Senin, 29 Oktober 2012

Kamus Brebes (J)

Karena blog di multiply sudah hampir ditiadakan, ku-copas Kamus Brebes yang tadinya di-post di sana pada 7 Mei 2009. Dan ada beberapa tambahan kosa kata tentunya.
 
Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan

Jabane = misalnya, seumpama, seandainya
Jagong  → Njagong = duduk
Jagrag → Njagrag = menyalak (untuk anjing)
Jajal = coba
Jambak → Njambak = menarik rambut dengan kasar
Jambal → Njambal = memakan lauk untuk camilan
Jambe = pinang
Jambon = warna merah muda, pink
Jangan = sayur
Jangglèng → Njangglèng = berdiri
Jare = katanya
Jarit = kain; pakaian
Jasak = ayah (dalam bahasa gaul)
Jawane = ceritanya, pura-puranya, maksudnya, gayanya
Jèblog = jedot
     Kèblog = kejedot, terbentur benda keras (biasanya untuk kepala)

Minggu, 28 Oktober 2012

Kamus Brebes (K)

Karena blog di multiply sudah hampir ditiadakan, ku-copas Kamus Brebes yang tadinya di-post di sana pada 16 Januari 2010. Dan ada beberapa tambahan kosa kata tentunya.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan

Kapicirit = tidak bisa menahan feses sehingga keluar, biasanya dialami ketika diare
Kadheh = jumlah
Motore kadhehe pira? = motornya jumlahnya berapa?
Kadiran = sok, mentang-mentang
Kalah-kalahe = Kalah-kalahen = Kala-kalaen = akhirnya
Kalap = bermanfaat (bisa diambil manfaatnya)
       Ora kalap = tidak bisa dimanfaatkan
Kaligane = akhirnya
Kaling-kalingan = terhalangi sesuatu untuk melihat
Kalo = alat untuk menyaring santan
Kalong = hewan sejenis kelelawar
Kalong = berkurang jumlahnya atau banyaknya

Kamisèsègèn = napas tersendat setelah menangis
Kamot = muat
       Ora kamot = tidak muat
Kamplèng = memukul (biasanya dengan telapak tangan), tampar
Kanda = bicara, bercerita; memberitahu
Kandhègan = kondangan
Kandhègen = akhirnya
       Kandègen lah melu = akhirnya ikut juga (padahal sebelumnya tidak mau ikut)
Kangsrah = terlalu panjang (biasanya untuk pakaian)
Kangslèp = tertarik ke dalam sampai tidak kelihatan
Kantèm = pukul, jotos
Kantug = Nyantug = sampai (untuk jangkauan tangan)
Kapiran = tidak mendapatkan yang ditunggu
Kaplak = besar, sudah dianggap (harus) dewasa, sudah tidak pantas bersikap kekanakan
Kapur = sejenis kue
Kapruk = memukul dengan telapak tangan di bagian muka
Kari = tinggal
       Kari njukut, ka = tinggal ambil, kok
Kasut = kaus kaki
Kaur = sempat
Kawak = tinggal kelas
Kawur = kabur, terbang tertiup angin
Kayong = kaya, seperti
Kayonge = sepertinya
Kèbèler = terkena bagian potongan bambu yang tajam
Kecehan = bermain di genangan air
Kèmèng = gila, kurang waras
Kèmlithak = sok, hampir mirip artinya dengan petakilan
Kèmplu = (kasar) gila, ngaco
Kèmriyak = renyah
Kender = sering sekali kalah (dalam permainan anak-anak)
Kèndèrèkèn = kondisi ayam yang hampir mati (karena penyakit yang seperti 'ngantuk')
Kènthèng = rajin
Kènthos = bagian kelapa yang berbentuk bulat, putih, agak lunak, dan berada di dalam batok kelapa, biasanya disebut bijinya kelapa
Kèpèrang = terkena/tersayat pisau atau benda tajam lain
Kèpoko = terpaksa
Kepreh-keprehan = ribut (berbicara tidak karuan) karena terkejut atau panik
Kerèm = tenggelam
Kesed = keset
Kicik = (kasar) tuli
Kinjèng = capung
Kiplik = sangat kurus
Klèndangan = keluyuran

Klobot = kulit jagung
Klolodèn = tidak sengaja menelan sesuatu yang terlalu besar hingga kadang mengganggu pernapasan
Klopot = glopot = sangat kotor
Kobèr = sempat
Kocak = diisi air lalu dikocok-kocok untuk membersihkan lalu airnya dibuang (biasanya untuk wadah yang cekung, misal mangkok, panci)
Kojek = jajanan anak-anak semacam cilok
Koleh = aduk
Kolèman = kondangan
Koloh = emut, kulum
       Ngolohi jentik = mengisap jari
Kolok = kolak, nama makanan ringan yang biasanya terbuat dari pisang atau singkong
Kolu = tidak jijik
Kopong = kosong
Kored = mengambil sisa-sisa (biasanya untuk makanan)
Kricik = uang receh
Kroak = tidak utuh, tercuil sebagian
Krowok = berlubang (untuk gigi)
Krusukan = bermain di semak-semak
Kudhèk = aduk
Kulah = terkena (biasanya benda yang kotor)
Klambine kulah tembelek = bajunya terkena kotoran hewan
Kulak = membeli sesuatu dengan tujuan untuk dijual lagi
Kur = cuma, hanya
Kuwuk = sejenis keong; busuk dan bau (untuk telur)

