Kamis, 30 Januari 2014

Persona Non Grata (Yang Terbuang)


Covernya cakep.

Namanya Dean Pramudya. Mahasiswa cerdas, selalu berprestasi sejak kecil. Meskipun berasal dari keluarga kaya, Dean tidak merasakan kebahagiaan. Itu karena orang tuanya terlalu sibuk sehingga tidak memberinya perhatian. Dia juga merasa semua prestasi yang diraihnya hanya untuk memenuhi keinginan orang tuanya, bukan keinginannya sendiri. Dean pun kemudian memutuskan melepaskan predikat “anak baik”nya dan memilih menjadi seorang cracker. Dia menjadi pemimpin Cream Crackers, sekumpulan cracker yang kerap membajak rekening, memalsukan kartu kredit, dan sebagainya.

Sewaktu Dean di Batam, dia bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta. Dia adalah korban human trafficking yang dipaksa menjadi wanita penghibur. Dean sering mengunjunginya. Namun, setelah Dean kembali ke Jakarta, mereka tak bertemu lagi. Hingga kemudian, gadis itu berhasil kabur dari lokalisasi. Berbagai peristiwa dalam pelariannya “membawa” gadis itu ke Yayasan Pelita yang dipimpin Luthfi. Gadis itu mengaku hilang ingatan, hingga namanya sendiri pun tak tahu. Luthfi pun memberinya nama. Sarah.

Ketika Luthfi hendak mempertemukan Sarah dengan seseorang yang mungkin mengetahui identitasnya, Sarah memutuskan kabur dari asrama yayasan. Dia pun menghubungi Dean melalui pesan Facebook. Gadis itu dalam bahaya, begitu pikir Dean setelah membaca pesannya. Dia pun langsung memesan tiket pesawat ke Batam. Dean tidak sadar. Bukan hanya gadis itu yang dalam bahaya. Di Batam, ada bahaya lain yang menunggu Dean. Bahaya apakah itu? Bagaimana pula dengan kelanjutan “karir” Cream Crackers?

Silakan baca novel Persona Non Grata (Yang Terbuang) karya Riawani Elyta untuk mengetahui jawabannya.

Senin, 27 Januari 2014

Geek in High Heels



Athaya, perempuan berusia 27 tahun, web designer, pencinta sepatu, SINGLE. Yang terakhir itu yang paling penting. Single. Status yang membuat Athaya sering diinterogasi di acara keluarga. Athaya juga (menganggap dirinya) kurang beruntung dalam urusan percintaan karena tiap pacaran selalu putus.

Dan di saat dia merasa tidak beruntung dalam percintaan, dia justru mendapatkan dua “cinta” sekaligus: Ibra dan Kelana. Ibra adalah seorang marketing manager di perusahaan klien Athaya. Introvert, womanizer, dan workaholic, atau menurut pengakuannya: mencintai pekerjaan. Ibra juga sering mengirim kue untuk Athaya alih-alih mengirim bunga. Kelana adalah seorang penulis muda yang novel-novelnya jadi best seller. Kalau sedang sibuk menulis, Kelana akan sangat susah dihubungi. Manda, sahabat Athaya, menyebutnya makhluk setengah demit.

Athaya dihadapkan pada dua pilihan: Ibra dengan keseriusannya untuk berkomitmen atau Kelana dengan sikapnya yang sulit ditebak yang selalu membuat Athaya rindu. Siapa yang akan ia pilih? Kalau mau tahu jawabannya, baca saja novel Geek in High Heels. Hehehe....

Rabu, 15 Januari 2014

Biggest Fans

I am Benedicted. I am Cumberbatched. I am Benaddicted.

Ah, sudah. Cukup. Bukan Mamas Beben yang akan kubicarakan kali ini. Tapi, termasuk salah satu efek kegilaanku pada si Mamas ini.

Seperti biasa, kalau aku ngefans pada artis, aku akan googling. Selain foto, biodata, berita, tentunya di internet bertebaran tulisan dari fans. Begitu pun pada kasus Benedict ini. Aku menemukan banyak akun twitter para penggemarnya dan blog fandom-nya. Isinya? Gila, segila tingkah fandom yang tergila-gila pada aktor yang mereka gilai itu. Oke. Sudah terlalu banyak kata gila.

Senin, 13 Januari 2014

I AM SHERLOCKED

I am Sherlock-ed!
Yeah!

