Senin, 26 Agustus 2013

Gara-Gara Sembarangan Beli Buku

Biasanya aku adalah orang yang pemilih dalam membeli buku. Biasanya aku membeli buku yang bisa 'membangun', atau setidaknya bukan buku yang 'merusak' mentalku (dalam standarku sendiri, tentunya). Bukannya sok atau bagaimana. Tapi, aku selalu menganggap bahwa kelak buku yang kumiliki akan kuwariskan pada orang lain, misalnya anak atau keponakanku. Jadi, selain mencari buku yang baik untukku sendiri, aku juga mencari buku yang baik bagi pewarisnya nanti. Masa iya aku akan mewariskan buku yang bisa membuat mereka menye-menye, cengeng, labil, berpikiran pendek, dan sebagainya.

Itu sebabnya dulu aku jarang iseng membeli buku yang aneh-aneh. Tapi, setelah bekerja, aku mulai iseng. Beberapa kali aku membeli buku hanya karena melihat sampulnya yang cantik atau hanya berdasarkan dugaan "kayaknya bagus, deh". Tapi, selama ini buku-buku yang dibeli secara impulsif itu masih dalam kadar aman alias tidak berpotensi merusak mental pembacanya. Misalnya Bliss, Born Under Million Shadows, dan Sang Penerjemah. Dan tanggal 17 lalu aku kembali bertindak impulsif. Akibatnya? Fatal! Aku membeli sebuah buku karya penulis Korea yang bergenre romance (jangan tanya apa judulnya). Iya, emang nggak gue banget! Aku memang tidak terlalu suka romance. Tapi, membaca tulisan di bagian belakang buku aku jadi tertarik. Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang ingin bercerai dengan suaminya. Menarik, kan? Ditambah lagi sampulnya cantik, warna-warni. Lalu, apakah isinya secantik sampulnya? Sayangnya tidak. Isinya horror! Bukan horror yang hantu-hantuan melainkan 'horror' yang lainnya. Di awal cerita memang menarik. Ada bau-bau romantisnya. Tapi, kemudian ada adegan dewasanya. Tentu saja aku kaget. Kupikir ini cerita konflik rumah tangga yang hanya menceritakan masalah perasaan tanpa adegan begituan. Ternyataaa...

Rabu, 14 Agustus 2013

Ibuku Selangkah Lebih Maju

Tradisi keluarga kami setiap Idul Fitri adalah mengunjungi keluarga yang lebih tua, misalnya Pakdhe, Budhe (kakak dari Ibu), dan Simbah (ibu dari Abah). Idul Fitri kemarin pun begitu. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah rumah Budhe di Siasem. Budhe ini istri dari kakak Ibu yang sudah meninggal.

Anak-anak Budhe ini semuanya lebih tua dariku dan sudah menikah. Mungkin karena mereka lebih tua, mereka pun enteng bertanya kepada Ibu, "Kapan mantunane?" Maksudnya adalah kapan aku, anak  Ibu yang cuantik, pintar, sholihah ini menikah. Halah, kok, aku jadi memfitnah diri sendiri begini? Tanpa diduga Ibu menjawab, "Bar bada." Maksudnya setelah lebaran. Heeeh? Aku cuma tertawa mendengar jawaban ngaco Ibu. Dilamar pun belum, bagaimana mau menikah? Budhe dan para sepupuku pun heboh, bertanya-tanya, "Temenan? Kapan?" Beneran? Kapan? Ibuku tetap pede menjawab kalau yang dikatakannya tadi itu benar. Ibu kemudian menambahkan, "Tanggal wolu, bada Syawal." Tanggal delapan, Lebaran Syawal.

Yang repot aku. Mereka menanyaiku, "Dapat orang mana?" Blah! Mesti jawab apa? Kalau yang bertanya sepupuku yang seumuran dan akrab, mungkin aku akan menjawab "orang Korea, artis terkenal, namanya Lee Dong Gun". Berhubung yang bertanya adalah sepupu yang tidak terlalu akrab denganku, aku cuma cengar-cengir.

Selasa, 13 Agustus 2013

Mudik (Lagi)

Aku mau cerita perjalanan mudikku kemarin. Apa? Bosan membaca cerita perjalanan mudikku? Yah, maap-maap saja. Aku masih suka bercerita tentang perjalananku. Maklum, ini, kan, blog geje yang isinya personal, suka-suka, dan banyak curhatnya.