Kamus Brebes (I)

Karena blog di multiply sudah hampir ditiadakan, ku-copas Kamus Brebes yang tadinya di-post di sana pada 16 Januari 2010. Dan ada beberapa tambahan kosa kata tentunya.

Warning: Tidak semua kosa kata di bawah ini lazim dan sopan digunakan dalam percakapan

Ibit = cubit = kata yang diucapkan ketika ingin break dalam permainan anak-anak
Idèk = Edèk = injak
Idèr = berkeliling menjajakan dagangan
Idhèp = bulu mata
Idhèp-idhèp = hitung-hitung, tujuan lain dari suatu tindakan
     Idhèp-idhèp nulungi sedulur = hitung-hitung menolong saudara
Idu = ludah, meludah
Iji = sejenis satuan
     Limang iji = lima buah
Ijol = tukar
Ilang = hilang
Ilat = lidah
Ilèng = Dèlèng = lihat
     Ngilèng = melihat
Iling = tuang
     Ngiling = menuang
Ilir = kipas
Ilok = pantas, tidak tabu
      Ora ilok = tidak pantas, tabu
Ilon-ilon = ikut-ikutan
Imbuh = tambah ; peram (untuk buah)
Indhik = intip
      Indhik-indhik = incar, mengincar
Indhil-indhil = bola daging, bakso
Inggèk = berenang; menyelam
Inggèng = intip
Ingsèr = geser
     Mingsèr = bergeser
Ingu → Ngingu = memelihara
Intip = nasi yang kering (gosong) ketika dimasak
Ipe = ipar
Irung = hidung
Irus = sendok sayur
Isah-isah = asah-asah = mencuci piring
Isik-isik = mengusap-usap

Kamis, 25 Oktober 2012

Bakuman: Manga tentang Manga

By Source, Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=21343741
Aku bukan pencinta manga (komik Jepang). Apalagi manga yang berseri dan sepertinya tidak akan tamat. Selama ini, hanya dua manga yang kubaca chapter terakhirnya: Inuyasha dan Rurouni Kenshin. Itu pun aku melewatkan beberapa chapter di tengah. Aku terlalu penasaran sehingga langsung membaca chapter terakhir, baru kemudian membaca beberapa chapter menjelang akhir. Hehehe, kebiasaan buruk. Dan beberapa hari yang lalu aku baru tahu bahwa satu manga yang membuatku penasaran ternyata sudah tamat beberapa bulan lalu. Aku pun mencari link download-nya. Ternyata yang muncul justru mangareader. Aku pun membacanya secara online sambil mengunduh (download) satu per satu gambarnya. Memangnya manga apa yang membuatku penasaran itu? BAKUMAN.

Bagaimana perkenalanku dengan Bakuman? Ini gara-gara temanku -- sebut saja N -- yang sering menuliskan "cc: Moritaka Mashiro" di status Facebook-nya. Aku mengira (dan ternyata perkiraanku benar) bahwa nama itu diberikan pada seseorang -- sebut saja K. Tapi, kenapa bisa disebut Moritaka Mashiro? Siapa dia? Ada temanku yang berkomentar di status N dan membocorkan bahwa Moritaka Mashiro adalah tokoh dalam manga kesukaan K yang berjudul Bakuman. Aku jadi penasaran pada manga itu. Aku pun mengunduhnya. Ternyata ceritanya tidak seperti dugaanku. Karena judulnya berakhiran MAN, aku pun mengira manga itu bercerita tentang superhero, seperti P-Man, Batman, Superman, dan gerombolannya. Ternyata aku salah. Bakuman justru bercerita tentang dua anak muda yang bermimpi menjadi mangaka (manga artist). Dua anak muda itu adalah Moritaka Mashiro dan Akito Takagi. Ceritanya seperti apa? Hmm, berhubung aku sedang malas, kukutipkan saja dari Wikipedia.

Senin, 22 Oktober 2012

Antre, dong!