Aku tidak ingat kapan kali pertama aku menonton Sherlock, serial produksi BBC. Kalau tidak salah sekitar tahun 2012. Waktu itu aku langsung maraton menonton 6 episode season 1 dan 2. Semalaman. Kalau di Sherlock Holmes yang movie aku lebih suka pemeran John Watson (Jude Law) dibanding Sherlock Holmes (Robert Downey Jr), di serial ini aku lebih suka pemeran Sherlock. Ingat, ya! Lebih suka. Berarti aku juga suka pemeran John Watson (Martin Freeman). Tapi, aku lebih suka pemeran Sherlock: Benedict Cumberbatch. Dan setelah itu langsung kepo dengan pemainnya. Langsung googling.



Kenapa aku suka serial Sherlock? Alasan utamanya: ya, suka aja. Ini alasan yang tidak bisa dibantah. Alasan lainnya, aku suka ceritanya yang membuatku penasaran dan membuatku bertahan menahan kantuk demi menontonnya. Buktinya aku sampai rela begadang demi menonton 6 episode secara maraton. Gaya Sherlock ketika menggunakan mind palace-nya (di episode Hound of Baskerville) itu keren! Cool! Dan gaya Sherlock ketika menaikkan kerah mantelnya. Aw aw aw! Tadinya aku tidak memperhatikan. Tapi, setelah John protes dengan gaya "sok keren" itu, aku jadi memperhatikan. Dan ternyata MEMANG KEREN.


Selasa, 07 Januari 2014

Bete Karena Oleh-Oleh

Kalau perantau baru kembali dari kampung halaman, apa yang akan ditagih oleh kawan-kawan di rantau? Yup! Oleh-oleh. Entah kenapa sepertinya membawa oleh-oleh seakan kewajiban bagi mereka yang baru pulang kampung. Umm, kalau baru pulang dari bepergian juga ditagih oleh-oleh.

Dan aku punya banyak pengalaman buruk soal oleh-oleh ini. Dulu, aku pernah membawa telur asin dan pilus. Dan sewaktu di bandara petugas memintaku membuktikan bahwa telur asin itu bukan telur asin mentah dengan cara memecahkan salah satu telur yang kubawa. Dua kali diperiksa X ray, dua kali pula diminta memecahkan telur. Ribet. Akhirnya, tahun berikutnya kuputuskan memaketkan oleh-oleh telur asin beberapa hari sebelum aku kembali ke Blangpidie. Dan ternyataaa ... ongkos kirimnya MAHAL. Lebih mahal dari harga sekardus telur asin yang kukirimkan. Dan sampai di Blangpidie, seseorang berkomentar, "Apa itu? Telur asin? Saya kira bawa dodol garut, kan lebih enak makannya.. Kalo telur asin di sini juga banyak." Jleb! Sudah buang-buang uang, oleh-olehnya malah tidak dihargai. Saat itu aku bertekad untuk tidak membawa oleh-oleh lagi. Tapi, sayangnya aku kurang teguh dalam memegang tekadku.

Kamis, 14 November 2013

Aku dan Perpustakaan

Siapa yang suka ke perpustakaan? Angkat tangannya! Jelas, aku adalah satu di antara sekian banyak orang yang TIDAK mengangkat tangan. Ya, aku tidak suka ke perpustakaan. Biarpun lumayan suka membaca, tapi perpustakaan tetap tidak menarik bagiku. Dan seumur hidup, aku jaraaang sekali ke tempat itu.

Sewaktu SD, aku tidak tahu di sekolah ada perpustakaan. Setelah naik kelas 6 (kalau tidak salah), aku mendengar kabar ada adik tingkat yang pintar dan rajin membaca buku perpustakaan. Emangnya ada perpustakaan di sekolah? Ternyata ada. Tapi, tempatnya kalau tidak salah di ruang guru. Heee? Di ruang guru? Itu adalah ruang angker. Bukan angker karena ada hantunya tapi angker karena ada guru-guru di situ. Padahal guru-guruku tidak galak -- setidaknya tidak galak padaku -- tapi tetap takut bertemu mereka di luar jam pelajaran. Jadi, aku tidak pernah ke perpustakaan.