Ada beberapa hal yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa saja?

Ganti Partner

Tahun 2013 ini adalah mudik lebaran dari Blangpidie yang kelima bagiku. Kali pertama aku mudik lebaran dari Blangpidie adalah tahun 2009. Dan selama 2009-2012 aku selalu mudik lebaran dengan Intan, kawanku yang penempatan di Aceh Selatan. Berhubung Intan sudah pindah ke Maluku sana mengikuti sang suami, aku tidak mudik dengannya lagi. Kupikir aku akan mudik sendirian. Ternyata Rika, kawan sekantorku, mengomporiku untuk membeli tiket pesawat di tanggal yang sama dengan kepulangannya. Dia juga mengompori Jamal, kawan sekantor kami. Jadilah kami memesan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan yang sama.

Kami bertiga berangkat dari Blangpidie hari Jum'at tanggal 2 Agustus 2013, sekitar pukul delapan malam. Aku berangkat dalam kondisi yang kurang sehat. Beberapa hari sebelumnya aku sakit tapi sehari sebelum berangkat aku merasa sudah sembuh. Eh, malah di hari Jum'at aku kembali tidak enak badan. Dan parahnya, sopirnya ngebut agar tiba di Medan pukul enam pagi. Alhasil aku muntah dengan suksesnya. Ngisin-isini. Untung aku cuma pulang bareng Rika dan Jamal. Coba kalau aku bareng mas-mas ganteng seperti Noah Wyle, bisa rusak reputasiku kalau ketahuan gampang mabuk darat. Eh, tapi kalau semobil dengan orang seganteng Noah Wyle mungkin aku tidak akan mabuk, ya? Ah, sudahlah.

Sampai di Bandar Baru kami istirahat sekalian makan sahur. Kami bertemu Mbak Novel dan Nisa yang baru penempatan di Aceh Selatan. Dan komentar Mbak Novel sewaktu melihatku, "Dirimu, kok, membengkak sekali?" Hiks! Kejamnya! Sebegitu bengkakkah diriku sekarang? Terakhir kali aku bertemu Mbak Novel adalah tahun 2009, sewaktu mudik lebaran juga. Kebetulan waktu itu kami satu pesawat. Dan waktu itu aku memang belum segemuk saat ini. OK, cukup curhat tentang berat badannya. Mbak Novel juga mengomentari jaket PKL yang kupakai. Jaket itu memang sudah 'tua', umurnya sudah sekitar 6 tahun. Tapi, aku masih setia mengenakannya kalau bepergian jauh.

Jamal menawariku untuk bertukar tempat duduk setelah tahu aku muntah. Tadinya Jamal duduk di samping sopir sedangkan aku dan Rika di belakang sopir. Tadinya aku berpikir percuma saja duduk di depan kalau sopirnya horror. Tapi, setelah dipikir-pikir, kalau aku di depan, Rika bisa leluasa duduk di belakang sopir sendirian, dan Jamal bisa mengungsi ke kursi paling belakang, sendirian juga. Akhirnya aku duduk di samping sopir. Dan Alhamdulillaah, biarpun mual, aku tidak muntah.

Minggu, 28 Juli 2013

Menjaring Angin (9)

Aku suka Pukat? Yang benar saja. Mas Wukir ini ada-ada saja. Memangnya kalau aku membelikan Pukat makanan berarti aku menyukainya? Dia, kan, bukan satu-satunya teman laki-laki yang kubelikan makanan. Eh, tunggu. Sepertinya ... Selain Mas Wukir, sepertinya memang cuma Pukat teman laki-laki yang kubelikan makanan. Selama ini aku tidak sudi berbaik hati pada teman laki-laki termasuk tidak sudi membelikan makanan. Tapi, bukan berarti aku suka Pukat, kan? Aku tidak suka Pukat. Aku hanya ... Aku hanya ... Aku hanya suka senyumnya, aku hanya suka tatapan matanya yang tetap tenang meskipun aku melancarkan tatapan penuh intimidasi, aku hanya suka bercanda dengannya. Hanya itu. Bukan berarti aku suka Pukat, kan?