Kebiasaan antre di kota – tepatnya desa ngaku kota – Blangpidie ini terbilang masih terbatas – kalau tidak bisa dibilang rendah. Beberapa kali ketika aku ‘diserobot’ ketika sedang mengantre di swalayan. Dan sebalnya, orang-orang yang menyerobot itu tidak sadar kalau perbuatannya salah dan tidak sadar ada hawa pembunuh yang muncul dari tubuhku. Kalau suasana hatiku sedang baik, aku diam saja. Tapi, kalau aku sedang sensitif, aku akau menunjukkan raut wajah tidak suka. Tapi, ya, itu. Orangnya tidak sadar. Dipelototi pun acuh tak acuh. Pernah saking sebalnya, aku mengomel ke kasirnya, “Kok, nggak antre?” Dan si kasir hanya diam. Sepertinya dia juga tidak menganggap itu salah. Tapi, ada juga, sih, kasir yang lumayan ‘peka’. Ketika ada orang yang menyerobot antrean, dia tetap melayaniku lebih dulu dibandingkan si penyerobot itu. Sepertinya dia sudah melihat wajah judesku.

Di tempat beli sarapan juga begitu. Dulu, ketika ibu penjualnya belum hafal mukaku, beberapa kali aku ‘dilewatkan’. Meskipun aku datang lebih dulu, yang dilayani justru orang lain. Setelah ibu itu mengenalku, aku jadi sering didahulukan meskipun datang belakangan. Tapi, biasanya ibu itu akan bilang dulu ke pembeli lain bahwa aku buru-buru. Sebenarnya tidak enak hati juga ‘mengambil’ giliran orang lain. Tapi, itu rejeki, masa ditolak? Hahaha... Licik! Aku sebenarnya tak meminta didahulukan. Asal dilayani sesuai antrean, itu sudah cukup. Tapi, ibu itu sepertinya kasihan padaku (biarpun default wajahku itu judes, kadang wajahku terlihat memelas). Untungnya orang-orang yang ‘kudahului’ tidak menampakkan wajah marah. Sudah biasa mungkin, ya? Bisa jadi ada beberapa pelanggan ‘istimewa’ yang kerap membuat mereka dilayani belakangan. Dan mereka sepertinya sudah berlatih bersabar menghadapi hal semacam itu. Kalau aku yang diperlakukan begitu, biasanya (tapi tidak selalu) aku akan langsung pergi. Iya, pergi. Kebiasaan burukku kalau diserobot antrian sewaktu beli sarapan adalah mutung dan langsung ‘chao’. Ini merupakan kebiasaan sejak masih sekolah. Aku tidak peduli pada orang-orang yang memandangku aneh karena tidak jadi beli sarapan. Aku akan pulang dengan wajah merengut sambil bersungut-sungut. Hehehe... Kadang kalau sudah terlalu kesal, aku pun bisa mogok beli sarapan di tempat itu. Dan ternyata ini bukan kebiasaan pribadi melainkan kebiasaan keluarga. Belakangan, aku baru tahu kalau ibuku dan kakakku yang kedua juga kerap memilih tidak jadi beli sarapan ketika antreannya diserobot. Kalau tidak salah adikku juga begitu. Sebuah fakta yang menakjubkan. Halah!

Minggu, 21 Oktober 2012

99 Cahaya di Langit Eropa: Novel tentang Sejarah Islam di Benua Biru

Mengutip kata-kata George Santayana: “Those who don’t learn from history are doomed to repeat it.” Barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah Kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.

Paragraf di atas merupakan paragraf favoritku dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa (Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa) karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Aku membeli novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini atas rekomendasi dari Tika. Dan ternyata tidak mengecewakan. Novelnya memang sesuai seleraku.  Bisa, lah, kali lain aku meminta rekomendasi darinya tentang novel yang menarik. Novel setebal 414 halaman ini merupakan novel best seller. Yang kubeli sendiri merupakan cetakan keenam (Februari 2012). Cetakan pertamanya sendiri bulan Juli 2011.

Kamis, 11 Oktober 2012

9 Summers 10 Autumns (Dari Kota Apel ke The Big Apple)

Iwan melihat anak kecil itu pertama kalinya ketika dia sedang ditodong di dekat Stasiun Fleetwood, New York. Anak kecil dengan celana pendek merah dan baju putih berkerah itu melambaikan tangan lalu menghilang. Dua hari kemudian Iwan bertemu dengannya lagi. Ia pun merasa tidak asing dengan anak itu. Perbincangannya dengan anak itu membuat Iwan teringat masa kecilnya, teringat orang tuanya, teringat rumah mungil berukuran 6 x 7 meter di Batu tempat ia dan keempat saudaranya dibesarkan. Ia teringat masa kecilnya, masa di mana dia dan saudaranya tak punya mainan hingga mereka hanya bisa “bermain” dengan buku pelajaran.

Anak kecil itu pun mulai sering ‘mengunjungi’ Iwan ketika dia sedang sendirian di apartemennya. Lalu, seperti biasa, mereka pun berbincang-bincang. Ah, mungkin tepatnya anak kecil itu mendengarkan Iwan bercerita. Melihat apartemen luasnya, Iwan pun membandingkannya dengan tempat tinggalnya dulu, rumah kecil di kaki Gunung Panderman di mana dia bahkan tak punya kamar sendiri, rumah yang kecil tapi tetap selalu ia cintai.