Sewaktu SMP, aku ke perpustakaan beberapa kali. Dalam satu tahun ajaran, dua kali aku ke perpustakaan. Meminjam buku? Iya. Tepatnya meminjam buku paket di awal tahun ajaran dan mengembalikannya di akhir tahun pelajaran. Selain itu? Maaf-maaf saja. Tapi, teman sebangkuku sewaktu kelas satu SMP rajin ke perpustakaan. Dia sering meminjam buku tentang mitologi Yunani. Ada cerita tentang wanita yang memintal benang takdir, cerita asal-usul daun salam di kepala Apollo, cerita lahirnya Athena, pokoknya banyak. Dan kalau dia sudah meminjam buku, aku tinggal duduk di sampingnya dan ikut membaca.

Selasa, 05 November 2013

Menjaring Angin (13)

Wukir pun teringat ketika Sasi memberikan undangan pernikahan padanya dua minggu yang lalu. Sore itu, setelah jam kerja berakhir, ia bergegas ke kantor provinsi mengantarkan laptop Matari yang diperbaikinya. Ketika ia sedang mengobrol dengan Matari dan Pawana, Sasi pun datang membawa beberapa undangan.

“Akhirnya Sasi nyebar undangan juga. Mas Wukir kapan, nih?” goda Matari.

“Ntar siang aku sebar undangan,” jawab Wukir sungguh-sungguh – atau setidaknya kelihatan sungguh-sungguh.

“Serius?”

“Serius. Ntar siang aku sebar undangan. Undangannya Sasi,” kata Wukir yang langsung tergelak. Tapi ia tidak bisa lama tertawa karena Pawana langsung memukul lengannya dengan buku. Keras sekali. Ia baru saja membuka mulut hendak protes atas kesadisan Pawana ketika Matari tiba-tiba bertanya.

“Baruna? Ini bukan Baruna anak Analisis itu, kan?”

Sasi hanya tersenyum.

“Jadi Baruna yang itu? Serius? Nggak salah? Dia, kan, jauh lebih muda dari kita,” tanya Matari bertubi-tubi.

“Terus kenapa kalau lebih muda?” Sasi balik bertanya.

“Cowok seumuran dia pasti masih kekanak-kanakkan, belum dewasa!”

“Kedewasaan nggak selalu bisa dinilai dengan usia, kan? Ada orang yang bisa bersikap dewasa tanpa menunggu jadi tua. Baruna salah satunya. Asal kamu tahu aja, dia jauh lebih dewasa dari kamu,” Sasi yang biasanya tenang menghadapi Matari kini terlihat jengah.

“Eh, desainnya bagus. Siapa yang buat?” Wukir mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Nana yang buat. Minggu lalu aku minta dia buat desain, besoknya langsung dia kasih. Dan cocok. Aku sama Baruna suka gambar laut sama bulan purnamanya,” terang Sasi.

“Kok, cepet banget jadinya?” tanya Matari.

“Nggak tahu, tuh, Baruna. Kayanya kenal yang punya percetakan, jadi cepet,” jawab Sasi.

“Kamu udah desain undangan Sasi sama Baruna. Kapan kamu desain udangan nikahan kamu sama Pukat?” sindir Wukir.

***

Aaargh! Bodoh sekali. Kenapa aku harus menanyakan hal seperti itu? Kenapa aku menanyakan undangan pernikahannya dengan Pukat? Kalau dia mengajak Pukat menikah pada hari pengumuman beasiswa, berarti itu seminggu sebelum Sasi membagikan undangan. Dan itu berarti ... Sasi memintanya membuatkan undangan pernikahan tepat di hari dia ditolak? Ah, kalau saja Sasi tahu yang terjadi, dia takkan sampai hati melakukannya.

Minggu, 27 Oktober 2013

Born Under A Million Shadows (Dalam Sejuta Bayangan)


Fawad nama anak laki-laki itu. Dia lahir di Afghanistan, di bawah bayang-bayang Taliban. Ia memiliki dua orang kawan baik, yaitu Spandi dan Jamilla. Nama asli Spandi adalah Abdullah. Namun, karena dia menjual spanduk, orang-orang memanggilnya Spandi.

Fawad dan Mariya, ibunya, semula tinggal bersama keluarga bibinya meskipun hubungan antara ibunya dan bibinya tidak begitu baik. Setelah ibunya mendapat pekerjaan sebagai pengurus rumah, mereka pun kemudian tinggal di rumah “majikan” ibunya. Orang itu bernama Georgie. Dia berasal dari Inggris. Di Afghanistan Georgie bekerja di LSM dan menjadi pencukur kambing kashmir. Di rumah itu Georgie tinggal bersama dua orang kawannya: seorang jurnalis bernama James dan ahli teknik bernama May.