***

Setelah beberapa jam berkutat dengan komputer, saatnya aku melarikan diri. Yeah, sudah saatnya makan siang. Itu berarti sudah saatnya kabur ke kantin dan MAKAN! Biasanya di jam makan siang begini kantin ramai. Terlambat sedikit saja, meja sudah penuh. Untungnya ada Matari yang ruangannya paling dekat kantin. Dialah yang paling dulu pergi ke kantin untuk mencari tempat duduk untuk Sasi dan aku. Begitu pun hari ini. Saat aku datang, Matari sudah duduk (sok) manis di meja paling ujung. Masih ada empat kursi kosong lagi. Saat aku baru duduk, Sasi pun datang. Lengkap sudah. Tinggal memesan makanan. Hari itu kami bertiga memesan makanan yang sama: gado-gado. Sepertinya aku sedang beruntung hari ini.

Sabtu, 27 Juli 2013

Ada Apa Di Kepalamu?

Sudah tiga kali website kantor kami diretas (di-crack). Dan yang ketiga ini yang paling membuatku merasa ngenes dibandingkan dua kejadian sebelumnya. Yang pertama, website kami dibuatkan orang dari kantor pusat, tugasku hanya mengelola. Belum sempat aku mengutak-atik website, ternyata sudah di-crack. Kemudian kami dibantu kawan dari kantor provinsi untuk memperbaikinya. Baru sebentar diperbaiki, baru upload beberapa publikasi, diretas lagi. Setelah itu diputuskan untuk membuat website baru dengan Joomla 2.5 (yang sebelumnya menggunakan Joomla 1.5). Kali ini aku membuat sendiri. Baru seminggu website diaktifkan, sudah diretas lagi. Rasanya? Ngenes. Hasil kerja selama beberapa minggu, sampai meninggalkan pekerjaan lain, dirusak begitu saja. Seperti tukang yang sudah susah payah membangun rumah, lalu ada orang tak dikenal tiba-tiba merobohkannya.

Kamis, 25 Juli 2013

Menjaring Angin (8)

Sudah seminggu aku selalu pulang malam. Lembur. Aku harus meng-entry sekaligus mengawasi ketiga stafku yang sedang meng-entry. Eh, sebenarnya bukan cuma mengawasi tiga orang itu. Aku juga mengawasi Pukat dan Baruna, staf Bagian Analisis yang kubajak demi mengejar deadline entry data. Untungnya bulan ini Bagian Analisis belum terlalu sibuk. Sasi dan Matari? Ah, lupakan mereka. Bagian Survei juga sedang sibuk-sibuknya sebagaimana Bagian Pengolahan Data, jadi Sasi tak bisa diganggu. Malam hari adalah jadwalnya memeriksa dokumen survei agar sudah clean ketika diserahkan ke Bagian Pengolahan untuk di-entry. Matari? Dia sudah stress mengatur keuangan, SPJ ini, SPJ itu, laporan keuangan. Dan mengajaknya meng-entry malam sama saja mencari bencana. Bisa-bisa setiap menemukan kesalahan dia mengomel, “Ini yang bikin aplikasi siapa, sih? Error melulu!”

***

“Udah jam sembilan, Mbak. Nggak pulang?” tanya Pukat.

“Iya, bentar lagi. Mau backup hasil entry dulu,” Pawana beranjak menuju server.

Setelah mem-backup hasil entry sementara, Pawana pun berkemas-kemas. Pukat juga ikut berkemas-kemas.

“Ngapain kamu? Mau pulang juga?” tanya Pawana.

“Mau nganterin Mbak Nana pulang. Udah malam,” jawab Pukat.

“Sunu, saya pulang dulu, ya! Kalau udah selesai, jangan lupa backup, terus matikan server. Kalau nanti ada error yang nggak bisa ditangani, biarin aja error. Jangan dipaksa clean. Catat aja error-nya lalu serahin ke saya besok. OK?” kata Pawana pada salah satu stafnya dan kemudian beranjak meninggalkan ruang entry data setelah stafnya itu memberi tanda OK.

“Kamu pinter cari alesan, ya!” kata Pawana pada Pukat begitu mereka keluar dari ruang entry data.

“Alesan apa?” tanya Pukat.

“Bilang aja kamu nggak mau ngentry sampai pagi. Pakai alesan nganterin saya pulang,” sindir Pawana. Pukat hanya tertawa kecil.

“Tapi masih lumayan, lah. Setidaknya kamu masih mau bantu ngentry sampai malam. Makasih.”

