu, di kasus pembakaran hutan, hujan dinanti karena tenaga manusia tak lagi cukup memadamkan apinya. Lalu muncul pikiran ngeri: kalau hutan yang dibakar itu sudah tak tersisa lagi pohonnya, apa yang terjadi ketika hujan deras datang? Banjir lagi? Bencana lagi? Tak bisakah hutan dibiarkan subur dan lebar agar hujan bisa tetap menjadi berkah bagi kita semua?
Yang menyakitkan dari semua bencana yang terjadi adalah lagi-lagi rakyat kecil yang menjadi korban. Yang menjadi korban adalah penduduk sekitar, bukan konglomerat rakus yang memperkaya diri dengan merusak lingkungan.
Semoga kita semua diberi hati yang selalu merasa cukup agar tidak serakah sampai merusak lingkungan dan menyengsarakan orang lain. Dan semoga hujan kembali datang membawa berkah.