Tentang Pertama (2)

Kali ini aku akan melanjutkan cerita Tentang Pertama yang sudah pernah kutulis tahun lalu. Inilah beberapa pengalaman pertamaku yang lain.

Kali pertama kenal komputer
Sebenarnya ini fakta yang agak memalukan. Aku baru "mengenal" komputer setelah kuliah, sekitar tahun 2004. Berarti umurku waktu "berkenalan dengan komputer sekitar 18 tahun. Sebelumnya aku hanya pernah melihatnya tapi tak pernah mengoperasikannya. Pernah sewaktu baru bisa menggunakan komputer, aku mematikan komputer langsung dengan memencet tombol power. Saat itu aku sedang di laboratorium komputer kampus dan ada dosen yang melihat. Beliau langsung memberitahu, "Jangan langsung dipencet gitu." Akhirnya, entah siapa yang mengajariku (aku lupa), aku jadi tahu kalau untuk mematikan komputer sebisa mungkin menggunakan button Shut Down yang muncul ketika klik button Start (kalau menggunakan sistem operasi Windows). Dan sekarang, ajaibnya, meskipun baru berkenalan dengan komputer setelah agak tua, aku bisa dibilang lebih "akrab" dengan komputer dibandingkan teman-temanku yang lebih dulu mengenalnya. Yah, mungkin karena frekuensi interaksiku dengan si kompi ini lumayan tinggi. Dan sekarang, tanpa komputer (lebih tepatnya laptop) aku merasa mati gaya.

Selasa, 09 Oktober 2012

Mengeluh vs Menikmati

Aku sering merasa bosan tinggal di sini. Suntuk, istilah kerennya. Kenapa? Well, nyaris lima tahun tinggal di Jakarta (meskipun Jakartanya masih agak pinggiran), aku lumayan dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Perlu internet? Warnet tersedia. Mau beli buku? Cukup naik Transjakarta lalu turun di halte Tegalan, sampailah di toko buku terbesar di negeri ini. Mau belanja baju, sepatu, dengan harga terjangkau? Cukup naik angkot dua kali sudah sampai di Pasar Jatinegara. Naik angkot sekali sudah sampai di PGC. Pilihan banyak, harga terjangkau. Mau makan? Warung makan dengan berbagai jenis masakan tersedia. Warung Padang, Warteg, tukang soto mie, tukang sate Madura, tukang siomay, tukang batagor, tukang pempek, semua ada. Mau jalan-jalan? Bisa ke Kota Tua, kalau mau jauh sedikit bisa ke Kebun Raya Bogor. Dan di kabupaten ini? Di tahun pertama aku penempatan di sini, warnet tidak banyak, jauh pula. Belanja? Err, pilihannya sangat terbatas. Tempat wisata? Umm, tempat wisata yang 'benar-benar dikelola' bisa dibilang tidak ada. Memang ada tempat yang lazim didatangi warga untuk refreshing, tapi karena tidak dikelola, ya, kondisinya kurang menarik. Ujung-ujungnya pergi ke kabupaten sebelah yang jauhnya puluhan kilometer. Ditambah lagi, daerah ini jauh dari mana-mana. Ke Banda Aceh bisa makan waktu sepuluh jam. Ke Medan bisa sepuluh sampai dua belas jam. Mau makan pun susah karena jarang ada rumah makan yang menyediakan menu 'nasional'.

Minggu, 07 Oktober 2012

Balthasar's Odyssey (Nama Tuhan yang Keseratus)

Siapa Balthasar (Baldassare)? Nama lengkapnya Balthasar Effendi. Dia adalah seorang pedagang di Gibelet keturunan Genoa. Dalam novel ini diceritakan perjalanan Balthasar dalam mencari buku “Nama yang Keseratus” karya Abu-Maher al-Mazandarani. Untuk apa dia mencari buku tersebut? Jadi, begini ceritanya... Pada abad ke-17, tepatnya tahun 1665, orang-orang – khususnya orang Kristen – tengah ketakutan “menunggu” datangnya tahun Dajal, yaitu tahun 1666. Banyak yang meyakini bahwa pada tahun 1666 akan terjadi kiamat. Lalu apa hubungannya dengan buku Nama yang Keseratus? Sebagaimana kita ketahui, dalam agama Islam ada 99 nama (tepatnya sebutan) untuk Alloh. Ternyata ada banyak yang mempercayai bahwa selain 99 ‘nama’ tersebut, masih ada satu ‘nama’ lagi. ‘Nama’ itu katanya pernah diucapkan Nuh ketika menyelamatkan diri dari banjir besar. Dan di buku tersebut disebutkan nama Tuhan yang keseratus tersebut. Orang-orang pun mencarinya untuk menyelamatkan diri dengan ‘nama’ itu ketika kiamat terjadi.