Tak butuh waktu lama bagi Georgie untuk akrab dengan Fawad. Georgie adalah wanita yang menyenangkan dan dia bisa berbahasa Dari. Fawad pun berpikir bahwa dia menyukai Georgie. Tapi, kemudian dia tahu bahwa Georgie sudah memiliki kekasih bernama Haji Khalid Khan. Sayangnya hubungan mereka cukup rumit. Perbedaan budaya dan perbedaan keyakinan – Haji Khalid Khan muslim sedangkan Georgie bisa dibilang tidak percaya Tuhan – membuat mereka sulit untuk menikah. Dari sinilah berbagai masalah mulai berdatangan.

Rabu, 23 Oktober 2013

The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu)




Hanya manusia yang mengukur waktu.

Itu sebabnya hanya manusia yang mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya.

Takut kehabisan waktu.


Dor adalah manusia pertama yang berusaha menghitung, membuat angka-angka. Ia selalu asyik mengukur apapun, batu, ranting, kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya. Hanya satu yang bisa mengalihkannya dari kegiatan menghitung: Alli, teman masa kecilnya yang kemudian menjadi istrinya.

Dor juga menandai waktu, dengan menandai ujung bayangan pada sebuah tongkat, dengan mengukir takik-takik pada lempeng tanah liat, dan juga membuat jam pertama. Dialah manusia pertama yang menandai waktu. Sementara itu, Nim, kawannya, sedang membuat menara yang akan membawa Nim ke langit untuk mengalahkan dewa-dewa.

Senin, 21 Oktober 2013

Menjaring Angin (12)

Dua minggu lagi Pawana harus berangkat ke Jepang. Dan dia ingin menghabiskan dua minggu itu di kampung halaman. Untuk itu dia ke Stasiun Gambir pagi ini untuk membeli tiket kereta yang berangkat ke Tegal nanti malam. Dia ditemani Wukir. Sebenarnya bukan menemani, sih. Wukir juga hendak membeli tiket kereta ke Semarang. Sama seperti Pawana, dia juga ingin pulang kampung dulu sebelum berangkat ke Jepang. Mereka beruntung karena hari itu hari Rabu, hari kerja. Jadi mereka tak sampai kehabisan tiket. Kalau mereka membeli tiket kereta untuk akhir pekan atau hari libur, mereka harus pesan beberapa hari sebelumnya. Setelah mendapatkan tiket, mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas.

Minggu, 20 Oktober 2013

Menjaring Angin (11)


“Nana!” sapa Pukat yang tiba-tiba saja sudah berada di samping meja Pawana. Entah Pukat yang seperti hantu, kedatangannya tidak terdeteksi panca indera manusia, atau Pawana yang terlalu fokus sehingga tidak menyadari kehadiran Pukat.

“Aku disuruh minta tabel-tabel ini ke Bagian Pengolahan,” kata Pukat sambil menyodorkan selembar kertas berisi daftar variabel dan format tabel.

“Kenapa nggak minta lewat email aja? Daripada kamu capek-capek jalan ke sini,” kata Pawana.

Pukat hanya tersenyum. “Ruangan kita, kan, nggak sejauh Jakarta – Tegal, Na. Jalan kaki lima menit juga sampai. Lagian sekalian biar bisa ketemu kamu. Dua minggu kemarin aku ikut pelatihan, jadi nggak bisa ketemu kamu. Kangen,” goda Pukat.

“Apaan, sih, bilang kangen segala!” kata Pawana ketus, menutupi salah tingkahnya.

“Nanti malam ke toko buku, yuk! Kata temanku kemarin ada banyak manga baru,” kata Pukat, tak memedulikan sikap ketus Pawana.

Belum sempat Pawana menjawab ajakan Pukat,  smartphone-nya berbunyi.

Dengan kekuatan bulaaan, akan menghukummu!

Selasa, 15 Oktober 2013

You See What You Want To See

*Warning! Tulisan ini mengandung unsur SARA*
"You see what you want to see," kata Dumbledore pada Snape.

Kamu melihat apa yang ingin kamu lihat. Memang benar demikian adanya. Kita tidak akan melihat apa yang tidak ingin kita lihat. Maksudnya? Ketika kita "meyakini" sesuatu, kita akan menutup mata terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita yakini. Dan kita menjadi lebih jeli untuk menemukan segala sesuatu yang mendukung apa yang kita yakini.