“Cuma makasih? Nggak ada imbalan? Beliin kue misalnya.”

“Kamu mau kue apa? Kue nastar? Bolu? Black forest? Atau kue cucur?” canda Pawana.

“Kue cucur boleh juga. Aku suka. Buruan kamu jalan. Aku ngikutin dari belakang,” Pukat bersiap-siap menyalakan sepeda motornya.

“Panggil apa tadi? ‘Kamu’? Heh, yang sopan sama senior!” Pawana mulai memasang tatapan Medusa-nya.

“Memang kenapa, Nana? Nggak boleh?”

“Nana? Nggak pake ‘mbak’?” Pawana makin menajamkan tatapan Medusa-nya. Dan sayangnya, tatapan itu tidak mempan untuk Pukat. Dia tidak membatu. Dia justru tersenyum. Pawana pun segera menyalakan sepeda motornya.

Dan sejak hari itu, selama seminggu Pukat selalu mengantar Pawana pulang.

Selasa, 23 Juli 2013

Lilin

“Sugeng tanggap warsa, Pak!” ujar Laksmi sambil memeluk Bapak.

“Oalah, Nduk! Bapak sendiri malah lupa ulang tahun Bapak. Memangnya sekarang umur Bapak berapa?” tanya Bapak pada Laksmi.

“Sudah 63 tahun, Pak,” jawab Laksmi.

“Ini, tiup lilinnya dulu. Terus potong kuenya,” Laksmi menyodorkan kue black forest yang permukaannya dipenuhi batangan lilin menyala.

“Lhadalah!” pekik Bapak terkejut melihat banyaknya lilin yang harus dia tiup: 63.



Rabu, 17 Juli 2013

Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Cover-nya sampai disensor karena 'ngeri'
Kalau kata 'Islam' ditambah 'liberal', menjadi bukan Islam lagi. Itu seperti kata ‘orang’, ditambah kata ‘hutan’. Jadinya ‘orang hutan’. Apa ‘orang hutan’ sama dengan ‘orang’?
kata Rahmat kepada Kemi

Namanya Kemi, lengkapnya Ahmad Sukaimi. Dia adalah santri cerdas di Pesantren Minhajul Abidin di Jawa Timur. Suatu hari dia pamit pada Kyai Rois – pemimpin pesantren Minhajul Abidin – untuk kuliah di Jakarta. Ternyata dia mendapat beasiswa Institut Damai Sentosa, sebuah institut yang kental dengan nuansa ‘liberal’. Setelah kuliah di sana, pikiran Kemi pun mulai terpengaruh paham liberal.

Hingga setahun kemudian Kemi bertemu Rahmat, kawannya sewaktu di pesantren. Dalam obrolan mereka, muncullah perdebatan. Kemi mengkritisi pendapat umat Islam yang selalu menganggap agamanya paling benar. Bagi Kemi, pada dasarnya semua agama benar, semua menuju Tuhan yang satu, hanya saja nama Tuhannya berbeda-beda. Rahmat pun mempertanyakan pendapat Kemi tersebut. Kalau Tuhannya sama, apa mungkin di satu sisi Dia menyatakan bahwa Isa mati disalib dan di sisi lain Dia menyatakan bahwa Isa tidak mati disalib? Apa mungkin Tuhan yang sama di satu sisi mengharamkan babi dan di sisi lain menghalalkan babi? Kalau seorang muslim berpendapat bahwa semua agama lain benar, bukankah berarti dia bukan muslim lagi? Kalau dia memandang semua agama dalam posisi netral, tidak dalam posisi agama manapun, sama artinya dia tidak beragama.

Senin, 15 Juli 2013

Aku, Kamu, Kita

Aku dan kamu
bukanlah sepasang padi dan gulma
Kita
hanya sepasang kecambah
Berdiri beriringan
Tegak mencari sinar matahari
Menebarkan serabut-serabut akar
mencari butir-butir air
Tumbuh bersama
menuju satu titik
yang kita sebut
DEWASA

Minggu, 14 Juli 2013

Please, Look After Mom: Novel yang Menggalaukan

Gambar pinjam dari Goodreads
Seberapa baik kau mengenal ibumu? Itu pertanyaan yang terngiang di pikiran Chihon setelah ibunya hilang. Ibunya hilang di Stasiun Seoul ketika hendak naik kereta bersama ayahnya untuk mengunjungi Chihon dan ketiga saudaranya yang lain.