Kalau Balthasar mencari buku tersebut, berarti dia termasuk yang percaya akan ada kiamat pada tahun 1666 dan percaya kekuatan Nama yang Keseratus? Tidak. Dia sama sekali tidak percaya. Bahkan, dia awalnya menganggap bahwa buku tersebut tidak pernah ada. Berbeda dengan Jaber, keponakannya yang membantunya di toko. Jaber (atau lebih sering dipanggil Boumeh) sangat percaya terhadap ramalan kiamat tersebut. Dia sering membaca buku-buku yang berkaitan dengan hal itu. Hingga Idriss datang padanya menjual buku pada Balthasar – lebih tepatnya meminta Balthasar menjual buku itu di tokonya. Setelah buku itu terjual – atau tepatnya diberikan secara cuma-cuma oleh Balthasar pada pelanggannya yang sedang menawar harga – Balthasar pun datang ke rumah Idriss untuk memberikan ‘hasil penjualan’ bukunya. Idriss pun kemudian memberikan buku terakhir yang dimilikinya pada Balthasar. Sebuah buku yang sebelumnya dianggap tidak pernah ada oleh Balthasar, yaitu buku berjudul Nama yang Keseratus. Idriss berkata bahwa dia ingin Balthasar yang memiliki buku itu, bukan orang lain. Balthasar kemudian justru menjual buku tersebut kepada Chevalier Hugues de Marmontel, seorang utusan istana Prancis. Ketika dia datang ke rumah Idriss untuk menyerahkan uang hasil penjualan buku tersebut, dia mendapati kenyataan yang mengejutkan: Idriss meninggal. Boumeh pun menyalahkan pamannya yang – menurutnya – sudah mengabaikan pertanda dari Tuhan. Menurutnya, Balthasar seharusnya tetap menyimpan buku itu, bukan menjualnya. Boumeh juga menganggap kematian Idriss sebagai pertanda untuk pamannya bahwa waktu itu sangat singkat dan hari kiamat itu sudah dekat.

Minggu, 30 September 2012

Antara Tema Lomba dan Kenyamanan Hati

Tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Termasuk dalam mengikuti lomba. Tidak semua bisa diikuti. Ada begitu banyak lomba blog dengan hadiah yang menggiurkan. Tapi, sebagian besar dari lomba dengan berhadiah “wow” itu tidak kuikuti, dengan alasan tidak mau ataupun tidak bisa. Biasanya aku tidak mengikuti lomba tersebut karena tidak mau. Kenapa tidak mau? Lomba-lomba berhadiah mahal itu biasanya kontes SEO yang ujung-ujungnya ada iklan sponsor. Dan sayangnya, aku bukanlah pengguna produk sponsor tersebut. Ada kontes SEO Alfamart tapi sayang sekali aku bukan member swalayan waralaba tersebut dan di tempat tinggalku pun tidak berdiri swalayan tersebut. Mana mungkin aku membuat tulisan tentang itu? Ada kontes SEO tulisan tentang sepeda motor Honda, entah apa variannya, dan sayang sekali aku justru pengguna sepeda motor Yamaha. Ada juga kontes SEO sepeda motor Yamaha, tapi variannya berbeda dengan yang kugunakan. Mana mungkin aku membuat review tentang sepeda motor yang sama sekali belum pernah kukendarai? Ada lomba menulis tentang BCA tapi sayangnya aku bukan nasabah BCA. Masa iya aku akan menjelaskan produk-produk bank tersebut yang sama sekali tidak pernah kugunakan? Bodoh. Kan, bisa cari bahannya di internet. Mungkin akan ada yang berkomentar demikian. Sayang sekali. Perkara ini tidak sesederhana itu. Kalau lombanya menulis artikel, misalnya tentang kemiskinan, lalu mencari definisi kemiskinan, tingkat kemiskinan, garis kemiskinan, dan kedalaman kemiskinan lewat internet, itu wajar. Tapi, membuat review – yang mestinya adalah pendapat, komentar, tanggapan, dan kesan pribadi – atau suatu produk berdasarkan tulisan orang lain, itu ganjil. Menulis review atas sesuatu yang tidak pernah kugunakan sama saja seperti berkoar-koar tentang rasa makanan di suatu restoran seolah-olah aku pernah memakannya padahal aku cuma mengutip dari iklan restoran tersebut. Menurutku hal seperti itu benar-benar ganjil. Seperti membohongi diri sendiri. Mungkin orang lain bisa nyaman menulis tentang produk yang tidak pernah dia gunakan. Tapi aku tidak.

Sabtu, 29 September 2012

Dia Bilang Aku Tidak Butuh Teman

Katanya aku seperti tidak butuh teman. Dia menyampaikan hal itu lewat sms. Aku cuma diam, tidak bereaksi apapun, tidak menjawab sms-nya. Tidak butuh teman? Mustahil. Semua orang di dunia ini butuh teman. Sejak SD sampai SMA, kita selalu diajari bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang saling membutuhkan. Karena aku manusia, berarti aku juga makhluk sosial. Aku tidak bisa hidup sendiri. Aku juga butuh orang lain. Aku membutuhkan petani yang menanam padi (karena aku perlu makan nasi), aku butuh petani yang menanam kapas dan para pekerja industri tekstil karena aku perlu pakaian, aku butuh para penjual sayuran, dan lainnya. Selain aku membutuhkan orang lain dengan alasan ekonomis tadi, aku juga membutuhkan orang lain dengan alasan psikologis. Aku membutuhkan orang lain untuk bertukar pikiran, untuk berbagi perasaan, meminta saran, dan sebagainya. Dan aku akan menemukan kebutuhan itu dalam sosok seorang teman.