Contohnya adalah orang-orang yang membenci agama Islam, atau memiliki pandangan buruk tentang Islam. Aku tidak tahu agama mereka, bisa jadi juga mereka tidak beragama. Sodorkanlah Al Qur'an kepada mereka. Apa yang akan mereka temukan? Besar kemungkinan yang mereka temukan adalah ayat tentang perang, qishash, poligami, atau hal lain yang (kelihatannya) buruk. Mereka akan berpendapat bahwa orang Islam suka berperang, tanpa melihat asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tentang perang. Padahal, ada beberapa ayat yang memerintahkan perang karena umat Islam sudah terlebih dahulu diperangi. Mereka juga akan berpendapat bahwa orang Islam kejam karena menerapkan hukum qishash, tanpa memperhatikan bahwa qishash tidak sembarangan dilakukan, tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya qishash efektif menimbulkan efek jera. Ada kalanya seseorang yang membunuh atau melukai seseorang tidak menjalani hukuman qishash dan "hanya" membayar diyat (denda) karena keluarga korban sudah memaafkan.

Rabu, 18 September 2013

Cerita Sebelum Tidur

Waktu kecil aku sering sekali didongengi. Aku tidak ingat tepatnya mulai kapan dan sampai kapan, yang jelas "waktu kecil". Biasanya sebelum tidur, entah tidur siang atau tidur malam, Abah mendongengiku. Dongengnya tidak jauh-jauh dari cerita fabel yang sudah kondang: kancil. Tapi, kancilnya bukan cuma kancil nyolong timun. Seringnya malah cerita kancil mengerjai harimau. Pernah suatu hari kancil menipu harimau dengan mengatakan bahwa batang-batang pohon bambu yang mereka lihat adalah seruling. Dia menyuruh harimau untuk menyelipkan lidahnya di antara dua batang bambu. Hasilnya tentu bukan suara merdu. Lidah si harimau malah terjepit. Pernah juga kancil menunjukkan benda berwarna hijau pada harimau dan mengatakan bahwa itu adalah sorban. Harimau pun memakainya. Padahal sebenarnya benda hijau itu bukan sorban melainkan tlepong (kotoran kerbau). Selain cerita-cerita itu masih ada cerita lain seperti Bawang Putih Bawang Merah. Tapi, aku tidak ingat. Yang melekat kuat di ingatanku cuma dua cerita itu. Dan satu lagi yang kuingat: tuli ana watu mendelis, uwis. Itu adalah kalimat yang sering diucapkan padaku kalau aku berkata, "Tuli? Tuli? (Terus? Terus?)" Kalau anak lain didongengi mungkin cepat tidur. Kalau aku? Jangan harap. Aku justru makin melek dan kalau cerita sudah selesai aku berkata, "Tuli? Tuli?" Abah yang -- mungkin -- sudah kehabisan cerita atau sudah capai bercerita pun menjawab, "Tuli ana watu mendelis." Aku pun bertanya lagi, "Tuli?" Abahku pun akan menjawab, "Uwis." Sudah. Tidak ada cerita lagi. Kalau sudah begitu, paling Abah "menyanyikan" sholawat agar aku tertidur.

Sabtu, 14 September 2013

Jatuh Itu Biasa



Bagi pengendara motor, yang namanya jatuh pasti sudah biasa. Apalagi bagi yang baru belajar mengendarai sepeda motor. Aku sendiri sudah beberapa kali mengalami accident, baik yang sangat ringan maupun yang agak parah. Semoga tidak akan pernah mengalami yang parah. Ngeri, bok!

Waktu baru awal-awal memiliki sepeda motor, aku beberapa kali menjatuhkan sepeda motorku. Kenapa aku menggunakan kata ‘menjatuhkan’? Karena yang jatuh memang hanya sepeda motorku sedangkan aku sendiri tetap berdiri, tidak ikut terjatuh. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin refleks aku langsung melepaskan pegangan pada stang motor sehingga ketika motor jatuh aku tidak ikut jatuh. Aku juga pernah menabrak pagar di kos. Untungnya cuma pagar kayu yang tidak kokoh. Coba kalau pagarnya besi atau tembok. Bisa hancur aku dan sepeda motorku.