Bagaimana mungkin Ibu bisa hilang? Begitu tanya istri Hyong-chol atau kakak ipar Chihon.  Saat itulah Chihon baru menyadari satu hal yang selama ini tidak dia perhatikan. Sewaktu Hyong-chol sekolah di Seoul, Ibu selalu meminta Chihon untuk membacakan surat dari Hyong-chol keras keras dan meminta Chihon menuliskan surat balasan untuk Hyong-chol. Chihon baru menyadari bahwa Ibu memintanya melakukan semua itu karena ia tidak bisa membaca.

Chihon juga teringat kondisi Ibu belakangan ini. Ia pernah melihat Ibu pingsan di rumah. Ibu pernah mengatakan padanya bahwa Ibu kerap merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan sering lupa ketika hendak melakukan sesuatu. Ibu tidak bisa membaca, ditambah penyakit Ibu belakangan ini, bisa jadi itu alasan Ibu tidak bisa naik kereta sendiri untuk menyusul ayah mereka.

Jumat, 12 Juli 2013

27

Tanggal 11 Juli kemarin aku genap berusia 27 tahun. Lho, 27 bukannya ganjil? Oke, aku ganjil berusia 27 tahun. Sudah tua? Iya, memang. Sudah dewasa? Sepertinya belum. Umm, sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu batasan seseorang bisa disebut dewasa atau tidak. Kalau dewasa itu artinya tidak egois, sepertinya aku belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya sabar, sepertinya aku juga belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya bisa mengendalikan dan menyembunyikan amarah, yah, berarti aku belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya bisa menghadapi masalah dengan tenang, tidak grusa-grusu, tidak panik, berarti aku juga belum dewasa. Kalau dewasa itu artinya bisa mengambil keputusan dengan cepat dan bertanggung jawab, sepertinya aku juga masih jauh dari kata dewasa. Hmm, sudahlah. Lagipula, sepertinya dewasa bukanlah pencapaian melainkan proses. Sejak lahir sampai mati kita akan selalu menjalani proses pendewasaan diri.

Kamis, 11 Juli 2013

Menjaring Angin (7)

“Yuk, kita cari novelnya,” Pawana menarik lengan jaket Wukir.
“Digandeng tangannya langsung aja, Mbak. Nggak usah narik jaketnya,” ledek Pukat.
Pawana melepaskan pegangannya pada jaket Wukir lantas berlalu menuju rak tempat novel-novel. Merengut. Wukir bergegas menyusulnya.

***

“Siapa tadi?” tanya Wukir sambil diam-diam membuka plastik yang membungkus sebuah novel. Eragon, judul novel itu. Matanya bergerak-gerak mengawasi siapa tahu ada penjaga yang melihatnya.

“Pukat. Anak baru di kantor,” jawab Pawana singkat. Wajahnya masih ditekuk, masih kesal dengan sindiran Pukat tadi.

“Kok, aku baru lihat, ya? Rasanya aku kenal semua karyawan di kantor provinsi DKI,” tanya Wukir sambil membolak-balik novel yang baru berhasil dia buka bungkusnya.

“Baru kerja dua bulanan. Fresh graduate. Dia di Bagian Analisis. Dia juga belum pernah pergi ke kantor pusat, makanya Mas Wukir nggak pernah lihat dia,” jawab Pawana.

“Kayaknya Siwi belum punya novel ini, deh. Beliin ini aja. Bagus ceritanya,” Pawana menyodorkan novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye.

“Oh, ini, kan, novel yang bikin kamu mewek itu. Kalau kamu sampai mewek, berarti ceritanya memang bagus,” Wukir tersenyum lebar sedangkan Pawana kembali merengut.

“Kalau orang kantor tahu kamu nangis cuma gara-gara baca novel, rusak image garangmu,” Wukir masih semangat menggoda Pawana, tak peduli biarpun Pawana terlihat makin murka.

“Sorry. Just kidding!” kata Wukir sambil mengacak rambut gadis yang sudah dikenalnya selama empat tahun itu.

“Oke. Aku ambil novel yang itu sesuai saran kamu. Kamu mau beli novel apa? Sesuai janji, aku traktir kamu satu buku,” kata Wukir. Pawana menunjukkan novel tebal di tangannya. The Lost Symbol. Lalu membaliknya, menunjukkan label harganya.