Menggelandang di Banda Aceh (Lagi)

*edisi jadul*
Bulan April yang lalu aku berkesempatan menggelandang di Banda Aceh (lagi). Tapi, kali ini aku (terpaksa) menggelandang sendirian. Waktu itu aku mengikuti Ratekda sampai hari Kamis pagi, dilanjutkan pelatihan web sampai Kamis sore. Aku pun merasa 'nanggung banget' sehingga memutuskan tidak langsung pulang tapi jalan-jalan dulu. Maklum, jarang ke kota. UK (tunjangan) dipotong yo ben, hehehe... Teman-temanku dari Aceh Barat Daya sudah pulang sejak Kamis siang usai penutupan Ratekda. Teman-temanku yang di Banda Aceh pun masuk kerja. Malah ada yang sibuk melakukan persiapan pelatihan SDKI ke Batam. Hiks! Aku pun terpaksa menggelandang sendirian. Pagi-menjelang-siang-nya menggelandang ke salon untuk pijat dan creambath, lalu pulang. Setelah selesai waktu sholat Jum'at, aku kembali menggelandang. Kenapa menunggu orang selesai sholat Jum'at? Ya, karena waktu orang sholat Jum'at toko-toko tutup dan sepertinya pun tidak ada tukang becak. Padahal tujuan penggelandanganku lumayan jauh dan aku rabun (bukan buta) soal wilayah Banda Aceh. Cara paling mudah dan aman untuk sampai di tujuan dengan selamat adalah dengan naik becak.

Tujuan pertama adalah toko buku. Di Banda Aceh ada beberapa toko buku. Ada Rumah Buku, Alif, Zikra, dan Effendi. Tiga toko yang kusebut terakhir lokasinya saling berdekatan. Sedangkan yang kusebut pertama, yaitu Rumah Buku, lokasinya terpisah. Aku tidak tahu nama daerahnya, sepertinya masih masuk daerah Kuta Alam, tidak terlalu jauh dari Simpang Jambo Tapee.

Simpang Jambo Tapee

Minggu, 23 September 2012

Bolang Edisi Cot Seumantok

Pada hari Kamis, 20 Agustus 2012, aku melakukan kedudulan fatal. Aku meminta salah satu KSK untuk ‘mencari’ koordinat untuk desa baru, yaitu Cot Seumantok yang merupakan pemekaran dari desa Alue Jeureujak. Sebenarnya kalimat tepatnya bukan mencari melainkan merekam titik koordinat desa tersebut GPS (dalam kasus ini, GPS yang digunakan adalah GPS Magellan Triton). Jadi, caranya adalah dia pergi ke desa tersebut, menyalakan alat GPS, menunggu sampai GPS tersebut mendapat sinyal dari satelit. Setelah itu, dia membuat waypoint dari lokasi tersebut. Dari waypoint yang dibuat tersebut akan muncul koordinat lokasi tadi. Masalahnya, aku salah memberi contoh. Sebenarnya kami sudah pernah menggunakan alat tersebut tapi lupa. Aku memberi tahu dia bahwa caranya adalah dengan mengeklik tombol Select lalu muncul menu waypoint, pokoknya ngawur, lah. Padahal seharusnya klik MENU, lalu pilih opsi Create, lalu pilih opsi Waypoint, kemudian pilih Current Location. Kalau saat itu ada sinyal, setelah pilih opsi Current Location akan muncul nilai koordinat lintang dan bujur. Saat mengajari dia pun aku sudah merasa ada yang salah. Tapi, aku juga belum yakin salah atau tidak. Nah, lintang dan bujur yang diberikan KSK tadi adalah 96,93049°E (Bujur Timur) dan 3,606546°N (Lintang Utara). Setelah kubandingkan dengan koordinat di desa-desa lain, ternyata koordinat yang diberikan KSK tadi adalah koordinat desa di Kecamatan Manggeng, kecamatan yang jauh di sebelah tenggara (dilihat dari Kecamatan Blangpidie), sedangkan Cot Seumantok adalah desa yang letaknya di Kecamatan Babahrot yang letaknya di barat laut. Kalau dilihat dari desa-desa di Babahrot, mestinya koordinat lintangnya sekitar 3,8-an sampai 3,9-an, sedangkan koordinat yang dia berikan 3,6-an. Berarti, hipotesis pertama, cara yang kuajarkan salah. Hipotesis kedua, dia menyimpan koordinat ketika tidak ada sinyal jadi yang tercatat adalah koordinat terakhir yang tersimpan yaitu desa di Kecamatan Manggeng sana. Sepertinya hipotesis pertama lebih mungkin terjadi, hehehe... Tapi, hipotesis manapun yang benar, tetap saja aku tidak bisa menyuruh KSK itu ke sana lagi. Alasannya mereka sedang dikejar SUSENAS dan Statistik Kecamatan ditambah lagi lokasinya jauh. Kalau dia kusuruh lagi, bisa-bisa dia me-misuh-i-ku. Jadilah kuputuskan untuk ke sana sendiri.