Itu tadi yang ringan. Yang agak parah? Ada. Waktu itu aku baru beberapa kali ke kantor naik sepeda motor. Dan tentunya aku belum mahir keluar masuk tempat parkir yang ada di belakang kantor. Jalan masuk ke tempat parkir itu menurun, belok kanan, dan agak susah bagi yang belum terbiasa. Saat keluar dari tempat parkir, aku menarik gas kuat-kuat karena jalannya menanjak. Karena terlalu kuat menarik gas, aku jadi tidak bisa mengendalikan sepeda motorku, yang seharusnya belok kanan justru tetap lurus dan menabrak tanah yang posisinya lebih tinggi dari jalan kemudian terguling dari situ dengan suksesnya. Alhamdulillah aku memakai helm dan jaket jadi lecetnya tidak parah. Lecet dan biru-biru, sih. Tapi, tidak sampai patah tulang atau luka yang parah. Alhamdulillah. Yang parah malah sepeda motor Yamaha Mio yang kunamai Honey Bunny Black Sweetie.

Jumat, 13 September 2013

Menggelandang Ke Lembah Sabil

Tanggal 11 September kemarin aku 'jalan-jalan' ke Lembah Sabil. Lembah Sabil itu di mana? Lembah Sabil adalah kecamatan di Aceh Barat Daya yang paling ujung selatan (atau tenggara, ya?) yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Selatan. Kecamatan ini merupakan pemekaran dari Kecamatan Manggeng. Nah, hari itu aku menemani Meri ke sana. Tujuan utama adalah ke kantor camat untuk meminta tanda tangan camat untuk buku Kecamatan Lembah Sabil Dalam Angka sekaligus meminta foto camat. Tujuan sampingannya adalah hunting foto untuk sampul publikasi Kecamatan Dalam Angka. Tapi, tidak banyak foto yang kudapatkan. Dari lima kecamatan yang kulewati (Blangpidie, Setia, Tangan-Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil), tidak banyak yang menarik. Ujung-ujungnya aku hanya mengambil gambar sawah-sawah yang kami lewati. Tidak ada landmark yang khas.

Sebelum ke kantor camat, kami mampir sebentar di rumah Meri di Desa Suka Damai. Rumah Meri terletak di tepi sungai yang memisahkan Desa Lhok Puntoy (Kecamatan Manggeng) dan Desa Suka Damai (Kecamatan Lembah Sabil). Sungai ini jaraknya sekitar dua atau tiga kilometer dari jalan raya. Kalau dihitung jaraknya dari Blangpidie mungkin sekitar 21 sampai 23 kilometer. Nah, di sinilah aku melihat pemandangan menarik untuk difoto: sungai dan pintu air. Yah, tidak terlalu cocok untuk sampul publikasi, sih. Tapi, tetap menarik untuk difoto. Ini dia gambar-gambarnya:

Minggu, 08 September 2013

Menjaring Angin (10)



Adzan Maghrib baru saja selesai berkumandang. Namun, Pawana masih sibuk di depan komputer – yang sekarang beralih fungsi jadi server.

“Udah selesai, Na?” tanya Matari.

“Bentar lagi. Ini lagi bikin tabel rekap hasil entry yang diminta Pak Agni. Kalian?”

“Belum. Baru selesai bikin SPJ, eh, tadi ada email suruh revisi SPJ-nya. Sakit jiwa itu orang kantor pusat!” rutuk Matari.

“Sasi?” tanya Pawana sambil tetap fokus pada komputer.

“Lagi sholat. Dia juga udah stress meriksa dokumen survei seabrek-abrek. Mending kita pulang aja, lah. Percuma lembur kalau pikiran udah kusut. Kerjaan malah makin berantakan,” keluh Matari.

“Selesai!!!” Pawana menyimpan tabel yang baru saja dia print lalu mematikan komputer.

“Buat ngilangin stress, gimana kalau kita makan di luar?” usul Pawana.

“Oke! Ngramen aja, yuk! Abis itu kita nonton,” jawab Matari girang.

***

Rabu, 28 Agustus 2013

Ponakan

Lagi liburan bada wingi aku balik maring Brebes. Pas kakange aku loro-lorone lagi nginep nang umah. Otomatis anak-anake ya pada nginep nang umah. Ponakanku ana telu, wadon loro, lanang siji. Sing lanang arane Umar. Esih cilik, embuh pirang wulan umure. Kayane tah durung ana nem wulan. Maklum, bulike klalenan dadi ya ora apal umure ponakane. Sing wadon loro, arane Mila karo Habibah. Mila umure wis patang taun, Habibah nembe rong taun.