“Itu, kan, mahal, Na,” kata Wukir lemas. Pawana tersenyum lebar. Puas.

Selasa, 02 Juli 2013

Menjaring Angin (6)

Dengan kekuatan bulaaan, akan menghukummu!

Pawana menoleh mendengar suara tersebut. Ada sms masuk rupanya. Dari Pak Agni. Hati Pawana rusuh. Pasti teguran karena dia terlambat mengirimkan hasil entry data ke kantor pusat. Dan ternyata ... dugaannya benar. Tidak meleset sama sekali.

“Semena-mena! Bikin deadline nggak rasional, mepet. Giliran telat, aku juga yang diomelin. Sehari kerja 24 jam pun nggak terkejar itu deadline!” rutuk Pawana.

Baru saja Pawana hendak meraih smartphone-nya untuk mematikannya – demi menghindari sms (lagi) dan telepon dari Pak Agni – benda itu berbunyi sekali lagi.

Cahaya cinta perlahan menyilaukan. Itulah mimpi kehidupan kedua. Mimpi itu dari mana datangnyaaa?

Di layar tertulis “Mas Wukir”. Pawana langsung mengangkat teleponnya. Selama menerima telepon, wajah Pawana berseri-seri.

***

Sabtu, 29 Juni 2013

Menjaring Angin (5)

I hate Monday. Kali ini aku benar-benar membenci hari Senin. Bukan. Bukannya aku benci bekerja. Aku benci hari Senin ini karena hari ini aku harus ke kantor dan harus bertemu Medusa. Hari ini aku kembali diperbantukan di Bagian Pengolahan Data.

Tak bisa kubayangkan bagaimana sikapnya nanti padaku. Sebelum peristiwa kemarin pun dia sudah bersikap judes padaku, apalagi setelah kemarin aku mengatakan tak mau dijodohkan dengannya? Bisa-bisa makin bengis sikapnya padaku.

Selain harus menghadapi Medusa, aku juga harus menghadapi Mama. Semalam Mama menanyakan bagaimana pertemuanku dengan Medusa, eh, Pawana. Mau tak mau aku menceritakan semua yang terjadi. Dan Mama? Seperti yang kuduga, mendadak galau. Mama khawatir Pawana dan Tante Kartika akan tersinggung dengan perkataanku. Dan satu yang tak terpikirkan olehku sebelumnya: hal ini bisa merusak persahabatan Mama dan Tante Kartika. Huh, rumitnyaaa!

Ah, sudahlah. Lebih baik aku segera bersiap berangkat ke kantor.

Jumat, 28 Juni 2013

Menjaring Angin (4)

Dua bulan lalu, ketika aku baru seminggu bekerja di kantorku, aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Sebenarnya aku bertugas di Bagian Analisis tapi karena pekerjaan di Bagian Pengolahan Data sedang membanjir lantaran ada proyek besar, aku pun diperbantukan di sana. Aku menjadi salah satu entrior. Karena masih belum perpengalaman dalam hal entry data, aku pun sering bertanya pada supervisor.

“Mbak, ini kenapa, ya? Kok, ada pesan error begini?”

“Itu artinya penjumlahannya salah. Nilai isian kolom lima ditambah kolom enam harusnya sama dengan nilai isian kolom tujuh,” jelasnya.

“Mbak, ini kenapa lagi?”

“Kamu ngapain ngisi itu? Kalau pertanyaan nomor lima isinya kode dua, pertanyaan enam dan tujuh kosongin aja,” katanya sembari menghapus isianku yang dimaksud.

“Mbak, ini, kok, ada tulisan network error?”

Si Mbak Supervisor pun segera mengecek kotak kecil yang ada di sampingku.

“Itu kabelnya kendur, nggak pas nyolok di switch-nya,” jawabnya sambil membenarkan posisi kabel abu-abu ke lubang di kotak kecil di sampingku. Jadi, kotak itu namanya switch.

“Makanya, kamu duduknya jangan lasak!” katanya. Sekilas aku melihat matanya. Tatapannya terkesan mengintimidasi, meskipun aku tidak merasa terintimidasi.