A = Alue Peunawa, B = Blang Dalam, C = Alue Jeureujak, D = Cot Seumantok, E= Pantee Cermin, F = Pantee Rakyat, G = Blang Raja

Senin, 17 September 2012

Beruntung atau Tidak?

Gara-gara baca tulisan Mbak Octa tentang keberuntungan, aku jadi teringat Donal Bebek (Donald Duck) dan Untung Angsa (Gladstone Gander). Lho, apa hubungannya? Begini... Dalam komik Donal Bebek, digambarkan bahwa Donal selalu sial – misalnya kecipratan air dari genangan, terpeleset, kejatuhan barang, dan sebagainya – sedangkan Untung selalu beruntung – misalnya menang undian, jadi pengunjung restoran keseribu lalu mendapat hadiah, dan sebagainya. Dan menurutku itu tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Apa mungkin ada manusia yang dilahirkan dengan ‘bakat’ ditimpa kesialan seumur hidup ataupun sebaliknya? Tidak. Yang terjadi dalam kehidupan nyata adalah keberuntungan dan kesialan – atau lebih tepatnya hal yang DIANGGAP SEBAGAI keberuntungan dan kesialan – datang secara silih berganti.

Kalau begitu, kenapa ada orang yang selalu sial? Apa iya begitu? Bisa saja sebenarnya dia hanya KELIHATANNYA selalu sial atau MERASA selalu sial padahal kenyataannya tidak begitu. Ini masalah FOKUS. Kita menganggap si A selalu sial bisa jadi karena kita hanya fokus pada hal buruk yang dia alami dan tidak memperhatikan hal baik yang dia alami. Si A merasa dirinya selalu malang bisa jadi karena dia hanya fokus pada hal buruk yang menimpanya, benar-benar fokus pada hal-hal itu sampai melupakan hal baik yang terjadi. Misalnya saja aku. Ketika aku terlambat datang ke stasiun sehingga tidak bisa menukarkan tiket yang kubeli via telepon, aku merasa malang. Rasanya ingin berkata, “Duh, Robbii, nestapa benar hidupku.” Aku melupakan hal-hal baik yang terjadi bebeberapa hari sebelumnya, misalnya mendapat novel gratisan di Gramedia, mendapat hadiah giveaway dari Mbak Nufa, dan sebagainya. Yang kuingat adalah rasa lelah berdiri di colt/elf (angkutan umum) selama hampir satu jam (yang normalnya bisa ditempuh selama sepuluh menit), menghadapi macetnya pantura yang alakazam, dan setelah sampai di stasiun justru tidak bisa menukar tiket karena loket sudah tutup. Sebagian manusia – salah satunya aku – lebih mudah mengingat hal buruk dan cenderung menghabiskan ruang di memorinya untuk menyimpan kenangan buruk dibandingkan kenangan baik. Karena lebih sering mengingat kejadian buruk dan melupakan kejadian baik, jadilah yang terbersit dalam pikirannya bahwa mereka selalu sial atau malang. Padahal sebenarnya tidak.


Sabtu, 15 September 2012

Lika-Liku Cinta Jomblo Dodol dan Joomla!

Siapakah jomblo dodol yang dimaksud? Tentu saja aku. Lalu, siapakah Joomla! (pakai tanda seru) itu? Bagi mereka yang sering berkutat dengan desain web, tentunya sudah sering menyantapnya. Bagi yang awam seperti diriku mungkin masih asing dengan hal satu ini. Ngomong-ngomong, sebenarnya aku bingung mau menulis Joomla! atau Joomla. Tapi demi kesederhanaan, ditulis Joomla saja. Joomla  ini merupakan salah satu CMS (Content Management System). Ingat, ya, CMS! Bukan PMS. Selain Joomla, ada banyak CMS lain seperti Drupal dan Wordpress. Eh, makanan apa lagi itu CMS? Sederhananya (dalam pemahamanku) CMS merupakan tools visual untuk mempermudah desain web tanpa harus berurusan dengan kode-kode HTML – meskipun pada kenyataannya banyak pengguna Joomla yang tetap mengutak-atik HTML-nya. Gambarannya mirip dengan blog, tapi lebih rumit. For more information about Joomla, just ask Google, please! Hehehe...