Gemiyen tah aku seringe mung rudu karo si Mila. Si Mila seneng nemen ngurak-urak aku. Senenge ngomong, "Sana, Bulik pulang ke Aceh!" Nyong ya ora gelem kalah oh. Tak jawab bae, "Sana Mila pulang ke Siasem!" Umahe Mila kan nang Siasem. Yen lagi sentimen, aku nang ruang tamu diurak-urak, pindah maring kamar ya diurak-urak maning. Ngomonge, "Ini kamarnya Habibah!" Dumehe Habibah yen nginep turune nang kamar kue. Pokoke njelehi nemen lah ngger lagi nggara. Bocahe tah pinter, ngomonge ya wis canthas. Tapi, ya, kue... Ngger nggara kayong njelehi. Ngger aku lagi juwet ya tak omongi, "Yen pengin nangis kari nangis ka, ora usah luruh gara-gara." Hahaha, jahat nemen yah. Pimen maning yah. Aku kayong ora cocok ngemong bocah. Tuli si Mila ya ora kena dijak lunga-lunga. Dijak blanja tuku klambi maring Rita Mall be gegere ora umum. Njaluk balik bae padahal durung rampung blanjane. Yen dijak mandi bola tah ndean meneng, ora geger. Yah, arane be bocah cilik, ora betahan.

Senin, 26 Agustus 2013

Gara-Gara Sembarangan Beli Buku

Biasanya aku adalah orang yang pemilih dalam membeli buku. Biasanya aku membeli buku yang bisa 'membangun', atau setidaknya bukan buku yang 'merusak' mentalku (dalam standarku sendiri, tentunya). Bukannya sok atau bagaimana. Tapi, aku selalu menganggap bahwa kelak buku yang kumiliki akan kuwariskan pada orang lain, misalnya anak atau keponakanku. Jadi, selain mencari buku yang baik untukku sendiri, aku juga mencari buku yang baik bagi pewarisnya nanti. Masa iya aku akan mewariskan buku yang bisa membuat mereka menye-menye, cengeng, labil, berpikiran pendek, dan sebagainya.

Itu sebabnya dulu aku jarang iseng membeli buku yang aneh-aneh. Tapi, setelah bekerja, aku mulai iseng. Beberapa kali aku membeli buku hanya karena melihat sampulnya yang cantik atau hanya berdasarkan dugaan "kayaknya bagus, deh". Tapi, selama ini buku-buku yang dibeli secara impulsif itu masih dalam kadar aman alias tidak berpotensi merusak mental pembacanya. Misalnya Bliss, Born Under Million Shadows, dan Sang Penerjemah. Dan tanggal 17 lalu aku kembali bertindak impulsif. Akibatnya? Fatal! Aku membeli sebuah buku karya penulis Korea yang bergenre romance (jangan tanya apa judulnya). Iya, emang nggak gue banget! Aku memang tidak terlalu suka romance. Tapi, membaca tulisan di bagian belakang buku aku jadi tertarik. Buku itu bercerita tentang seorang wanita yang ingin bercerai dengan suaminya. Menarik, kan? Ditambah lagi sampulnya cantik, warna-warni. Lalu, apakah isinya secantik sampulnya? Sayangnya tidak. Isinya horror! Bukan horror yang hantu-hantuan melainkan 'horror' yang lainnya. Di awal cerita memang menarik. Ada bau-bau romantisnya. Tapi, kemudian ada adegan dewasanya. Tentu saja aku kaget. Kupikir ini cerita konflik rumah tangga yang hanya menceritakan masalah perasaan tanpa adegan begituan. Ternyataaa...

Rabu, 14 Agustus 2013

Ibuku Selangkah Lebih Maju

Tradisi keluarga kami setiap Idul Fitri adalah mengunjungi keluarga yang lebih tua, misalnya Pakdhe, Budhe (kakak dari Ibu), dan Simbah (ibu dari Abah). Idul Fitri kemarin pun begitu. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah rumah Budhe di Siasem. Budhe ini istri dari kakak Ibu yang sudah meninggal.