Menjaring Angin (3)

Pawana sudah tiba restoran ayam goreng franchise sepuluh menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Biarpun kesal karena orang-yang-entah-siapa-namanya mengubah tempat bertemu yang tadinya dekat kantornya menjadi sedikit jauh, dia tetap berusaha untuk tidak mangkir. Dia teringat semua ancaman Ibu. Lagipula perpindahan lokasi itu menguntungkan Pawana karena tempatnya di samping toko buku. Jadi, sebelum ke restoran, Pawana mampir dulu ke toko  buku untuk mengkhilafkan diri memborong buku-buku secara impulsif. Hasilnya? Kantung plastik besar berisi buku-buku yang jika ditotal harganya cukup untuk membeli harddisk eksternal 320 GB – yang sebenarnya lebih dia butuhkan saat ini.

Pawana melihat screen saver jam digital di smartphone-nya. Pukul 10.45. Sudah lewat lima belas menit dari waktu yang ditentukan. Bosan. Pawana meraih smartphone-nya dan menyalakan aplikasi chat dan mulai mengganggu Sasi dan Matari dengan stiker-stiker aneh. Begitulah. Kalau Pawana sudah bosan, yang jadi korban adalah Sasi dan Matari. Sembari chatting mengganggu dua kawannya, Pawana memesan ayam goreng dan french fries. Tapi, kali ini Pawana tak bisa menghabiskannya dalam waktu lima menit. Butuh waktu lama menghabiskan makanan yang tidak terlalu disukainya itu. Ia pun teringat kata-kata Ibunya ketika dia protes karena tempat pertemuannya di restoran ayam goreng. “Bagus kalau ketemuannya di situ. Kamu, kan, nggak doyan ayam goreng begituan. Jadi nanti nggak kelihatan nggragas,” kata Ibu. Pawana pun susah payah membayangkan bahwa di hadapannya bukan ayam goreng tepung melainkan ayam penyet kesukaannya.

Sudah pukul 10.55 dan orang-yang-entah-siapa-namanya masih belum terlihat batang hidungnya.

Menjaring Angin (2)

“Pukat, kamu sudah punya pekerjaan tetap, gaji lumayan, udah waktunya nikah,” kata Mama pada Pukat, putra bungsunya yang sedang asyik dengan smartphone-nya.

“Ma, umur Pukat baru dua tiga. Nanti aja nikahnya kalau udah dua lima,” jawab Pukat.

“Mama udah tua, Pukat. Kelamaan kalau mesti nunggu dua tahun lagi. Kalau tahun depan Mama mati gimana?”

“Tuh, kan. Mama bawa-bawa mati mulu. Ya, Mama jaga kesehatan lah, biar bisa lihat Pukat nikah dua tahun lagi,” kata Pukat mulai merajuk. Biasanya jurus ini ampuh untuk membuat Mama berhenti mendesak Pukat untuk menikah. Sayangnya, kali ini tidak.

“Mama nggak tenang kalau kamu belum nikah. Apalagi kamu tinggal jauh di Jakarta. Kalau kamu punya istri, kan, kamu nggak sendirian lagi di sana. Mama bisa tenang,” kata Mama membujuk. Melihat Pukat hanya terdiam, Mama pun melanjutkan bujukannya.

“Mau nggak Mama kenalin sama anak teman Mama? Anaknya baik, pintar, dari keluarga baik-baik, dia kerja di Jakarta juga, lho!”

Kamis, 27 Juni 2013

Menjaring Angin (1)

“Nana!” teriak Matari. Napasnya terengah, tampaknya dia baru saja berlari demi segera sampai di ruangan kerja Pawana. Pawana yang dipanggil pun menoleh.

“Tari, di mana-mana kalau masuk ruangan orang lain itu ketuk pintu atau salam. Ini malah teriak nggak jelas!” sembur Pawana. Sasi yang sedang duduk di samping Pawana hanya tersenyum. Maklum dengan kelebihan kedua kawannya itu, yang satu kelebihan energi dan semangat, yang satu lagi kelebihan emosi.

Matari menyodorkan kartu undangan berwarna merah hati pada Pawana lalu segera duduk di kursi di depan meja kerja kawan akrabnya itu.

“Minggu depan Lia nikah, Na,” kata Matari yang hanya ditanggapi Pawana dengan “oh” panjang.

“Alhamdulillah kalau gitu. Akhirnya Lia ketemu jodohnya juga,” sahut Sasi sambil membaca undangan yang tadi dibawa Matari.