Jadi, perkenalanku dengan Joomla terjadi sekitar 2010. Saat itu sudah muncul desas-desus bahwa setiap kantor B## kabupaten/kota harus memiliki website. Mampus! Saat itu kemampuanku dalam web programming bisa dibilang masih nol – err, sampai sekarang masih nol juga, sih. Aku sudah sering mendengar kawan-kawanku membuat web dengan Joomla jadi aku pun memutuskan belajar menggunakan Joomla Aku pun membeli tiga buku tentang cara membuat web dengan Joomla Ternyata aku harus mengunduh (download) file instalasinya dulu. Oh,ya, sebelum meng-install Joomla aku harus meng-install XAMPP terlebih dahulu. Nah, apa pula itu XAMPP? XAMPP merupakan singkatan dari X (sistem operasi apapun), Apache, MySQL, PHP, dan Perl. Maksudnya? Pokonya XAMPP ini merupakan paket instalasi yang berisi Apache, MySQL, dan PHP, serta bisa dijalankan di berbagai sistem operasi (Windows kek, Linux kek, dan semua saudaranya). Setelah meng-install XAMPP, barulah bisa meng-install Joomla. Nah, setelah instalasi selesai, aku pun mencoba membuat desain web. Tapi, ternyata susah. Dan ketika aku masih bingung menghadapi Joomla, bosku sudah memutuskan untuk meminta tolong pada orang pusat untuk membuatkan web untuk kantor kami. Antara senang dan sedih, sih. Sedih karena aku baru belajar tapi sudah diputuskan untuk menyerahkan ‘tugas’ itu pada orang lain. Tapi, senang juga karena aku jadi tidak perlu pusing dan repot mengerjakannya. BEBAS!

Edisi "Ya, Sudahlah"

Salah satu hal yang sulit kulakukan adalah mendelegasikan tugas pada orang yang tidak akrab denganku. Dan sayangnya, aku tidak akrab dengan semua KSK (petugas) di kantorku. Kadang, terkesan aku “memonopoli” pekerjaan dan tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk mengerjakannya. Setidaknya itu kesan yang kutangkap dari pernyataan ‘seseorang’. Padahal, sebenarnya aku hanya merasa tidak enak hati memberi pekerjaan pada orang yang tidak akrab denganku. Kalau dengan teman akrabku, aku bisa dengan ringan hati – bahkan, mungkin kadang terkesan semena-mena – memintanya membantuku menyelesaikan pekerjaan. Kalau dengan yang lain? Rasanya rikuh (apa sinonim kata rikuh dalam Bahasa Indonesia?). Lagipula, aku pernah beberapa kali meminta tolong pada para KSK untuk membantuku meng-entry hasil pencacahan, dan mereka memberikan berbagai macam alasan: mau turun ke lapangan, mau memeriksa dokumen, pokoknya macam-macam,  tapi intinya tidak mau. Karena beberapa kali mereka menolak, aku pun malas meminta tolong lagi. Jadilah aku sering mengerjakan tugas hanya dengan bantuan dua orang temanku.

Hingga akhirnya ada satu pekerjaan yang mau tidak mau membuatku harus meminta tolong pada para KSK. Sebenarnya tiap semester kami harus meng-update peta desa-desa yang mengalami pemekaran. Tentu saja aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana menyuruh mereka. Awalnya aku meminta tolong pada empat orang. Yang satu merespon dengan baik, yang satu ogah-ogahan, yang satu melaporkan bahwa menurut geuchik (kepala desa) batas desanya belum jelas jadi belum bisa digambar petanya, dan yang satu bertanya, “Ini ada uangnya nggak?” Pertanyaan itu membuatku merasa... merasa... entah bagaimana perasaanku saat itu. Antara marah, bingung, capek hati, dan entah apa lagi. Yang pasti, pertanyaan itu membuatku ‘mogok’ mengurusi peta. Aku memutuskan untuk fokus pada tugas lain saja.

Selasa, 11 September 2012

Markisa, Kliyengan, dan Hipotesis

Beberapa bulan terakhir Ibu sering 'pamer' jus buah markisa. Kata Ibu, tanaman markisa yang ditanam Abah berbuah banyak. Aku pun tergoda. Dan saat mudik lebaran kemarin aku beruntung karena ada beberapa buah markisa yang masak, jadi aku bisa membuat jus markisa. Kalau tidak salah, tepat di hari pertama aku sampai rumah, malamnya langsung dibuatkan jus markisa. Karena kami tidak punya blender, jadi membuat jusnya pun cuma mencampurkan buahnya ke segelas air panas/hangat, diberi gula, diaduk, lalu disaring. Rasanya? ASEM. Tapi, karena ada gulanya jadi terasa asem manis.

Di samping penasaran pada rasa buahnya, aku juga penasaran pada tanamannya. Aku pun langsung ber-norak-rorak-ria dengan kameraku. Dengan kemampuan fotografi yang pas-pasan, aku mencoba memotret tanaman itu. Ini dia hasilnya:

Tanaman markisa yang merambat di depan rumah


Bunga tanaman markisa.