Anak-anak Budhe ini semuanya lebih tua dariku dan sudah menikah. Mungkin karena mereka lebih tua, mereka pun enteng bertanya kepada Ibu, "Kapan mantunane?" Maksudnya adalah kapan aku, anak  Ibu yang cuantik, pintar, sholihah ini menikah. Halah, kok, aku jadi memfitnah diri sendiri begini? Tanpa diduga Ibu menjawab, "Bar bada." Maksudnya setelah lebaran. Heeeh? Aku cuma tertawa mendengar jawaban ngaco Ibu. Dilamar pun belum, bagaimana mau menikah? Budhe dan para sepupuku pun heboh, bertanya-tanya, "Temenan? Kapan?" Beneran? Kapan? Ibuku tetap pede menjawab kalau yang dikatakannya tadi itu benar. Ibu kemudian menambahkan, "Tanggal wolu, bada Syawal." Tanggal delapan, Lebaran Syawal.

Yang repot aku. Mereka menanyaiku, "Dapat orang mana?" Blah! Mesti jawab apa? Kalau yang bertanya sepupuku yang seumuran dan akrab, mungkin aku akan menjawab "orang Korea, artis terkenal, namanya Lee Dong Gun". Berhubung yang bertanya adalah sepupu yang tidak terlalu akrab denganku, aku cuma cengar-cengir.

Selasa, 13 Agustus 2013

Mudik (Lagi)

Aku mau cerita perjalanan mudikku kemarin. Apa? Bosan membaca cerita perjalanan mudikku? Yah, maap-maap saja. Aku masih suka bercerita tentang perjalananku. Maklum, ini, kan, blog geje yang isinya personal, suka-suka, dan banyak curhatnya.

Ada beberapa hal yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa saja?

Ganti Partner

Tahun 2013 ini adalah mudik lebaran dari Blangpidie yang kelima bagiku. Kali pertama aku mudik lebaran dari Blangpidie adalah tahun 2009. Dan selama 2009-2012 aku selalu mudik lebaran dengan Intan, kawanku yang penempatan di Aceh Selatan. Berhubung Intan sudah pindah ke Maluku sana mengikuti sang suami, aku tidak mudik dengannya lagi. Kupikir aku akan mudik sendirian. Ternyata Rika, kawan sekantorku, mengomporiku untuk membeli tiket pesawat di tanggal yang sama dengan kepulangannya. Dia juga mengompori Jamal, kawan sekantor kami. Jadilah kami memesan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan yang sama.

Kami bertiga berangkat dari Blangpidie hari Jum'at tanggal 2 Agustus 2013, sekitar pukul delapan malam. Aku berangkat dalam kondisi yang kurang sehat. Beberapa hari sebelumnya aku sakit tapi sehari sebelum berangkat aku merasa sudah sembuh. Eh, malah di hari Jum'at aku kembali tidak enak badan. Dan parahnya, sopirnya ngebut agar tiba di Medan pukul enam pagi. Alhasil aku muntah dengan suksesnya. Ngisin-isini. Untung aku cuma pulang bareng Rika dan Jamal. Coba kalau aku bareng mas-mas ganteng seperti Noah Wyle, bisa rusak reputasiku kalau ketahuan gampang mabuk darat. Eh, tapi kalau semobil dengan orang seganteng Noah Wyle mungkin aku tidak akan mabuk, ya? Ah, sudahlah.

Sampai di Bandar Baru kami istirahat sekalian makan sahur. Kami bertemu Mbak Novel dan Nisa yang baru penempatan di Aceh Selatan. Dan komentar Mbak Novel sewaktu melihatku, "Dirimu, kok, membengkak sekali?" Hiks! Kejamnya! Sebegitu bengkakkah diriku sekarang? Terakhir kali aku bertemu Mbak Novel adalah tahun 2009, sewaktu mudik lebaran juga. Kebetulan waktu itu kami satu pesawat. Dan waktu itu aku memang belum segemuk saat ini. OK, cukup curhat tentang berat badannya. Mbak Novel juga mengomentari jaket PKL yang kupakai. Jaket itu memang sudah 'tua', umurnya sudah sekitar 6 tahun. Tapi, aku masih setia mengenakannya kalau bepergian jauh.

Jamal menawariku untuk bertukar tempat duduk setelah tahu aku muntah. Tadinya Jamal duduk di samping sopir sedangkan aku dan Rika di belakang sopir. Tadinya aku berpikir percuma saja duduk di depan kalau sopirnya horror. Tapi, setelah dipikir-pikir, kalau aku di depan, Rika bisa leluasa duduk di belakang sopir sendirian, dan Jamal bisa mengungsi ke kursi paling belakang, sendirian juga. Akhirnya aku duduk di samping sopir. Dan Alhamdulillaah, biarpun mual, aku tidak muntah.