Pawana sudah tiba restoran ayam goreng franchise sepuluh menit lebih awal dari
waktu yang ditentukan. Biarpun kesal karena orang-yang-entah-siapa-namanya
mengubah tempat bertemu yang tadinya dekat kantornya menjadi sedikit jauh, dia
tetap berusaha untuk tidak mangkir. Dia teringat semua ancaman Ibu. Lagipula
perpindahan lokasi itu menguntungkan Pawana karena tempatnya di samping toko
buku. Jadi, sebelum ke restoran, Pawana mampir dulu ke toko buku untuk mengkhilafkan diri memborong
buku-buku secara impulsif. Hasilnya? Kantung plastik besar berisi buku-buku
yang jika ditotal harganya cukup untuk membeli harddisk eksternal 320 GB – yang sebenarnya lebih dia butuhkan saat
ini.
Pawana melihat screen saver jam digital di smartphone-nya.
Pukul 10.45. Sudah lewat lima belas menit dari waktu yang ditentukan. Bosan.
Pawana meraih smartphone-nya dan menyalakan aplikasi chat dan mulai mengganggu
Sasi dan Matari dengan stiker-stiker aneh. Begitulah. Kalau Pawana sudah bosan,
yang jadi korban adalah Sasi dan Matari. Sembari chatting mengganggu dua kawannya, Pawana memesan ayam goreng dan french fries. Tapi, kali ini Pawana tak
bisa menghabiskannya dalam waktu lima menit. Butuh waktu lama menghabiskan
makanan yang tidak terlalu disukainya itu. Ia pun teringat kata-kata Ibunya
ketika dia protes karena tempat pertemuannya di restoran ayam goreng. “Bagus
kalau ketemuannya di situ. Kamu, kan, nggak doyan ayam goreng begituan. Jadi
nanti nggak kelihatan nggragas,” kata
Ibu. Pawana pun susah payah membayangkan bahwa di hadapannya bukan ayam goreng
tepung melainkan ayam penyet kesukaannya.
Sudah pukul 10.55 dan orang-yang-entah-siapa-namanya
masih belum terlihat batang hidungnya.