“Kok, kalian santai gitu? Kalian nggak sadar? Kalau Lia nikah, berarti di antara SEMUA teman kuliah seangkatan, tinggal kita bertiga yang belum nikah!” Matari berapi-api berusaha menyadarkan kedua kawannya akan kenyataan pahit yang akan mereka hadapi.

So what?” tanya Pawana sambil tetap berkutat dengan laptopnya. Dia tetap acuh tak acuh sedangkan Sasi sudah mulai terpengaruh kalimat-kalimat Matari nan dramatis bin lebay.
“Kamu nggak iri sama teman-teman kita yang udah nikah? Kamu nggak pengen nikah, Na?” tanya Sasi.

“Kenapa aku mesti nikah? Give me a reason!

Jumat, 07 Juni 2013

Sibuk?

Sibuk! Itu kata yang agaknya mewakili keadaanku sebulan terakhir dan sepertinya akan tetap seperti itu hingga dua bulan ke depan. Mulai dari meng-entry laporan ST2013-P yang tidak bisa masuk ke server, memeriksa hasil editing coding dokumen ST2013-L, mengawasi petugas editing coding, menyiapkan dokumen yang akan dikirim, meng-entry dokumen ST2013-P, hingga beberapa pekerjaan yang kelihatannya sepele tapi lumayan membuat senewen juga. Lelah juga, sih. Tepatnya bukan lelah secara fisik tapi lelah secara mental. Kadang juga sampai bingung mana yang mau dikerjakan terlebih dahulu. Stress, bok! Untungnya aku tidak terlalu rajin sampai membawa pulang pekerjaan. Bisa-bisa makin senewen kalau aku membawa pekerjaan ke rumah, hehehe.

Tapi, jadi teringat nasihat orang-orang bijak, katanya tidak baik bila terlalu banyak mengeluh. Jadi, biarpun lelah, tetap tak boleh mengeluh, kan? Dan seperti kata seorang teman, beruntunglah orang yang sibuk bekerja karena di luar sana masih banyak orang yang tidak punya pekerjaan dan pusing mencari pekerjaan. Lihatlah para tukang becak yang lelah mengayuh becaknya berkilo-kilo, para penjual yang mesti mendorong gerobaknya berkilo-kilo, atau pedagang asongan yang mesti menjajakan dagangannya naik turun KRL, atau petani yang mesti berpanas-panasan mencangkul di sawah. Aku tidak selelah mereka, atau kalau rasa lelah itu tidak bisa dibandingkan, aku harus memahami bahwa bukan aku yang paling lelah dan bukan aku sendirian yang merasa lelah. Orang lain juga lelah dalam bekerja. Jadi, aku tak boleh mengeluh.

Senin, 03 Juni 2013

Masihkah Merasa Pekerjaanmu yang Terberat?

Sudah kesekian kalinya orang-orang itu mengeluhkan pekerjaan mereka. Memang, pekerjaan mereka -- yang sebagian besar di lapangan -- datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda. Aku pun berusaha memahami ketika mereka mengeluh. Aku tahu betapa lelahnya mereka. Aku menahan diri untuk tidak berkata, "Kalian, kan, memang dibayar untuk mengerjakan itu semua." Namun, ketika mereka berkata (lagi) bahwa kami yang bertugas di kantor -- bukan di lapangan -- pasti akan mengeluh dan menangis bila mengerjakan pekerjaan mereka, aku merasa sedikit terganggu. Aku pun teringat perkataan seseorang yang mengatakan bahwa aku selama ini duduk-duduk saja. Rasanya... Rasanya... Rasanya... Ah, tak terlukiskan dengan kata-kata.

Kalau dibilang pekerjaanku cuma duduk-duduk saja, ya, memang tugasku sebagian besar kukerjakan tanpa perlu ke lapangan. Sebagian besar tugasku adalah meng-entry hasil pencacahan lapangan. Jadi, aku di kantor saja, tanpa berpanas-panasan seperti mereka. Lalu, apa berarti pekerjaanku tidak berat? Apa berarti pekerjaanku tidak sesulit pekerjaan mereka? Sungguh tidak mungkin membandingkan kesulitan pekerjaanku dengan pekerjaan mereka, seperti membandingkan apel dengan jambu, mana bisa?